Dendam Dalam Pernikahan Kontrak

Dendam Dalam Pernikahan Kontrak
Belum saatnya


__ADS_3

Arfen berjalan mendekat ke arah Tara, menenangkannya dengan mengatakan Liz baik-baik saja. Lalu Arfen mendekat ke wajah Tara, membisikkan hal yang sukses besar membuat Tara terkejut.


"Bagaimanapun, putrimu juga putri ku, kan?"


Tara langsung menarik kerah baju Arfen, membuat perhatian semua orang yang disana tertuju pada mereka.


"Sampai mana kamu tau?"


Arfen menyeringai senang, dia lalu membisikkan hal itu. "Sampai rencana putri kita untuk merusak rumah tangga ku."


Tara terdiam seketika, dia kenal manusia di depannya saat ini. Manusia yang tidak akan pernah diam apalagi mengalah kalau soal cintanya dan Thifa. Mana mungkin dia akan memberikan pengampunan bagi Liz kan?


"Apa yang kamu lakuin pada putri ku?!" Suara Tara meninggi seketika, membuat Alreya yang tadi duduk santai ikut berdiri.


"Apa maksud paman? Kok paman ngomongnya gitu?"


Arfen lagi-lagi hanya tersenyum, dia melepas cengkraman erat mantan psikopat di depannya.


"Loh? Papa Arfen kenapa?" Tanya Liz yang sudah berada di sana, tepat dalam pelukan nyaman dann hangat versi suaminya itu.


Tara terkejut seketika, dia mundur beberapa langkah, dia berjalan cepat menghampiri putrinya itu, tangannya membelai pipi Liz lembut. "Kamu gak papa, Nak? Arfen ada lakuin apa ke kamu?" Ekor mata Tara memandang tajam pria berwajah santai itu.


Liz diam sebentar, alisnya terangkat sebelah, tanda bahwa dia tidak memgerti apa yang orang tua ini bicarakan di depannya. "Maksud paman apa?"


Tara langsung tersadar seketika. "Ah, bukan karna Arfen, terus kenapa kamu nangis?"


Liz langsung terduduk diam, wah aneh, kemampuan aktingnya benar-benar turun. Entah dia yang tidak mau berakting, atau memang sudah tidak bisa?


"Gapapa." Sahut Liz singkat. "Liz mau istirahat." tambahnya berjalan menuju ke kamarnya.


"Loh? Liz ga mau salaman pelukan hangat dulu sama Ayahnya." Celetuk Arfen enteng, entah apa maksud si tengil satu ini. Padahal sudah tua, ada saja yang dia rencanakan. Bahkan Reya berdecak kagum melihat Ayahnya ini.

__ADS_1


"Pa? Papa kenapa? Abis kejedot tembok? Papa hari ini aneh loh." Komentar Devan seketika. Emosinya sedang naik sekarang, hatinya tidak tenang melihat istrinya menangis dan dia tidak bisa berbuat apa-apa.


Tolonglah mengerti sedikit perasaan Devan, jangan ganggu dia dan istrinya, itulah yang ingin sekali Devan katakan.


"Bukan salaman sama Papa, ta--"


Tara langsung dengan cepat menutup mulut lemes manusia satu itu. Entah masih muda atau sudah tua, rasanya Arfen itu benar-benar menyebalkan.


"Ga ada apa-apa, kalian istirahat aja."


Devan mengangguk. "Makasih Ayah, tolong bilang ke Papa agar lebih mengerti situasi ke depannya." Devan membawa Liz yang tampak lesu kembali ke kamar mereka.


"Diam lah Arfen." Pekik Tara menatap tajam orang itu.


"Kenapa harus diam? Ada masalah apa sebenarnya?" Tanya Thifa yang sedari tadi diam mencoba mencerna informasi.


"Ya, kenapa Pa? Oke, Reya setuju dede Liz itu ada masalah, tapi putrinya Paman Tara? What? Maksudnya teh naon?" yup bahasa campur-campur ala Reya sudah keluar,  menandakan situasi sekarang sudah di luar pikirannya.


Arfen hanya diam menatap Tara.


Arfen menahan tangan orang itu. "Kita perlu bicara." lanjutnya mengikuti langkah cepat pria berbadan tinggi itu.


Thifa menatap Reya. "Jelasin hal yang kamu tau kalau kamu mau mama bantuin lepas dari perjodohan yang dipaksakan kakek mu itu."


Reya hanya bisa menyunggingkan cengiran manisnya, dia menarik tangan Thifa, memastikan tempat itu benar-benar sepi dan mulai menjelaskannya pada Thifa. Thifa mulai mengerti alasan segala tindakan aneh Liz. Tapi yang belum mereka berdua sadari adalah bahwa Liz anak kandung Tara.


...***...


"Akui aja kalau kau tau dia itu putrimu, kenapa harus drama banget? Aku tau, Liz membenci mu, tapi kalau kau menjelaskan betapa gilanya kau selama puluhan tahun ini karna mencarinya dan ibunya, dia pasti mengerti." Kata Arfen enteng. Biasa, hobinya emang nyari jalan simpel.


Saat ini keduanya tengah berada di dalam mobilnya Tara, dengan Arfen yang mengendarai. Jaga-jaga kalau Tara mendadak stress dan tidak bisa mengendalikan diri.

__ADS_1


"Sayangnya semua gak terjadi se-enteng ucapan mu. Kau tau, betapa dia membenci ku."


"Ya itu dia, dia membenci mu karna apa?"


"Itu pertanyaan? Udah jelas karna aku ga ada di sisinya saat dia kecil hingga dia dewasa, dia tumbuh tanpa sosok Ayah."


Arfen menghela napasnya kasar. "Itu dia, coba jelaskan bahwa kau selama ini melakukan itu tanpa sengaja. Padahal kau mencarinya dengan sungguh-sungguh sampai mengacak-acak satu kota."


"Apa menurut mu setelah aku menjelaskannya, dia akan berkata. 'Ayah, ayah maafkan aku, aku merindukan mu.' begitu?"


Arfen diam sebentar, dia menggaruk kepalanya yang tak gatal, sepertinya kebiasaan masa mudanya itu kembali. "Ya..., iyalah! Emang dia mau jawab apa lagi? Selain maaf dan merindukan mu?"


Tara hanya bisa menghela napasnya, dia sudah pernah ingin mencoba apa yang Arfen katakan. "Kalau jawaban dia gak gitu gimana? Kalau aku bilang aku tau semuanya, apa menurut mu dia masih ingin bicara dengan ku? Tidak. Sejujurnya aku menyukai saat ini, walau hanya pura-pura, aku menyukai dia yang ingin menatap ku dan berbicara padaku. Kalau aku bilang aku tau semuanya, dia ga akan mau menatap ku, apalagi ngobrol dan makan dengan ku. Aku terlalu pengecut untuk menghadapi resiko itu."


Keadaannya hening seketika, Arfen menghela napasnya. Dia lupa, bahwa Tara itu seorang pecundang. Soalnya jika Arfen yang ada di posisi itu, Arfen akan langsung menjelaskannya saja, menerima kebenciannya, lalu melakukan apa saja demi memenangkan hati putrinya, walau hasilnya tidak pasti. Begitulah yang orang itu pikirkan.


"Padahal kau mencarinya selama ini, Deyna lah yang menyembunyikan dirinya dan anakmu dengan begitu sempurna. Dasar perempuan licik, dia juga menghasut putrimu untuk mem--"


Bukhh!!


Satu pukulan hebat sudah Tara layangkan untuk orang dengan mulut asal ceplos satu ini.


"Apa ini sialan?! Kau berani merusak wajah tampan ku?!"


"Deyna udah meninggal."


Arfen langsung diam seketika, dia melihat wajah Tara yang sendu nyaris menangis.


"Maaf..., tapi fakta bahwa Deyna menghasut Liz bu--"


"Bukan Deyna, bukan dia. Ada orang lain, dan aku gak tau dia siapa. Orang itu yang menghasut Liz. Jadi, berhenti beromong kosong soal Deyna. Dia..., perempuan paling penyabar yang pernah aku temukan. Sayang sekali dia harus jatuh cinta dengan bajingan seperti ku."

__ADS_1


"Ralat, bukan bajingan tapi pecundang." Sahut Arfen enteng. Meski mulutnya berkata begitu, tapi Arfen juga ikut merasa sesak. Tidak terbayangkan apa jadinya dunianya kalau  dia kehilangan Thifa, dan bahkan di benci oleh anaknya yang baru di temukan setelah sekian puluh tahun.


"Maaf..., aku ga tau perasaan mu."


__ADS_2