
Ali mengendarai sepeda motornya dengan sedikit kencang. Laki-laki itu masih marah lantaran mengingat setiap kata-kata yang keluar dari mulut pedas wanita tua yang barusan ketemu dengan dirinya. Sungguh ingin rasanya Ali melampiaskan rasa marahnya kepada wanita tua tersebut.
Semakin tua seseorang nyatanya tak akan dapat merubah sifat yang memang sudah melekat erat dalam dirinya. Bukannya bertaubat malah semakin menjadi. Begitulah jika seseorang yang tidak mau merubah dirinya selagi masih muda, maka semakin dewasa dan semakin tua tidak akan pernah berubah. Contohnya saja Rena wanita yang seharusnya sudah lebih mendekatkan diri kepada sang pencipta. Tapi jangan lupa diri kita juga mendekat diri kepada sang pencipta berapapun itu umur kita. Dan juga jangan lupakan meski kita masih muda bukan berarti kita akan mati diusia senja. Kematian tidak pernah menuntut umur yang sudah lanjut usia. Ada yang masih dalam kandungan, bayi, anak-anak, serta orang yang sudah tua.
Sepeda motor yang dikendarai Ali sudah sampai di pekarangan rumahnya. Melajukan ke tempat dimana biasa dia memarkirkan motornya. Kaki panjang itu melangkah menuju dalam rumah meski dengan dada yang bergemuruh. Dengan sekuat tenaga Ali berusaha untuk meredam amarahnya.
"Bunda," Ali menyebut nama sang ibu yang tengah duduk sendirian di atas sofa sambil menonton televisi.
"Gimana kuliahnya hari ini, Sayang?" tanya Yumna setelah Ali duduk di sampingnya. Jangan lupakan laki-laki itu sudah menyalami tangan wanita tercintanya dengan takzim.
"Alhamdulillah lancar Bun," balasnya dengan senyuman.
Melihat wanita tercintanya membuat amarah yang tadi mengebu dalam dada pemuda itu berangsur hilang. Wajah damai sang bunda sebagai obat terampuh dikala dirinya marah. Wanita yang sangat-sangat dicintai oleh Ali. Tidak ada lagi wanita yang paling dia cintai selain sang bunda yang telah melahirkan dirinya ini.
Wanita tersabar, wanita pekerja keras bahkan wanita terhebat miliknya. Tak akan pernah dirinya mendapati seroang ibu seperti bundanya. Ali merengkuh wanita itu ketika matanya sudah hampir menganak sungai.
"Ada apa, hmm?" Yumna sedikit tersentak lantaran sang putra langsung memeluk dirinya dengan erat. Yumna pun membalas pelukan dari anak bujangnya.
Ali menggeleng dalam pelukan sang bunda. Menghapus air mata yang sudah jatuh dari pelupuk mata tegas itu. Takut sang bunda tau jika dirinya tengah menangis.
"Tidak Bun, hanya rindu sama Bunda," balasnya dengan senyuman setelah melepas pelukannya kepada wanita tercintanya.
"Beneran nggak ada apa-apa?" tanya Yumna menatap mata tegas putranya. Biasanya ketika putranya itu memiliki masalah pasti akan memeluk dirinya seperti yang tadi dia lakukan.
"Iya Bun, nggak ada apa-apa kok. Aku cuman rindu sama Bunda, hehe," jawab Ali dengan sedikit tawa di akhir kalimatnya.
Yumna mengangguk. "Yaudah kalau emang kamu nggak mau cerita sama Bunda juga nggak apa-apa. Apa kamu sudah makan, Sayang?" tanya Yumna yang tidak memperpanjang pertanyaannya.
"Belum Bun, soalnya tadi habis dari kampus duduk sebentar di taman lalu baru pulang," jawab Ali dengan jujur. Dia tak mau membohongi bundanya. Karena wanita kesayangannya itu pernah berkata 'jika sekali kita berbohong maka untuk seterusnya pasti akan ada kebohongan lagi dan itu akan menjadi suatu kebiasaan' itulah nasehat bundanya kala itu.
"Yaudah yuk makan, bunda sudan siapin makanan kesukaan kamu," ujar Yumna menarik tangan sang putra untuk berdiri.
__ADS_1
"Iya Bun," balas Ali dengan senyum mengembang di bibirnya.
Ibu dan anak itu melangkah menuju dapur untuk makan. Rasa lapar mendera Ali saat sang bunda mngatakan makanan kesukaannya. Membayangkan saja sudah membuat laki-laki itu ngiler apalagi sudah berada di depan matanya. Mungkin saja laki-laki itu akan memakannya langsung.
***
Rena menatap kepergian cucunya dengan tatapan nanar. Perjuangannya untuk meluluhkan hati cucunya gagal sudah. Rencana serta bayangan dirinya tentang sang cucu sirna seketika. Jujur saja Rena sangat sedih mendengar ucapan cucunya.
"Huhhhh, aku harus berusaha sekuat tenaga agar cucuku itu mau tinggal bersama diriku dan juga Reyhan dan istri serta putri mereka. Rasanya ini tidak adil lantaran selama ini kami tidak pernah merasakan bagaimana kehadiran cucuku itu," guman Rena sambil melangkah meningalkan taman.
Sekelebat rencana baru sedang berputar dalam otaknya. Berharap rencananya nanti akan membuahkan hasil yang memuaskan. Bahkan Rena sangat yakin cucunya itu pasti akan mendengarkan ucapannya.
Bayangan cucunya tingal di rumahnya membuat wanita tua itu mengembangkan senyum manis. Rasanya dia sangat bahagia jika hari itu terjadi. Ahhh rasanya wanita itu ingin sekali hari itu cepat datang.
Sekitar dua jam akhirnya Rena sampai di rumahnya. Dengan menenteng kresek berisi buah serta cemilan kesukaan dirinya serta anak, cucu serta menantunya. Mereka memang memiliki cemilan kesukaan yang sama. Jadi tak perlu memilih berbagai macam cemilan lagi.
Rena membawa belanjaan yang di beli ke dapur. Meletakkan kresek tersebut di atas meja makan. Panggilan alam membuat Rena langsung melangkah dengan cepat ke kamar mandi dengan meningalkan tasnya di samping belanjaan.
"Dari kamar mandi, habisnya ibu sudah tidak tahan," jawabnya.
"Oowh, aku kira Ibu kemana, Pasalnya tas Ibu malah Ibu tinggalin di sini," ujar Lani yang masih asik menyusun cemilan tersebut. "Ibu mau minum apa?" lanjut Lani kepada ibu mertuanya.
"Emm, teh manis saja Lan, ibu tunggu di ruang tamu ya," pintanya diangguki Lani.
"Nih Bu tehnya," ujar Lani meletakkan teh manis di depan sang mertua.
"Terimakasih Lan," ujar wanita tua itu dengan senyuman.
"Sama-sama Bu," Lani duduk di samping ibu mertuanya. Meletakkan nampan di bawah meja yang kebetulan ada tempat yang biasa dia meletakkan cemilan.
Kedua wanita itu terdiam cukup lama
__ADS_1
Mereka asik dengan pikiran masing-masing. Tak ada yang memulai pembicaraan dari ke-duanya.
"Emm, Lan," panggil Rena saat mereka sudah lama terdiam tanpa kata satupun.
"Iya Bu," wanita itu menghadap sang mertua saat dia mendengar mertuanya itu menyebut namanya.
"Dimana Reni, Lan?" tanya Rena saat tak nampak dimana keberadaan cucunya itu.
"Di kamar Bu, mungkin masih daring," jawabnya.
Ya Reni sekolah dari rumah. Kadang waktunya tidak bisa di tentukan tergantung guru yang mengajar. Bukan tidak mau berangkat ke sekolah, hanya saja anak gadisnya itu ingin sekolah dari rumah saja. Lantaran terasa sangat merepotkan jika kesekolah. Apalagi jika nanti dia mau buang air besar atau kecil. Untung kalau kelasnya berada di dekat kamar mandi, jika tidak? siapa yang akan menolong dirinya. Jika waktu istirahat bisalah temannya, tapi kalau waktu belajar? tidak mungkin anak gadisnya itu akan merepotkan temannya. Yang ada temannya akan ketinggalan pelajaran hanya karena dirinya.
Karena itulah Reni lebih memilih untuk sekolah dari rumah saja. Sudah beberapa kali Lani maupun Reyhan membujuk sang putri, tetap saja putri mereka bersikeras tidak mau berangkat ke sekolah. Takut akan merepotkan temannya nanti jika ia akan ke kamar mandi.
"Owh, emang tetap nggak mau Reni pergi ke sekolah Lan?" tanya wanita itu dengan sendu.
Lani menggeleng. "Tidak Bu, sudah beberapa kali aku dan Mas Reyhan membujuk tapi dia tidak mau. Takut merepotkan temannya, katanya Bu," balas Lani dengan sendu pula.
"Ini semua gara-gara ibu, andai saja dulu ibu tidak lengah merawatnya. Maka Reni pasti tidak akan seperti sekarang," wanita tua itu tampak semakin sedih. Mengingat cucunya seperti sekarang karena kelalaian dirinya.
"Sudahlah Bu, lagian itu sudah lama berlalu. Dan juga mungkin itu sudah takdirnga Reni seperti itu," jawab Lani dengan pandangan sendu. Bahkan jauh dilubuk hatinya dia juga menginginkan putrinya seperti temannya yang lain.
"Iya Lan, ibu tau. Hanya saja kadang ibu kepikiran. Andai saja ibu tidak lalai pas--"
"Ibu nggak usah memikirkan hal itu lagi. Yang terpenting Ibu jaga kesehatan Ibu saja. Semoga saja suatu saat ada keajaiban dari yang Kuasa untuk kesembuhan Reni, Bu," ujar Lani memotong ucapan mertuanya.
"Iya Lan, aamiin,"
Setelahnya tak ada lagi pembicaraan dari kedua wanita tersebut. Mereka memilih untuk bungkam. Menyelami pikiran masing-masing tanpa ingin melontar suatu perkataan.
TBC
__ADS_1