
...***...
Devan tersenyum miring saat dia sadar wajah Liz memerah. Bahkan Liz berani memotong ucapannya dan langsung ke kamar mandi.
"Hah~ Dulu saat awal pertama nikah, gayanya banyak banget mau mandi bareng. Sekarang," Devan tertawa kecil.
Namun dia sudah lama menunggu Liz, tapi Liz sama sekali tidak keluar dari kamar mandi.
"Liz!!" Panggil Devan yang sudah berdiri di depan pintu. Liz keluar dengan senyuman seperti biasanya.
Namun, karna mungkin belum fokus sepenuhnya, Liz oleng, untunglah ada Devan yang menangkap nya.
Devan menggendong Liz, perlahan membawanya ke kasur. "Ada apa? Satenya ga enak? Kau baik-baik aja kan?"
"Aku merindukan Mama...," Sahut Liz tanpa sadar, dia benar-benar lupa kalau orang di depannya adalah Devan.
Devan diam saja, Liz juga mendadak kaku. "Tidur lah, satu-satunya cara kau bertemu dengannya adalah tidur."
Liz sudah tertidur. Devan menatap wajah polos itu sebentar.
Matahari sudah naik, burung juga sudah berkicau dengan lembut. Agak sulit kemarin untuk Liz tertidur.
Seperti biasa, dia sedikit mengumpat dulu soal Devan. Lalu mengambil ponselnya.
Anna:
Sorry Liz, aku gagal membuat bisnis Devan hancur. Klien yang kemarin datang lagi, proyek nya lancar. Entah bagaimana Devan melakukan itu.
Tapi tenang aja, kita akan melakukannya lain kali. Gagal sekali bukan artinya akan menyerah kan. Kita akan mencobanya lagi, bersama-sama, kali ini dengan teliti. Maaf...
Tangan Liz gemetar, pandangannya lurus ke depan. Pikirannya kemana-mena, perasaaannya tentu sakit,
Padahal... Demi itu aku sudah mengorbankan first kiss ku.
Tukhhh
Tanpa Liz sadari tangannya tak kuat lagi memegang telepon, hingga ponsel itu jatuh menimpa wajah Devan yang sedang tidur.
Mendapat gangguan, Devan juga sadar. Dia membuka matanya, pandangannya juga tertuju pada ponsel yang saat ini ada di depannya.
Wajah Liz sedikit pucat, Devan sudah mengambil ponsel itu. Dia bersiap membacanya, namun.
Cup...
__ADS_1
"Selamat pagi suami ku~" Dengan cepat Liz mengalungkan tangannya di leher Devan. Memberikan dia jedah waktu untuk berfikir, dan mencari kesempatan melihat pesan itu.
Devan sedikit terkejut, namun matanya tak lepas dari mata Liz yang indah. Matanya tak berpaling melihat wajah polos yang sedang berseri-seri itu
Liz pikirkan caranya, bagaimana pun. Devan tidak boleh membuka pesan itu. Bukan hanya di ceraikan dan di depak dari tempat itu, mungkin saja kepala mu...
"Ada apa dengan ekspresi mu?" Tanya Devan.
"Aku hari ini syutingnya sore. Boleh ikut ke kantor, mau liat suami ku yang keren ini kerja. Soalnya kalo lagi kerja fokus banget."
Aku harus ketemu sama Anna. Kayak mana bisa kejadian gini, aku udah korbanin banyak hal. Kedepannya juga gak boleh gagal.
Devan diam saja tanpa ekspresi menatap Liz.
"Gak boleh ya? Ya..." Tanya Liz lagi.
"Kau gak ingin menemui siapapun kan...?"
"Sayang aku masih waras. Mana mungkin aku mendepak mu yang kaya dan tampan ini."
"Kalau begitu bersiaplah, aku akan mandi dulu. Jangan bermain trik di belakang ku, kalau tetap ingin kaya, ingat posisi mu." Devan menatap ponsel Liz, dia ingin membukanya.
Liz dengan cepat langsung memberikan sebuah ciuman di bibir. Itu perlu menurutnya karna satu kesalahan itu bisa menggagalkan rencananya selama ini.
Devan tanpa sadar melepas ponsel Liz dan dengan senang hati menyambutnya.
"Masih sangat pagi, dan kau sudah melakukan trik seperti itu?" Devan menaikkan sebelah alisnya.
"Tapi tetap saja tuan muda menerimanya dan tidak mendepak Liz keluar."
Devan tersenyum miring. "Pandai juga bicara mu. Oh ya, katakan pada pelayan, hari ini aku mau sarapan yang manis-manis."
"Eh? Tumben?"
Bagus..., syukurlah dia tidak memeriksanya, aku harus lebih hati-hati ke depannya.
...***...
"Jadi kesimpulannya adalah first kiss mu hilang demi membuka jalan untuk ku?" Tanya Anna yang seduah setengah jam lalu berbincang hanya berdua dengan Liz.
Liz meminum tehnya. "Ya begitulah, mau bagaimana lagi." Liz menghela napasnya.
"Sorry, kau udah melakukan pengorbanan sebesar itu malah gagal." Wajah Anna sedikit lesu.
__ADS_1
Pasti sulit untuk mu...,
Tinggal seatap dengan musuh besar mu saja sudah sesulit itu, apalagi ini kau harus mengorbankan first kiss. Aku benar-benar minta maaf Liz, keselahan ini tidak akan terulang lagi.
"Mau bagaimana lagi, keberuntungan gak di pihak kita. Ga usah lemes gitu lah, kan masih ada hari-hari esok. Jadi kita masih bisa hancurin dia di lain kesempatan." Meskipun korbannya adalah Liz, gadis ini terlalu terbiasa untuk menghibur orang lain lebih dulu.
"Ah ya, gimana perkembangan hubungan kalian? Maksud ku, perasaannya, apa dia mulau menyukai mu?"
Liz tampak sedikit berfikir. Dia mengingat beberapa kejadiannya bersama dengan Devan. "Hmmm, di banding menyukai, aku rasa untuk saat ini..., bisa di sebut dia tertarik pada ku, mungkin. Dan ini hanya perkiraan ku."
"Kalau begitu ini semakin baik, semakin mudah untuk mu, semoga saja lebih cepat. Agar semua ini cepat selesai dan kita bisa hidup lebih damai."
"Aku harap juga begitu." Liz meminum tehnya, pandangannya lesu ke bawah. Ya, hanya di depan Anna dan Vasa Liz bisa menunjukkan dirinya yang sebenarnya.
"Oh ya, satu lagi. Kau tau? Hampir tiap hari gadis itu datang ke sini."
Liz melirik Anna, "Gadis?"
"Grisha, mantan Devan."
...***...
Baru saja Liz membicarakannya pada Anna, Liz sudah bertemu dengan Grisha di lobi. Sepertinya gadis itu sedang menunggu seseorang?
Siapa yang dia tunggu? Devan ya? Pastinya sih...
Liz hanya ingin mengabaikan nya saja, dan berjalan keluar. Dia masih ada jadwal yang lebih penting, di banding mencari gara-gara dengan gadis itu.
Namun sayang sekali, Grisha tidak berpikiran yang sama. Dia langsung menghadang Liz cepat. "Tinggalkan Dev! Dia cuma milik ku, kau hanya pelarian sesaat. Cepat atau lambat Dev bakal balik ke aku. Kamu cuma lagi sedikit bertengkar, jangan manfaatkan situasi ini."
Cuih
Kenapa aku harus berurusan yang seperti ini. Hadehh, padahal lagi males-malesnya buat adu mulut, apalagi baku hantam. Tapi kalo udah kayak gini..., sekalian aja deh. Aku depak dia, di banding nyusahin ke depannya. Kayaknya, dia harus tau dia lagi ngomong sama Firlizy Defana.
Liz diam dengan ekspresi bingung. "Maksud nona apa ya?"
Grisha sudah mencengkram Liz erat. "Pergi tinggalkan Dev."
Liz tersenyum tipis tanpa ada satupun yang mengetahui nya. Dia berbisik kepada Grisha. "Apalagi, tentu demi hartanya. Jauhin dia? Ga mau lah, siapa yang mau hidup miskin setelah jadi kaya raya?"
Plakkk!!!
Tamparan itu Grisha layangkan dengan keras, di pipi indah Liz.
__ADS_1
"WANITA SIALAN!!! BERANINYA KAU MENAMPAR ISTRI KU!!!!"
...***...