Dendam Dalam Pernikahan Kontrak

Dendam Dalam Pernikahan Kontrak
Berpisah


__ADS_3

...***...


Liz sudah sampai di panti asuhan, belasan anak panti yang dikenalnya, berbaris rapi di depan pintu untuk menyambutnya. Kesedihan yang entah dari mana asalnya itu untuk sesaat menghilang, rasa lelah dalam perjalanan dihapuskan dengan bermain bersama anak-anak itu.


Anak-anak yang begitu lucu dan menggemaskan itu, mampu mengukir kembali senyuman tulus yang telah lama hilang.


Malam sudah larut, namun Liz masih belum bisa untuk tidur. Dia membuka jendelannya, menatap bulan dan bintang yang bersinar terang, entah untuk menghiburnya, atau meledeknya.


"Takling to the moon~" suara pintu terbuka, bersama dengan nyanyian seseorang itu mengalihkan perhatian Liz. Dia menatap orang yang baru saja masuk ke dalam kamarnya, itu adalah Vasa.


"Ada apa? Kau tidak bisa tidur? Mau aku dongengkan? Seperti waktu itu?" Liz tersenyum meledek menatap Vasa.


"Ppffffttt, aku gak nyangka kau masih ingat."


"Jadi, ada urusan apa kau ke sini? Nona Vasa super sibuk?"


"Tentu saja karna aku merindukan pendongeng handal ku yang satu ini, setelah kembali kau hanya bermain dengan anak-anak itu lalu mengabaikan ku. Oh ya, bagaimana rencananya?"


"Rencana apa?" Liz sedikit bingung.


"Ambisi meledak-ledak balas dendam mu itu, apakah sukses, atau sukses besar? Kau berhasil membuat anak Tara stress kan? Kau berhasil membuat Thifa menangis melihat kesedihan anaknya kan?"


Liz diam, dia mengalihkan pandangannya dari Vasa, kembali menatap bulan di atas sana.


"Apa maksud mu, kau pasti sudah dengar dari Anna kan, bahwa balas dendam ini sukses besar. Hahah! Sangat sukses, Devan pasti sangat menderita!!"


Nyut

__ADS_1


Ada rasa nyeri yang tidak bisa Liz deskripsikan saat mengingat Devan yang menangis di bahunya.


"Baguslah kalau itu sukes besar, ya walaupun aku memang sudah menduganya. Oh ya ngomong-ngomong, apa kau bahagia?" Tanpa Liz sadari, Vasa menatapnya aneh.


"Hah?" Liz menoleh ke arah Vasa. "Apa maksud mu?"


"Kau kelihatan tidak bahagia saat kembali ke sini, kau seperti bukan Liz yang ku kenal lagi kau saat ini bagai matahari yang kehilangan cahayanya. Apa cahaya mu masih tertinggal di sana? Dan kau lupa membawanya kembali? Atau malah cahaya mu yang memang tidak ingin kembali ke sini?" Vasa masih menatap wajah Liz tajam, matanya menelusuri gerak-gerik aneh yang jarang diliatnya itu.


"Apa yang kau katakan, perkataan mu panjang sekali sampai bikin sakit kepala. Kau aneh, aku berhasil, tentu saja aku sangat bahagia, aku bahagia sekali. Kau tidak lihat aku selalu tersenyum lebar?" Liz terlihat gugup, biaranya aneh tidak jelas.


Sudah ku duga, kau pasti mulai menyukai Devan. Benar ya cinta tumbuh karna terbiasa. Tapi aku gak nyangka, dendam mu mengalahkan besarnya cinta mu, ego mu itu harus di singkirkan Liz!


Melihatnya sekarang, pasti dia belum menyadari kalau dia mencintai Devan, atau dia sudah menyadarinya, tapi jiwanya menolak untuk mengakuinya?


"Semakin kau tersenyum, semakin aku curiga, lagipula kau bahagia karna apa? Karna menyakiti Devan? Hoy, di saat malam panjang yang sepi, aku sering menatap bulan dan bintang..."


"Lalu?" Liz menatap Vasa penuh selidik.


"Apa maksud mu Devan gak ada hubungan nya? Sudah jelas Devan itu anak kandung Thifa, dan anak angkat Tara. Menyiksa Devan akan memberikan penderitaan bagi mereka!!"


"Kau yakin? Aku tidak merasa begitu, sampai saat ini? Apa kau pernah menyakiti Tara? Apa kau pernah menyakiti Thifa? Yang kau sakiti hanya Devan? Dan yang terpenting, apa kau bahagia? Liz! Kau harus ingat satu hal, bahwa yang terpenting adalah kebahagiaan mu. Kebahagiaan mu di atas dendam mu, kau harus sadar akan hal itu."


"Kenapa kau berbicara begini?"


"Kau mencintai Devan kan? Kau belum membalas dendam pada Tara dan Thifa kan? Maka dari itu! Kembalilah, kembali ke pelukan Devan, hidup dengan bahagia, dan jika amarah dendam di dalam hati mu belum padam, maka lampiaska itu pada Tara dan Thifa! Bukan Devan! Bukan dengan cintanya!" Vasa mencengkram erat bahu Liz.


Untuk membuat Liz sadar, dan bisa mengakui cintanya pada Devan. Pertama-tama, yang harus aku lakukan adalah... Membuat mu berhenti membenci Devan Liz. Kau harus bahagia, kau hanya akan menderita dalam kesepian kalau kau tetap di sini, sama seperti bibi Deyna dulu.

__ADS_1


"Diam, pergi... Pergilah Vasa. Aku tidak ingin melihat mu," Liz menunduk, wajahnya sangat dingin.


"Aku tidak akan pergi sampai kau sadar, bah--"


Tiba-tiba Liz menarik tangan Vasa, dia menyeret Vasa dan mendorongnya keluar dari kamar.


Vasa hanya bisa menghela napasnya, tidak mungkin untuknya berteriak malam-malam seperti ini.


Vasa mengambil sebuah sobekan kertas, yang pinggirannya berwarna hitam coklat, karna itu sobekan bekas bakaran.


Mama harap, saat mama tiada nanti. Kau harus mencari papa mu, temukan dia, katakan kalau kau adalah putrinya, dia pasti akan sangat menyayangi mu. Mama mohon, carilah papa mu. Kar--


Bibi, tenang saja. Aku akan berjuang apapun resikonya, akan ku pertemukan dua orang itu, dan aku berjanji akan menarik benang merah di antara keduanya. Tapi sayangnya, anak mu itu terlalu keras kepala, tapi tak apa bibi. Aku akan memberinya pengajaran, kalau dia masih membandel, akan aku pukul kepalanya, sama seperti dulu, heheh....


Vasa tersenyum, dia kembali menyimpan kertas itu.


Aku ingin memberikan kertas itu pada mu sekarang, tapi kalau aku berikan sekarang, pasti tanggapan mu...


'Itu karna mama payah, makanya masih terjebak cinta Tara sialan itu. Tara berengsekkk!!'


Kau pasti akan mengatakan itu demi ego mu, makanya, aku bakal tunggu waktu yang tepat. Yang harus aku lakukan adalah, nyembunyiin ini dari Anna. Bisa susah kalau dia tau, bisa-bisa kertas ini hangus semua.


...***...


Devan duduk di balkon, dengan botol minuman di tangannya. Sakit hatinya serasa menjulur di seluruh tubuhnya. Rasanya mau gila, tubuhnya panas seolah ingin menghancurkan apapun.


Kesepian yang merayapi tubuhnya, membuat otaknya tak lagi bekerja dengan normal, Devan melihat Liz ada di dalam pelukannya.

__ADS_1


Devan tau kalau itu hanya halusinasinya, tapi dia senang. Dia tidak ingin bergerak, atau berbicara, karna nanti, Liz versi halu itu akan hilang.


Aku tau aku akan gila jika tidak ada kau, tapi aku tidak tau kalau rasanya sememuakkan ini. Bersabarlah, aku akan segera menemukan mu.


__ADS_2