
...***...
Mobil Devan yang di kenderai oleh para orang-orang bayaran Anna berhenti di sebuh gedung tua. Ya ampun, kenapa mereka tertarik sekali dengan gedung tua.
"Sudah dapat duit, dapat mobil lagi, gila ini mobil mewah banget. Gak sia-sia kerjaan hari ini, capek banget enggak, untungnya kabangetan." Celetuk salah satu dari mereka. Mereka langsung turun dari mobil.
"Memang bekerja dengan wanita itu sangat-sangat menguntungkan!"
Mereka beramai-ramai masuk ke dalam gudang tua itu, namun di sana gelap. Ah ya, hari sudah malam, dan mereka tidak menyalakan lampu.
"Pet! Hidupin lampu dong, mana sih tuh anak, di suruh jaga rumah malah keluyuran, Den! Hidupin lampunya." Titahnya, ya dia yang lagaknya layak seperti bos.
Tak!
Lampu di hiudpkan, mereka bisa melihat seseorang yang sudah duduk elegan di sebuah kursi, sembari melipat tangannya. Aurajya dingin, wajahnya datar, dia di kelilingi oleh orang-orang berjas formal. Yap, dia adalah Devan. Entah bagaimana pada akhirnya Devan menemukan markas mereka.
"Bang...tolong bang... " Lirih pria yang di panggil Pet untuk jaga rumah tadi. Posisinya? Tentu dia saat ini ada di bawah kaki Devan.
Brak!!
Dalam sekejap sudah ada orang-orang Devan yang melumpuhkan mereka, sebuah pistol sudah terarah sempurnah di kepala mereka.
"Jadi? Apa ini sudah cukup mengejutkan untuk kau mengatakan dimana istri ku? Dimana wanita itu?" Tatapan mata Devan mendadak berubah tajam.
"Aku tidak tau! Wanita apa? Siapa yang kau maksud?"
"Vin, sepertinya mereka lupa ingatan. Kau tau kan, siksaan mengerikan yang bisa membuat orang kembali ingat?"
"Ya tuan."
"A-aku! Aku tidak tau! Perempuan yang kami culik, di bawa oleh wanita itu. Kami... Hanya di suruh wanita itu untuk membawa perempuan yang kami culik." Baru saja Vin ingin menyiksanya, pria itu sudah membuka mulutnya. Sangat mudah sekali membuat orang-orang bermental lemah ini membuka rahasianya.
"Wanita? Wanita siapa?!!"
"Sa-saat di gedung tua sebelumnya, wanita itu membawa istri tuan. Ka-kami hanya di bayar untuk itu, tidak ada hal lainnya. Bahkan kami sama sekali tidak menyakiti istri tuan!"
"Siapa?! Siapa wanita itu, wanita yang membawa istri ku?!" Amarah Devan semakin memuncak, dia sudah berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"Kami tidak tau kami hanya menerima uangnya. Yang penting bagi kami hanya uang dan tugasnya, siapa yang menyuruh kami, kami tidak peduli."
"Lalu dimana wanita itu membawa istri ku?!" Tatapan Devan semakin menajam.
"Itu juga kami tidak tau tuan... Ampuni kami tuan, maafkan kami... " Pemimpim penjahat itu berlutut di hadapan Devan.
Bukhhh!!!!
Devan menendang kepala orang itu, bahkan hidungnya sampai mengeluarkan darah.
"Kalau bukan karna kalian menculiknya, pasti saat ini aku sudah bersama dengannya!!"
Orang itu ingin bangkit, namun ada satu kertas yang jatuh dari kantong pria itu.
"Apa ini?" Devan mengambilnya.
"Aku tidak tau... Tuan aku bersumpah aku tidak tau."
"Ah aku ingat! Aku melihatnya tadi Wanita yang menyuruh kita memasukkan kertas itu ke dalam kantung ketua. Aku pikir itu adalah amplop bonus." Celetuk seseorang dari belakang.
Devan membukanya.
Aku menghancurkan bisnis mu~
Lalu aku memgambil istri mu~
Haha, bagaimana rasanya kesepian? Bagaimana rasanya miskin? Dan kehilangan orang yang di cintai?
Itulah yang 'bibi ku' rasakan saat ibu mu merampas Ayah dari anaknya! Bibi ku hampir gila! Maka dari itu kau harus gila! Bibi ku hanya hidup berdua dengan anaknya! Maka dari itu kau harus hidup sendirian!
Maka... Kau harus merasakan hal yang sama! Kau lah yang harus menanggung semuanya! Perbuatan Jahat Ibu mu, dan Ayah Tara mu itu!
Iya! Bibi yang ku maksud adalah Deyna, wanita yang Tara campakkan saat dia hamil!
-Dari sekretaris mu yang budiman, Anna.-
Jangan kaget, aku tau kemampuan mu pasti bisa menangkap preman rendahan itu. Jadi jangan khawatir, kau tidak akan lagi bisa melihat Liz-mu itu. Bayangkan jika aku menceritakan, kejelekan keluarga mu pada Liz, menurut mu, sebenci apa? Dan sejijik apa dia nanti? Bahkan tanpa ku culik sekali pun, dia pasti akan menjauh dari keluarga menjijikan mu, kan? '
__ADS_1
Devan meremas hancur kertasnya! Dia ingin segera merobeknya, tapi tidak. Dia harus menunjukkan itu pada Tara. Ini berkaitan soal istri dan anaknya yang hilang.
Jadi Anna ada hubungannya dengan Dey-na? Apa itu nama istri Ayah? Deyna... Rasanya aku pernah mendengarnya di suatu tempat, tapi di mana. Entahlah, aku tidak peduli. Aku harus memberi tahu Ayah soal ini, Anna adalah jalan agar dia bisa menemukan istri dan anaknya. Lalu, Anna adalah jalan untuk aku bisa bertemu Liz.
"Anna sialan, aku akan meremukkan tulang-tulang mu nantinya, tunggu saja. Akan ku siksa, jika kau sampai menyiksa Liz!"
"Tuan? Apa ini ulah Anna lagi?" Vin berjalan mendekat.
"Ya, ini ulah wanita sialan itu."
"Lalu bagaimana dengan mereka tuan?"
"Urus! Aku akan pulang sendiri!"
"Tidak tuan muda! Saya tidak bisa membiarkan anda pulang sendirian, apalagi dalam kondisi yang seperti ini, Sa-"
"Diamlah! Aku bilang akan pulang sendiri, maka aku akan pulang sendiri! Lagipula, aku tau, aku harus baik-baik saja untuk menemukan Liz. Aku tau, jadi diamlah." Devan berjalan keluar sendirian.
Sialan! Sialan!! Kurang ajar! Gila... Rasanya aku mau gila, Tidak bersama Liz satu hari saja aku sudah segila ini, apalagi, apalagi kalau selaman-- Anna! Kau akan membayar untuk segala rasa sakit yang ku rasakan sekarang.
...***...
"Jadi, Apa ayah tau, siapa Anna sebenarnya?" Tanya Devan setelah ia memberikan kertas itu pada Tara.
Tara masih diam, air matanya sudah tak bisa di tahan, dia menangis haru.
"Anak ku, anak ku lahir dengan selamat. Aku punya seorang anak, anak kandung, darah daging ku..." Tampak senyuman di wajah Tara. "Akhirnya..., aku bisa menemukan petunjuk soal keberadaan mereka."
"Ayah...," Devan yang melihat haru Ayahnya, ada hati yang bergetar saat itu.
"Deyna... Aku merindukan mu, dan anak kita. Setelah ini, kita akan menjadi keluarga kecil bahagia, seperti yang kau inginkan dulu. Maafkan aku, ini semua salah ku..."
Dulu?
Devan menaikkan sebelah alisnya. Dia langsung merampas kertas itu.
"Apa maksud Anna? Apa maksudnya mama merebut Ayah dari bibinya? Apa benar, kau meninggalkan Deyna karna mama?" Devan menatap tajam Tara.
__ADS_1
"Itu benar..., aku memang lebih memilih Thifa saat itu, dan mencampakkan Deyna, aku bahkan tidak perduli padanya, tapi itu dulu. Sekarang aku sadar kesalahan ku! Tapi A-"
"Berisik! Menjijikan, menyesal kata Ayah?! Tolong katakan bahwa yang baru kudengar ini hanyalah kebohongan."