Dendam Dalam Pernikahan Kontrak

Dendam Dalam Pernikahan Kontrak
Kumat


__ADS_3

...***...


Kini Liz hanya terbaring di tempat tidurnya setelah Devan memintanya pulang. Liz untuk sememtara tidak di izinkan ikut syuting sampai pipinya benar-benar sembuh.


Liz mengingat lagi kejadian tadi siang, ada yang salah dari Devan, tapi Liz tidak tau itu. Yang jelas hatinya merasa tidak tenang.


Apa ini perasaan pertanda rencana ku gagal? Aku rasa ga deh, kan aku udah usir Grisha.


Tanpa Liz sadari dia sudah tertidur, saat dia membuka matanya, tak ada Devan di depannya.


Liz sedikit terkejut, dia kan sudah terbiasa melihat Devan di depannya, tepat saat dia membuka matanya.


Kemana dia? Apa dia semalam ga pulang? Atau Udah ke kantor? sepagi ini?


Liz mengambil ponselnya, dia sama sekali tak melihat ada notifikasi dari Devan. Liz bahkan sudah menelpon suaminya beberapa kali, namun sama sekali tak ada jawaban.


Liz mendekati kamar mandi, sama saja, Devan juga tidak ada di sana. Ia mengambil cardigannya, agak cepat kakinya melangkah menuruni tangga, Liz juga tidak melihat Devan di meja makan.


Mana sih si Devan? Dia ga pulang?


"Viona!! Viona!!" Panggil Liz dengan suara keras. Sehingga beberapa pelayan yang ada di sekitar situ langsung berkumpul.


"Ya nona, Viona di sini. Apa kesalahan Viona nona?" Wajah Viona agak tegang, juga yang lainnya. Ini pertama kalinya Liz berteriak sekuat itu.


Liz menggeleng. "Kamu ga salah, aku cuma mau nanya. Devan mana?"


"Sepertinya dari kemarin malam tuan muda tidak pulang Nona, itu juga yang dikatakan penjaga gerbang."


"Kalo gitu Vin mana?"


Viona juga menggeleng. "Vin juga belum pulang."


Liz memegangi kepalanya yang sedikit nyut-nyutan. Dia berjalan ke meja makan. "Kalian semua kembali bekerja. Maaf udah teriak-teriak di pagi kayak gini, pasti kalian ke ganggu."


"E-eh ga gitu nona!! Ka--"


Liz berbalik, dia menampilkan senyuman hangat khasnya dengan wajah berseri tentunya. "Aku gapapa, kalian balik kerja yaa."

__ADS_1


Semuanya bubar seketika, Viona berdiri di sebelah Liz, sedikit berbisik. "Nona muda habis bertengkar dengan tuan muda ya?"


"Entahlah, aku juga bingung. Kepala ku sakit, Viona bisa tolong buatkan jus?"


"Baik nona, akan segera saya siapkan." Viona berjalan meninggalkan Liz sendiri.


Liz menempelkan wajahnya di meja makan.


Dia kenapa? Tumben gak pulang? Udah hampir lima bulan kami menikah, ini baru pertama kalinya dia terlambat pulang eh bahkan ga pulang. Apa aku buat kesalahan ya? Apa itu? Dia marah? Karna aku...


Bentar deh, kemarin kan dia habis bentak mantannya. Mungkin karna nyesel ngusir mantannya dia jadi galau gitu? Terus kenapa lampiasinnya ke aku? Kalo gak mau pisah sama dia ya jangan di usir... Eh ga deh, bagusan di usir kok.


Liz menghela napasnya panjang.


Ini pasti gara-gara dia habis usir Grisha.


Liz sudah melihat ada jus di depannya dengan tangan Viona yang membawanya. "Nona jangan terlalu berpikir berlebihan. Mungkin saja tuan muda sedang sibuk di kantor."


"Aku rasa begitu. Oh ya, minta supir siapkan mobil sekarang. Aku mau ke kantor Devan."


"Nona ini bahkan belum ada jam 6 pagi? Nona yakin?"


...***...


Pada akhirnya Liz hanya mengikuti keinginannya sendiri.


Devan ga boleh benci aku karna Grisha, atau karna apapun. Pokoknya manusia sinting itu gak boleh jauh dari ku, gimanapun caranya, dia harus jatuh cinta dengan ku.


Huh


Padahal rasanya kemarin-kemarin hubungan kami baik-baik aja deh, bahkan keliatan ada perkembangan. Kenapa dia gini sekarang?


Liz turun dari mobil, dia langsung berlari masuk ke dalam. Kantor saat ini sangat sepi. Karna sudah beberapa kali Liz ke sini, dia sudah cukup hapal jalan ke ruangan Devan.


Liz membuka pintu itu. Ternyata benar, Devan ada di dalam sana tertidur di sofa dengan banyak kertas berhamburan tidak jelas.


Liz menghela napas lega.

__ADS_1


Hah, ternyata akunya aja yang berpikir berlebihan. Dia cuma tidur di kantor pasti karna banyak banget kerjaaannya. Tapi, aku ngapain sampe lari-larian gitu, cuma buat mau nemuin orang sinting ini. Hemm, mungkin karna ambisi balas dendam ku makin lama makin besar. Jadi aku ga boleh kehilangan Devan yang merupakan target utama balas dendam, gitu kan? Iya deh gitu.


Liz berjalan mendekat ke arah Devan. Dia duduk bersandar di bahu pria itu.


Selamat pagi, target ku~ pura-pura tidur aja deh.


Mungkin lelah, jadi kepura-puraan itu menjadi kenyataan, Liz benar-benar tertidur.


Devan membuka matanya, dia sesekali mengusap rambut Liz.


Devan bisa mengingatnya, kemarin malam dia yang entah kenapa, tapi hatinya tidak tenang terus mondar mandir di dalam ruangannya. Emosi menarik hatinya, ia langsung membuang berkas-berkas itu hingga berhamburan di lantai.


Saat bangun teriak-teriak ke seluruh rumah cuma mencari ku? Tak puas dia datang ke kantor? Ya, itu pastinya memastikan bahwa bank pribadinya masih baik-baik aja dan tidak kabur, gitu kan? Cih... Wanita penggila uang ini benar-benar.


Jari Devan tidak bisa berhenti untuk memainkan rambut Liz, hingga gadis itu terbangun lagi. Dia menatap Devan.


Seperti biasa, Liz menampilkan senyuman paling manisnya dengan mengucapkan. "Selamat pagi suami ku~"


"Apa yang kau lakukan sepagi ini di kantor ku? Bahkan saat aku tidak meminta mu untuk datang?" Devan hanya memasang ekpresi dingin, tapi Liz kan sudah terbiasa.


"Apa lagi? Tentu memastikan bank pribadi ku baik-baik saja, aku bisa gila kalau suami ku ini terluka." Sahut Liz dengan nada manjanya.


Jari Devan langsung berhenti. Mendadak udara di sana menjadi aneh, begitu juga pandangan Devan yang menusuk. Devan langsung bangkit berdiri. "Pulang lah, dan jangan pernah temui aku sampai aku memanggil mu, dan lagi, soal uang, akan aku kirimkan." Suara Devan sangat berbeda dari biasanya, sangat menyeramkan.


Apa lagi? Mendadak marah-marah mulu hidupnya.


"Kenapa sih? Kok marah-marah mulu? Padahal aku udah datang loh. Kamu ga pulang, aku yang datang. Maunya apalagi sih, iya iya aku tau kamu nyalahin aku kan karna gara-gara aku, Grisha perempuan yang paling kamu cintai itu jadi pergi. Iya, aku minta maaf..., apa aku harus cegah dia di bandara? Biar kamu ga marah-marah lagi?"


Brakkkk


Devan melempar tempat pulpan yang ada di mejanya. Dia mendekat ke arah Liz, Devan mengurung gadis itu di dalam cengkramannya. "Ternyata di otak mu memang cuma ada uang."


Bentar... Bentar, yang dia bahas dari kemarin uang uang dan uang, wanita bayaran bla bla bla. Jangan-jangan...


"Tuan muda marah karna uang? Ada apa? Kenapa berubah? Padahal dulu waktu awal ketemu, tuan muda tau jelas bagaimana aku menggilai uang."


Devan tersentak, matanya sedikit melebar.

__ADS_1


Nah kan... Pasti soal uang. Kok bisa? Dia mau bangkrut ya? Makanya sensian soal uang?


__ADS_2