
"Sayang, alhamdulillah akhirnya kamu sadar juga. Bunda sangat takut kamu tidak akan membuka mata lagi, Nak," Yumna menciumi tangan putranya berulang kali saat mata tegas itu sudah terbuka sempurna.
Ali mengerjab beberapa kali. "Aku pasti akan bangun Bun. Aku tidak akan meninggalkan Bunda secepat ini, hehhehe" jawab Ali dengan terkekeh saat diringa sudah sadar sepenuhnya.
"Kamu lagi sakit, jangan ketawanya terlalu keras. Apa tidak sakit dada kamh jika ketawa seperti itu, Nak?" tanya Yumna khawatir mengingat ada goresan pada dada putranya.
"Tidak terlalu Bun, hanya sedikit saja," jawab Ali. "oh ya, Abi mana Bun? Apa Abi tidak kesini?" Ali menatap sang bunda yang kini tepat berada di samping tempat tidurnya.
"Tadi Abi sudah disini nungguin kamu sadar Sayang. Tapi sudah kembali lagi, karena ada pasien darurat yang harus menjalani operasi. Nanti pasti juga balik lagi kesini, jika pekerjaannya telah selesai," balas Yumna tersenyum kepada anak bujangnya.
"Ohh gitu ya Bun. Aku kira Abi nggak kesini," ujar Ali.
"Ya nggak lah Sayang. Tak mungkin Abi tidak melihat keadaan putranya. Apalagi Abi kerjanya juga di ruma sakit ini, Nak," balas Yumna dengan menggeleng kepalanya. "yuk kamu makan dulu Nak. Bunda yakin kamu belum makan dari pulang kuliah tadi Bukan?" lanjutnya.
"Iya Bun. Lagian tadi pas istirahat juga aku nggak sempat makan. Apalagi tadi juga nggak lapar," jawab Ali.
Yumna mengambil bubur yang kebetulan tadi diletakkan suster di atas nakas. Bubur itu masih panas karena, masih mengeluarkan kepulan asap meski sudah terlihat samar. Denga telaten Ibu satu anak itu menyuapi putranya bubur.
***
("Bos, rencana kita berjalan dengan lancar,") Si penelpon di sebrang sana memberitahu Reyhan, jika rencana mereka berjalan dengan sangat mukus.
("Kamu sudah pastikan dia terluka parah?") tanya Reyhan memastikan.
("Sudah Bos. Bahkan anak itu sudah terpelanting jauh dari motornya. Saya yakin anak itu terluka parah.") jawab si penelpon itu menyakinkan Reyhan.
("Bagus!! Tidak sia-sia saya menyewa kalian. Sisa uang kemaren sudah saya tranfer satu jam yang lalu ke rekening yang di berikan kemaren,") ujar Reyhan memberi tahu orang di sebrang sana
("Ok Bos. Jika nanti masih ada tugas, jangan lupa kabari saya lagi. Saya akan siap melakukannya,") ujar laki-laki itu terdengar sangat senang.
__ADS_1
("Baik,") Hanya kata itu yang mengakhiri panggilan mereka.
Reyhan meletakkan benda pilih itu di atas pahanya. Beberapa kali laki-laki itu tampak tertawa. Bahkan tawanya dengar menyeramkan bagi yang mendengarnya
"Hahahhaa, aku sangat puas!!! Akhirnya dendam ku terbalas juga pada pemuda itu. Hahahah," Tubuh Reyhan tampak terguncang karena tawanya yang menggelegar memenuhi kamarnya serta sang istri.
Tak ada hentinya senyum kemenangan terbit di bibir Reyhan. Bahkan dia sangat bangga dengan hasil kerja orang suruhannya untuk mencelakai darah dagingnya sendiri.
"Kau lihat anak muda. Tanpa campur tangan ku sendiri bahkan kau bisa celaka. Akhirnya kau menerima apa yang seharusnya kau terima. Sungguh aku sangat bahagia melihat kau celaka anak muda. Aku sangat pu---"
Prang....
Kata-kata Reyhan terhenti kala mendengar pecahan kaca yang jelas itu berada di kamarnya. Segera laki-laki itu memutar kursi rodanya.
"Apa yang kamu lakukan, Sayang?" tanya Reyhan menjalankan kursi rodanya. Bahkan Reyhan tampak biasa saja, seakan tidak terjadi sesuatu.
"A-apa maksud Ayah ta-tadi?" Reni berharap apa yang dia dengar tidakkah suatu kenyataan.
"Apa benar Ayah membuat Kak Ali celaka?" Embun bening memenuhi mata cantik gadis itu. Berharap Ayahnya menyanggah ucapannya. Mengatakan apa yang baru saja dia dengar bukanlah suatu kebenaran.
"Kenapa?" Reyhan menatap wajah putrinya yang di banjiri air mata.
"Kenapa Ayah mencelakai kak Al?" Bukannya menjawabnya, Reni malah membalikkan pertanyaan Ayahnya.
"Karena Ayah tidak akan membiarkan orang yang sudah membuat Nenek celaka bahagia, Nak," balas Reyhan kepada putrinya yang masih saja mengeluarkan air mata.
"Apa hubungannya dengan Kak Ali, Yah?" Reni menghapus air mata yang membanjiri pipinya, menggunakan punggung tangannya.
"Pemuda itu sudah mencelakai Nenek. Pemuda itu sudah membuat nenek seperti saat ini. Jika saja tidak ada dia saat itu, Nenek tidak akan duduk di kursi roda seperti saat ini, Sayang," Reyhan menjelaskan kepada putrinya jika yang membuat Ibunya seperti itu adalah Ali. Darah daging yang sudah dia putuskan.
__ADS_1
"Apa Ayah punya bukti jika Kak Ali yang membaut Nenek celaka?" tanya Reni menatap wajah Ayahnya dengan intens.
Reyhan terdiam mendengar ucapan putrinya. Dia tidak punya bukti untuk hal itu. Lagian di rumahnya juga tidak ada CCTV, yang dapat mengetahui siapa yang salah sebenarnya.
Reyhan menggeleng. "Tidak Nak. Ayah tidak punya bukti." jawabnya.
"Lalu kenapa Ayah menuduh jika Kak Ali yang membuat Nenek celaka?"
"Karena Ayah melihat sendiri jika pemuda itu ada di lantai atas saat Nenek terguling-guling di anak tangga. Sangat jelas jika dia yang membuat Nenek celaka. Jika tidak tak mungkin dia hanya berdiri diatas. Bahkan gelas yang dia pegang sampai terjatuh saat Ayah menyebut namanya," jelas Reyhan yang yakin dengan apa yang dia lihat. Pemuda itu adalah tersangka yang sangat tepat atas kecelakaan Ibunya.
Reni berulang kali menggelengkan kepala. Tak menyangka Ayahnya akan menuduh seseorang yang bahkan tidak memiliki salah sama sekali. Bahkan Ayahnya dengan tega pula mencelakai darah dagingnya sendiri.
"Tidak!! Kak Ali tidak salah!!" bantah Reni setelah mendengar ucapan Ayahnya. "Aku melihat sendiri jika Kak Ali tidak melakukan apapun kepada Nenek. Bahkan aku melihat sendiri tubuh Nenek oleng saat akan turun dari tangga. Itu yang menyebabkan Nenek celaka." lanjutnya.
Deg...
Jantung Reyhan berdetak dengan cepat saat mendengarkan ucapan putrinya. Dia tak salah dengar bukan. Jika putrinya mengatakan Pemuda itu tidak bersalah. Telinganya masih berfungsi mendengar ucapan Putrinya 'kan.
"Kamu jangan bohong, Sayang," Sunguh Reyhan berharap anaknya mengatakan itu semua kebohongan. Dia tak ingin mendengar jika pemuda itu beneran tidak bersalah. Pemuda itu tak ada hubungannya dengan jatuhnya sang ibu dari anak tangga.
Reni menggeleng. "Itu bener Yah. Kak Ali tidak bersalah. Bahkan saya itu Kak Ali terkejut saat dia melihat Nenek terguling di anak tangga. Makanya saat itu Kak Ali hanya mematung saat melihat Nenek terguling. Mungkin saja saat itu dia terkejut melihat Nenek. Bahkan aku melihat Kak Ali tersadar saat Ayah memanggil namanya dengan keras," jelas Reni tanpa ada yang dia tutupi.
Itulah kenyataan yang dia lihat. Ali tidak bersalah sama sekali. Bahkan Pemuda itu tampak sangat tekejut dengan apa yang dialami Rena saat itu. Jelas terekakan semua itu diingatan Reni.
Jantung Reyhan semakin berdetak dengan keras. "Ke-kenapa baru kamu beritahu sekarang, Sayang?" Reyhan berkata dengan suara bergetar. Tak menyangka jika dia sudah melakukan suatu keslahan besar. Yang bahkan tak dapat di bayangan Reyhan apa yang akan terjadi setelah ini.
"Aku sudah berusaha mengatakan kepada Ayah. Tak ingatkan Ayah waktu akan pergi sebelum Ayah kecelakaan. Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi Ayah hanya berlalu tanpa mau mendengarkan ucapanku. Dan apakah Ayah lupa saat aku ingin berbicara saat Ayah pulang dari rumah sakit. Aku ingin mengatakannya lagi, tapi Ayah malah tak mau mendengar kata-kata ku, dengan mengatakan kepala Ayah tengah pusing." jawab Reni.
Ingatan Reyhan kembali ketika sang putri berusaha untuk mengajaknya berbicara. Bahkan dia bisa dikatakan menolak mendengarkan ucapan putrinya. Sungguh dia sangat menyesal, karena baru sekarang mengetahui kebenarannya. Salahnya sendiri tidak mencari tahu terlebih dahulu, salahnya yang tidak bertanya lebih dulu kepada putranya.
__ADS_1
Putra? Benarkah dia masih putranya setelah apa yang di katakannya kepada pemuda itu saat masih di rumah sakit. Kata-kata yang seharusnya tidak keluar dari mulut. Kata-kata yang membuat dia akhirnya menyesal.
TBC