Dendam Dalam Pernikahan Kontrak

Dendam Dalam Pernikahan Kontrak
Hmmmm


__ADS_3

...***...


Sore ini Liz sedang berada di kantor Devan. Dia menatap suami nya yang tampak begitu keren dan elegan yang duduk di kursi kehormatannya. Saat ini Liz sudah bersiap dengan gaun berwarna biru tua yang Devan berikan. Ya ya, ini adalah pilihan Devan. Gaun yang menyentuh lantai, dengan atasan yang terutup sempurna.


"Gak bisa, kau milik ku seutuhnya." Begitulah kalimat posesif yang keluar saat Liz mencoba menolak.


Pada akhirnya, Liz hanya bisa menuruti semua keinginan Devan.


"Apa kau yakin sendirian aja? Gak mau aku kirimin pengawal buat jagain?" Tanya Devan memastikan, entah sudah berapa kali Devan menanyakan ini.


Liz masih menggeleng. "Jangan deh, aku masih belum siap hubungan kita di publikasi." tolak Liz selembut mungkin.


Hari sudah menjelang malam, dan Liz yang bosan sudah tertidur. Devan mendekati istri mungilnya itu.


Apa aku bangunin? Atau biarin dia tidur?


Devan menghela napasnya. "Liz, Liz, bangun. Liz...," Devan sedikit menggoyanh bahu Liz,  namun Liz sama sekali tidak bangun. Ya wajar, Devan manggilnya pelan sih.


Harus di bangunin, kalau engga, dia bisa marah karna gak datang di acara itu. Aku gak bakal bisa bayangin gimana kalau dia marah.


"Liz..."


Devan yang malang, sayang sekali dia gak tau sebesar apa rasa benci Liz untuk nya, Tapi apakah Liz memang masih membenci Devan?


Devan mengecup bibir Liz pelan, dan pada akhirnya gadis itu terbangun, dengan rasa kaget yang menumpuk di tenggorokannya.


"Apa lagi ini? Mengambil kesempatan dalam kesempitan?" Liz menyipitkan matanya menatap Devan.


Tukhh


Devan memukul jidat gadis itu pelan. "Udah di bangunin malah marah-marah, bukannya bilang makasih. Ini udah malam, katanya mau pergi ke pesta, kok tidur?"


Liz melihat jamnya, benar, ini sudah pukul 7. "Kan masih ada cara bangunin yang lain, manggil kek, goyangin bahu kek."


Devan hanya menatap gadis itu datar. "Berisik, udah ayo jalan, atau mau ku tinggal." Devan berjalan pergi.


"Jangannn!!! Tungguin!!" Liz langsung bangkit berdiri memeluk lengan suaminya itu.


...***...

__ADS_1


"Kalau udah mau pulang, telpon minta jemput, ada apa-apa juga telpon, jangan minum-minum sembarangan, aku bakal kasih hukuman keras kalau kau sampai mabuk, camkan itu. Terus, pulangnya jangan malam-malam, intinya jam 10 malam udah pulang." Peringat Devan tepat saat pintu untuk Liz sudah di bukakan Vin.


Yang bener aja pesta pulang jam 10?! Minimal kan tengah malam, hadehhh Devannn!!!


"Iya-iya, jemputnya jangan telat makanya. Aku pergi yaaa." Liz mengecup pipi Devan lalu keluar dari mobil, dia melambaikan tangannya sembari memberikan senyuman hangatnya.


"Nona ayo, orang-orang sudah berkumpul." Tiba-tiba Nana sudah menarik lengan Liz.


"Tuan muda, nona muda saya ambil dulu yaaa." Kata Nana menyapa Devan.


"Ya, tolong jaga dia ya."


Liz dan Nana sudah masuk ke dalam sebuah hotel bintang lima yang menjadi lokasi pesta mereka. Liz sudah masuk ke aula, banyak sekali orang yang sudah datang dengan memakai gaun yang begitu indah, juga pakaian yang rapi. Tak sedikit pula orang yang sudah menari di sana, ya jelas minuman juga ada di sana.


"Nona haus? Nana ambilin minum ya?" Tawar Nana.


Liz mengangguk. "Iya, sekalian dessert ya."


Nana tersenyum mengiyakan, perlahan dia menghilang di antara kerumunan itu.


Tiba-tiba ada orang yang menepuk pundak Liz. "Liz, kau akhirnya datang? Mau menari bersama?" Ya orang itu adalah Ken, dia hanya sendirian. Kenzaa sudah mengulurkan tangannya pada Liz.


Liz menggeleng. "Aku gak terlalu bisa nari." Sahutnya singkat.


"Maaf senior Ken, selain gak bisa, hari ini aku lagi gak minat. Senior bisa nari sama yang lain." Liz menebar senyum nya, dia berjalan meninggalkan Ken dan duduk di sebuah kursi kosong yang di sediakan di sana.


Tiba-tiba Ken mengikuti Liz, dia ikut duduk di sebelah wanita mungil ini.


Liz melirik Ken heran. "Kok gak nari? Cape?"


"Gak deh, lagi males juga. Cape, mau duduk aja." Kenzaa meminum jus yang sudah tersedia di depannya.


Jus doang kah? Aku pikir dia minuman itu?


"Ngomong-ngomong, hari ini kau cantik sekali, ah ga deh, kau biasanya juga sangat cantik."


"Senior Ken mabuk kah?"


"Enggak, emang kenapa? Salah ya kalau muji orang, lagian juga aku mujinya ga berlebihan, pada dasarnya kamu tuh cantik, banget, hatinya juga. Beruntung banget orang yang milikin kamu." Ken hanya menatap lurus ke depan.

__ADS_1


"Lebih beruntung lagi orang yang bisa dapetin senior Ken, selain tampan, mapan, dan karir bagus orangnya juga baik dan tulus." Liz hanya berbicara mengikuti arus, dia memuji orang yang memuji dirinya? Gak salah kan?


Ken tersentak halus. "Aku harap kau lah yang akan menjadi orang beruntung itu." gumam Ken, namun sayang kali ini Liz benar-benar tidak bisa mendengarnya, karena suara musik yang semakin kuat dan berisik.


"Maaf, apa senior Ken mengatakan sesuatu? Aku gak gitu dengar karna suara musiknya semakin keras.


"Enggak! Aku gak bilang apapun."


-


-


-


Di sisi lain sudah ada Nana yang sedang makan beberapa dessert yang tersaji, sambil memilih-milih dessert yang cantik, yang akan dia berikan pada nona kesayangannya.


"Nah dessert ini buat Nona, cantik dan banyak coklatnya, minuman ini juga buat nona, jus jeruk yang sedikit asam, dan banyak manisnya." Gumam Nana sembari melanjutkan makannya, dia belum puas loh.


Tanpa Nana sadari, di sebelahnya ada Maya yang mendengarnya. Tanpa Nana ketahui, Maya melettakkan serbuk aneh di dalam minuman Liz, entah serbuk apa itu. Tapi yang jelas, dari wajah Maya, itu bubuk pastinya bukan Vitamin.


Dari jauh Liz sudah melihat Nana mendekat dengan membawa minuman dan dessert. Nana memberikannya pada Liz.


"Terima kasih," Liz baru saja ingin meminumnya, namun malah di ambil oleh Ken. Ken mencium aromanya, dia bahkan meminumnya sedikit.


"Senior Ken! Kau keterlaluan!" Liz sudah cukup kesal, jangan di tambah lagi.


"Sorry aku haus." Ken melanjutkan minumnya, bahkan dia menghabiskan setengah gelas milik Liz. "Aku udah selesai, nih aku balikin." Kata Ken enteng.


Liz diam, dia menarik napasnya. "Senior Ken kayaknya makin lama makin keterlaluan deh."


"Tuan Ken kelewatan, padahal itu minuman aku sendiri yang   ambilin buat nona."


"Sorry deh, mau aku ambilin yang lain?" Tawar Ken, dia sedikit merasa bersalah.


"Enggak deh, ntaran aja."


"Marah ya?" Ken memegang pipi Liz lembut.


"Enggak kok, cuma lain kali senior jangan gitu dong." Liz menepis pelan tangan itu.

__ADS_1


"Iya iya, gak bakal di ulangi kok."


Hah, aku pikir bisa membuatnya melakukan ciuman tak langsung, aku pikir dia akan minum jus yang sudah aku minum.


__ADS_2