
...***...
Matahari sudah naik, Liz ingin bangun sayang sekali badannya tidak mendukung. Berkat seseorang pinggang dan pahanya kini menjadi kaku semua. Liz menatap pria penyebab semua ini, dia adalah Devan.
Devan masih tertidur lelap, bersama dengan Liz di satu selimut putih polos. Ya hanya itu yang menutupi tubuh polos mereka berdua.
Harus bangun pagi, bisa-bisanya nanti Thifa sama Arfen mikir aku menantu yang buruk, tapi ughhh dasar Devan, udah di bilang sekali aja malah sampe subuh.
Meski di otaknya dia kesal, tapi dalam hatinya dia senang, dan dia menikmatinya. Mengingat kejadian kemarin membuat Liz malu sendiri, pipinya merona hangat seketika.
Liz menghela napasnya, dia kini sungguh-sungguh mengumpulkan segala niat untuk bangun.
"Ga usah bangun, tidur lagi aja. Masih ngantuk kan? Toh kita juga belum ada tidur lima jam." Tiba-tiba suara Devan mengagetkan Liz. Satu tangan kekar pria itu dia gunakan untuk menarik Liz lebih dekat dalam pelukannya.
Cup...
Kecupan di kening itu sukses besar membuat wajah Liz semakin memerah.
"Ga bisa lah, ini udah pagi loh. Ntar kalo orang tua kamu ga suka gimana?"
"Tenang aja, mereka orangnya pengertian. Terutama papa, pasti peka. Dulu aja kalau gak salah abis nikah papa dan mama, gak keluar kamar dua hari." sahut Devan enteng.
"Kamu tau dari mana? Kan kamu belum lahir, ada-ada aja halusinasinya."
"Dari kakek Nathan,"
Liz mengangguk mengerti, dia ingat kemarin malam dia juga mendapat hadiah dari sepasang suami istri itu.
Oh? Orang yang asik? Wajahnya awet muda ya.
Begitulah tanggapan Liz untuk orang tertampan stok terakhir pada masanya, ya kali ini bukan masanya lagi.
Kira-kira hadiahnya apa?
"Kakek Nathan ga tinggal bareng kita?"
__ADS_1
Devan menggeleng. "Kakek stress parah, katanya dia mau tinggal berdua aja sama nenek Sheryl. Ga usah di peduliin, emang gitu."
Liz menatap aneh Devan. "Bukannya gak sopan ya manggil kakek sendiri stress?"
Devan yang dari tadi menutup matanya, kini langsung membukanya. "Percayalah sama kata-kata suami mu ini. Jadi sekarang ayo tidur."
Liz akui dia memang masih sangat lelah, kantuk terus merayunya untuk menutup mata, hingga akhirnya dia tertidur dan saat dia bangun, langit sudah sore.
Syukurlah saat Liz melihat kesebelah Devan masih ada tertidur dengan lelap, dengan satu tangannya menimpa tubuh mungil Liz.
Liz tidak peduli lagi, dia mulai menggoyang tubuh Devan.
"Suami ku, ayo bangun. Liat ini udah jam berapa." Loz sendiri baru menatap jamnya, dan itu sudah pukul tiga sore.
Devan mengucek matanya, dia menatap Liz dengan wajahnya yang begitu khawatir. Devan mengedipkan matanya beberapa kali guna memperbaiki penglihatan nya yang buram.
"Ada apa sayang? Kenapa muka nya jadi gitu? Apa ada masalah? Ada yang marahin kamu? Ganggu kamu? Atau ga sopan sama kamu?"
"Bukan itu!" Pekik Liz cepat. "Liat ini udah jam berapa, ini udah jam tiga sore, tiga sore, padahal aku niatnya bangun jam 9 atau 10, Kenapa malah sampe 3 sore sih. Te--emph!"
"Nah? Udah tenang? Cuma jam 3, Mama ga bakal marah kok. Sekarang ayo mandi aja." Devan bangkit berdiri mengangkat Liz berjalan ke kamar mandi.
"Tu-tunggu, mandi? Maksudnya mandi bareng?"
Devan melirik Liz dengan senyuman seringainya. "Kenapa? Bukannya dulu kamu ngerengek minta mandi bareng ya?"
Liz hampir menggigit lidahnya sendiri, itu semua karna yang di katakan Devan benar, awal-awal menikah Liz memang pernah merengek soal itu.
Aku bilang gitu karna aku yakin Devan gak akan mau. Tapi siapa yang tau hari dimana Devan serius soal itu akan datang, dan harinya tuh hari ini.
Jantung Liz berdegum begitu kencang, Devan yang menyadari itu semakin senang, suasana hatinya pagi ini benar-benar sangat bagus.
"Ide bagus, kita bakal mandi tiap pagi. Kayaknya enggak buruk juga." Celetuk Devan enteng tanpa memperhatikan pendapat istrinya.
...***...
__ADS_1
Karna usulan Alreya, maka sore ini di adakan waktu ngeteh di Taman belakang, dengan seluruh keluarga berkumpul. Tentu saja ada Arfen dan Thifa.
"Kayaknya aku berubah pikiran, kita bakal mandi pagi dan malem, dua kali sehari, itu harus bareng." bisik Devan, bahkan saat di tengah-tengah perkumpulan itu.
Liz hanya bisa diam dengan berdoa tidak ada anggota keluarga lainnya yang mendengarnya, atau tidak, entah dimana dia harus menyembunyikan wajah dan harga dirinya.
Sejak perayaan pernikahan mereka kemarin, rasanya Devan jadi banyak bicara, dan semua yang keluar dari mulutnya adalah hal-hal paling menggelikan yang pernah dia dengar.
"Nah, karna keluarga kita udah kedatangan anggota baru, kita bakal mulai acara ini dengan perkenalan, biar jadi lebih akrab. Berkat seseorang, pertemuan yang harusnya pagi jadi sore." Alreya membuka mulutnya, sembari terus melirik mengerikan ke arah Devan.
Devan tidak peduli, dia hanya buang muka dengan entengnya.
"Ga usah sensitif gitu Reya, Papa dulu dua hari loh gak keluar. Ya walau sama kayak kamu, bibi mu Shiren berisik." Sahut Arfen mengedipkan sebelah matanya pada Devan.
"Akhirnya Papa memihak Devan, setelah puluhan tahun papa selalu memihak Reya."
"Soalnya akhir-akhir ini tabiat mu sebagai seorang Arkasa mulai keluar." Kata Arfen enteng, seolah mengatakan bahwa itu sebuah kebanggaan.
"Maaf, apa tabiat keluarga Arkasa itu? Saya juga harus belajar soal itu, kan sekarang saya sudah termasuk keluarga Arkasa, kan?" potong Liz dengan cepat. Bukan akting, tapi kali ini dia sungguhan bingung.
Arfen dengan senang hati ingin menjelaskan, namun dengan cepat Thifa menutup mulutnya. "Gak ada apa-apa kok, Nak. Soal tabiat itu, kita ga usah punya. Mama juga ga punya kok."
Alreya ikut mengangguk, dan menepuk pundak Liz. "Ga usah tau de, nyesel ntar. Kalo bukan karna darah, kakak juga ga mau punya tabiat itu."
"Bentar, kalian bahas apa sih?" Tanya Devan membuat Liz semakin bingung.
Tolong satu orang aja, jelasin apa yang di maksud dengan tabiat keluarga Arkasa?
Batin Liz berteriak, yah dia hanya mampu membatin saat ini.
"Udah lupain, nah Liz, kamu cape kan, ini minum teh nya. Teh ini katanya bisa ngurangin lelah, dan bagus untuk perempuan yang baru menikah." Thifa memberikan teh yang baru di seduhnya kepada menantu pertamanya.
"Ah ya, terima kasih." Liz menerima dengan gugup. Dia menatap wajah Thifa, memperhatikannya dengan seksama, saat tatapan mereka bertemu, Thifa tersenyum begitu hangat.
Ah, jadi ini senyuman yang membuat Tara tergila-gila sampai dia meninggalkan mama yang sedang mengandung? Ini, lebih menyakitkan daripada yang ku pikirkan, tinggal satu atap dengan perempuan ini.
__ADS_1
...***...