Dendam Dalam Pernikahan Kontrak

Dendam Dalam Pernikahan Kontrak
Seandainya


__ADS_3

Tanpa mereka sadari ternyata sudah ada Gerry yang diam-diam menguping pembicaraan mereka. Gerry menghela napasnya.


"Aku pikir Liz di paksa oleh Devan, padahal aku sudah susah payah menyebarkan berita skandal itu, tetapi kenapa malah jadi begini akhirnya. Aku pikir Liz tidak menyukai Devan, ternyata aku salah ya? Pandangan itu? Pandangan Liz yang penuh amarah, ketika Devan di hina? " Gumam Gerry masih menatap sahabatnya yang berdiri mematung disana.


"Maaf Liz, ini semua tergantung Kenzaa. Kalau setelah mendengar itu, Kenzaa masih mengigingkan mu, maka tentu aku akan membantu Ken."


Gerry berjalan mendekati Kenza yang masih dia mematung. Pandangannya lurus tanpa arah. Gerry menepuk pundak itu pelan. "Jadi gimana? Mau mundur? Atau maju terus?"


"Mundur? Kenapa harus mundur? Liz itu milik ku, sejak dulu, hari ini, dan esok. Dia pasti hanya di ancam oleh Devan." bibir Kenza bergetar, dia mengepalkan tangannya kuat.


"Okelah, kalo aku sih bakal bantuin aja. Soal rencana, kau gak usah pikirin, biar aku yang rencanakan. Ini akan menjadi pesta kejutan, dan hadiah yang luar biasa." Gerry tersenyum senang, menyeringai menyeramkan.


Padahal aku sudah susah payah mengambil foto di balkon itu dengan momen yang tepat, agar skandal mereka memaksa mereka untuk terus semakin dekat, malah jadi begini. Semua ini karna penghalang itu, Devan Arkasa. Ya, dia adalah penyebabnya.


...***...


Liz diam di mobil, dia sedikit menangis, namun masih coba di tahan karna malu sama supir. Yap kali ini Liz mendapat supir pribadi utusan Devan.


Apa? Kenapa aku nangis? Apa karna aku terlalu kasar sama senior Ken? Enggak deh kayaknya. Ya walau kasar, aku ga perduli sih.


Liz memegang perutnya dia menatap nanar perut itu.


Apaan sih! Stop Liz! Jangan mikirin yang enggak-enggak, sebentar lagi aku bakalan pergi. Gak mungkin ada anak sih! Enggak mungkin! Tuhan, help me! Jangan dulu....


'Seandaianya kesalahan itu membuahkan anak!'


Anak? Kalau seandainya kesalahan itu menghasilkan seorang anak? Apa yang harus aku lakukan? Membesarkannya sendiri? Seperti bagaimana mama membesarkan aku? enggak! gak boleh! Atau aku gu... Di banding di gugurin, harus tetep di lahirin.


Kalau memang ada anak, aku gak mau anak aku merasa dia gak punya ayah! Aku gak mau!


"Aku bisa bertanggung jawab!"


Lagi dan lagi ucapan Ken terngiang di kepala Liz. Dia begitu asyik melamun dan memikirkan masalahnya sendiri. Sampai dia tidak sadar bahwa mobil yang dia tumpangi sedang berhenti, karna ada mobil lain yang menghadangnya.

__ADS_1


Pandangan Liz tidak jelas, jari jemarinya terus bergerak tidak karuan. Bahkan dia sampai tidak sadar, ada yang keluar dari mobil yang menghadang mereka, itu adalah Devan dan Vin. Vin langsung bertukar posisi dengan supir itu, dan Devan membuka pintunya, mencoba untuk duduk disebelah Liz. Tangannya lembut menyapa pipi mungil wanita itu.


"Ken?" Gumam Liz tanpa sadar. Tentu tatapan Devan lebih menajam, dia mendorong Liz, sembari dirinya ikut masuk.


"Jalan sekarang Vin." Titah Devan dingin, dari suaranya saja Vin tau, seberapa kesal tuan mudanya sekarang.


"Devan?!" Pekik Liz kaget saat dia sadar, mobilnya sudah berjalan dengan di kendarai Vin, dan ada suami yang di bencinya di sebelahnya.


Liz tau benar, dia dalam posisi yang tidak baik-baik saja sekarang. Aura kelam yang terpancar dari Devan benar-benar menusuk jiwa.


"Kenapa? Kaget? Aku sedang mengganggu halusinasi luar biasa mu dengan artis sialan itu?!" Devan mencengkram erat tangan Liz, matanya menajam. Wajahnya semakin mendekat pada Liz.


Gila! Devan gila! Ini lengan aku hampir patah tau!


"Le-pasin, ini lengan aku udah bengkok kayaknya." Liz mencoba meronta sebisa mungkin.


"Bengkok juga gak masalah, atau patah juga gapapa, kau ga perlu shooting dan repot-repot bertemu artis itu. Dengar ini, Firlizy Defana. Kau adalah nyonya Drvan Arkasa, selamanya akan begitu. Kau hanya milikku, bahkan jika kau berlutut dan mengancam untuk bunuh diri agar aku bisa melepas mu dengan pria lain? Dengar, aku lebih baik melenyapkan mu daripada melihat mu dengan orang lain. Ingat, kau adalah milik ku, segalanya tentang mu adalah milikku." suara Devan terdengar begitu serius, ya karna dia memang sangat serius kali ini.


Udah sinting sih anak ini! Tapi bagus kan, artinya dia udah kemakan cinta...


Liz tidak tau penyebabnya apa, tapi jantungnya berdetak begitu kencang, bahkan lebih dari biasanya, hampir mau keluar rasanya.


"Apaan sih Devan, ga gitu. Emang nya siapa juga yang mau ninggalin kamu. Lepasin dulu, biar aku jelasin."


Devan diam, dia hanya menatap Liz tanpa suara.


"Sakit, lepasin dulu, oke? Dengerin."


Devan melonggarkan cengkramannya, tapi dia sama sekali tidak melepas Liz, Liz hanya menghela napasnya pasrah.


Aku ga mau banyak drama dimana kami ribut cuma karena masalah salah paham doang!


"Jadi gini, tadi aku mau pulang, terus di hadang sama senior Ken, dia nyatain cintanya ke aku, dia bilang waktu malam kita di hotel dia pikir aku melakukan kesalahan yang gak seharusnya terjadi. Dia bilang, kalo seandainya tragedi malam itu menghasilkan seorang anak, dia mau tanggung jawab, jadi aku ga perlu nikahin kamu. Dia pikir, kamu yang rencanain ini semua, gitu..." Liz menatap mata Devan, Devan sama sekali tak berkedip, dia juga diam, bahkan deru nafasnya tidak terdengar.

__ADS_1


"Devan..., aku jujur tau."


"Aku tau," Dua kata, namun ada yang aneh dari Devan, pandangannya seolah-


"Terus? Kenapa masih marah? Eh waktu dia ngomong gitu, aku tampar dia sih, terus bilang kalo dia ga perlu datang. "


"Harusnya kau paksa datang, biar dia semakin menderita."


"Kejamnya~ keliatan memang seperti suami ku."


Devan hanya diam.


"Sekarang kenapa lagi? Malah diem? Mending ngamuk-ngamuk deh daripada diem diem ga jelas gini."


"Misalnya ada anak yang terlahir dari kejadian malam itu, apa itu sebuah kesalahan? Karna waktu itu kau gak sadar bukan?"


Liz mengalungkan tangannya di leher Devan. "Sadar atau enggak, pada akhirnya itu adalah anak kita kan? Selama itu dengan mu, aku baik-baik aja." Liz tersenyum!


Eh! A-apa!!


Liz bingung, entah bagaimana kalimat itu bisa lolos dengan enteng dari mulutnya.


"Pffttt..." Terdengar tawa Vin yang sangat pelan.


"Vin, tutup telinga mu!"


"Tenang nona, sejak awal saya hanyalah hantu, hanya hantu. Mobil ini berjalan sendiri."


Sudah cukup bingung Liz dengan perkataannya sendiri, sekarang malah di tambah oleh ledekan Vin, semakin membuat kekesalan itu meningkat drastis.


"Pfttt Hahaha!!! Kau benar, bagaimanapun kejadiannya, pada akhirnya anak itu adalah anak kita. Aku jadi benar-benar berharap kau hamil."


Cup

__ADS_1


Devan mengecup kening mulus wanita itu, dengan perasaan ringan yang membahagiakan.


__ADS_2