Dendam Dalam Pernikahan Kontrak

Dendam Dalam Pernikahan Kontrak
Dede!


__ADS_3

...***...


Devan tidak jadi pergi ke kantor, padahal hari sudah sore dan rapat kian mendesak. Saat seperti ini biasa ada Anna di kantor yang akan membantunya mengurus itu semua. Tapi bagi Devan, Saat ini Anna adalah target penyiksaan nya setelah dia menculik Liz.


Liz, istri mungilnya yang tengah tertidur pulas di hadapannya setelah puas menangis.


Devan membelai lembut rambut wanita itu.


"Apa yang selama ini kau sembunyikan Liz?"


Devan bukannya tidak tau tingkah laku anehnya Liz, tapi Devan hanya mencoba untuk pura-pura tidak tau dan membiarkan segalanya.


"Aku pikir aku bisa diam saja, apapun boleh kamu lakuin asal kamu tetap di samping ku? Tapi faktanya aku ga bisa pura-pura ga tau. Aku ini suami mu, tempat bersandar mu, berbagi suka duka dengan mu, berbagi masalah dan kesedihan yang sama. Aku ini tempat mu untuk bercerita, tapi kenapa? Kenapa kamu nyembunyiin sendiri?"


Devan memijit keningnya yang tidak apa-apa, karna faktanya, hatinyalah yang mendenyut perih, mendapati fakta bahwa istrinya sendiri tidak mempercayainya untuk berbagi rahasia.


"Berapa kali aku bilang, kamu boleh lakuin apapun, apa aja, aku bakal kabulin segalanya, tapi seenggaknya kasih tau aku, kasih aku peran suami. Suamimu ini bukan figuran Liz."


Devan menggenggam erat tangan itu. Devan menghela napasnya, dia kembali berdiri berjalan menuju meja. Rapat online harus dia lakukan demi tidak meninggalkan istrinya sendirian.


Tapi, tanpa Devan sadari saat dia membalikkan badannya, tampak bulir hangat mengalir dari mata yang terpejam itu.


Liz membuka matanya, hatinya perih menatap punggung yang kian lama semakin menjauh itu. Liz ingin menarik tangan Devan, ingin berteriak dan menceritakan segalanya. Tapi tenggorokan nya seolah tercekat. Bahkan saat ini Liz juga tidak tau, apakah yang dia lakukan selama ini benar atau salah?


Dia hanya tidak ingin kepedihan yang dulu ia dan ibunya rasakan musnah begitu saja. Liz menarik napasnya diam-diam, menormalkan kembali detak jantung yang kian memacu dengan cepat.


Dia kembali memikirkan soal Vasa dengan kepala dingin.


Sekarang, yang terpenting itu temuin Vasa dulu. Orang gila mana yang berani nyulik Vasa. Dan gimana Vasa bisa keculik? Daerah kami tinggal adalah daerah yang sulit di akses dan di ketahui.


Dan kenapa Anna ga minta bantuan aku? Apa karna dia takut tertangkap Devan?

__ADS_1


Siapa penculik Vasa? Apa orang yang sama yang nyulik dia waktu kecil?


Liz langsung memegang rahangnya, rasa sakit akibat pukulan saat tragedi itu masih terasa, trauma masa kecil seperti itu sulit di hilangkan, apalagi untuk Vasa sang korban utama dalam tragedi itu.


Sebenarnya apa yang bisa aku lakuin sekarang?


Ponsel Liz bergetar, nada dering khas berisik menguasai ruangan yang hening itu. Liz berusaha berakting semaksimal mungkin, seolah baru bangun tidur. Dan itu sukses besar.


Liz langsung terkejut saat melihat nama pemanggilnya siapa, itu adalah Anna. Dengan cepat dan gelagapan Liz mengangkat telponnya di tempat, tanpa dia sadari Devan masih ada di sana.


"Yuli bangs*d! Kita semua ketipu! Vasa dalam bahaya!" begitulah pekikan singkat ala Anna dengan suara yang dipenuhi emosi.


"Ada apa sayang?" Tanya Devan berjalan mendekat.


Mendengar suara sang pemangsa, tentu saja Anna sang buronan dengan cepat mematikan teleponnya.


Liz masih diam, suara Devan tidak lagi sampai di kepala Liz. Pekikan dan makian itu terdengar begitu penuh amarah.


"Liz, sayang?" Devan duduk di hadapan Liz, mencoba menggoyang bahu istrinya. Akhirnya Liz sadar juga.


Liz menggeleng. "Gapapa." sahutnya tanpa sadar.


Apa maksud Anna tadi? Makian untuk tante Yuli? Kenapa? Dan Vasa yang dalam bahaya, apa maksudnya ini.


"Ya udah, lanjut tidur lagi, atau mau aku ambilin makan?" Devan langsung beranjak berdiri, berjalan meninggalkan Liz.


Saat Devan ingin pergi, Liz tersadar seketika. Lagi dan lagi dia membuat Devan kecewa dan merasa tidak di butuhkan. Dengan cepat Liz turun dari kasurnya, dia berlari memeluk Devan.


"Aku...! Aku gak baik-baik aja, aku sakit...! Mental ku sakit." Pelukan dari belakang Liz,  sukses besar menahan langkah Devan. Devan berbalik, memeluk hangat perempuan itu.


"Bilang apa aja, aku bakal bantuin."

__ADS_1


"A-aku..., a--" Mendadak Liz merasa mual mencium bau parfum Devan. Dia berlari ke kamar mandi seketika. Devan yang terkejut mengikuti istrinya.


Perut Liz mual, dia terus saja muntah, wajah Liz mendadak pucat.


"Aku panggilin dokter."


...***...


Hanya ada Devan yang menemani Liz saat ini. Liz tengah terbaring di periksa oleh dokter. Tidak ada Reyan dan Thifa, entah pergi kemana mereka berdua.


Juga tidak ada Arfen maupun Tara. Sayang sekali, Devan itu suami-able jadi dia sama sekali tidak merasa perlu mengabari orang-orang itu. Sungguh, arogan sekali presdir satu ini.


"Ga ada masalah serius, cuma tolong makan tepat waktu, jangan stress, jangan bergerak berlebihan, hindari asap rokok, gak bagus buat janinnya." Kata dokter itu dengan senyuman hangat pada Liz.


Jantung Liz berdegub begitu kencang. Apa yang dikatakan dokter itu sekarang? Saat ini dia berbadan dua oke? Liz sudah berbadan dua? Dia tidak percaya ini semua.


Dokter itu melirik ke arah Devan, dia ingin mengucapkan selamat. Namun apa yang dilihatnya adalah hal paling langka terjadi saat ini. Devan menangis, menatap Liz. Meski dokter itu tau, itu adalah tangisan bahagia karna berita yang di bawanya memanglah berita bahagia. Tapi entah kenapa, melihat presdir Devano Arkasa itu menangis, agak..., membuat merinding.


Dokter itu hanya bisa tersenyum pasrah melihat kedua orang ini tengah senang dan gugup. Dia memutuskan untuk mundur teratur tanpa mengganggu kedua orang itu.


"De-devan..., gi-gimana ini? Ada anak di dalani sini?!" Kata Liz gugup sembari menunjuk perutnya. Liz tidak berani untuk menyentuh perutnya, dia takut bahwa janin mungilnya akan merasa terguncang dan sakit.


Devan sudah hampir gila karna menerima berita bahagia ini, jantungnya di buat semakin tidak sehat karna melihat perilaku menggemaskan istrinya ini.


Devan mencoba naik ke kasur dan mendekati Liz.


"Berhenti di sana! Jangan gerak, nanti gerakan kasurnya juga buat dede janinnya ga nyaman. Jangan gerak, pokoknya jangan gerak." Pekik Liz menahan Devan.


Ini sungguh di luar dugaan, siapa yang sangka orang yang memiliki dendam kesumat, bisa sepolos ini?


"Oh gitu ya? Ya udah, aku liat dari sini aja. Kamu ga butuh sesuatu? Apa ada hal yang ga nyaman? Kalo mau muntah, muntah di kasur juga gapapa. Kamu jangan asal gerak ya sayang."

__ADS_1


Siapa yang menduga, presdir Devano Arkasa akan sepolos ini?  Oh ayolah, bergerak sedikit saja ga bakal buat bayi kalian pindah dari rahim ke ginjal kok.


"Iya...," sahut Liz dengan polosnya.


__ADS_2