
Andi, Yumna dan Ali kini tengah berada di sebuah tempat makan nasi padang. Setelah membeli beberapa baju untuk acara nikahan Andi dan Yumna, mereka memilih untuk mengisi perut yang tampak sudah berontak dengan cacing-cacing penghuni perut.
Memesan menu yang sama. Yaitu ayam goreng cabe merah serta rendang sapi yang tampak sangat menggiurkan. Jangn lupakan tumis daun singkong yang juga tampak sangat enak. Dan satu lagi, potongan timun yang di bentuk menyerupai bintang.
Mereka makan dengan tenang. Bukan di atas kursi, namun lesehan ciri khas tempat mereka makan. Biasanya saat Ali maupun Yumna makan di warung nasi padang, pasti duduknya di atas kursi plastik atau kursi kayu. Namun kali ini, Andi mengajak mereka makan di tempat nasi padang yang duduknya lesehan. Tapi, lebih enak seperti ini. Bisa leluasa untuk duduk. Bukan seperti diatas kursi yang bahkan untuk berganti cara duduk saja tidak bisa. Kadang kala juga bikin bokong agak kesakitan karena, terlalu lama duduk.
"Setelah ini Abi ke rumah sakit lagi apa gimana?" Ali menatap Andi yang kini tengah mengusap perutnya yang tampak sudah sangat kenyang. Bahkan perut laki-laki itu tampak agak membuncit.
"Iya Nak. Nanti setelah zuhur abi akan melakukan operasi untuk pasien," jawab Andi menghentikan mengusap perutnya.
"Berapa orang Mas?" tanya Yumna yang ikut nimbrung dari pembicara kedua laki-laki berbeda generasi itu.
"Kalau nggak salah dua, Bun," jawab Andi. Andi juga membiasakan dirinya menyebut Yumna dengan panggilan Bunda. Karena jika nanti punya anak, jadi tidak terlalu canggung untuk menyebut Bun pada Yumna.
Yumna hanya menganggukkan kepalanya. "Mas belum ambil cuti?" Yumna menatap laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu. Menunggu jawaban dari mulut laki-laki itu.
Andi mengangguk. " Sudah Bun. Tapi kalau memang ada operasi darurat pasti Mas akan ikut serta." jawab Andi. "jadi agak susah kalau mau ambil libur lama. Tapi tiga hari lagi Mas nggak akan ke rumah sakit sampai kita siap nikah," lanjut Andi.
Yumna dan Ali hanya menganggukkan kepala mendengar ucapan Andi. Mereka mengerti dengan kesibukan Andi yang berprofesi sebagai seorang dokter bedah.
****
__ADS_1
Reyhan tengah bersiap-siap di dalam kamarnya. Memakai baju kaos serta celana jins hitam yang membuat laki-laki tampak lebih muda dari biasanya. Tak lupa laki-laki itu memakai jam pada pergelangan tangan kirinya. sekali lagi laki-laki itu mematut dirinya di kaca meja rias istrinya.
Kaki panjang itu melangkah dengan segera dari kamar itu menuju kamar sang ibu. Melihat wanita tua itu tengah duduk di atas kursi roda menghadap ke arah luar.
"Ibu, aku akan pergi ke rumah pemuda itu. Aku akan meminta dia bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan pada Ibu. Kalau bisa aku akan membuat dia merasakan apa yang Ibu rasakan sekarang. Meski dia anak kandung aku, tapi aku tidak peduli Bu. Gara-gara dia, Ibu mengalami seperti ini. Ibu di sini do'ain aku agar semunya berjalan dengan lancar ya," Reyhan berjongkok di depan sang Ibu. Memegang tangan wanita itu meminta restu agar apa yang kini tengah berada di kepalanya berjalan lancar.
Wanita itu hanya terdiam mendengar ucapan putranya. Mau berbicara, namun tidak bisa lantaran stroke yang tengah dia alami. Bahkan di samping bibirnya masih ada sapu tangan yang akan menampung air ludah yang keluar.
"Yasudah Bu, aku berangkat," Reryhan mencium dahi sang ibu dengan lembut. Setelahnya laki-laki itu keluar dari kamar ibunya dengan langkah panjang.
Menuruni anak tangga dengan pasti. Melangkah dengan tergesa agar lekas sampai pada mobilnya yang dari tadi sudah dia hidupkan mesinnya.
Reyhan dengan otomatis menghentikan langkahnya, saat mendengar suara anak gadisnya. Menghadap ke arah sang putri yang kini tengah menatap dirinya dengan kening berkerut.
"Ayah mau buat perhitungan dengan pemuda itu. Ayah tidak terima dengan kondisi yang saat ini di alami Nenek, Sayang." jawab Reyhan tanpa mau menutupi dari sang putri.
"Maksud Ayah, Kak Ali?" tanya Reni memastikan ucapannya ayahnya.
Reyhan menganggukkan kepalanya. "Iya Sayang, yasudah Ayah berangkat dulu. Kamu jaga diri baik-baik di rumah, Sayang," Reyhan mengusap lembut kepalan putrinya.
"Tapi Yah, Kak Ali tidak me--"
__ADS_1
"Ayah sedang terburu-buru Sayang. Nanti saja ya, ngomongnya," ucapan Reni terpotong lantaran Ayahnya sudah hampir sampai di dekat mobilnya. Bahkan sang ayah tidak memberinya kesempatan untuk mengatakan sesuatu. Seakan-akan Ayahnya saat ini sangat di kerja waktu. Padahal dia bukanlah pergi ke sekolah. Jika pergi ke sekolah bisalah, Reni memahami.
Mobil yang di kendarai Reyhan sudah mulai melewati gerbang rumah. Reni menatap nanar ke arah mobil ayahnya yang sudah menjauh. Hatinya tengah gusar, memikirkan keadaan sang ayah nantinya. Takut akan terjadi sesuatu kepada Ayahnya.
Sedangkan di jalanan, Reyhan membawa mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi. Senyum manis terukur di wajah tegas laki-laki itu. Rencana yang sangat matang sudah tersusun rapi di benaknya. Bagaimana awal dan akhirnya sudah dia prediksi. Padahal manusia hanya bisa berencana, tanpa tahu apa yang terjadi sesaat kemudain.
"Awas saja kau anak muda. Meskipun kau darah daging saya, tetap tidak akan pernah saya maafkan kesalahan yang sudah kau lakukan kepada wanita yang sudah melahirkan saya." Reyhan berbicara saat tengah fokus menyetir. Bahkan Reyhan semakin menambah kecepatan laju pada mobilnya.
"hahahahha kau lihat saja apa yang akan terjadi kepada dirimu anak muda. Akan saya buat kau mengalami hal yang sama. Bahkan jika bisa lebih dari apa yang kau lakukan kepada ibu saya. Persetan dengan kau yang nyatanya darah daging saya. Saya tidak peduli, yang terpenting dendam ibu saya sudah tertuntaskan dengan apa yang saya lakukan," Reyhan tampak tertawa terbahak membayangkan betapa hancurnya anak muda itu. Bahkan Reyhan sempat membayangkan jika, pemuda itu mengalami suatu hal yang lebih parah yang dia bayangkan.
Reyhan memutar mobilnya ke arah kanan karena rumah Yumna berada di jalan sebelah kanan jika datang dari rumahnya.
Kecepatan pada mobil yang dikendatai Reyhan, tampak seperti ugal-ugalan. Bahkan Reyhan masih saja tertawa keras membayangkan rencananya yang berhasil dengan mulus tanpa kendala.
Brak.....
Tanpa dapat dicegah, mobil yang dikendarai Reyhan malah bertabrakan dengan truk yang baknya penuh dengan kelapa sawit. Mobil yang dibawa Reyhan terpelanting ke arah tembok pembatas jalan raya. Karena Reyhan sempat memutar setir mobilnya. Namun, laki-laki itu malah salah memutar setir pada mobilnya. Yang mengakibatkan laki-laki itu mengalami luka yang bisa dikatakan parah. Bahkan pintu kemudi yang mana Reyhan duduk terbuka. Pintu itu nyaris akan terpisah dari mobil.
Sedangkan truk tersebut menabrak pohon di sebrang jalan. Kelapa sawit yang dibawa truk itu sudah berjatuhan ke bawah. Lantaran pintu belakang untuk menahannya sudah terlepas, karena hantaman yang terjadi pada truk itu.
TBC
__ADS_1