Dendam Dalam Pernikahan Kontrak

Dendam Dalam Pernikahan Kontrak
Akhirnya!


__ADS_3

...***...


"Kalau kau mengusir semuanya, yang akan menyaksikan kau menggandeng tangannya siapa? Dasar anak ini, masih tetap bodoh." Suara ini, suara indah yang membuat orang-orang diam untuk mendengarkannya, meski suaranya sudah agak berat karna termakan usia, namun Tara masih bisa mengenalinya.


"Wah, ahlinya gombal sudah datang." celetuk Tara.


"Nah, aku Arfenik Arkasa menyambut mu sebagai menantu rumah ini, Firlizy Devano Arkasa."


Liz dian seketika, pada akhirnya Liz bertemu dengannya, Arfenik Arkasa. Entahlah, Liz tidak begitu benci pria berwajah ramah ini.


Aku cukup nyaman dengannya, apa karna dia tidak ikut dalam proses penyiksaan ibu ku? Benar begitu?


"Liz, papa menyambut mu." Devan merangkul Liz dengan kehangatan.


"Terima kasih, Emmm--" Liz melirik Devan sebentar, dia tidak tau harus memanggil Arfen apa.


"Panggil aja beliau Ayah, oh ya, saya kakak ipar kamu." Dia, gadis itu, berwajah cantik dan juga sangat elegan datang menghampiri, "Alreya Arkasa." katanya lagi mengulurkan tangan sopan, memperkenalkan diri.


"Ya begitu panggil aja Ayah, da--" Timpal Arfen percaya diri.


"Ngomong-ngomong, mending cepetan masuk deh, mama udah kewalahan tuh." perkataan Alreya barusan membuyarkan percakapan biasa orang-orangan itu.


"Nah, ayo jalan istri ku." Kata Devan mengulurkan tangannya, dengan senyuman manis, pandangan hangat, yang tidak akan Devan berikan pada siapapun kecuali istrinya yang menggemaskan ini.


Jalan berkarpet merah mulai terbuka untuk keduanya, sepasang tangan saling menggenggam, debaran itu tak bisa di hentikan, walau genggamannya terhalang sarung tangan.


Khekkkk!!


Tiba-tiba pinggang Liz terasa begitu nyeri, itu mengingatkannya akan hal yang terjadi kemarin malam, dan juga pagi ini.


Arghh sakit banget, ga sanggup lagi buat jalan, aa Devan sialan, tenaganya gak kira-kira.


"Ada apa?" bisik Devan pelan.


"Luar biasa, berkat seseorang Liz yang mungil ini harus berjalan menahan nyeri di pinggangnya," sahut Liz seadanya.


"Tenang saja, nanti malam kau akan dapat bonus pijatan istimewa dari Tuan Muda Arkasa ini."


Blushh!!


Tiba-tiba pipi Liz mulai memerah, dan itu terasa panas.


"Kok bisa sih ngomongin gitu, ini tempat ramai loh."


"Kan yang dengar kita berdua. Atau kau mau banyak yang dengar juga gapapa."

__ADS_1


Liz menyerah, dia tidak sanggup berkata apa-apa lagi. Entahlah, sejak kapan Devan ahli berkata-kata manis seperti itu?


Ini dia belajar ngusilin darimana sih, ga mungkin faktor keturunan kan?


Liz melihat wajah Arfen, tampan dan berkharisma.


Fix, gak mungkin turunan. Pasti dia belajar di suatu tempat.


Kedua mempelai mulai duduk di tempat yang di persilahkan, bersebalahan dengan orang tua Arfen dan tentu Tara sebagai wali Firlizy.


Liz melihat semua tamu dengan pakaian yang bagus-bagus.


"Suami ku, kok yang nerima hadiah malah kakak ipar? Terus kenapa ga ada yang ngucapin selamat ke kita, salam-salaman gitu?" Bisik Liz, dia cukup kasihan melihat Alreya harus sesibuk itu.


"Itu salah mu."


Liz melirik Devan aneh. "Salah ku di bagian mana?"


"Terlalu cantik."


Belum ada 24 jam habis, tapi tenaga Liz sudah hampir habis. Dia tidak tau entah setan apa yang merasuki suami dinginnya ini.


"Hari ini kau aneh!" Bisik Liz antara kesal dan senang.


"Hari ini kau cantik." sahutnya serius.


Sekarang Liz tau, berkat ulah siapa tidak ada yang mengucapkan salam secara langsung pada dirinya.


Tiba-tiba ada gelas jus yang tersuguhkan di depan Liz, dengan tangan putih nan halus. "Jangan terlalu di pikirkan, itu memang faktor keturunan, kedepannya, berusaha lah untuk beradaptasi."


Alreya, itu namanya kan?


"Makasih, kakak ipar." Liz mengambil jus itu kemudian meminumnya.


Maksud dari faktor keturunan apa? Dan sejak kapan dia ada di sini?


"Ngapain ke sini? Balik sana, ga ada yang nyambut tamu." Ketus Devan.


"Mentang-mentang beda berapa menit, ga ada hormat-hormatnya sama kakak ini." Sahut Alreya tak mau kalah.


"Mending pergi deh."


"Iya iya, harusnya kau berterima kasih loh, aku ini orangnya lebih peka dari mu, bisa-bisanya kau gak sadar istri tercinta mu kehausan."


"Siapa yang harus berterima kasih pada siapa." Devan menyeringai menang.

__ADS_1


Inilah yang ku maksud! Devan yang asli!


Batin Liz hanya sebagai penonton disana.


"Pfftt, ingat janji mu loh, bye~" Alreya melambaikan tangannya berjalan elegan kembali ke tempat penyambutan tamu.


Liz memperhatikan wajah keduanya bergantian.


Hubungan mereka gak baik kah? Sangat tidak akur? Tapi...


Kak Alreya beneran cantik banget sih, dia masuk ke dalam dunia perfilman pasti lulus aja, anggun elegan gitu, ya untungnya dia bukan salah satu target balas dendam ku.


"Ga usah dipikirin, hubungan kita baik kok, dan dia ga bakal jadi kakak ipar kejam ala-ala sinetron." Kata Devan merangkul pinggang istrinya. "Masih sakit?"


"Enggak kalau nanti malam suamiku ini gak berulah."


"Maafkan aku, tapi kayaknya keinginan mu yang itu gak akan terwujud deh."


Wajah Liz tampak kaku, Devan menikmatinya, dia senang dengan berbagai macam ekspresi yang istri mungilnya keluarkan.


"Pffttt, hahaha, kau benar-beber imut."


Satu kecupan ringan Devan berikan pada kening mulus pengantinnya, bersana dengab tawa ringan.


Liz diam semakin membeku, ada rasa menggebu-gebu dalam dirinya, debaran menyenangkan yang dia rasakan, darah mulai mengalir kembali seolah sebelumnya terhenti.


Liz menarik jas Devan, menyembunyikan wajahnya di dalam sana. "Tunggu, jangan gerak, aku maluu. "


Devan hanya tersenyum hangat, dengan satu tangannya mengelus lembut kepala wanita itu.


"Apa ibu mertua orangnya galak? Bagaimana ibu mertua itu?" Tanya Liz tiba-tiba.


Devan hanya diam. "Kau akan tau saat kau tinggal bersamanya, aku pastikan kau gak akan menyesal punya mama mertua sepertinya."


Menyesal? Entahlah, apa itu suatu malapetaka atau keberuntungan.


"Ekhmm, Devan, jaga sikap mu." Tegur Tara, wajahnya sedikit menyebalkan.


"Ada apa dengan Ayah? Ayah sakit?" Devan menaikkan sebelah alisnya.


"Entahlah, tapi aku merasa hari ini harta berharga ku telah dirampas, dan aku cukup kesal."


"Harta berharga Ayah? Dirampas? Harta apa? Dan siapa?"


"Entahlah, yang jelas hari ini aku cukup kesal melihat mu,"

__ADS_1


Lebih kesal lagi melihat kau memonopolinya sendirian, argh apa yang baru saja kupikirkan, tapi rasa kasih sayang ini bukan perasaan seperti itu. Aku tidak tau, tapi rasanya dia begitu berharga dari ku, dan hari ini dia seperti dirampas dari ku. Aku kesal.


Lanjut Tara dalam hati, dia harus menyimpan pemikiran ini untuk dirinya sendiri, jika ada yang tau, mungkin saja disalah artikan.


__ADS_2