Dendam Dalam Pernikahan Kontrak

Dendam Dalam Pernikahan Kontrak
Hati-hati


__ADS_3

...***...


"Jadi Devan udah bilang cinta pada mu?" Tanya Anna memakan cemilan yang ada di mejanya. Setelah dia mendengar cerita lengkap dari Liz. Hari ini Liz berkunjung ke kantor, ini kesempatan bagus karna Devan ada di rapat di luar dengan Vin.


"Ya begitulah, bahkan kemarin malam aku ketemu Tara, pada akhirnya dia tau kalau aku dan Devan udah nikah." Sahut Liz meminum es nya.


"Masalah Tara, aku gak mau ungkit. Baju ku udah kering, aku gak mau basah karna kau. "


"Makasih tawarannya, selimut ku udah basah kok, cukup deh."


Anna menghela napasnya. "Aku ngerti sih masalahnya, jadi kau bingung, harus pergi sekarang atau nanti, diam-diam atau terang-terangan ya?"


Liz mengangguk. "Oh ya, aku belum cerita ya, Devan bilang dalam waktu dekat dia bakal kenalin aku ke orang tua nya. Setelah itu bakal adain acara resepsi besar-besaran."


Anna nampak diam, dia berpikir sebentar. "Kau tau? Aku punya rencana yang lebih bagus, dan kalau berhasil, efeknya gak akan main-main. Penderitaan yang akan mereka rasakan akan menjadi trauma mendalam. Tapi aku ragu kau bisa,"


"Banyak omong, langsung aja deh, apa rencananya."


"Pengkhianatan dan pemanfaatan, itu bagus jika Devan merasakannya, tapi bukan kah lebih menarik kalau, Tara, Arfen,  dan Thifa juga merasakannya. Merasakan pengkhianatan seorang menantu, hingga mereka akan trauma untuk mempercayai orang lain lagi, kalau bisa sampai stres sih bagus juga." Saran Anna, otaknya memang lancar kalau udah soal penyiksaan.


"Iya juga sih, toh kan target utama nya itu mereka. Jadi kalo mereka aku khianatin, pasti lebih sakit ya? Jadi maksudnya, rencana barunya adalah, mendapatkan kepercayaan mereka, membuat mereka menyayangi ku sampai lebih dari anak mereka sendiri, gitu? Lalu setelah itu, aku bakal khianatin? Bagus, kayaknya lebih sakit yang ini deh." Sahut Liz juga ikut setuju, rencananya masuk akal soalnya.


"Tapi itu artinya kau harus terus berpura-pura dan melakuakan akting menjijikan, Berpura-pura menjadi menantu yang baik di depan orang-orang sialan itu. Apa kau sanggup? Waktunya akan jadi lebih lama loh. Kalau kau gak sanggup, kita bisa cukup sampai sini aja." Anna menatap Liz penuh kasih sayang.


"Aku tau, pasti sulit untuk selalu tinggal satu atap dengan orang-orang yang begitu kau benci, berpura-pura tertawa dan menyayangi mereka, itu pasti sulit sekali, ya kan?" tambah Anna lagi, dia sedikit ragu. Karna dia yakin, semakin lama Liz tinggal di sana,  maka lukanya akan semakin dalam.


"Gak masalah, itu cuma sementara aja. Tenang aja, aku bakal baik-baik aja, dan mereka akan merasakan sakitnya pengkhianatan. Ya, rasa sakit yang akan menyesakkan dada mereka." Tatapan Liz lurus ke depan. Dia juga tidak tau apa yang akan terjadi kedepannya.

__ADS_1


"Kalau kau udah gak tahan tinggal bersama orang-orang munafik itu, telpon aku, dan kita akan pergi saat itu juga."


Tinggal bersama musuh-musuh ku ya? Bagaimana nantinya? Bukan hanya satu? Bukan hanya seatap? Aku harus berbicara lembut nantinya, memanggil nya Mama, orang itu? Lathifa Kanneira? Yang merebut apa yang harusnya menjadi Miliki Mama Deyna.


Orang yang akan ku panggil mama itu, adalah sumber utama dari hancurnya kehidupan Mama Deyna. Apa aku bisa? Mungkin kah bibir ku sanggup memanggilnya begitu?


"Aku takut...," gumam Liz.


"Apa yang kau takutkan, ada aku di sini."


"Aku takut, aku tidak tahan akan kepura-puraan itu, aku takut aku tidak bisa menahan amarah ku dan terus bersikap lembut, aku takut aku akan mengamuk nantinya, karna kebencian ini tak memiliki ujung. Aku takut rencana kita gagal, karna aku yang ingin sekali menamparnya. Aku takut..."


Anna langsung memeluk Liz dengan erat. Air mata wanita dingin itu turun dengan mudahnya. "Jangan takut, gagal juga gak apa-apa. Kita udah sejauh ini, meski gagal di pertengahan masih ada hasil walau ga sempurna, gak apa-apa kalau gagal. Jangan takut, oke?"


"Kalau aku gagal, mereka gak akan mendapat penderitaan sempurna yang kayak mama rasakan. Itu kan gak adil."


Liz tersentak halus, dia tersenyum hangat. "Kau adalah yang terbaik Anna. Aku bisa gila rasanya jika kehilangan mu."


"Ya ya, aku tau kau gila kalau tidak ada aku. Makanya aku akan berusaha sekuat mungkin, bersama-sama menghancurkan Devan Arkasa. Saat kau ada di rumah keluarga Arkasa nanti, ingat lah pesan ku itu. Jangan korbankan kebahagiaan mu, demi balas dendam." Nasihat Anna yang terus dia ulang-ulang itu, karna Anna tau jelas, kalau Liz nya itu keras kepala. Dendam dam amarahnya gak berujung.


Makasih An, tapi sayang, aku bakal korbanin banyak hal agar mereka menderita, meski aku menderita, mereka harus lebih menderita!!!


Batin Liz, Liz gak akan bilang ini ke Anna. Karna pastinya Anna akan menghalangi nantinya.


Klekk


Mendadak seseorang menerobos masuk. Ya tentu, orang yang berani seenaknya tentu saja adalah Devan.

__ADS_1


"Devan?"


"Tuan muda?"


Kata Liz dan Anna bergantian.  Devan bisa melihat Anna dan Liz yang sangat akrab, dengan berpelukan seperti tadi.


"Kalian jadi sudah se-akrab ini? Baguslah."


"Ya, Anna orang yang sangat baik! Aku suka dia!" Sahut Liz dengan senyuman merekah di wajahnya.


"Suka?" Devan menaikkan sebelah alisnya.


"Suka tuan, maksudnya adalah nona muda menyukai saya sebagai teman dekatnya. Tolong berpikiran jernih sedikit. Oh ya, Tuan muda ada apa ke sini?" Sahut Anna seperti biasa, suara dingin dan wajah datar.


"Tuan muda dengar nona muda datang ke kantor, tapi tidak ada di lobi ataupun di ruangan tuan muda. Robi bilang ada di ruangan mu, jadi kami segera ke sini." Sahut Vin sekenanya.


"Apa urusan kalian sudah selesai? Mau makan siang?" Devan mendekati Liz, dia mengulurkan tangannya.


"Ya, lapar juga. Anna juga, ayo!"


Devan melirik Anna sedikit tajam.


"Hentikan itu tuan muda, aku normal oke? Jadi berhenti menatap ku seolah aku akan merampas nona Liz dari mu."


"Mengingat kau yang tak pernah berkencan, aku sedikit takut, kau belok nantinya. Dan korban nya adalah istri ku." Sahut Devan enteng.


"Bagaimana bisa ada orang yang cemburu istrinya berdekatan dengan wanita lain." Gumam Liz pelan, ya walau masih bisa terdengar yang lainnya.

__ADS_1


Liz hanya bisa menahan tawanya. Mungkin dalam sifat antara Nathan dan Arfen sangat berbeda dengan Devan. Tapi soal tingkat kebucinan?


__ADS_2