Diceraikan

Diceraikan
SEASON 2 Maafkan Abang, Dek


__ADS_3

Ali melangkah dengan cepat menuju ruangannya. Laki-laki itu hampir saja telat sampai di rumah sakit. Semalam dia tidur agak larut lantaran ada tugas yang harus dia kerjakan. Maka dari itu dirinya juga telat bangun. Jika saja Yumna tidak datang ke kamarnya, sudah pasti Ali hari ini akan absen.


Meletakkan tas kerjanya di tempat biasa, lalu memeriksa kertas putih yang ada di atas mejanya. Melihat-lihat pasien yang akan ditanganinya hatmri ini. Tidak terlalu banyak dari hari kemaren. Jika kemaren sampai dua puluh lima orang dan sekarang hanya ada delapan belas orang saja.


Waktu terus berputar, tak terasa waktu pulang sudah tiba. Ali membereskan meja kerjanya agar tampak lebih rapi.


"Al, kamu kamu sudah mau pulang?" Weni, wanita yang sudah dua bulan ini tak lagi datang keruangan kini, melonggokkan kepalanya ke dalam ruangan Ali.


Ali melirik wanita itu dengan malas. "Iya Wen," jawabnya.


"Apa bisa kamu antar aku ke rumah Al? Soalnya aku tidak membawa mobil. Mobil aku tadi pagi mogok dan sekarang masih berada di bengkel," ujarnya.


Ali ingin menolak, namun rasa kasihannya kepada Weni membuat laki-laki itu mengangguk samar. Apalagi sekarang jam sudah menunjukkan pukul setengah lim lewat sepuluh menit. "Ya sudah,"


Weni mengembangkan senyum manisnya kepada laki-laki itu. Sungguh dia sangat bahagia akhirnya bisa pulang bareng dengan Ali. Setelah sekian lama dia menunggu hari ini.


Ali mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Menuju kontrakan Weni yang lumayan jauh dari rumah sakit. Sekitar empat puluh menitan.


"Masuk dulu Al," ajak Weni dengan senyum manis khas dirinya.


"Tidak usah Wen, lagian bentar lagi magrib." jawab Ali.


"Cuman sebentar kok Al, lagian kamu bisa sholat magrib dulu disini. Lagian jika kamu langsung pulang, yang ada keburu waktu magrib habis," bujuknya.


Ali melihat jam di pergelangan tangannya. Apa yang dikatakan Weni menang benar. "Apa tidak apa-apa, Wen?" Ali memastikan.


"Iya Al, tidak apa-apa," jawabnya.


Akhirnya Ali mengiyakan ucapan Weni, setelah melihat jam yang berada di pergelangan tangannya. Apalagi sudah terdengar suara azan dari mesjid yang tak jauh dari kontrakan Weni.


Ali meminjam sajadah milik Weni. Dengan senang hati wanita itu memberikan kepada Ali. Selesai sholat magrib, Weni memaksa Ali untuk makan malam di rumahnya terlebih dahulu. Apalagi wanita itu sudah memasak makanan yang mudah saja, karena takut Ali akan langsung pulang.

__ADS_1


"Apa makanannya enak, Al?" Weni melihat wajah Ali yang tampan agak memerah.


"Enak Wen. Tapi kenapa tubuh aku terasa tidak enak banget ya?"


"Apa ada sesuatu yang terjadi Al?" Wanita itu mengembangkan senyum licik di bibirnya.


Ali menata wanita yang kini berada di depannya. Mata laki-laki itu menyorotkan kemarahan. "Apa yang kamu masukkan ke dalam minuman aku, Wen?!" bentak Ali menatap wanita itu.


"Apa obatnya sudah bereaksi Al?" Weni melangkah menuju Ali. Mengusap lembut lengan kekar laki-laki itu.


"Lepaskan!! Jangan sentuh!!" Ali menghempaskan tangan Weni yang sengaja mengelus tangannya dengan sensual.


"Aku senang banget kamu seperti ini Al. Apalagi wajah kamu yang tampak merah seperti ini." Lagi-lagi Weni mengelus tangan Ali. Mengacuhkan bentakan laki-laki itu dengan senyum menyeringai.


"Awas!!" bentak Ali. Beranjak dari kursi yang di dduduki dengan tubuh yang semakin gelisah. Sesuatu dalam tumbuhnya sudah tak nyaman lagi. Rasanya sangat panas. Ali bukan tak tahu apa yang terjadi pada tubuhnya.


"Kamu mau kemana Al?" Weni berusaha mengejar laki-laki itu. Takut jika Ali akan meninggalkan rumahnya.


"Aku tahu kamu sudah tidak tahan Al. Mendingan masuk lagi aku akan memberikan apa yang kamu mau," bisiknya.


Sekuat tenaga Ali menahan gejolak dalam dirinya. Menatap wanita yang kini berada di depannya dengan sorot mata kemarahan. Tak menyangka ada maksud terselubung dari ajakan wanita itu.


"Tidak usah!!" Ali membalikkan tubuhnya. Menuju mobilnya dengan langkah panjang. Sungguh dirinya sudah tidak kuat menahan ini semua. Namun tak mungkin dirinya akan melepaskan gejolak itu pada wanita yang terus mengejar dirinya.


"Al, ayok masuk lagi." Weni terus membujuk Ali. Bahkan saat ini laki-laki itu sudah berada di kursi kemudi. Wajahnya sudah tampak sangat memerah dengan keringat yang terlihat di pelipisnya.


Gejolak dalam dirinya semakin menjadi. Sungguh Ali sudah tidak tahan. Namun, akal sehatnya masih sedikit waras. Melanjutkan mobil dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai di rumah. Dirinya ingin sekali cepat berendam untuk mengurangi sesuatu yang ada dalam dirinya.


Sampai di rumah, Ali langsung saja berlari menuju kamarnya. Dia ingin cepat berendam dengan air dingin untuk mengurangi gejolak dalam tubuhnya.


Sekitar satu jam lamanya Ali berendam, namun gejolak itu belum juga mereda. Sungguh ini sangat menyiksa. Bahkan kepalanya terasa mau pecah menahan gejolak yang masih sama. Ntah berapa banyak obat yang di masukkan wanita itu ke dalam minumannya. Satu jam bukanlah waktu yang sebentar.

__ADS_1


Ali melangkah keluar dari kamarnya. Tampak pintu kamar yang di huni Mika terbuka sedikit. Dengan langkah pasti laki-laki itu melangkahkan kakinya menuju kamar gadis itu.


"Ada apa Abang ke sini?" Mika yang melihat Ali datang ke kamarnya tampak bingung.


"Apa kamu sibuk, Mik?" tanyanya.


"Tidak Abang. Ehhh, wajah Abang kenapa merah gitu? Apa Abang sakit?" Mika langsung saja berdiri dari meja belajarnya. Melangkah mendekati Ali yang masih berada di depan pintu kamarnya.


Suara Mika yang lembut membuat Ali kehilangan akal sehatnya. Ditambah wajah imut gadis itu membuat Ali semakin tidak tenang. "Abang sakit apa? Biar aku ambilkan obat dulu di bawah," Mika yang hendak keluar dari kamar langsung ditarik Laki-laki itu.


"A-abang kenapa?" Sungguh Mika saat ini sangat terkejut serta takut. Apalagi Ali memeluk dirinya dengan erat. Hembusan nafas laki-laki itu sangat terasa di lehernya yang jenjang.


Ali semakin memeluk erat tubuh mungil gadis itu. Menutup pintu kamar dan menguncinya dari dalam.


"A-abang kenapa pintunya di kunci?" Mika saat ini sangat ketakukan. Laki-laki yang memeluk dirinya membawa tubuh kecilnya menuju ranjang. Menghempaskan tubuh itu dengan sedikit kasar.


"Abang mau apa?! Jangan mendekat!!" Mika membentak laki-laki itu. Sunguh dirinya sangat ketakukan. Apalagi sorot mata Ali tampak sangat menakutkan.


Ali tak mendengarkan ucapan Mika. Laki-laki itu terus saja mendekatkan tubuhnya pada Mika. Sungguh dirinya sudah tidak tahan.


"A-abang jangan!!" Air mata gadis itu sudah mengalir di pipi putihnya. Sungguh apa yang kini dilakukan laki-laki itu membuat dirinya sangat ketakutan.


"Abang lepas!! Jangan seperti ini, aku sangat takut!"


"To-tolong Abang, Dek. Abang sudah tidak tahan." Ali melakukan apa yang ada dipikirannya. Sungguh dia sudah tak kuasa menahan gejolak dalam tubuhnya yang semakin menjadi.


"Jangan, jangan seperti ini Bang!"


Ali tak mau lagi mendengar ucapan Mika. "Abang jangan!!! Aarrgghhtt!!!" Luruh sudah air mata Mika. Semakin deras dari tadi. Apalagi mahkota yang selama ini dia jaga sudah di ambil laki-laki yang kini berada di atasnya.


"Aaarrgghhtt!!!" Ali mengerang keras, saat apa yang diinginkannya sudah di dapatnya. "Maafkan Abang, Dek," Selanjutnya Ali menutup matanya di samping gadis itu. Gadis yang sudah dia lecehkan, hanya karena obat yang diberikan Weni si wanita i*l*s.

__ADS_1


TBC


__ADS_2