
...***...
Ini terjadi kira-kira beberapa bulan sebelumnya, di kantor Arfen. Dia mendapat kabar dari salah satu karyawan di kantor Devan bahwa anaknya sudah menikah.
Rasa kesal memenuhi kepala Arfen, namun dia juga sangat senang mengingat anaknya yang memiliki trauma soal kekasih mulai menikah, apalagi dia sampai berkata kasar pada mantannya demi istrinya.
Mulai dari saat itu, Arfen memberitahu Thifa dan Reya. Kedua wanita itu sangat senang mendengarnya, dan mereka semua mulai memaksa Devan untuk membawa istrinya ke rumah Arkasa, melakukan perayaan pernikahan, agar seluruh dunia tau bahwa Liz telah menjadi bagian keluarga Arkasa.
Meskipun lelah karna menyiapkan pernikahan itu, Arfen sangat senang. Dia pikir anaknya tidak akan menikah seumur hidupnya, bagi mereka Liz adalah penyelamat.
Berita petaka juga sampai di telinga Arfen, dimana dia mendengar menantunya di culik. Segala cara dan upaya dia lakukan, namun sayang dia tidak bisa menemukannya.
Sangat aneh menurut Arfen, jangkauan kekuasaannya itu luas.
Walau Liz di culik pasti ada jejak perlawanan.
Arfen sempat bingung, dia juga khawatir melihat putranya yang hampir gila, ah bahkan sudah gila. Arfen sekali lagi mengerahkan kemampuannya mencari Liz, sama sekali tidak di temukan. Arfen benar-benar bingung, dia juga sangat khawatir.
Tapi ini aneh? Ga ada petunjuknya. Apa penculiknya begitu hebat? Terus motif apa? Apa dia salah satu fans fanatik menantu ku?
Arfen terus menerus berusaha mencari keberadaan Liz, dia juga meminta bantuan teman-temannya yang tak kalah hebat, juga bahkan Nathan sudah turun tangan, bahkan sampai pencarian di Negara sekitar, tapi sayang, Liz sama sekali tidak berjejak.
Kejadian pencarian tanpa hasil ini mengingatkan Arfen pada suatu kejadian.
Deyna.
Arfen merasakan sulitnya mencari Liz sama dengan sulit mencari Deyna. Dia hampir kehilangan harapannya, dan ke khawatiran bahwa Devan akan menjalani hidup menyedihkan mulai memenuhi kepala Arfen. Sebagai seorang Ayah dia melakukan yang terbaik.
Beberapa hari sebelum perayaan, Arfen ingin membatalkan segala persiapannya, tapi saat itu juga Devan menentang dan mengatakan acara ini akan dilanjutkan. Arfen sudah menyerah, secara tiba-tiba saat malam sebelum perayaan, Devan menelpon Arfen dan mengatakan Liz sudah kembali.
__ADS_1
Arfen sangat terkejut, namun dia juga sangat senang. Tapi di satu sisi dia juga merasa sangat aneh saat mendengar penjelasan Devan, dimana Liz datang dengan sendirinya, tanpa luka, hanya rambut yang acak, badannya juga tidak terlihat kurus, dia baik-baik saja.
Baguslah, dia pulang dengan selamat. Tapi, apa ini? Penculik itu pastilah orang yang hebat, karna aku sendiri bahkan tidak bisa menemukan jejak apapun. Bagaimana bisa dia melarikan diri semudah itu? Paspor? Apa mereka tidak mengambilnya? Biaya pesawat, perjalanan ke sini? Tidak ada pengejaran? Apa ini?
Arfen mulai merasa aneh dari sini, namun dia hanya memutuskan untuk mengawasi Liz saja.
Tidak ada yang aneh dari pernikahan, dan semuanya berjalan lancar, Liz baik-baik saja. Karna itulah Arfen semakin curiga.
Bagaimana mungkin dia tidak terkena mental saat baru saja di culik? Dia bahkan bisa setenang itu?
Hari-hari berjalan dengan baik, awal-awal Liz masuk ke rumah itu juga tidak buruk. Kekhawatiran Arfen mulai memudar tatkala dia melihat pandangan Liz yang penuh cinta untuk Devan.
Bagian itu ga usah di curigai.
Dia juga semakin yakin Liz anak yang baik, mengingat betapa manisnya kelakuan mereka berdua setelah menikah.
Namun, setiap acara minum teh bersama, terkadang Liz menatap tak suka pada Thifa. Tapi Liz sangat ramah pada Arfen, juga baik pada Reya, mereka bagai teman yang akrab.
Mulai saat itu Arfen mengawasi Liz lebih ketat, dia bahkan meminta bantuan Reya saat dirinya di luar rumah. Benar saja, keduanya cukup sering melihat Liz secara diam-diam menatap benci ke arah Thifa.
Dan kelakuan Liz hanya dingin pada Thifa. Tapi bukan hanya itu, kelakuan Liz juga sama dinginnya pada Tara, dan anehnya Tara juga hampir setiap kali datang menemui Liz. Tapi Tara langsung pulang ketika Liz menolak ajakan makan, atau belanja dari Tara, dan saat itu Liz tampak kecewa. Padahal Liz sudah berusaha mengatur pertemuan tidak sengaja antara keduanya.
"Apa ini Pa? Kecurigaan papa ga sia-sia, tapi apa ini? Reya ga bisa mencapai satu kesimpulan."
"Sama, papa juga. Kenapa dia dingin banget ke Thifa, dan kenapa dia juga dingin ke Tara, dan kenapa dia terus-terusan buat Tara dan Thifa ketemu?"
"Papa mau denger ga pendapat paling masuk akal di kepala Reya sekarang?"
Arfen melirik ke arah putrinya. "Apa?"
__ADS_1
"Papa ingat, Liz itu artis kan? Dia suka main drama sinetron. Mungkin aja dia iseng pengen main drama di rumah ini, karna dia 'ga sengaja' tau soal masa lalu Paman dan Mama."
Arfen menjitak pelan kepala putrinya. "Itu ga masuk akal, sama sekali ga bisa di terima logika."
"Kenapa Pa?"
"Kesimpulan kamu gak menjelaskan, kenapa Tara tiap hari pengen ketemu Liz."
Reya mengangguk mengerti. "Papa bener juga, lagian Liz keliatannya bukan anak yang kayak gitu."
Pengawasan Arfen dan Reya menemui jalan buntu, mereka sama sekali tidak mengetahui motif apa yang mendasari perilaku tidak bermoral Liz. Namun ada yang sedikit berubah, Liz tidak lagi menatap Thifa sebenci dulu, meski dia tetap menatapnya tak suka.
Saat itu, akhirnya Arfen mendapat sedikit petunjuk saat dia tidak sengaja lewat halaman belakang, dan ada Liz menelpon di belakang.
"Semua rencananya gagal, tapi balas dendamnya ga boleh gagal. Tara dan Thifa harus merasakan akibatnya karna hancurin hidup mama...!"
Kepala Arfen mulai mengumpulkan semua informasi yang tenggelam selama ini, dia lebih memilih pergi dari situ dan melanjutkan perjalanan ke kantornya.
Seminggu kemudian, terjadi hal yang aneh di rumah itu pagi-pagi, teriakan Devan yang memanggil nama istrinya menggema di sebagian ruangan.
Arfen bisa melihat, Liz menangis dan itu bukanlah akting semata. Saat menunggu Devan dan Liz di aula bawah, tiba-tiba Tara masuk dengan sangat tergesa. Dia masih memakai jas dokternya, dan seluruh keringat di tubuhnya membuktikan dia berlari dari saat turun mobil.
Apa Tara udah tau semuanya? Ini cuma perkiraan aja, tapi apa ini bener? Dia bahkan se khawatir ini untuk orang yang cuma menangis?
Arfen berjalan mendekat ke arah Tara, menenangkannya dengan mengatakan Liz baik-baik saja. Lalu Arfen mendekat ke wajah Tara, membisikkan hal yang sukses besar membuat Tara terkejut.
"Bagaimanapun, putrimu juga putri ku, kan?"
Arfen bisa melihat reaksi Tara yang sangat terkejut.
__ADS_1
Dasar sial, kalian pikir kalian sedang bermain dengan keluarga siapa? Ini keluarga Arkasa...!