
...***...
Devan baru selesai mandi, dia menatap Liz yang sudah tertidur. Devan berjalan mendekat. Devan mengingat lagi kejadian waktu di halte itu.
Bagaimana mungkin? Dia bahkan tidak merasa takut saat di ganggu oleh dua preman? Apa yang terjadi? Informasi yang Vin ambil adalah informasinya setelah menjadi artis. Siapa dia sebelum menjadi artis.
Devan mendekat, dia duduk bersandar di sebelah Liz, namun bedanya Devan tidak tidur. Dia mengambil laptop dan kacamatanya. Ada beberapa urusan yang harus dia selesaikan.
Jam sudah menunjukkan pukul 1 pagi. Namun Devan masih sibuk berkutat pada laptopnya. Liz juga mendadak terbangun, dia diam sebentar saat melihat suaminya masih sibuk pada benda persegi itu.
"Giat banget nafkahi akunya?" Tanya Liz. Saat Liz sudah bersuara baru Devan menyadari kalau Liz sudah bangun.
"Kenapa sudah bangun? Ini belum saatnya jadi babu." Sahut Devan sekenanya.
Liz bangkit, dia ikut duduk bersandar seperti Devan. "Ikatan batin dong, kau tau kan itu..., cinta. Saat kau tidak bisa tidur, bagaimana mungkin aku bisa tidur dengan nyenyak?"
Devan tersentak halus. Untuk beberapa detik jarinnya berhenti bergerak menekan keyboard itu. Devan menatap Liz. "Gadis maniak uang yang di otaknya hanya ada uang, tau apa soal cinta."
"Hemm, kalau di pikir-pikir itu benar juga. Meskipun kau begitu dingin dan kejam, setidaknya kau pernah jatuh cinta bahkan cinta yang teramat dalam, dan punya mantan. Kalau aku sih..., aku emang ga pernah jatuh cinta, ga punya mantan juga." Liz diam sebentar. "Ehh tapi bukan berarti aku tidak tau apa-apa soal cinta. Aku tau loh, kan aku artis drama romance." Tambahnya lagi.
Sayang sekali aku tidak pernah memikirkan hal seperti itu, tidak ada untungnya bagi ku. Sejak dulu, fokus dan pikiran ku hanya untuk balas dendam pada kalian semua. Hati ku sudah penuh loh..., dengan kebencian. Tidak ada lagi ruang untuk cinta.
"Seseorang yang tidak pernah merasakan jatuh cinta, bagaimana mungkin bisa berbicara soal cinta." sindir Devan.
Tapi mendadak Liz malah memeluk Devan erat. "Aku tidak tau cinta itu apa, yang jelas aku sangat nyaman ada di pelukan suami ku ini~ dan apa ya..., oh ya aku ingat. Jantung ku sering berdebar tidak karuan saat kau menatap ku dengan serius. Seperti di rumah sakit waktu itu. Dan ciuman mendadak dari mu yang kemarin, aku sempat berpikir jantung ku lepas loh. " Bohong Liz, tentu saja itu hanya karangan dia semata melalui teori-teori cinta yang ia pelajari selama ini. Yang di ucapkan sangat tidak sesuai dengan yang di rasakan.
Aku harap perkataan ku kali ini tidak akan menjadi bencana untuk diri ku sendiri.
__ADS_1
Devan tersentak halus, namun Liz tidak sadar karna wajahnya sudah menempel di dada Devan. Devan membuka kacamatanya, dia meletakkan laptopnya di meja sebelahnya. Tangannya bergerak sendiri mengelus lembut rambut gelombang Liz.
Devan memegang kedua pipi Liz, tatapannya begitu sayu namun menghangatkan. Liz, sepertinya dia dalam masalah. Devan mulai mendekatkan wajahnya.
Liz langsung memegang kedua tangan Devan. "Oh ya suami ku! Apa aku sudah menceritakannya!" Kata Liz seketika.
Devan menaikkan sebelah alisnya. "Kisah sang kancil? Dongeng sebelum tidur?"
Liz menggeleng. "Bukan itu, maksud ku hari pertama setelah beberapa bulan aku tidak turun untuk syuting. kau tau, tadi ... "
Devan seketika menjadi pendengar yang baik, dia mendengarkan semua cerita unfaedah Liz, sampai keduanya mengantuk dan tertidur.
Syukurlah, aku bisa menghentikannya. Devan tadi ingin mencium ku kan? Apa dia mulai tertarik pada ku? Atau hanya nafsu belaka di saat hujan? Tapi dari tatapannya, aku rasa dia mulai tertarik. Jika benar, itu bagus! Aku harus meneruskannya! Mengorbankan bibir ku, tidak masalah, asal dia mencintai ku dan aku lebih cepat meninggalkan dia dan tempat ini.
Demi balas dendam ini, aku merelakan apapun, kecuali Vasa dan Anna.
...***...
"Selamat pagi sayang~ Tuan muda, ini sudah pukul 7. Suami ku ke kantor ga?"
Devan membuka matanya, dia langsung bangkit berdiri. "Ya aku harus cepat sampai di kantor. Ada rapat penting hari ini, kau bisa pergi sendirian kan? Aku akan meminta Vin untuk mengantar mu." Devan mengusap wajahnya. Tampak dia begitu lelah dan mengantuk.
"Iyaa, mandi lah, aku bakal bawaim sarapannya ke sini. Oh ya, tuan muda anda lelah kan? mau akubuatkan jamu?"
"Iya."
Liz turun ke bawah menyiapkan segalanya. Meski itu adalah akting, tapi Liz benar-benar bisa berpura-pura menjadi istri yang baik, penuh cinta dan sangat perhatia. Luar biasa sekali bakat wanita ini.
__ADS_1
...***...
Pagi ini Anna sudah datang ke ruangan Devan. Devan langsung memberikannya beberapa berkas. "Pelajari itu, waktu mu 30 menit. Presentasikan itu dengan baik di rapat nanti, itu adalah konsep lama untuk rapat kemarin, aku hanya memperbaharuinya sedikit. Jadi tidak akan sulit untuk mu memahaminya."
Anna mengerutkan dahinya heran. "Tuan muda, anda sepertinya lupa, jadwal rapat kita dengan Joala group, dan Scott group adalah kemarin. Hari ini jadwal kita kosong setelah mereka membatalkan kerja samanya karna anda tidak datang, mereka mengatakan tidak ingin bekerja sama dengan orang yang tidak disiplin."
"Pelajari saja itu, kau terlalu banyak bicara. Apa berteman dengan Liz membuat mu menjadi berisik?"
"Baiklah saya akan mempelajari ini, saya undur diri."
30 menit sudah berlalu, dan Anna sudah mempelajari semua berkas-berkas itu. Harus Anna akui, kemampuan Devan itu benar-benar mengerikan. Anna yakin, di negri ini hanya ada Devan yang mampu menyusun hal seperti itu.
Anna sudah masuk ke ruang rapat, sudah ada beberapa staff di sana dan Devan sendiri sudah ada di sana. "Apa kau bisa mempersentasikannya?" Tanya Devan menyambut Anna.
"Setengah nya hampir di ubah, untung saja saya pintar dan bisa memahaminya." Sahut Anna. Tidak lama kemudian klien mereka dari, Joala dan Scott Group kembali hadir.
"Selamat datang, silahkan duduk. Saya minta maaf atas gangguannya kemarin. Tapi, saya akan menebusnya hari ini, dengan tawaran yang menakjubkan."
Dua jam sudah berlalu, rapat itu akhirnya selesai dengan Devan yang mendapatkan investor asing dengan dana yang bukan main-main jumlahnya.
Semua sudah keluar dari ruangan rapat, begitu juga Devan dan beberapa Staff lainnya ikut mengantar para investor itu.
Anna terduduk diam di ruang rapat sendirian.
Apa ini? Aku gagal? Bagaimana mungkin mereka datang lagi saat Devan sudah menghina mereka? Ketidak hadiran dalam rapat penting tanpa alasan yang jelas, bukankah itu adalah penghinaan? Jadi usaha ku kemarin sia-sia?
...***...
__ADS_1