Diceraikan

Diceraikan
SEASON 2 Puncak


__ADS_3

"Susah kalau nasehatin kamu, Mika," Akhirnya Yanda menyerah.


"Hehehe, iya Kak,"


Waktu istirahat akhirnya tiba. Mika, Tiana, Yanda dan Yuda sepakat untuk tidak makan siang di cafe melainkan di pantri kantor.


"Minggu depan kita berempat ke puncak yuk Kak Yan, Mika?" ucap Tiana saat mereka tengah menunggu makanan mereka.


"Hmm boleh juga, aku juga sudah tidak sabar untuk kesana. Kakak ikut juga kan?" Mika beralih menatap Yanda.


"Emm, baiklah. Sepertinya kakak tidak ada kegiatan minggu depan." jawab Yanda.


"Kita pergi jangan pakai mobil ya Kak Yan, pake motor. Biar enak boncengan gitu."


"Baiklah, kita berdua pake motor kamu ya Mika soalnya motor Kakak di bawa pulang sama adik Kakak,"


Mika mengangguk. "Baik Kak,"


Setelah beberapa saat, makanan mereka sampai. Keempat orang itu menikmati makan mereka dengan santai. Mumpung waktu istirahat masih lama.


"Kak Yanda kenapa nggak pacaran aja sih sama Mika?"


Uhuk...


"Makannya hati-hati Mika," Yanda menyodorkan segelas air putih kepada Mika.


"Terima kasih Kak," Mika mengelap air mata yang keluar dari netranya.


"Kamu kok nanyanya gitu sih Tia?" Protes Mika tak suka. Mika tak mau Yanda akan sakit hati lagi untuk yang kesekian kalinya. Cukup yang waktu itu penolakan terakhirnya kepada Yanda.


"Lah, emang ada yang salah dari pertanyaan aku, Mika? Nggak kan? Wajar dong aku nanyain itu sama kamu, Mika. Lagian kalian itu cocok banget." Tiana menatap Mika dan Yanda bergantian. Mereka memang tampak sangat cocok. Yang satu ganteng dan satu lagi cantik.


"Kalau nanti Kakak dan Mika berjodoh pasti akan bersatu Tiana. Kalau Mika bukan jodoh Kakak mungkin ada perempuan lain yang sedang disiapkan untuk Kakak,"


"Tuh dengerin apa yang di omongin Kak Yanda itu benar, Tiana,"


"Iya aku tahu, tapi kenapa kalian nggak mulai saja sih hubungan dari sekarang." Tiana menatap Mika dengan intens. "atau kamu masih belum bisa melupakan Mas Al?" Tiana mendelik ke arah Mika. Tampak gadis itu menatap dirinya dengan garang.


"Kenapa malas bawa-bawa Abang sih Tia?"

__ADS_1


"Ya habisnya kamu terlalu berharap banget sama dia, Mika. Ngapain sih masih berharap sama laki-laki yang sudah jelas nolak kamu."


"Ya..., namanya juga cinta mau gimana lagi Tiana. Kamu kan tahu bagaimana perasaan aku selama ini sama Abang. Nggak mudah loh,"


"Iya aku tahu Mika, hanya saja jika kamu berusaha lebih beras lagi kamu pasti bisa menerima laki-laki lain di hati kamu. Lah ini, kamu malah diam ayem saja menjadikan dia raja di hati kamu. Lihat di sekeliling kamu ada seseorang yang nungguin kamu loh," Tiana tahu jika Yanda begitu mencintai sahabatnya. Jelas terlihat dari sorot mata laki-laki itu yang menatap Mika dengan penuh damba.


Mika mengedikkan bahunya acuh. Mika tahu kini siapa yang tengah di sebut Tiana. Laki-laki yang jelas berada di sampingnya itu. Buat apa memberi harapan palsu jika akhirnya akan mendapatkan sakit yang lebih parah lagi.


Tiana menatap malas sahabatnya itu. Tiana juga tidak habis pikir kenapa Mika begitu mencintai Ali yang jelas-jelas menolak dirinya. Kenapa malah menjadikan Ali sebagai raja di hatinya, kenapa malah laki-laki itu yang dicintai sahabatnya ini.


"Terserah kamu lah Mika, susah kalau ngomong sama kamu." Tiana akhirnya menyerah. Percuma jika dirinya membujuk gadis itu jika hatinya sudah terikat erat dengan satu nama, Ali.


****


Satu minggu sudah lewat, hari ini sesuai dengan kesepakatan mereka waktu itu mereka akan pergi ke puncak. Puncak yang pernah di datangi Tiana dan juga Yuda.


Kedua pasangan itu tengah mengendarai motor dengan cara beriringan. Mika dengan Yanda sedangkan Tiana dengan Yuda kekasihnya. Tampak gadis itu memeluk erat pinggang kekasihnya dengan posesif, sedangkan Mika tak memegang Yanda barang sedikitpun. Mika hanya duduk santai bak seorang adik dan kakak.


Perjalanan yang membutuhkan waktu 2 jam akhirnya mereka sampai di puncak. Mata Mika tampak berbinar saat melihat betapa indahnya pemandangan yang ada di sana.


"Tia fotoin aku dong." Mika menyodorkan ponselnya kepada Tiana. Membuat gadis cantik itu mau tak mau memotret sahabatnya.


"Baiklah, ayo Kak sini berdiri di samping aku," pinta Mika yang dia angguki Yanda.


Mereka mengambil beberapa foto dengan berbagai gaya. Tak lupa pula mereka bergaya bak seorang kekasih yang tengah kasmaran.


"Terima kasih Tia," Mika mengambil gawainya dari tangan Tiana.


"Sama-sama Mika."


"Mika kirim ke WA Kakak foto kita tadi ya," Saat ini Mika dan Yanda berpisah dari Yuda dan Tiana.


"Baik Kak."


Ting!!!


Ting!!!


Ting!!!

__ADS_1


Yanda langsung saja membuka gawainya. Melihat beberapa foto dirinya dan Mika yang tampak serasi. Senyum mengembang di bibir Yanda. Andai mereka kini tengah menjalin kasih betapa bahagianya Yanda. Namun, itu hanya angan belaka yang tak akan terjadi.


"Boleh kakak masukin di sosmed nggak Mika? Nanti Kakak tandai kamu,"


"Boleh Kak, masukin saja,"


"Ok,"


Yanda memilih beberapa foto yang menurutnya sangat bagus. Memberikan hastag 'with my beauty' pada foto yang sudah dimasukkan Yanda. Jangan lupakan Mika ditandai Yanda dalam postingannya.


"Kok hastagnya itu Kak?" Mika menatap bingung kepada Yanda.


"Ya nggak apa-apa Mika, emang kamu mau kakak buat bareng kekasihku?"


Mika lantas mengeleng keras. "Ya jangan lah Kak, kan kita nggak pacaran."


"Nah itu kamu tahu, makanya kakak hanya memberi hastag seperti itu di foto kita.


" Iya Kak, nggak apa-apa." Akhirnya Mika pasrah dengan apa yang di mau Yanda. Lagian Mika malas untuk berdebat.


****


Sedangkan di sisi lain tepatnya pada kediaman Yumna. Seorang laki-laki tengah berbaring di atas ranjangnya dengan memainkan benda pipih ditangannya. Saat ini laki-laki itu iseng-iseng membuka profil sosmed Mika.


Rahangnya langsung mengeras saat melihat laki-laki yang bernama Yanda menandai Mika dalam postingannya. Laki-laki yang jelas Ali tahu siapa. Laki-laki yang waktu itu mengajak Mika untuk menikah.


"Apa kamu menerima dia jadi suami kamu, Dek? Tak adakah abang di hati kamu saat ini? Apakah sebegitu mudahnya kamu melepaskan abang dari hati kamu?" Ali menahan sendu foto-foto yang tampak mesra itu.


Hatinya kembali berdenyut saat mengingat kata-kata yang dikeluarkan laki-laki yang kini sudah diketahui Ali jika namanya Yanda. Apakah dia boleh menghancurkam hubungan mereka? Bolehkan untuk kali ini Ali egois? Ali hanya ingin Mika tidak dengan yang lain.


Ali meremas HPnya dengan kuat. Membuat buku-buku tangannya jelas terlihat. Dadanya mengebu dengan kencangnya dan mata Ali tampak memerah menahan rasa marah, sedih dan kecewa bercampur menjadi satu.


"Mika kamu hanya milik abang!!! Kamu tidak boleh di miliki laki-laki itu!!" Ali berteriak di dalam kamarnya. Melepaskan gawai yang berada di tangannya di atas ranjang king sizenya.


Memukul-mukul ranjang yang bahkan tak terasa itu dengan keras. Melampiaskan rasa marahnya kepada ranjang yang tak memiliki salah sedikitpun.


"Aku harus dapatin Mika!! Persetan dengan hubungan yang meraka jalani. Intinya aku hanya mau Mika, Mika dan Mika!!"


Ali menguyar rambutnya dengan frustasi. Membayangkan hal buruk yang tengah ke-dua orang itu lakukanlah di puncak yang bahkan Ali tidak tahu di mana tempatnya. Ingin rasanya Ali menyusul Mika kesana jika dia tahu di mana tempat itu. Tapi tak bisa karena dia tak pernah pergi main selama ini. Bahkan saat berpacaran dengan Yola, mereka hanya akan pergi di dekat-dekat sini saja. Itupun hanya bisa di hitung berapa menitnya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2