
Yumna masuk ke dalam kamar putranya setelah satu jam lamanya Ali tak keluar dari kamar itu. Tak biasa bagi putranya itu akan mengurung diri seperti seorang perempuan.
"Al, Bunda masuk ya?" Yumna membuka pintu kamar Ali yang memang tak terkunci.
Wanita itu melangkah menuju ranjang. Melihat sang putra tengah menelungkupkan tubuhnya di atas ranjang king size miliknya.
"Ali kenapa Nak?" Yumna mengusap lembut rambut putranya dengan lebih kasih sayang.
"Nggak apa-apa Bun," jelas terdengar suara Ali parau di indra pendengar Yumna.
"Cerita sama Bunda jika kamu punya masalah Nak, tak baik menyimpan sendiri seperti ini. Bunda tidak mau kamu sakit karena memikirkan masalah yang akan menganggap kesehatan kamu, Nak." Lagi-lagi Yumna mengusap rambut putranya.
"Apa sesakit ini jatuh cinta Bun?" Ali membalikkan tubuhnya. Menatap netra sang bunda yang kini juga tengah menatap dirinya.
Yumna cukup terkejut mendengar ucapan Ali. Tak pernah sekalipun putranya itu menanyakan perihal hati kepadanya. Bahkan saat bersama Yola kala itu.
"Kenapa kamu nanya gitu Nak? Apa sekarang kamu tengah jatuh cinta lagi?" Yumna mengusap lembut tangan putranya. Menatap netra tajam itu yang tampak agak sembab. Jujur saja Yumna sangat bahagia mendengar ucapan putranya. Berarti tidak akan lama lagi dia akan mendapatkan seorang menantu. Menantu yang sudah sangat lama dia idam-idamkan.
Lebay? Biarlah orang-orang mengatakan Ali lebay. Mereka tidak tahu apa yang kini tengah berada di hatinya. Mereka tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini. Meraka tidak berada di posisi Ali makanya dengan seenaknya mengatakan Ali lebay. Sungguh hatinya saat ini tidak sedang baik-baik saja. Sama halnya dengan kaca yang baru saja di pecahkan.
"Ntahlah Bun, aku juga nggak tahu kenapa hati aku sangat sakit saat melihat dia dekat dengan laki-laki lain. Aku bahkan tidak suka dia berbicara dengan lawan jenis Bun,"
"Itu namanya kamu sudah jatuh cinta Nak. Kamu merasakan itu semua karena kamu terlalu cemburu kepada dia." Yumna tersenyum mendengar ucapan putranya. Apakah saat berpacaran dengan Yola kala itu Ali tak merasakan hal yang sama? Cukup membuat Yumna sendiri bingung.
"Kenapa sesakit ini rasanya Bun? Kenapa rasakan hati aku terlalu remuk? Kenapa hati aku sangat hancur begini? Bahkan dalam bekerjapun aku tidak bisa santai Bun. Bayangan dia dengan laki-laki lain membuat aku emosi, bahkan ingin sekali aku memberi bogeman mentah pada laki-laki itu."
"Kamu tidak sedang menyukai istri orang kan Nak?" Yumna memicing menatap sang putra.
__ADS_1
"Ya nggaklah Bun, ya kali aku akan mengincar istri orang. Aku nggak mau di cap sebagai pebinor lah Bun," Ali membolakan matanya mendengar ucapan Yumna. Enak saja Ibunya itu mengatakan hal menjijikkan itu ke padanya.
"Alhamdulillah kalau gitu Al. Bunda takut jika kamu akan jadi pebinor, hehe," Yumna memegang perutnya karena tertawa. "saran Bunda sebelum janur kuning melengkung kamu masih bisa mengejar dia, Nak. Tapi bersaing harus secara sehat. Jangan pernah bersaing dengan adu otot, dan ingat segala masalah yang kamu hadapi jangan sangkut-pautkan dengan pekerjaan. Karena kamu harus profesional dalam bekerja. Masalah hati tinggal dulu di rumah, jangan bawa ke rumah sakit. Ingat akan akibat yang akan kamu sesali nanti Al. Jangan gara-gara hati karier kamu hancur, jangan gara-gara hati kamupun juga ikut hancur Al. Bunda nggak suka jika itu terjadi sama kamu."
"Iya Bunda, maafkan Aku. Maafkan aku yang sudah tidak proposional bekerja untuk beberapa hari ini. Sungguh rasanya tidak enak sekali Bunda. Pikiranku tidak pernah lari dari dia, Bun,"
"Emang siapa gadis itu Nak? Apa perlu kita lamar dia agar lekas jadi istri kamu?"
Ali menggeleng, dia belum sanggup mengatakan siapa gadis yang kini tengah menjerat hatinya. Takut jika bundanya akan syok nantinya.
"Maaf Bun, untuk saat ini aku belum bisa mengatakan siapa gadis itu." Ali tak enak hati untuk tak mengatakan jika dia menyukai Mika. Tapi mau gimana lagi, itu sudah keputusan yang di ambil Ali.
"Ya sudah tidak apa-apa. Bunda paham dengan kamu Nak. Tapi ingat pesan Bunda tadi ya, jangan lakukan kesalahan untuk yang kesekian kalinya."
"Iya Bunda, terima kasih sudah nasehati aku," Ali menampilkan senyum manisnya kepada Yumna.
****
Setelah kepergian Yanda, Mika kembali masuk ke dalam rumah dengan membawa nampan serta gelas yang sudah kosong bekas minum laki-laki itu. Jujur saja Mika juga merasa tak enak hati kepada Yanda yang berulang kali mengajaknya menikah.
Mika tak punya pilihan untuk bisa menerima Yanda karena kembali lagi dengan hatinya. Hati yang seakan mati untuk laki-laki lain. Biarlah sekarang laki-laki itu merasakan kecewa serta sakit hati. Mika tak mau Yanda terlalu berharap kepadanya yang akhirnya membuat Yanda akan merasakan sakit lebih dari ini. Mika melakukan hal itu juga untuk kebaikan laki-laki itu.
Waktu terus berlalu hingga kini pagi sudah menyambut. Mika memakai pakaian yang biasa dia gunakan ke kantor.
"Pagi Kak Yud, Tia," Mika menyapa sepasang kekasih yang tengah duduk di pantri kantor. Awalnya Mika tidak akan kesana, namun gadis itu merasa haus dan pengen meminum segelas kopi manis. Belum lagi rasa cemas akan mengantuk saat bekerja.
"Pagi Mika. Tumben kamu ke sini pagi-pagi?" Tiana menatap bingung sahabatnya itu. Tak biasanya gadis itu mau menginjakkan kakinya di pantri.
__ADS_1
"Aku pengen minum segelas kopi Tia, semalam aku tidur agak larut. Takut nanti saat bekerja malah tertidur," jawab Mika jujur.
"Hmm gitu Mika, gih buatlah." jawab Tiana yang diangguki Mika.
Gadis berhijab itu menyeduh kopi dengan air panas. Tak lupa gadis itu memasuki satu sendok gula pasir. Mika tidak suka kopi pahit dan juga tidak suka terlalu manis, alias sedang.
"Kak Yanda mana Kak Yud?" Mika ikut bergabung dengan sepasang kekasih itu.
"Keknya belum datang Mika. Soalnya tadi pas kakak datang belum ada mobilnya di basement."
"Oh gitu ya Kak,"
"Emang kenapa Mika?" Tiana menatap sahabatnya itu heran.
"Nggak apa-apa kok Tia, aku cuman nanya saja,"
Mika, Tiana dan Yuda berjalan menuju ruangan mereka. Kebetulan waktu kerja sudah masuk. Mata Mika menangkap sosok Yanda yang sudah duduk di tempatnya. Tak lupa laki-laki itu menampilkan senyum manis kepada Mika. Seakan dia lupa akan apa yang terjadi kemaren siang. Begitulah Yanda, dia akan tetap menjadi seroang laki-laki yang ceria meskipun berulang kali Mika menolaknya. Maka dari itu Mika sangat senang berteman dengan Yanda. Laki-laki yang sangat sulit untuk di temui Mika di muka bumi ini. Laki-laki yang sangat langka.
"Habis dari mana Mika?" tanya Yanda menghentikan tangannya yang sibuk dengan komputer.
"Pantri Kak, soalnya semalam aku tidur agak larut." jawab Mika. Kebetulan tempat duduk mereka berdekatan. Tepatnya berdampingan.
"Kenapa harus tidur larut sih Mika? Kamu tahu bukan jika hari ini kita itu masuk kerja? Jangan karena nonton film kamu rela begadang. Kesehatan itu hal yang utama dari segalanya. Jika tak selesai hari ini masih bisa di lanjut besoknya." Yanda memberikan tausiahnya pagi-pagi kepada Mika.
"Ya..., mau gimana lagi Kak, Kakak kan tahu jika filmnya belum tamat mata aku nggak akan bisa merem Kak. Pasti akan kepikiran terus gimana kelanjutannnya." jawab Mika jujur. Gadis itu memang begini, jika ada film yang menurutnya bagus pasti tidak akan mau berhenti untuk menonton sampai pagi. Pernah waktu itu Mika pergi ke kantor dengan mata yang menghitam lantaran tidur hanya satu jam.
TBC
__ADS_1