Diceraikan

Diceraikan
SEASON 2 Rumah Sakit


__ADS_3

Jam di didinding rumah Yumna sudah menunjukkan pukul 7:00, namun anak bujangnya belum juga turun dari lantai dua. Sarapan pagi sudah tersusun rapi diatas meja. Dengan di bantu Mika yang selalu sigap setiap paginya.


"Mika, tolong panggilkan Abang ke kamarnya ya," pinta Yumna kepada Mika.


"Baiklah Tante," jawabnya mengangguk.


Mika melangkahkan kaki jenjangnya menuju kamar Ali. Dengan segera gadis itu mengetuk pintu kamar Ali yang masih tertutup rapat. Bahkan tak ada terdengar suara apapun dari dalam sana.


Tok...


Tok...


Dua kali Mika mengetuk pintu kamar milik Ali, namun tak ada sahutan dari dalam sana. "Abang, apa Abang sudah bangun?" Mika mendekatkan telinganya pada daun pintu.


"Abang!! Apa Abang sudah bangun? Apa boleh aku masuk, Bang?"


Mika memutuskan untuk masuk ke dalam kamar Ali. Tampak laki-laki itu masih bergelung diatas ranjang dengan selimut yang tampak sangat berantakan. Raut wajah Ali yang tampak gelisah saat tertidur.


"Abang, bangun. Tante Yumna sudah menunggu di bawah," Mika membangunkan Ali yang masih saja tak terganggu.


"Abang bagun!! Nanti Abang bisa telat pergi ke rumah sakit!!" Mika berteriak di dekat telinga Ali.


"Astagfirullah, maafkan Abang, Mika. Abang tahu Abang salah. Abang akan tanggung jawab, Abang janji akan tanggung jawab sama kamu," Dengan spontan Ali membuka matanya. Memohon maaf kepada gadis yang kini tengah mematung di bibir ranjangnya dengan mulut menganga. Mata Ali bahkan tampak berair.


"Abang ke-kenapa?" Mika bingung dengan kelakuan Ali.


"Abang mohon maafkan Abang, Dek. Abang tahu Abang sudah melakukan kesalahan sama kamu. Abang janji akan ngomong sama Bunda dan Abi. Abang akan tanggung jawab," berulang kali Ali mengucapkan kata yang sama membuat Mika semakin bingung.


"Tanggung jawab apa Bang? Aku nggak ngerti,"


"Tanggung jawab---" Ali tak melanjutkan ucapannya, saat tersadar jika dia baru saja bangun tidur. Tempat tidur yang tampak basah, bahkan Ali yakin Mika sudah melihat jika celananya basah, lantaran warna celananya saat ini biru muda.


"A-abang ngompol!!" pekik Mika saat Ali berbalik dan melihat dengan jelas celana Ali basah.


Dengan segera Ali mengambil selimut, menutupi bagian tubuh bawahnya. Wajahnya sudah tampak merah lantaran ketahuan Mika. "Ahh tidak Dek, mungkin ada air yang tumpah tadi di celaka Abang," jawabnya malu.

__ADS_1


"Lah bukannya Abang tadi masih tidur? Bagaimana bisa ada air yang tumpah di celana jika bukan air kencing, Abang sendiri?" Mika mengaruk kepalanya yang tak gatal.


"Pokokmya tadi ada air yang tumpah di celana Abang. Ah ya bisa kami keluar Dek, Abang mau mandi dulu," Masih dengan wajah merah Ali berkata dengan lembut kepada Mika.


"Ahh iya, baiklah Bang," jawab Mika meninggalkan kamar Ali dengan sejuta pertanyaan. Pertanyaan dari apa yang dikatakan Ali tentang akan bertanggung jawab.


Mika menutup pintu kamar Ali, meninggalkan laki-laki itu yang masih menutupi bagian bawah tubuhnya dengan selimut.


"Mana Ali, Mika?" Yumna mengerutkan keningnya lantaran tak melihat Ali di belakang Mika.


"Abang baru bangun Tante, mungkin sebentar lagi akan turun," jawab Mika.


"Oh ya sudah, kamu sarapan dulu gih Sayang. Nanti kamu bisa telat pergi ke kampus," suruh Yumna di angguki Mika. Ya rencananya pagi ini Mika akan pergi ke kampus bersama dengan Tiana. Gadis itu akan menjemput dirinya ke rumah Yumna.


Sedangkan di dalam kamar, Ali mengusap wajahnya dengan kasar. Dirinya sungguh sangat malu ketika, Mika melihat celananya yang basah. Ntah apa yang akan di pikirkan oleh gadis itu tentang dirinya.


"Alhamdulillah ya Allah, hanya mimpi," Berulang kali Ali mengucap syukur dalam hatinya. Sungguh dia sangat bahagia menyadari jika apa yang terjadi pada dirinya hanya sebuah mimpi.


"Terima kasih ya Allah, terima kasih apa yang terjadi pada hamba hanya mimpi." Laki-laki itu menyibak selimutnya dengan kasar. Tampak kasur yang ditidurinya basah karena adegan mimpi yang sangat waw di alaminya.


Jika difikir ulang, adegannya terasa sangat nyata. Bahkan jika Ali boleh memilih jangan pernah lagi datang mimpi seperti itu kepada dirinya. Sungguh sangat membuat dirinya takut, takut jika itu sebuah kenyataan yang membuat dirinya akan membenci dirinya sendiri.


Ali bergegas menuju meja makan, untung saja hari ini dia masuk agak siang, jadi tak perlu khawatir akan telat.


"Kenapa lambat bangun Al?" Yumna menatap putranya.


"Emm, semalam aku tidur agak larut, Bun," jawabnya. "Abi mana Bun?" Ali bingung tak melihat keberadaan Andi.


"Pergi jalan pagi sama ke-dua adikmu, Al,"


Ali hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Yumna. Melanjutkan sarapan paginya dalam diam.


Sedangkan Yumna membersihkan dapur yang tampak kotor. Bekas dirinya memasak tadi lagi belum di bersihkannya.


"Bunda aku berangkat dulu, soalnya ada rapat mendesak dari rumah sakit," pamit Ali meraih tangan Yumna.

__ADS_1


"Iya Nak, hati-hati. Jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya," Nasehat Yumna kepada sang putra.


"Iya Bun,"


Dengan segera Ali melangkah keluar dari dalam rumah. Dirinya ingin cepat sampai dirumah sakit. Apalagi atasannya mengatakan akan ada rapat penting yang tak boleh absen satu orangpun. Wajib hadir bagi semua dokter, dan suster.


Ali mengendarai mobilnya menuju rumah sakit dengan sedikit kencang. Apalagi waktu yang sudah sangat mepet.


Setiap petugas di di rumah sakit itu menuju aula yang berada di tengah-tengah rumah sakit. Banyak yang berlari agar cepat sampai di dalam aula. Ali menarik nafasnya yang terasa sesak, lantaran berlarian setelah sarapan pagi.


Sudah banyak orang yang berkumpul di dalam aula tersebut. Ali duduk di bagian pojok barisan ke tiga. Menetralkan detak jantungnya yang berpacu dengan cepat.


"Al, kamu baru sampai?" Wanita yang membuat Ali bermimpi buruk semalam duduk tepat di sampingnya. Ntah kenapa wanita itu tahu jika dirinya duduk di sini.


Ali tak menjawab, matanya masih fokus menatap kedepan.


"Kok diam sih Al?" desak wanita itu.


"Kamu kenapa cuek gitu sama aku sekarang, Al? Padahal sudah 2 bulanan kita tidak berjumpa. Kamu tahu aku rindu sama kamu, Al," Ali menepis tangan wanita itu yang hampir saja menyentuh pahanya.


Andai saja di samping wanita itu tidak ada orang, mungkin Ali sudah pindah dari sana. Namun bangku pada barisan yang di dudukin Ali sudah penuh. Ali menarik nafasnya dengan kasar. Jika boleh jujur dia sangat malas bertemu dengan wanita yang berada di sampingnya. Wanita yang tak kenal dengan rasa malu.


"Al,"


"Kamu bisa diam tidak Wen, jujur saja aku muak sama kamu,"


Weni membulatkan mulutnya. Tak menyangka akan mendapat kata-kata seperti itu dari mulut laki-laki yang dia kenal lembut itu.


"Kamu itu kenapa sih Al? Tidak ada angin, tidak ada hujan malah ngomong gitu?" Weni menatap Ali dengan wajah polos yang di buat-buat.


"Kamu tidak perlu tahu Wen, intinya aku masuk sama kamu. Dan aku harap kamu akan meneruskan apa yang terjadi selama dua bulan ini. Jangan pernah menginjakkan kaki kamu di dalam ruangan ku lagi." tekan Ali dalam setiap ucapannya.


"Kamu kok aneh gini sih Al, aku nggak ngerti dengan kamu,"


"Tidak ada yang aneh Wen. Semuanya biasa saja. Intinya jangan pernah lagi kamu menginjakkan kaki kamu di ruangan ku kecuali emang ada tugas mendesak," jawab Aku lantang.

__ADS_1


Weni, wanita itu hanya diam mendengar ucapan dari laki-laki yang dia kenal baik itu. Tak menyangka jika dirinya akan diperlakukan seperti ini dari seorang laki-laki seperti Ali. Padahal banyak laki-laki yang menginginkan dirinya untuk diajak berkencan. Banyak pula yang mengajak dirinya untuk diajak tidur.


TBC


__ADS_2