Dendam Dalam Pernikahan Kontrak

Dendam Dalam Pernikahan Kontrak
Anna #1


__ADS_3

Sementara itu di sisi lain, Liz yang kepalanya di tutup oleh karung hitam dan mulutnya di rekat dengan erat di turunkan dari mobil.


Salah satu dari mereka membuka penutup kepala liz dan juga penutup mulutnya.


"Lepasin ban*sad! Berani-beraninya kalian nyantuh aku!"


Sialan! Kalo bukan pengaruh obat parfum gila itu, pasti gampang buat lumpuhin mereka semua. Cih cih cih!! Oh iya, tadi kan aku lagi telponan sama Devan, Devan pasti denger kan? Dan dia pasti bakal cari aku kan? pasti bakal di temuin kan?


"Lepasin, kalau sampai Devan tau! Habis kalian semua!!"


"Ha? Apa? Devan? Aku ga salah denger nih?" Tiba-tiba ada seseorang yang menyahuti perkataan Liz, dia berjalan mendekatinya.


"Anna!!" Ya faktanya orang di balik semua ini adalah Anna, orang yang tentu sangat Liz kenal dengan jelas.


"Iya ini aku, kita ga ada waktu. Kita harus pergi sekarang, soalnya aku udah jual cetak biru yang Devan buat ke perusahaan pesaing. Sekarang ayo kita balik, semuanya udah beres kan? Bisnis dan hatinya udah hancur." Anna melepaskan ikatan Liz, dia menarik tangan gadis itu untuk menaiki mobil yang lain. Tapi Liz hanya diam saja, dia tidak tau harus bereaksi seperti apa. Ini sangat di luar dugaannya, bukan begini rencana gadis itu.


"Ya ampun, orang-orang itu padahal ku suruh jemput. Malah jadi kayak aksi penculikan aja, liat deh, kau bahkan keliatan stress." Keduanya sudah masuk mobil, namun Liz masih diam saja.


"Liz! Oy? Kau gapapa kan? Sorry, aku udah bilang ke mereka jangan pakai kekerasan, duh memang susah sih kerjasama dengan preman." Anna  menepuk bahu Liz pelan. "Kau gapapa? Kita perlu ke rumah sakit ga?"


Liz menggeleng, sebenarnya dia sedari tadi dengar dan sadar semua perkataan yang Anna ucapkan. Namun dia hanya bingung harus berkata apa, karna hatinya juga tidak tenang. "Aku gapapa, ya udah lanjut aja. Aku mau tidur."


Berakhir... Ya, semuanya sudah berakhir, tujuan ku, sudah selesai.


Akhirnya mobil Liz dan Anna berjalan menuju bandara, dan mereka segera berangkat kembali ke kampung halaman, 


Mulai sekarang, aku bakal hidup dengan damai di sana. Sama Anna, sama Vasa, dan anak-anak panti. Ma... Mama udah tenang kan? Mereka yang berdosa pada mama sudah di balas? Rasakan lah, penderitaan itu...


Meski otak Liz memaksa hatinya untuk berpikiran yang sama, sayang sekali, bukannya merasa lega atau tenang, dia merasa ini sangat kacau, seolah-olah semua yang dia lakukan sampai saat ini adalah sebuah kesalahan. Tidak ada perasaan hangat dan bahagia yang menyapa hatinya sekarang.

__ADS_1


...***...


"Tuan muda, menurut data yang saya terima, mobil itu berada di dalam sini, gedung tua ini. Lebih baik kita berhati-hati." Peringat Vin yang sudah turun dari mobil, dengan posisi siaga dan pistol yang tergenggam erat di tangannya.


Tapi sayang, sepertinya Devan tidak punya cukup banyak waktu untuk mendengarkan ocehan tidak bergunannya. Devan sudah masuk lebih dulu.


Sial, beraninya mereka membawa istri ku ke tempat seperti ini, kalau saja, kalau dia menangis walau hanya satu tetes, habis! Mereka akan rata dengan tanah!


Devan semakin mempercepat jalannya, sadar bahwa waktu sangat berharga untuknya saat ini. Di dalam otak Devan hanya terbayang wajah Liz yang menangis ketakutan.


Astaga tuan muda ini! Kenapa dia lalai sekali! Aku tau dia sangat khawatir pada nona Liz, tapi bukan begitu caranya! Kalau cara ini, dia hanya akan membuang nyawanya sia-sia.


"Kalian semua, cepat berpencar dan cari keberadaan nona di mana. Segera laporkan kalau menemukan petunjuk atau keanehan lainnya." Titah Vin pada bawahannya yang baru sampai.


"Baik!" jawab mereka bersamaan sembari berjalan masuk. Bisa di bilang, ini adalah jumlah yang cukup banyak.


"Tuan muda, i--"


"Diamlah, liat di depan. Mobil itu mobil yang sama yang menculik Liz," Devan langsung memotong ucapan Vin. "Bergerak."


Dengan penuh kehati-hatian, Devan dan Vin mulai mendekati mobil itu. Tapi sayang saat Devan sudah membuka pintunya, tidak ada siapapun di sana. Itu hanya mobil kosong.


"Sialan! Kita di tipu! Dimana mereka! Dimana Liz ku!  Sialan, para bedebahh sialan ini! Beraninya!!!!"


Brakhh tukhh tukhhh


Devan terus menerus menendang mobil tak bersalah itu. Dia mengacak rambutnya frustrasi, dia hampir gila rasanya. Tidak, bahkan mungkin dia memang sudah gila.


"Tuan muda, liat di bawah! Mereka mengambil mobil kita!" Vin menunjuk ke arah dimana mobil-mobil itu terparkir. Devan juga ikut melihatnya, tampak beberapa orang berpakaian hitam menaiki mobil Devan yang memang terlihat lebih mewah dari mobil di sekitarnya.

__ADS_1


Devan tersenyum miring,


Dasar tidak tau diri. Sekarang, kalian benar-benar akan habis.


Tiba-tiba ponsel Vin berbunyi,  dia sepertinya baru saja mendapat telepon.


"Apa?!" Teriak Vin seketika, wajahnya kaget dan sedikit aneh? Melihat ekspresi Vin yang seperti itu jarang muncul, menarik sedikit rasa penasaran bos besar itu.


"Ada apa lagi? Kenapa muka mu begitu? Cepatlah, kita harus cari keberadaan Liz dulu. Yang paling penting adalah Liz dulu!"


"Tuan muda! Anna!"


Devan melirik Vin sinis. "Apalagi, Anna berhasil memenangkan proyeknya kan? Aku tau, karna itu aku menyerahkan tanggung jawab kepadanya. Tidak usah khawatir, gadis itu memang berbakat."


"Bukan begitu tuan! Kita kalah proyek, Robin bilang, Anna menjual cetak biru yang anda persiapkan kepada pesaing kita, Kas Group! Anna mengkhianati kita!"


"Apa?! Gadis itu mengkhianati ku? Beraninya dia, beraninya diaaa!!!! Akan aku patahkan tangan-tangannya nanti. Tapi, sebelum itu, kita harus menemukan Liz lebih dulu. Perasaan ku tidak enak soal ini! Rasanya, seolah-olah aku akan kehilangan dia selamanya."


...***...


"Kau lelah? Satu penerbangan lagi dan kita bakal sampai? Jadi apa mau istirahat dulu di hotel?" Tanya Anna dengan hangat dan lembut seperti biasanya.


"Gak usah deh, lanjut perjalanan aja, aku udah kangen sama Vasa dan yang lainnya. Lebih cepat itu lebih bagus."


"Ada apa Liz? Kau gak sakit? Tapi kenapa lemas begitu? Ceritakan pada ku, bukan kah kita teman yang akan selalu berbagi? Kenapa kau malah menyimpannya sendiri? Kau gak percaya dengan ku? Apa kau kurang puas dengan hasil yang kita capai sekarang?"


Liz tersentak halus, dia menggigit bibir bawahnya, air matanya langsung mengalir begitu saja. Dia memeluk Anna dengan sangat erat.


"Aku merindukan Mama Deyna..."

__ADS_1


__ADS_2