Diceraikan

Diceraikan
SEASON 2 Menutup Buku


__ADS_3

Ali kemasuki kediaman orang-tuanya dengan wajah tak bersemangat. Hatinya saat ini sungguh sangat hancur. Impian yang sudah dia rencanakan nyatanya berakhir menyedihkan seperti ini.


"Abang main yuk?" Azlan menghampiri Ali yang baru saja mendudukkan tubuhnya pada sofa.


"Abang lelah Az, main sama Kakak Ai dulu ya?" pinta Ali menutup matanya.


"Kakak Ai tidak mau main sama Az, Abang," adunya cemberut.


"Nanti kita main ya Az, Abang lagi lelah." Ali menatap sekilas bocah laki-laki itu. Lalu, kembali menutup matanya.


Ingin rasanya Ali menghancurkan apa saja yang berada di dekatnya. Namun, kembali lagi Ali berfikir jika itu tak akan membuat apa yang menjadi miliknya kembali.


"Kamu kenapa Al? Wajahnya kusut gitu. Apa ada masalah?" Yumna mendudukkan tubuhnya tepat di sebelah Ali.


"Sedikit ada masalah Bun," Ali membuka kelopak matanya. Menatap wanita yang telah melahirkannya itu dengan pandangan sendu. Hatinya sungguh tak baik-baik saja saat ini. Ada rasa sakit yang mengerogoti hatinya.


"Ada apa, hmmm? Ceritakan saja Nak. Biar hati kamu bisa lebih baik dari saat ini." pintar Yumna lembut.


"Hubungan aku dengan Yola sudah berakhir Bun,"


"Ke-kenapa? Bukankah hubungan kalian baik-baik saja? Bukankah kamu sudah hendak melamarnya Nak?" Yumna cukup terkejut dengan ucapan putranya. Tak menyangka jika hubungan yang sudah bertahun-tahun itu berakhir seperti ini. Niat hati ingin punya menantu, nyatanya pupus sudah.


"Yola mau nikah minggu depan Bun. Tadi kami bertemu dan dia minta maaf jika hubungan kami sudah harus berakhir. Dia tak punya pilihan untuk memilih aku, Bun. Itu semua atas desakan orang-tuanya," jelas Ali yang membuat Yumna cukup sedih.


"Mungkin dia bukan jodoh kamu, Nak. Yakinlah akan ada wanita yang akan menerima kamu dengan ikhlas tanpa ada rasa kecewa yang akan kamu lalui. Percaya Allah memiliki rencana yang lebih baik dari apa yang kamu bayangkan Nak," Yumna menghibur putranya agar tak sedih lagi.


Jujur saja Yumna cukup kecewa dengan apa yang dilakukan Yola. Padahal Yumna sudah sangat menyayangi Yola seperti putrinya. Tapi, apa yang bisa dibuat Yumna jika takdir anaknya bukanlah bersama Yola.


"Iya Bun, terimakasih nasehanya. Semoga saja akan ada gantinya yang akan aku bawa langsung pada tahap pernikahan,"


"Aamiin Nak," balas Yumna.


"Oh iya Bun, tadi aku melihat Mika. Apa dia baru kembali ke sini?" Ali menatap Yumna karena penasaran dengan gadis itu.


"Bukan Nak, Mika sudah kembali 2 munggu yang lalu. Dan dia juga sudah kesini sekitar satu minggu yang lalu. Kebetulan saat itu kamu berada di rumah sakit." jawab Yumna.


"Terus kenapa tidak tinggal disini Mika, Bun?"


"Tidak Sayang, Mika mau memilih tinggal sendiri di kontrakan. Tente Caca inginnya Mika untuk tinggal bareng kita, namun Mika menolak karena ingin hidup mandiri," jelas Yumna kepada putranya.


"Kenapa gitu Bun? Bukankah disini masih ada kamar yang bisa di gunakan Mika, kamarnya yang dulu? Bukankah bisa juga untuk menghemat pengeluarannya? Terus sekarang dia sudah kerja atau belum Bun?" Jiwa kekepoan Ali seketika muncul. Menghilangkan sejenak rasa sakit di hatinya.


"Bunda inginnya juga gitu Al, kamu tahu jika Bunda sudah menganggap Mika seperti putri kandung Bunda sendiri. Bunda tidak bisa memaksa Mika untuk tetap tinggal di sini Nak. Bahkan Tante Caca sama Om Rangga inginnya Mika juga tinggal di sini, tapi Mika menolak. Gadis itu ingin hidup mandiri, makanya dia tidak lagi tinggal disini." jawab Yumna kepada putranya. "Alhamdulillah Mika sudah dapat pekerjaan Nak, kalau tidak salah Bunda, besok dia sudah mulai kerja. Katanya juga kantornya yang berada dekat rumah sakit tempat kamu kerja. Hanya di sana ada yang nerima lowongan pekerjaan Nak, di tempat yang lain sudah tak ada lowongan." lanjut Yumna.

__ADS_1


"Hmm gitu ya Bun. Aku kira Mika belum kembali makanya, aku terkejut tadi melihat dia di cafe dekat rumah sakit." jujur Ali.


"Iya Al,"




Ali tengah duduk di atas ranjangnya sambil memainkan benda pipihnya. Men-scroll benda pipih itu berulang kali. Melihat-lihat foto kebersamaan dirinya dan juga mantan kekasihnya. Kekasih yang dulu dia yakini akan menjadi jodohnya. Kekasih yang sudah dia mantapkan untuk menikah tidak akan lama lagi, namun kenyataan menampar Ali dengan keras. Kenyataan jika dirinya bukanlah jodonya Yola.



Rasanya sakit, hubungan yang pertama kali di jalani Ali seumur hidup, nyatanya tak membuahkan hasil yang baik. Buah yang dulu tampak cantik kini sudah menjadi busuk di makan ulat, hancur. Itulah ibaratkan hati Ali untuk saat ini.



Setetes embun bening nengaliri pipi Ali. Cintanya hilang dalam waktu sekejab. Memang takdir yang dilalui Ali sungguh kejam.



Beberapa kali Ali menghela nafasnya dengan kasar. Sungguh sesuatu yang tak pernah Ali bayangkan selama ini. Kembali Ali mengingat saat Mika mengatakan cinta kepada dirinya. Mungkin saja rasanya lebih sakit dari apa yang Ali rasakan. Syukur Ali merasakan cintanya, sedangkan Mika jangan kan itu kesempatan meski hanya semenit saja tak dia dapatnya.



"Huhhhh, nyatanya sesakit ini!" Ali menengadah menatap langit-langit kamarnya. Menerawang kepada masa-masa saat dirinya masih menjalani hubungan dengan Yola.




Jika orang lain akan sering bertemu untuk melepaskan rindu, tidak dengan Ali dan Yola, yang untuk bertemu saja bisa di hitung dalam satu bulan. Bahkan berbalas pesan dalam sehari saja juga bisa di hitung.



Ali membuka aplikasi hijau, dimana tempat dia dan Yola berbalas pesan.



("Assalamu'alaikum Mas, kamu lagi apa?")



("Mas, kamu masih kerja atau sudah di rumah?")

__ADS_1



("Mas, kamu sibuk nggak hari ini? Sudah lama kita tidak ketemuan, kalau tidak salah dua minggu yang lalu.")



("Mas, aku sangat mencintai kamu, Mas,")



("Mas kamu baik-baik saja, bukan?")



"Mas aku rindu,")



("Mas, Tante sama Om sehat kan? Juga Aileen dan Azlan mereka juga sehat bukan?")



("Mas sampaikan salam aku untuk Om dan Tante karena, akhir-akhir ini kita jarang ketemu dan juga ke rumah kamu,")



Itulah sebagian pesan yang sering di kirim Yola untuk Ali. Meski sederhana, tapi membuat Ali cukup senang dan bahagia. Tapi bisakah itu kembali lagi untuk kini? Ahhh, mana bisa jika gadis itu akan menikah minggu depan. Lagi-lagi air mata kesedihan kembali membasahi pipi tegas kaki-kaki itu. Apakah Ali secinta itu kepada Yola? Ntahlah, intinya dia sangat sedih hubungan yang mereka jalani sudah berakhir mengenaskan seperti ini.



Ali kembali membuka gawainya. Membuka galeri dan menghapus foto-foto dirinya dan juga Yola. Tak ada gunanya dirinya menyimpan foto gadis itu di HPnya lagi. Yang ada akan mengingatkan Ali akan kebersamaan yang pernah mereka lalui. Cukuplah sampai disini. Ali akan kembali membuka lembaran baru dalam hidupnya. Ali akan memulai kehidupan betu yang akan dia jalani tanpa kehadiran Yola dalam hidupnya lagi.



Cukup sudah lembaran hidup yang dijalankan Ali dan Yola. Menutup rapat lembaran buku penuh cerita antara dirinya dan juga Yola.



Ali meletakkan benda pipih itu diatas nakas. Menarik selimut hingga batas dada. Menyelami alam mimpi untuk esok hari dengan kehidupan baru, dengan status seorang single. Single dinumur yang seharusnya sudah memiliki satu atau dua orang anak.



Dimana teman-teman kuliahnya sudah memiliki keluarga, namun tidak dengan dirinya. Bahkan tak pernah selama ini Ali merasakan dalam hidupnya bagaimana rasanya berciuman bibir dengan wanita. Berpacaran dengan Yola selama ini tak membuat Aku melakukan itu, meski dirinya ingin. Bahkan bibirnya masih ori di umur yang sudah lewat 30 tahun. Sungguh nasib malang yang dijalani Ali dalam hidupnya. Tapi tak apa, mungkin Allah ingin apa yang ada padanya diserahkan kepada wanita yang ditakdirkan untuk dirinya kelak.

__ADS_1



TBC


__ADS_2