Diceraikan

Diceraikan
SEASON 2 Tidak Boleh Manggil Abang


__ADS_3

Pagi ini Mika sudah rapi dengan pakaian yang biasa di gunakan gadis itu untuk pergi ke kampus. Tak lupa memakai liptint agar bibirnya tak tampak pucat. Menyemprotkan parfum pada bajunya. Tas jinjing serta satu buah buku di pegang di tangan gadis itu.


"Pagi semua," ujar gadis itu dengan senyuman selamat pagi.


"Pagi Kakak Mimi," jawab Aileen.


"Pagi Mika,"


"Pagi,"


Itulah kira-kira jawaban yang diberikan keluarga itu. Selanjutnya gadis itu ikut bergabung untuk sarapan pagi sebelum pergi ke kampus.


"Tan, Om aku berangkat dulu ya?" pamit Mika.


"Iya Nak, hati-hati," jawab Andi.


"Jangan lupa di makan bekalnya nanti ya, Sayang," Yumna menyodorkan kotak nasi kepada Yumna. Setiap pergi ke kampus, Yumna selalu menyiapkan bekal untuk dirinya. Katanya biar hemat uang jajan.


Ali juga ikutan pamit kepada orang-tuanya. Melangkah menuju mobil bersama dengan Mika.


"Terima kasih Abang," ujar Mika saat mereka sudah sampai di depan gerbang kampus.


"Belajarnya yang rajin biar jadi orang sukses," ucap Ali mengusap surai hitam milik Mika.


"Terima kasih Abang, aku pasti akan lakukan hak itu."


"Sama-sama. Abang duluan ya," pamit Ali di angguki Mika.


Gadis itu melangkah menuju kampusnya. Dengan hati yang gembira serta senandung ria menghiasi bibir itu.


"Pagi Mika," Tiana yang baru tiba langsung saja merangkul Mika yang tengah bersenandung ria.


"Astaga!! Kamu ngagetin aku saja Tia," Mika terkejut karena Tiana tiba-tiba saja merangkulnya. Bahkan gadis itu tak menyadari Tiana yang berjalan menuju dirinya.


"Heheh habisnya kamu asik senandung tak jelas. Makanya kamu nggak dengar langkah kakiku," Tiana cengengesan. "sepertinya pagi ini kamu tampak lebih cerah Mika? Ada gerangan apa, hmm?" Tak biasanya Mika ke kampus dengan senandung ria. Bahkan wajah gadis itu tampak sangat ceria dari hari-hari biasanya.


"Nggak ada kok Tia, lagian biasanya kan juga gini," balasnya.


"Nggak! Kamu nggak kek gini biasanya. Emang kamu selalu ceria, tapi tak pernah aku lihat kamu seceria ini sebelumnya," ungkap Tia jujur.


"Mungkin kamu saja yang tidak melihat Tia," balasnya.


Tiana menggeleng. "Tidak Mika, aku selalu merhatiin kamu kok."


"Terima kasih ya sudah perhatiin sama aku. Tapi jangan sampai suka ya, kan ngeri!" Mika mengedikkan bahunya geli membayangkan pikirannya.


"Isss aku masih normal kali Mik. Amit-amit kalau sampai itu terjadi." Tiana tak kalah gelinya membayangkan pikiran itu. Lagian dia masih normal, menyukai lawan jenis tentunya. "tapi aku seriusan kok Mik, kamu beda loh dari sebelumnya," ulangnya lagi.

__ADS_1


"Nggak kok Tia, mungkin perasaan kaku saja," ujarnya.


"Iya deh," balas Tiana akhirnya.


Jam kuliah pertama Mika akhirnya usai. Saat ini gadis itu tengah duduk di kantin bersama dengan Tiana. Memakan semangkok bakso pedas sesuai dengan kesukaan mereka.


"Mik aku mau nanya dong," Tiana menatap Mika yang tengah mengunyah baksonya.


Mika menaikkan alisnya. "Mau nanya apa, Tia?" tanyanya.


"Yang jemput kamu kemaren itu siapa?"


"Oh itu anaknya Tante Yumna, kenapa emang?"


"Ohhh gitu, ganteng banget ya Mika? Kenalin dong," ujarnya semangat.


"No! Dia sudah punya kekasih," jawab Mika bohong. Lagian gadis itu juga tidak tahu apakah Ali sudah memiliki kekasih atau belum. Jika saja sudah hancur sudah hati Mika, huhuh.


"Nggak apa-apa kok Mika, asalkan belum nikah masih bisa di tikung," umat Tiana dengan semangat. Tidak ada yang salah bukan, jika dirinya mau menikung pacar laki-laki itu sebelum kata sah di ucapkan para saksi untuk per nikahnya.


"Tetap nggak boleh!! Abang nggak suka cewek kayak kamu," balas Mika sengit.


"Lah..., apa yang kurang coba dari aku. Aku cantik, sexy, tunggi, putih. Pokoknya aku itu the best lah," bangganya.


"Meski begitu, kamu tetap bukan tipenya Abang,"


"Ya seperti aku contohnya," ceplos Mika.


"Seperti kamu? Yang benar saja Mika?" Sungguh, Tiana tidak percaya jika tipe laki-laki tampan itu seperti Mika. Sudan pendek, dan juga kurang berisi.


Mika mengangguk. "Iyalah," bangganya.


"Namanya siapa sih? Emang dia bilang sendiri sama kamu Mik?" tanya Tiana tak yakin.


Mika menggeleng. "Tidak"


"Terus?"


"Ya kan aku sendiri ya ngomong Tia. Namanya Ali,"


"Pede sekali kamu, Mik. Aku emang tidak yakin jika Bang Ali ngomong gitu sama kamu," ujar Tiana dengan gelengan kepala.


"Ehhh, kamu nggak boleh panggil dia, Abang. Yang boleh itu orang terdekatnya saja. Tapi kamu boleh manggil dia Mas," Mika sungguh tak suka jika Tiana memanggil Ali dengan embel-embel Abang.


"Suka-suka aku dong Mik. Ali? Nama yang bagus sesuai dengan ketampanannya," Tiana tampak mengangguk-anggukan kepalanya sambil membayangkan wajah laki-laki itu saat dia ke rumahnya untuk menjemput Mika tempo lalu. "jika emang tipenya seperti kamu, maka aku tidak akan mengejarnya. Sama halnya dengan Zulaikha yang mengejar Ali dengan mendekatkan diri kepada Allah," lanjutnya dengan tersenyum.


"Elehhh, standar kamu sangat jauh di bawa Zulaikha, Tia. Kamu sholat saja jarang gimana mau meminta sama Allah,"

__ADS_1


"Ya aku akan berubah hanya demi Abang Ali."


"Percuma kamu berubah hanya demi dia Tia, jika bukan untuk sang pencipta,"


"Ya terserah aku lah Mik. Dan aku akan berusaha buat deketin dia. Oh ya minta dong nomornya," pinta Tiana menyodorkan tangannya bermaksud meminjam hp Mika.


"Minta sendiri sama orangnya," jawab Mika melanjutkan memakan baksonya yang hanya tinggal beberapa biji lagi.


"Pelit amat sih Mik,"


"Biarin, usaha sendiri dong."


****


Setelah mengantar Mika, Ali langsung saja menuju rumah sakit. Tempat dimana dirinya bekerja.


"Pagi Dok,"


"Pagi Dokter,"


"Selamat pagi Mas Dokter,"


"Morning Mas,"


Kira-kira seperti itulah sapaan dari teman sesama dokter dengan Ali, dan Ali hanya membalas dengan anggukan serta sekilas senyum tipis di wajahnya.


Ali meletakkan tas kerjanya di atas meja. Mengecek kertas yang tertumpu di atas mejanya yang lumayan banyak. Sepertinya hari ini pasien Ali tetap banyak seperti kemaren. Hanya dengan kasus yang sama, makan permen atau coklat.


"Huhhhh, semangat al. Semangat!!" Ali menyemangati dirinya sendiri.


Tak lupa sebelum bekerja laki-laki itu mengucapkan basmalah, seperti biasanya.


"Al, boleh aku masuk?" tanpa mengetuk pintu ruangan Ali, Weni melonggokkan kepalanya.


"Masuklah," jawab Ali malas. Sungguh wanita itu tak henti-hentinya datang ke ruang kerja Ali saat jam istirahat. Ingin rasanya Ali melarang wanita itu masuk, namun karena rasa segan Ali mempersilahkan dirinya meski dengan sangat berat hati.


"Makan yuk Al, di kantin," ajaknya setelah menduduki kursi yang berada di depan Ali.


"Maaf Wen, aku nggak bisa. Aku bawa bekal dari rumah," Ali memperlihatkan kotak nasi yang di siapkan sang bunda untuk dirinya.


"Oh gitu ya Al. Ya sudah tidak apa-apa. Aku makan sendiri saja," ucap Wajib beranjak dari duduknya.


Wanita itu bersugut-sungut saat ajakannya di tolak. Dengan segera Weni meninggal ruangan Ali dengan menghentakkan kakinya.


Ali yang melihat itu hanya cuek saja. Apa pedulinya, mau wanita itu marah kek, mau apa kek. Ali tak peduli. Lagian Ali sangat malas jika wanita itu mengajaknya makan siang bareng di kantin. Ali tau persis wanita itu ujung-ujungnya akan mengajak dirinya ke club. Tak ada kata bosan bagi wanita itu untuk mengajak dirinya, padahal Ali sudah berulang kali menolak. Namun, wanita itu seakan tuli dengan ucapan Ali.


TBC

__ADS_1


__ADS_2