
Sudah tujuh hari Rena berada di rumah sakit. Hari ini wanita tua itu sudah dibolehkan pulang oleh dokter. Lani membantu memasukkan pakaian Rena ke dalam tas yang dia bawa dari rumah beberapa hari lalu. Sedangkan Reyhan pergi membayar sisa administrasi sang ibu.
Saat sadar dari pingsannya, dokter memeriksa keadaan Rena. Nyatanya wanita tua itu tidak mengalami gegar otak. Tapi dia mengalami lumpuh permanen serta tidak bisa untuk berbicara. Bahkan mulutnya agak mereng tidak seperti biasa. Membuatnya kadang kala air ludah menetes dari sudut bibirnya. Maka dari itu, Reyhan menyediakan handuk kecil di samping sang ibu agar air ludahnya hanya akan mengenai handuk tersebut.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Reyhan sudah kembali ke dalam kamar rawat Ibunya. Melangkah mendekati sang ibu yang kini tengah berbaring di ranjangnya. Reyhan membantu sang ibu untuk duduk.
Rena mengambil kursi roda yang dibeli Reyhan satu hari yang lalu. Membawa kursi roda itu tepat di samping sang suami. Reyhan memopong sang ibu untuk didudukkan diatas kursi roda tersebut. Dirasa sudah tepat, akhirnya ketiga orang itu meninggalkan ruang rawat yang dihuni Rena lebih kurang satu minggu ini.
"Mas, kita mampir sebentar di supermarket ya? Tadi Reni ngirim aku pesan, dia mau di beliin mie Korea," Lani menatap suaminya saat mereka sudah di dalam perjalanan menuju rumah.
"Iya Sayang," jawab Reyhan menghadap ke belakang sebentar. Karena Lani menemani Rena untuk duduk di jok belakang. Jika tidak di temani, bisa jadi Rena akan terjatuh saat ada tanjakan.
****
Saat ini Yumna tangah bersiap-siap di dalam kamarnya. Memakai sedikit riasan pada wajahnya. Tidak terlalu tebal, tapi bisa dikatakan natural. Wanita itu meninggalkan kamar setelah, semua yang dia lakukan telah selesai.
"Sudah siap Bun?" Ali yang melihat sang bunda, langsung saja melangkah mendekati sang bunda. Memegang tangan Bundanya dengan lembut.
"Sudah Sayang," balas Yumna dengan senyuman.
Ali memperbaiki letak peniti Yumna yang tampak agak mereng. "Penitinya mereng Bun. Terlihat kurang bagus jika dibiarkan," ujar Ali setelah membantu Yumna memasang peniti pada hijabnya.
__ADS_1
"Terimakasih Sayang." ujar Yumna dengan tersenyum manis kepada sang putra. "Yuk Mas, kita berangkat," lanjut Yumna pada laki-laki yang kini masih saja duduk terdiam di atas sofa rumahnya. Panggilan yang sudah berubah, dulu memanggil nama dan sekarang sudah pakai embel-embel Mas. Karena tak mungkin Yumna memanggil calon suaminya itu dengan nama. Sebentar lagi mereka akan menikah, dan sudah sepatutnya Yumna menganti nama panggilan untuk calon suaminya.
Bukannya merespon ucapan Yumna, laki-laki itu seakan tuli. Menatap bengong ke arah Yumna dengan mulut sedikit terbuka. Mungkin saja laki-laki itu kagum melihat Yumna dengan riasan yang tampak natural. Sangat cocok di wajah ayu wanita yang tidak lagi berumur tiga puluhan itu. Namun wajahnya yang awet muda, membuat wanita itu seperti berumur tiga puluhan. Bahkan jika Ali berdampingan dengan sang bunda, orang-orang tidak akan menyangka jika mereka ibu dan anak.
"Abi, yuk berangkat," Ali yang melihat Andi terdiam dan tidak merespon ucapan Bundanya melangkah ke arah laki-laki itu. Memegang pundak Andi untuk menyadarkan laki-laki itu dari lamunannya.
Ali memang sudah memanggil Andi dengan sebutan Abi. Itupun permintaan laki-laki itu agar pemuda itu terbiasa dengannya nanti, jika dia sudah menjadi ayah sambungnya. Tak lagi ada canggung untuk mengucapkan satu kata itu. Awalnya Andi ingin di panggil Ayah, namun Ali menikah mentah-mentah, lantaran panggilan itu sudah ada pada laki-laki yang memutuskan hubungan dengannya. Bukan benci akan panggilan itu, hanya saja terasa agak muak. Maka dari itu Ali memanggil Andi dengan sebutan Abi. Terasa lembut juga sangat enak didengar.
"Ahhh, iya ada apa Nak?" tanya Andi dengan raut wajah terkejut. Dia tak menyadari jika Yumna berbicara kepada dirinya. Dia mengagumi kecantikan calon istrinya itu.
"Itu Bunda ngomong sama Abi. Tapi Abi malah bengong ngelihatin Bunda dari tadi. Apa Bunda terlihat sangat centik sekarang, Bi?" Ali menaik-turunkan alis matanya. Menggoda sang abi yang tampak malu-malu kucing.
Yumna salah tingkah dengan perkataan Andi. Dia sangat malu mendengar ucapan Andi. Bahkan wajahnya saat ini sudah tampak memerah seperti tomat matang.
"Ahh Abi bisa saja bikin Bunda salting." Ali ikut menggoda Bundanya yang tampak malu-malu kucing, padahal sebenarnya dia sangat suka.
"Ihh kamu apaan sih, Sayang. Lagian bunda biasa aja tuh," Yumna tampak memanyunkan bibirnya, seperti anak remaja yang tengah ngambek.
"Iya kok, wajah Bunda saja sudah memerah gini, bahkan sudah seperti tomat. Benar 'kan Bi?" Ali beralih menatap Andi.
Laki-laki itu mengangguk. "Iya kamu benar, Nak. Bahkan Bunda sekarang tampak semakin cantik di mata abi, Sayang. Bagaimana nanti kalau Abi sudah jadi suaminya Bunda ya? Mungkin Bunda akan tampak cantik. Apalagi kalau pipi Bunda semakin tembem. Bunda pasti akan tampak menggemaskan dari sekarang," Andi ikut menyetujui ucapan pemuda itu.
__ADS_1
"Iya ya Bi. Jika nanti Bunda tembem, pasti makin cantik. Apalagi jika nanti Bunda hamil adik aku, pasti Bunda akan lebih tampak menggemaskan," Ali tampak membayangkan sang Bunda tengah hamil. Apalagi dengan perut yang membelendung, pasti sangat cantik juga menggemaskan.
Andi dan Yumna tampak terkejut dengan ucapan Ali. Bahkan mereka tidak pernah berfikir hingga ke sana. Namun, yakinlah jika ke-dua orang itu mengucapkan kata 'aamiin' dalam hati masing-masing. Meski sudah tak lagi muda, jika Allah berkehendak untuk Yumna dikaruniai anak ke-dua, maka dia akan sangat bersyukur. Namun jika tidak, Yumna harus bersabar. Mungkin saja itu adalah cara terbaik yang diberikan Allah kepada dirinya dan keluarga kecilnya.
"Aamiin Sayang. Semoga saja nanti Allah titipkan seorang nyawa di rahim Bunda," Andi merangkul calon anak sambungnya itu dengan erat. Sungguh do'a ucapan anak sambungnya itu membuat Andi sangat bahagia. Jangan lupakan juga jika senyuman Ali saat ini membuat Andi ikut merasakan kebahagiaan. Anak laki-lakinya, bahkan bisa dikatakan menginginkan seorang adik. Maka dari itu ucapan itu meluncur begitu saja dari mulutnya.
"Iya Bi, aamiin. Semoga nanti Bunda hamil lagi ya. Aku ingin punya adik perempuan," Ali melangkah menuju sang Bunda yang berada tepat dua langkah darinya. Mengulurkan tangan pada perut sang Bunda, dan mengusapnya dengan pelan.
"Aamiin Sayang. Terimakasih do'anya, Nak," Yumna sangat terharu dengan putranya. Tampak wajah putranya sangat berseri saat mengatakan ingin memiliki adik perempuan.
"Sama-sama Bunda. Yasudah, yuk kita berangkat Bun, Bi," ajak Ali dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Yasudah ayok," jawab Andi melangkah duluan keluar rumah.
Saat ini ke-tiga orang itu sudah berada di perjalanan menuju boutique, untuk membeli baju pengantin. Besok sudah tak ada lagi waktu untuk mereka mencari baju pengantin. Karena, besok mereka sudah mulai sibuk di rumah masing-masing. Menyiapkan segala sesuatu untuk pernikahan mereka. Pernikahan yang bisa dikatakan hanya menghitung hari saja.
Perjalan yang hanya memakan waktu lebih kurang satu setengah jam. Akhirnya mereka sampai di boutique langganan keluarga Andi. Membawa dua orang yang sebentar lagi akan menjadi keluarganga masuk ke dalam boutique itu.
Yumna memilih salah satu baju gamis bewarna putih tulang, dengan sedikit manik-manik dibagian ujung baju. Memang sederhana namun, tampak mewah. Sedangkan Ali dan Andi memilih jas yang berbeda. Andi dengan warna hitam dengan kemeja putih dan dasi hitam. Sedangkan Ali jas biru dengan kemeja putih dan dasi biru.
TBC
__ADS_1