Diceraikan

Diceraikan
Reyhan


__ADS_3

Sejak terakhir Reyhan beserta Ibu dan istrinya datang ke rumah Yumna, tak sekalipun dia menampakkan batang hidungnya kepada anak serta mantan istrinya. Reyhan lebih memilih untuk melihat anaknya dari jauh. Rasa rindu yang menyeruak membuat Reyhan mengintip sang putra dengan jarak yang lumayan jauh. Ingin rasanya dia menghampiri sang putra, namun bayangan penolakan waktu itu membuat Reyhan tak kuasa menampakkan dirinya.


Takut akan penolakan kedua yang akan membuat dirinya kembali sakit seperti waktu itu. Sungguh penolakan yang membuat dadanya begitu sesak serta bergemuruh. Awalnya dia membayangkan akan diterima dengan baik oleh anaknya, namun itu semua hanya angan semu yang tak akan terjadi.


Pernah suatu ketika Reyhan akan mendekati putranya yang waktu itu sedang berbelanja di minimarket tempat awal mereka bertemu. Tapi Reyhan kembali ragu akan membuat mood anaknya akan hancur atau malah membuat anaknya semakin benci kepadanya. Tak ingin mengambil resiko, Reyhan lebih memilih berdiam diri di tempat parkir dimana mobilnya berada. Untung saja waktu itu Reyhan membawa mobil, jika saja tidak mungkin dia tidak akan berani menampakkan dirinya di tempat parkir. Apalagi motor anaknya berada tepat di samping mobilnya. Yang otomatis saat anaknya akan pulang dia akan melihat anaknya dengan sangat dekat.


Betapa bahagianya laki-laki paruh baya itu saat menatap anaknya dengan jarak yang sangat dekat. Garis wajah yang sama dengan dirinya, bahkan semuanya turunan darinya. Reyhan seperti melihat dirinya waktu masih muda, saat melihat sang putra sedekat itu.


Andai saja Reyhan berani membuka pintu mobil dan memeluk sang putra dengan erat, pasti sudah dilakukan Reyhan waktu itu. Kembali ingatannya agar tidak melakukan hak gegabah itu.


Reyhan menatap sang putra yang sudah menjauh dari pandangannya. Setelah tak tampak lagi anaknya barulah Reyhan keluar dari mobil dan masuk kedalam mini market. Kenapa Reyhan baru keluar mobil? Sebenarnya tadi Reyhan melihat sang putra yang melangkah masuk ke dalam minimarket, maka dari itu dia memiliki untuk tetap didalam mobil dan menanti sang putra untuk pulang terlebih dahulu.


***


Reyhan kini tengan duduk di ruang keluarga beserta anak dan istrinya. Ibunya tidak tak pergi kemana karena saat pulang dari mengajar tadi dia tidak melihat batang hidup Ibunya.


Keluarga kecil itu menikmati siaran televisi yang tengah menyala. Sebenarnya pikiran Reyhan tidak tertuju pada televisi yang menyala, tetapi pikirannya kepada sang putra yang tadi dia lihat di minimarket. Seulas senyum manis menghiasi wajah tegas Reyhan. Bayangan sang putra terus berputar di dalam kepalanya.


"Kenepa senyum-senyum, Yah?" Kebetulan Reni melihara Ayahnya tengah tersenyum nggak jelas. Padahal mereka hanya menonton berita tentang banjir yang terjadi di bagian kota dari Jakarta.


"Ahh, ehhh nggak ada kok Sayang," Reyhan terkejut dengan suara anak gadisnya. apalagi sang putri tepat berada di sampingnya.


"Lah aku lihat Ayah tadi senyum-senyum kok, padahal kita lagi nonton berita nggak ada yang lucu juga," ujar Reni yang masih menatap sang Ayah.


Terasa agak aneh, ayahnya tersenyum tidak jelas. Jika mereka menonton siaran lawak bisakah Reni maklum, tapi ini berita banjir yang tidak ada lucu-lucunya. Yang ada rasa iba terhadap mereka yang mengalami musibah.


"Ooh, ayah mengingat cerita lucu disekolah tadi," kilah Reyhan yang membuat putrinya hanya mengangguk saja.


Mungkin memang benar ayahnya mengingat peristiwa di sekolah seperti yang dikatakan laki-laki patuh baya itu. Itulah pikir Reni.

__ADS_1


"Emm, iya deh ya. Kalau emang itu," balasnya.


Selanjutnya mereka kembali menonton berita yang masih menayangkan tentang banjir yang terjadi di bagian wilayah di kota Jakarta. Banyak rumah-rumah yang digenangi air. Bahkan ada juga ruman yang terendam banjir tersebut. Ya yang jelas inti beritanya masalah bajir.


Malamnya Reyhan tengah tiduran diatas ranjang miliknya serta sang istri. Dengkuran halus sang istri membuat irama kesunyian ruangan tersebut. Renyah masih menatap langit-langit kamar yang gelap. Karena mereka tidur hanya menggunakan lampu tidur. Reyhan maupun istrinya tidak bisa tidur jika lampunya menyala.


Laki-laki paruh baya itu belum juga merasakan kantuk. Matanya masih saja menyala bak lampu yang baru saja di hidupkan. Pikirannya penuh dengan wajah putranya. Ntah kenapa Reyhan tidak bisa menghilangkan wajah putranya walau hanya sebentar. Bayangan-bayangan wajah tampan putranya membuat Reyhan mengembangkan senyum manisnya. Meski tak ada lagi yang masih terjaga, namun laki-laki itu asik dengan pikirannga sendiri.


Satu jam telah berlalu, Reyhan masih saja terjaga. Belum ada tanda-tanda dia akan masuk ke alam mimpinya. Padahal matanya sudah mulai sayu seperti lampu yang sudah mulai padam. Masih setia dengan langit-langit kamar yang mungkin saja tampak begitu indah dimatanya. Walaupun tampak gelap.


Menguap, Reyhan menguap dan mengusap nertranya yang berair. Menarik selimut hingga dadanya. Menyelami alam mimpi yang akan membawanya pada hari esok. Dengan senyum manis Reyhan tertidur dengan nyenyak. Cukup sampai di situ laki-laki itu membayangkan wajah tampan anak yang sangat dirindukannya.


***


Warna jingga mulai memperlihatkan cahayanya dengan malu-malu kepermukaan bumi. Cahaya terang yang sudah mulai tampak meski masih sebagian. Sepertinya hari ini cuaca sangat bagus. Seperti akan panas, tak ada tanda-tanda akan turunnya hujan. Lantaran langit tampak bersih tanpa ada awan gelap yang menghiasi.





Meski rasa panas sudah mulai masuk ke dalam kamarnya melalui celah ventilasi, tak membuat pemuda itu bangun dari tempat ternyenyaknya. Malah pemuda semakin nyenyak memasuki alam mimpi yang belum selesai ia kunjungi, bahkan suara burung yang memanggil-manggil di luar rumah tidak mengusik tidurnya. Seperti suara musik yang mengalun indah mengiring mimpinya.



Bahkan suara pintu kamar terbuka saja tak membuat pemuda itu bangun. Sang bunda yang membuka gorden yang menghalangi cahaya masuk juga tak mampu membuat pemuda itu tebangun dari alam mimpi yang begitu indah. Padahal cahaya panas sudah masuk ke dalam kamarnya dengan sempurna.


__ADS_1


"Sayang bangun!" Yumna menggoyangkan tubuh putranya agar lekas bangun dan membersihkan dirinya.



"Emmmm," Hanya erangan pemuda itu yang sedikit terusik dengan panggilan sang bunda. Apalagi Yumna juga menggoyangkan tubuhnya.



"Yuk bangun Sayang, ini sudah sangat siang. Lihatlah mataharinya sudah mulai naik," pinta sang bunda yang masih setia membangunkan anak bujangnya.



"Emmm, lima menit lagi Bun, aku masih ngantuk," pintanya dengan suara serak.



"Yasudah, nanti setelah mandi jangan lupa langsung makan ya, bunda mau pergi sebentar ada keperluan," pamitnya kepada sang putra.



"Iya Bun, hati-hati," balas Ali dengan suara serak. Bahkan dia tidak membuka matanya sedikit pun.


Rasa malas membuat pemuda itu membiarkan sang bunda mau pergi kemana. Biasanya dia pasti akan menanyakan akan pergi kemana sang bunda. Bahkan pagi seperti ini. Aahhh, biarlah nanti saja ditanyakan jika bundanya sudah pulang. Itulah pikir Ali dalam tidur nyenyaknya.



Yumna meninggalkan sang putra setelah mengucapkan jika dia akan pergi. Membiarkan anaknya untuk melanjutkan mimpi selanjutnya yang mungkin saja masih menggantung


__ADS_1


TBC


__ADS_2