
Pergi jauh-jauh sana! Mati aja sana! Ga usah muncul di depan ku lagi! Jauh! Sana jauh!!
Batin Liz yang enggan sekali melihat orang tua itu. Dia dengan hati panasnya menyiapkan makanan di meja makan.
Mendadak Liz teringat akan wajah itu, wajah wanita yang membesarkannya. Wajah Deyna yang tersenyum menusuk jiwa Liz, ada bagian kecil dari hatinya yang terluka.
"No-nona! Hati-hati! Anda hampir saja menumpahkan air panas ke tangan anda!" Kata Viona menyelamatkan Liz, syukurlah ada Viona disana. Jika tidak, tamat sudah riwayat Liz.
Hampir saja! Duh! Kok aku bisa seceroboh ini sih...
"Makasih ya, maaf, aku lagi banyak pikiran."
Viona menatap Liz aneh.
"Masalah? Nona... Kalau anda masalah, katakan saja pada tuan muda, saya yakin beliau akan menyelesaikannya dengan sempurna. Soalnya tuan Devan itu luar biasa." celetuk Viona enteng, dengan mata yang berbinar penuh bintang.
Liz hanya menatap datar gadis itu.
Heh... Maniak Devan rupanya. Tapi, kalau di pikir-pikir, benar juga. Semua masalah biasanya Devan selesaikan dengan sempurna. Yap, mari kita lihat, apa dia bisa menyelesaikan masalah yang akan Anna berikan nantinya. Fufufu~
"Ya deh, tuan muda mu itu memang luar biasa~"
"Oh ya nona, minggu depan acara resepsi kan? Lalu setelah pesta besar-besaran itu, anda tidak lagi akan tinggal di sini. Bahkan tuan muda juga, kalian akan tinggal di rumah utama keluarga Arkasa. Saya jadi sedih, biasanya setiap pagi saya menggoda nona, d--"
"Lah? Ya udah, kau tinggal ikut ke sana aja apa susahnya. Tenang, nanti aku bakal merengek buat minta kamu ikut. Toh disana juga rasanya agak gimana gitu. Setidaknya kalau ada kamu aku kan ada temen." Sahut Liz enteng, padahal di otaknya rencana meninggalkan Devan sudah sempurna.
"Huwaa!! Nona!! Viona menyayangi andaa!! Sangat menyayangi andaaa!! Anda memang nona muda yang terbaik!!" Viona memeluk Liz erat.
Liz tersentak halus, matanya sedikit membesar. Dia mengusap kepala Viona lembut, kali ini dengan wajah yang tulus.
Apa-apaan kesenangannya itu. Duh, maaf ya Viona, sebenernya aku ga niat buat ngasih kamu harapan, ataupun bohongin kamu. Tapi, aku mau mereka menderita melihat putranya tersiksa, tersiksa seperti mama Deyna.
__ADS_1
...***...
Tara tersenyum hangat, dia menatap langkah Liz yang kian lama kian menjauh.
"Ayah? Ada apa? Ayah tidak memikirkan hal yang aneh bukan?" Tanya Devan, sejak awal tadi Devan sudah mencium bau-bau mencurigakan, dari sikap Tara.
"Kalau kau berfikir, Ayah tertarik dengan Liz sampai tahap ingin menikahinya, kau salah besar. Ayah tidak tau, sejak saat itu, awal melihatnya, wajahnya selalu terbayang di pikiran Ayah, saat Ayah ingin tidur. Bukan! Ayah bisa pastikan, ini bukan perasaan seperti perasaan mu! Entahlah, rasanya ayah tiba-tiba sangat menyayangi nya? Tanpa tau alasannya." Tara memegangi hatinya, hatinya yang terasa ringan saat dia melihat wajah Liz. Rasanya jiwanya begitu lega, saat dia melihat Liz baik-baik saja.
Perasaan yang gak bisa dijelaskan ini, apa? Tiba-tiba aku sangat menyayanginya.
"Aku mengerti, aku juga senang melihat Ayah bahagia."
Baru pertama kali, aku melihat Ayah tersenyum sehangat itu, wajahnya terasa ringan dan santai.
Makan malam tiga orang itu terjadi sekali lagi, dengan hangat, dan Liz berusaha sekuat mungkin, untuk banyak bicara dan menahan rasa sakitnya. Umpatan itu dia simpan dengan baik di dalam hatinya.
...***...
Kau jelek? Dan ingin punya anak ganteng atau cantik? Hanya satu solusinya! Nikahi Devan! Maka bibit unggul akan terlahir.
Liz tersenyum geli sendiri, tangannya tak berhenti untuk mengusap wajah tampan itu.
Sayang sekali ya, kau anaknya mereka. Kalau kau bukan anak mereka, mung---tidak! Bukan! Lupakan! Sudahlah~
Liz menatap jam, dia ingat, hari ini ada janji dengan pembuat baju, desainer itu bilang, ingin Liz memastikan nya lagi. Tentang segalanya, mulai dari model, ukuran, bahan, dan kenyamanan.
Hah~ jelek juga gapapa, toh gak bakal aku pakai. Ga muat juga bodoamat.
Liz mencoba bangkit berdiri, namun di tarik oleh Devan. "Setelah puas memainkan wajah ku, kau mau pergi begitu saja?"
"Pergi apanya, aku mau mandi! Lagipula, orang bodoh mana yang ingin meninggalkan suami setampan dan sekaya kau? Tidak, bukan! Orang idioot mana yang ingin meninggalkan suami yang begitu mencintai nya sampai ke tulang."
__ADS_1
Aku! Aku lah orangnya yang akan meninggalkan mu!
"Kau benar."
"Lalu Devan, jika seandainya aku meninggalkan mu? Apakah kau akan gila? Atau apakah kau akan mati?" Liz tidak tau, kalimat tanya itu lolos begitu saja dari mulutnya.
Devan tertegun halus, entah di hati bagian mana, dia mulai merasa tidak tenang. Rasa cemas mengerayangi dirinya. Tidak! Devan tidak suka pertanyaan itu!
Devan memeluk tubuh Liz dengan erat, sangat erat. "Apa kau akan meninggalkan ku?"
Pukk
Liz menepuk kedua pipi Devan pelan. "Bodoh! Mana mungkin aku meninggalkan mu. Aku masih terlalu waras untuk melakukan kegilaan itu."
Bohong, itu bohong. Jangan percaya, soalnya aku bakal pergi jauh, aku harap kau men...derita.
Mata Devan membesar, dia terkejut, sekaligus senang. Senyuman manis sudah terukir di wajahnya. "Kalau begitu, gak usah di tanyain lagi."
"Tapi aku penasaran sama jawabannya. Jadi apa jawabannya, kau akan gila? Atau mati? Atau mengurung diri? Atau bahkan jadi pria arogan yang sangat membenci wanita karna kau punya trauma?"
Devan menenggelamkan wajahnya di leher jenjang Liz. "Kalau sampai itu terjadi... Kalau sampai, kau meninggalkan aku. Aku akan mencari mu, ke ujung dunia sekalipun. Bahkan sampai seluruh rambut ku putih, aku hanya akan terus mencari mu, terus mencari sampai aku menemukan mu."
Liz tertegun, lagi dan lagi, ada perasaan hangat yang menyapa hatinya. "Jika... Ka-kalau setelah kau menemukan ku, tapi perasaan ku, enggak lagi sama. A--"
"Ku paksa! Akan ku paksa kau ikut dengan ku, dan perasaan itu perlahan-lahan, akan ku buat kau kembali menyukai ku, akan aku buat lagi dan lagi, aku tidak perduli sampai berapa kali pun."
Tes tes tes
Liz tidak tau! Enggak! Bukan! Liz tidak ingin menangis! Matanya tolong bekerja sama dengannya, jangan menangis.
Devan mengeratkan pelukannya. "Aku mencintai mu, makanya jangan pergi."
__ADS_1
Liz hanya mampu diam, dia tidak tau apa yang dia rasakan sekarang. Hatinya seolah berat dan terbelenggu, perasaan nya bagai di rantai dengan sesuatu yang dia sebut dendam?