Dendam Dalam Pernikahan Kontrak

Dendam Dalam Pernikahan Kontrak
Akhirilah Ken!


__ADS_3

...***...


Hari ini adalah jadwal Liz bertemu dengan Ken, jika diingat kembali Ken masih di tahan si sebuah vila oleh Devan. Hari ini Liz kesana karena Ken merengek untuk meminta bertemu.


Liz sudah memutuskan untuk menyelesaikan masalah ini dengan baik, dan penuh kedamaian. Setelah beberapa hari belakangan Tara menceritakan kisah masa lalunya, menghabiskan waktu bersama dengan Liz. Liz sedikit mengerti soal situasinya.


"Kira-kira posisi orang itu seperti senior Ken,  kan? Semoga dia tidak memcampakkan perempuan yang benar-benar dia cintai."


Liz akhirnya sampai di sebuah kamar yang sedang di jaga oleh bawahan Devan.


"Buka, aku ingin bicara."


"Baik Nona muda." Pria itu mengangguk, dia terlalu takut untuk membantah perintah nyonya muda ini, meskipun dia tau ini berbahaya.


Liz masuk ke dalam sana, dia melihat keadaan Ken yang sedang kacau balau. Sejujurnya Liz memang sedikit iba pada orang ini. Dia yang selalu tampil keren dan mempesona di layar segi empat yang hampir ada di setiap rumah masyarakat, kini Ken yang keren itu sedang terduduk lemah.


"Liz...," Dia mencoba berlari mendekati Liz, namun karna kurangnya tenaga, Ken hampir jatuh, syukurlah Liz menangkapnya dengan baik. Meskipun agak berat memang.


"Ayo duduk," Akhirnya Liz duduk di sebelah Ken, dengan tangan Ken yang terus menggenggam tangan istri orang itu.


Pengawal yang sedari tadi mengikuti Liz, ingin melepas itu, namun dengan sebuah aba-aba dari Liz. Pengawal itu tetap diam di belakangnya.


"Tolong lepas senior." Liz mencoba melepasnya dengan perlahan. Dia tau, saat ini Ken seperti sudah kehilangan setengah kewarasannya.


"Tidak mau, dan lagipula, jangan panggil aku senior, panggil aku Ken." Ken semakin menggenggam tangan Liz erat.


"Lepaskan atau aku gak akan pernah mau bicara dengan mu lagi." Nada Liz sedikit tajam.


Ken dengan enggan, namun akhirnya dia melepaskan genggaman itu juga.


"Senior, aku mencintai Devan." Kata Liz, membuka pembicaraan yang serius itu.


"Tidak! Jangan katakan itu! Apa Devan memaksa mu mengatakan itu? Dia menyakiti mu?!" Tampak saat ini kewarasan Ken benar-benar terenggut.


"Tidak ada yang memaksa ku, aku mengatakannya karna aku memang mencintai Devan. Dan kami akan segera memiliki anak, jadi tolong, jangan ganggu kehidupan kami, dan silahkan senior mulai kehidupan baru."


"Enggak Liz, ka--"


Plakk!!


Liz menampar pria di depannya ini. Membuat kesadaran Ken kembali, Ken menatap nanar gadis yang sudah sangat lama dicintainya ini.

__ADS_1


"Apa? Kenapa kau lakukan ini?"


"Tidak tau kah senior? Bahwa kamu sekarang sudah seperti penjahat yang ingin merampas ku dari suami ku. Senior, coba ingat-ingat kembali, lihat ke dalam hati mu lagi. Kau tau benar, aku mencintai Devan. Kau hanya ingin menolak fakta itu kan?" Liz menunjuk hati Ken.


Ken terdiam sebentar.


"Sebenernya jauh di dalam lubuk hati senior, kamu sudah sadar kan? Kalau aku mencintai Devan. Maka dari itu cobalah untuk mengikhlaskan ku. Di luar sana, banyak orang yang mencintai senior dengan tulus. Mungkin kita memang ga berjodoh. Kalau senior masih meneruskan perasaan ini, senior sendiri yang nantinya akan sakit hati."


Ken menatap Liz, dia menyeringai menyeramkan. "Semanis apapun nasihat mu, sehalus apapun kau meminta ku pergi, pada akhirnya akulah yang tetap akan tersakiti, apa kau mengerti?"


"Mau bagaimana lagi, itu memang sangat menyakitkan. Bahkan jika aku menggunakam bahasa dari surga sekalipun, rasa sakitnya tetap akan sama kan?"


Ken menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Kenapa? Kenapa kau malah mencintainya dan bukan aku? Aku juga sangat mencintai mu, kau tau, itu sangat besar."


"Tapi aku mencintainya."


"Apa karna kau mengandung anaknya? Makanya kau mencoba mencintainya? "


Liz menggeleng. "Karna aku mencintainya, makanya aku mengandung anaknya."


Brakk!!


Ken menendang meja yang ada di depannya, dia menyandarkan badannya di sofa.


Liz menggeleng. "Aku tidak pernah mencintai orang lain selain Devan, bahkan untuk sepersekian detik."


"Jadi aku tidak punya kesempatan?"


"Mustahil untuk senior punya kesempatan."


"Bahkan jika Devan membuang mu dan membuat kesalahan?"


"Itu lebih tidak mungkin lagi."


Ken tersenyum kecut, dia menatap wajah Liz yang dingin dan masih tanpa ekspresi. Berbanding terbalik dengan dirinya yang sudah banjir air mata, Liz masih tetap tenang.


"Dingin sekali, bagaimana bisa kau mengatakan hal sekejam itu pada orang yang sangat mencintai mu."


"Sudah aku katakan, bahkan jika aku menggunakan bahasa dari surga, rasa sakitnya tidak akan hilang begitu saja."


"Jadi, selama ini, kau anggap aku apa?"

__ADS_1


"Senior."


"Hanya itu?"


Liz mengangguk tanpa ragu.


"Liz, bisakah kau keluar sekarang?" Ken menunjuk pintu yang masih terbuka itu.


"Apa dengan begini senior akan menyerah?"


"Entahlah, aku rasa tidak. Karna aku masih sangat mencintai mu."


Liz bangkit berdiri, dia menatap iba pada orang yang satu ini.


Inikah defensi cinta yang menyeramkan? Ya, mama dan orang itu (Tara) juga mengalami cinta yang tragis.


"Aku udah bilang semuanya, aku harap senior menyerah, karena senior sama sekali ga punya kesempatan."


...***...


Liz sedang melamun di dalam mobilnya, lagi dan lagi beban pikirannya di tambah. Padahal dia pikir jika berbicara baik-baik begini, seniornya yang payah itu akan mengerti.


Tapi ternyata masih tidak. Ya, meskipun begitu setidaknya Liz sudah memperingatkannya, tragedi apapun yang akan terjadi di depannya, itu bukanlah kesalahannya.


"Ya, pokoknya ga tau deh! Salah sendiri! Aku ga ikut campur."


Liz tau, betapa gilanya sesuatu yang di sebut cinta itu, sangat menyeramkan dan tidak masuk akal.


Liz memegang perutnya yang kian lama semakin membesar. "Mama harap kamu punya cinta yang normal-normal aja ya nak, jangan gitu, jangan sampai gila."


Liz beralih menatap benda persegi panjang mungil yang serba guna itu. Dia melihat pesannya masih belum juga di balas oleh Devan, bahkan panggilannya selalu tidak terjawab, membuat kekhawatiran yang ada di hatinya memuncak.


Perjalanan melelahkan hari itu akhirnya berakhir, begitulah pikir Liz saat dia memasuki rumahnya dan berniat tidur. Namun petaka masalah datang saat dia berpapasan dengan Reya. Wajah Reya benar-benar menyedihkan.


Liz berani jamin dengan setengah hartanya kalau masalahnya pasti soal pertunangannya.


"Kakak ipar kenapa? Mau Liz buatin minum?"


"Jangan Liz, kamu cape kan? Istirahat aja." timpal Anna yang baru datang entah darimana.


Alreya langsung menatap Anna, dia menggenggam bahu gadis bermulut pedas itu dengan erat. "Kau mau ga jadi putri angkatnya Mama dan Papa, kamu jadi putri bungsu dan nikah sama orang itu."

__ADS_1


"Bagian kaya raya dan punya nama Arkasa sih mau, tapi kalau bayarannya nikah sama orang itu, tidak terima kasih. Mending Vin kemana-mana."


__ADS_2