
Ali, Mika dan Andi sudah sampai di rumah. Mereka tidak mungkin akan meninggalkan Aileen dan Azlan hanya dengan pembantu di rumah apalagi tadi mereka menangis histeris karena kehilangan Yumna. Bukan mereka tidak mau ikut ke pemakaman tapi karena mereka histeris makanya tidak di bawa. Takut jika terjadi hal lain nantinya saat di pemakaman.
"Abi," Aileen dan Azlan langsung bergegas mendekati Andi yang baru saja masuk ke dalam rumah. Memeluk tubuh Andi dengan sangat erat.
"Bunda, Abi? Kenapa Bunda tidak pulang bersama Abi? Kenapa Bunda malah ninggalin Ai untuk selamanya?" Gadis itu sesegukan di pelukan Andi. Menumpahkan segala rasa sesak di dadanya di pelukan sang ayah.
"Ai, Bunda itu nggak pergi ninggalin tapi Bunda masih berada disini. Bunda akan selalu ada di hati kita semua Nak, disetiap gerakan apapun yang Ai lakukan disana pasti ada Bunda. Jika Ai rindu sama Bunda lihatlah bintang di malam hari. Salah satu dari bintang yang bersinar itu adalah Bunda. Ai paham kan maksud Abi?" Andi mengusap bulir bening yang membanjiri wajahnya. Tatapan mata Aileen sangat persis dengan mata Yumna. Bahkan pahatan wajah Aileen juga sangat persis dengan Yumna hanya saja ini versi kecilnya. Aileen dan Yumna bak pinang di belakang dua.
"Tapi Ai mau Bunda, Abi. Ai tidak mau pisah dari Bunda, Ai rindu Bunda, Ai rindu Bunda, Abang," Aileen melangkah menuju Ali yang ikut jongkok di samping Andi. Menatap adik kecilnya dengan berurai air mata. Rasanya seperti mimpi jika sekarang mereka tidak lagi memiliki seorang Ibu. Melihat pahatan wajah Aileen membuat Ali semakin terisak. Sungguh rasanya sangat sakit kehilangan seorang Ibu. Seorang wanita tangguh yang tidak pernah merasa yang namanya lelah. Seorang wanita penyemangat, pemberi kasih sayang yang tiada tara kini tak ada lagi. Hanya sebuah kenangan yang tertinggal diingatan mereka. Yumna merupakah sosok seorang ibu yang sangat sempurna di mata anak-anaknya. Sosok seorang Ibu yang tidak akan pernah mereka dapatkan dari wanita manapun.
"Ai, Abang tahu Ai rindu sama Bunda. Tapi waktu Bunda memang sampai disini di dunia ini Ai. Sejauh apapaun Ai mengejar Bunda, jika Bunda sudah di jemput sama Allah maka Ai tetap tidak akan bisa membuat Bunda berada di sisi kita. Apa yang dikatakan Abi benar Ai, Ai harus melihat bintang di malam hari untuk melepaskan rindu kepada Bunda. Abang juga akan melakukan hal yang sama dengan Ai. Kita akan bersama-sama melihat bintang untuk melepaskan rasa rindu yang kita miliki untuk Bunda. Bunda pasti bahagia jika Ai memberikan senyuman termanis Ai. Ai tidak boleh sedih begitupun dengan Azlan dan Abang. Kita harus bahagia agar Bunda juga bahagia di sana. Ai bisa kan memenuhi apa yang Abi dan Abang katakan? Kita tidak boleh membuat Bunda sedih agar disana Bunda bahagia melihat kita semua juga bahagia. Ai ngerti bukan?" Ali mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Berusaha agar terlihat kuat di hadapan adik kecilnya meski hatinya tengah menangis.
"Ai rindu Bunda, Bang. Ai belum peluk Bunda dari tadi? Kenapa Bunda ninggalin Ai? Kenapa Bunda tidak membawa Ai bersamanya? Kenapa Bunda pergi nggak bilang-bilang sama Ai dulu, Abang," Air mata gadis kecil itu mengaliri pipinya dengan deras. Menangis dalam pelukan Ali sambil sesegukan. Tangisan pilu yang teramat menyayat hati Ali maupun yang lainnya. Tak pernah mereka melihat Aileen menangis seperti ini. Seakan-akan tangisan itu mengambarkan betapa dia sangat merindukan Yumna. Ibu terbaik yang mereka punya.
"Ai nggak boleh nangis seperti ini, Ai harus buat Bunda tenang. Ai nggak boleh marah sama Bunda, Bunda sayang sama Ai, Bunda nggak suka Ai nangis seperti ini. Apa Ai mau Bunda sedih di sana? Apa Ai mau Bunda sedih melihat Ai seperti ini? Apa Ai tidak mau Bunda bahagia di sana, hmm?"
"Ai mau Bunda bahagia Abang, tapi kenapa Bunda nggak berikan Ai pelukan sebelum pergi? Apa Bunda lupa sama Ai, Abang?"
Ali menggeleng. "Nggak Ai, Bunda sayang banget sama Ai. Mungkin saja Bunda terburu-buru jadi tidak sempat peluk Ai. Ai nggak boleh marah sama Bunda ya?"
"Baiklah Abang, Ai nggak akan marah sama Bunda. Ai nggak akan buat Bunda sedih di sana," gadis kecil itu tersenyum dengan polosnya begitupun dengan Ali yang membalas dengan anggukan serta senyum tipis di bibirnya.
*****
Flashback On
Setelah memandikan Azlan, Yumna mengajak putra kecilnya itu untuk bermain di ruang tamu. Menghabiskan waktu dengan menemani putra serta putrinya yang sudah lebih dulu duduk di sofa ruang tamu dengan menonton televisi bersama dengan Andi, suaminya. Kebetulan hari ini sekolah mereka mengadakan libur karena ada rapat para guru.
Kartun Upin dan Ipin kesukaan anak-anaknya tengah tayang di layar lebar itu. Sesekali Yumna tersenyum saat anak-anaknya tertawa ketika ada yang lucu. Dia bahagia memiliki anak-anak seperti Azlan dan Aileen bukan berarti tidak dengan Ali. Semua anak-anaknya Yumna sangat mencintainya.
"Bunda Ai mau puding," pinta Aileen yang di angguki Yumna.
"Baiklah, tunggu di sini Bunda ambil dulu," Yumna meninggalkan kedua anaknya serta Andi di ruang tamu. Mengambil puding di dalam kulkas yang kebetulan satu jam yang lalu di buat Yumna.
"Nah Sayang," Yumna meletakkan puding tersebut di atas meja kecil yang berada di depan mereka.
"Terima kasih Bunda," Aileen mengambil satu potong puding begitupun dengan Azlan dan Andi. Sedangkan Yumna hanya tersenyum menatap keluaga tercintanya dengan penuh senyum tanpa ikut memakan puding tersebut.
"Enak Bunda, masih sama seperti dulu," ucap Andi di sela-sela kunyahannya. Sudah lama rasanya Andi tidak memakan puding yang di buat istrinya.
"Kan masih aku yang membuatnya Mas, kecuali orang yang beda bisa saja rasanya beda juga," jawab Yumna menampilkan senyum manisnya kepada sang suami.
"Hahah, kamu bisa saja Bunda,"
"Mas, aku ke kamar dulu ya," pamit Yumna kepada Andi. Sedangkan kedua anak mereka tengah asik menonton kartun yang belum juga habis.
__ADS_1
"Baiklah Bunda, sebentar lagi Mas akan nyusul kamu," balas Andi yang diangguki Yumna.
Yumna meninggalkan kedua anaknya serta sang suami di ruang tamu. Sedangkan Andi menatap punggung istrinya yang sudah mulai menjauh dari pandangannya.
"Ai," panggil Andi kepada putri kecilnya.
"Iya Abi," jawab Aileen menatap Andi sekilas.
"Abi kekamar sebentar ya. Abi ada perlu sama Bunda,"
"Iya Abi jangan lama-lama ya," pinta Aileen.
"Iya Ai, Abi tidak akan lama kok," Setelahnya Andi langsung menuju kamarnya untuk menghampiri sang istri.
"Bunda," Andi mendekati sang istri yang sudah berbaring di atas ranjangnya. "Tumben Bunda tidur jam segini? Padahal ini ini masih jam setengah 12? Biasanya Bunda pasti tidur setelah sholat zuhur?"
"Nggak tahu Mas tiba-tiba aku ngantuk banget Mas," jawab Yumna beberapa kali menguap.
"Apa mau Mas temanin Bunda?" tawar Andi yang mendapat gelengan dari Yumna.
"Tidak udah Mas. Mas bisakah kamu menuntun aku untuk membaca syahadat?" pinta Yumna memandang sendu suaminya.
Andi terkejut dengan keinginan istrinya. Tak biasanya Yumna seperti ini. "Ke-kenapa Bunda minta itu? Apa tidak ada hal lain Bunda?" tanya Andi dengan bergetar. Ntah kenapa perasaannya jadi tidak enak.
__ADS_1
"Aku hanya mau itu Mas, bisakah kamu memenuhi keinginan aku, Mas?" pintanya memohon membuat Andi tidak tega.
"Baiklah Bunda, Mas akan membantu," jawab Andi mengulas senyum tipis dengan perasaan campur aduk.
"Asyhadu an laa ilaha illallah," ucap Andi yang diikuti Yumna. "wa asyhadu anna muhammadar rasulullah." Lanjut Andi yang kembali diikuti sang istri dengan derai air mata. Bahkan mata Andi juga ikut memanas membantu sang istri untuk mengucapkan kalimat syahadat.
"Terima kasih Mas sudah memenuhi keinginan aku," Yumna menghapus air matanya juga dengan air mata Andi yang mengalir tanpa bisa di cegahnya.
"Sama-sama Bunda. Tapi perasaan Mas jadi tidak karuan Bunda, Mas takut, Mas sangat takut." Air mata Andi semakin membanjiri pipinya. Perasaan yang tiba-tiba saja menghampiri dirinya, seakan-akan ada sesuatu yang akan terjadi pada dirinya.
"Mas tidak usah takut, Mas harus tetap tersenyum dan bahagia demi anak-anak kita. Mas harus tetap kuat dan tabah dalam segala hal apapun itu yang akan terjadi kedepannya. Yang penting aku mencintai kamu karena Allah Mas, aku sangat mencintai kamu begitupun dengan anak-anak kita," Yumna mengulas senyum tipis di bibirnya. "15 menit lagi bangunin aku ya Mas," Lanjut Yumna di angguki Andi.
Andi kembali ke ruang tamu menemani kedua anaknya menonton setelah melihat sang istri yang sudah tertidur dengan damainya. Hingga tak terasa waktu 15 menit itu sudah tiba. Andi kembali lagi ke kamar untuk membangunkan sang istri sesuai dengan permintaan istrinya itu.
"Bunda bangun yuk, ini sudah 15 menit," Andi mengusap lengan istrinya dengan lembut. Namun tak ada reaksi dari sang istrinya.
Hingga tiga kali Andi membangunkan Yumna tetap tidak ada reaksi dari istrinya. Sampai akhrinya Andi menyentuh tangan istrinya yang terasa sudah agak dingin. Denyut nadi pada tangan itu bahkan sudah tak lagi berfungsi.
"Bunda, Bunda jangan ngeprank Mas kayak gini. Ini sungguh tidak lucu Bunda. Bunda!!!" Andi merengkuh tubuh yang sudah tak bernyawa itu. Memeluk dengan erat tubuh sang istri. Air mata yang semakin merembes keluar dari pelupuk mata yang mulai keriput itu.
"Apakah ini alasan Bunda meminta Mas untuk menuntun Bunda syahadat? Kenapa Bunda harus meminta Mas untuk membangunkan Bunda 15 menit kemudian? Kenapa Bunda tidak meminta Mas untuk menemani Bunda sampai hembusan terlahir nafas Bunda? Kenapa Bunda lakukan ini sama Mas? Bagaimana bisa Mas akan tetap tersenyum sedangkan cinta Mas sudah pergi untuk selamanya. Bagaimana bisa Mas tetap kuat jika kekuatan itu sudah Bunda bawa seluruhnya? Bagaimana bisa Mas akan melalui hari-hari tanpa kehadiran Bunda di sisi Mas dan juga anak-anak?" Andi semakin memeluk tubuh istrinya dengan erat. "Bunda, Mas sangat mencintai Bunda. Mencintai Bunda karena Allah. Terima kasih sudah memberikan Mas waktu untuk membantu Bunda mengucapkan syahadat. Terima kasih sudah menjadi istri terbaik yang Mas punya," Andi mendaratkan ciuman di wajah yang sudah pucat itu. Wajah yang tidak ada lagi darah yang mengalir.
Flashback Ifft
__ADS_1
TBC