Diceraikan

Diceraikan
SEASON 2 Siapa Mimi?


__ADS_3

Gadis yang dibentak Ali langsung saja keluar dari kamar laki-laki itu. Tak melihat barang sedikitpun kepada Ali. Lantaran dirinya masih sangat terkejut dengan apa yang terjadi baru saja.


Melihat itu, Ali langsung saja menghempaskan tasnya di atas ranjang. Merebahkan bobot tubuhnya yang terasa sangat lelah. Kebetulan tadi siang pasiennya sangat banyak. Jadi tak membuat Ali istirahat dengan normal. Memejamkan matanya barang sejenak saja. Rasanya memang lebih baik begini, dari pada langsung membersihkan diri.


"Dasar!! Orang tidak ada di rumah asal masuk saja ke kamar orang. Dasar gadis tak punya etika!" omel Ali saat membuka mata terangnya.


Laki-laki itu memilih untuk membawa tubuhnya menuju kamar mandi.


"Ahhhh, segarnya." Ali mengusap rambutnya yang basah menggunakan handuk kecil. Laki-laki itu baru saja selesai membersihkan tubuhnya.


Semenjak sampai di rumah itu, Ali belum bertemu dengan orang-tua serta ke-dua adik kecilnya. Tak ada hari libur meski hanya satu hari saja buat Ali.


"Bunda lagi apa sekarang ya? Ahhh, mendingan aku keluar dan samperin mereka," Ali menyisir rambutnya yang sudah mulai agak kering. Tak lupa laki-laki itu memberi pelembab pada wajahnya.


Melangkah menuju ruang tamu yang tampak kosong. Selanjutnya Ali memilih ke dapur untuk melihat keberadaan wanita kesayangannya.


"Bunda, al rindu," Ali memeluk erat tubuh wanita yang kini tengah menyeduh teh manis.


"Astagfirullah Al, kamu ngagetin Bunda saja tau. Untung tehnya tidak tumpah, bisa jadi tangan Bunda akan mengelupas karena air panas ini," omel Yumna kepada ank bujangnnya. "lepas Al, bunda kesusahan," tambahnya.


"Seben---"


"Al lepasin Bunda. Kamu tidak boleh peluk-peluk milik Abi seperti itu. Hanya Abi yang boleh," Dengan spontan Ali melepaskan pelukannya. Suara bas itu membuat nyali Ali mencuit. Ali lupa jika Abinya bisa saja datang kapan saja. Dan apa yang sekarang dia dapatkan. Larangan untuk memeluk wanita yang amat sangat dirindukannya itu.


"Cuman sebentar kok Bi, lagian aku sangat rindu sama Bunda," ujar Ali mendapat tatapan sinis dari Andi.


"Tetap saja kamu tidak boleh memeluk istri, Abi seperti itu." tegasnya.


"Tapi ini Bunda, aku, Bi," protes Ali tak setuju dengan ucapan Andi.


"Tetap saja tidak boleh!" Andi sekarang menepuk pundak Ali dengan sedikit keras. Dia tak suka anaknya itu memeluk sang istri seperti itu. Meski Andi tahu jika Ali putranya, tetap saja tidak boleh. Membuat laki-laki paruh baya itu amat cemburu dengan anak bujangnya itu.


"Tetap saja seperti ini dari dulu. Tak pernah memberi aku kesempatan jika memeluk atau mencium Bunda." rajuknya dengan wajah di tekuk.


"Biarin!"


"Bunda, emang aku tidak boleh peluk atau cium Bunda apa? Padahal aku ini putra Bunda, loh?" Ali menatap ke arah Yumna dengan wajah memelas.


"Tidak boleh. Bunda itu milik Abi!" Bukan Yumna yang menjawab, tapi Andi.


"Bukan, Bunda itu milik aku. Abi tidak ada hak untuk Bunda. Bunda milik aku titik!!" Seorang bocah kecil menyela ucapan mereka.


Bocah kecil itu langsung saja memeluk kali Yumna lantaran dirinya yang masih sangat pendek.

__ADS_1


Andi yang mendengar itu membuat wajahnya menjadi pias. Gadis kecilnya itu selalu saja mendominasi sang istri untuk menjadi miliknya. Apalagi kalau gadis kecilnya itu tak mau tidur di kamarnya, maka dia akan ikut tidur bersama Abi dan sang Bunda. membuat Andi tak bisa bermesraan bersama istrinya.


"Tapi Ai, Ab---"


"Pokoknya Bunda milik Ai, Abi tidak ada hak atas Bunda!!" tekannya.


Ali yang melihat itu langsung saja tertawa. Apa lagi melihat wajah Andi yang sudah sangat tak enak dipandang. Nyatanya bukan hanya dirinya yang mendapat perlakuan seperti itu. Tapi, sang Abi juga kena karena adik kecilnya.


"Jangan ketawa Al, ini tidak lucu!!" bentak Andi kepada putranya, yang sudah berirai air mata karena terlalu lama tertawa.


"Al kira hanya Al yang medapat perlakuan seperti itu. Nyatanya Abi juga dapat dari Ai," ujar Ali menatap wajah Abinya yang tampak malu.


"Abang!! Kapan Abang pulang? Kenapa tidak memberitahu Ai?" Aileen yang baru saja tersadar akan kehadiran Abangnya langsung saja melepaskan pelukannya pada Yumna.


Menghampiri Ali dengan senyum mengembang di wajah mungilnya. "Abang tau, Ai itu rindu sama Abang," ujarnya memeluk laki-laki jangkung itu.


"Abang pulang kemaren Ai. Abang juga rindu sama Ai," jawabnya memberikan ciuman pada wajah chubby adik perempuannya.


Aileen tertawa cekikikan karena ulah Ali yang terus saja memberinya kecupan. Rasanya sangat geli. Maka dari itu Aileen sampai tertawa karena ulah Abangnya.


"Mas mau kopi apa teh?" Yumna menatap wajah suaminya yang masih saja di tekuk.


"Kopi saja Bun, biar pikiran mas jadi dingin," jawabnya.


Jika kopi panas, sudah pasti bikin pikiran ikut panas. Kecuali dengan minuman dingin yang bisa mendinginkan kepikiran pula.


"Iya nggak apa-apa Bun. Lagian Mas juga pengen minum kopi," ujarnya setelah mendengar ucapan sang istri.


"Iya Mas,"


"Abang yuk kita main?" ajak Aileen saat Ali telah menghentikan ciumannya.


"Abang lelah kalau pergi main Ai, tadi kerjaan Abang sangat banyak. Apalagi badan Abang sekarang rasanya sangat lelah," jawab Ali kepada adik kecilnya.


"Abang abang mai Ai pijit? Biar lelahnya Abang hilang?" tawar Aileen menatap wajah lelah Abangnya.


"Tidak usah Ai, nanti juga hilang sendiri," balas Ali.


"Ya sudah bagaimana kalau kita main di kamar Abang saja? Abang bisa istirahat juga dan Ai akan nemanin Abang,"


Ali hanya mengangguk saja. Lagian memang benar tubuhnya terasa sangat lelah untuk diajak pergi. Ingin rasanya Ali untuk segera tidur, namun adik kecilnya ini masih nempel pada dirinya.


"Oh ya Ai, Azlan mana?" Ali baru teringat akan adik laki-lakinya yang tak terlihat dari tadi.

__ADS_1


"Main sama Kakak,"


"Kakak?" ulang Ali.


"Iya Bang, Azlan lagi main sama Kakaj di taman belakang," jawabnya lagi.


"Kakak siapa Ai?" Ali di buat bingung dengan ucapan adik perempuannya itu. Jika saja Andi memiliki seorang adik atau kakak bisa saja itu sepupunya. Tapi Andi juga anak tunggal jadi, tak mungkin ada keluaga Andi di rumah ini. Jika dari keluarga Yumna jelas tidak ada. Lantaran Bundanya itu hanya sebatang kara, alias tak memiliki sanak saudara.


"Kakak Mimi loh Bang. Emang Abang tidak ketemu sama Kakak dari tadi?" Aileen menatap wajah abangnya itu bingung.


Ali menggeleng lalu mengangguk.


"Iss Abang kenapa sih, sudah menggeleng lalu mengangguk," Aileen menatap Abangnya dengan bingung. Merasa aneh dengan sikap laki-laki didepannya itu.


"Ntahlah Ai, Abang tidak ingat," ujarnya.


"Kaka berambut panjang? Apa Abang tidak melihatnya dari tadi?"


Ingatan Ali kembali lagi pada gadis yang sudah lancang masuk ke dalam kamarnya. Apakah mungkin gadis itu yang diucapkan Aileen. Mengingat rambut gadis itu juga panjang seperti yang dikatakan Aileen padanya.


"Oh itu, Iya Abang tadi ketemu sebentar," jawab Ali. "Siapa namanya tadi Ai?"


"Kakak Mimi," jawab Aileen.


"Kenapa dia di rumah kita, Ai?" Ali sungguh penasaran kenapa gadis itu bisa tinggal di rumahnya.


"Kakak kuliah di sini Abang. Kata Bunda, Kakak tinggal disini sampai dia tamat kuliah. Tapi juga akan pulang sekali setahun," jujur Aileen. Memang itulah yang dikatakan Bundanya kala itu.


Ali hanya mengangguk. Ali tak mengerti kenapa gadis itu bisa tinggal di rumahnya. Apalagi sang bunda juga mengizinkan gadis yang tak tahu sopan santun itu tinggal di rumah mereka.


Mimi? Nama itu kini berada di dalam pikiran Ali. Siapa Mimi? Apakah Bundanya punya teman yang lain yang Ali tidak tahu. Atau Mimi anak dari pembantu sang bunda? Atau bagaiman?


Pikiran Ali sungguh kacau. Apalagi mengingat gadis itu yang lancang masuk ke dalam kamarnya. Rasanya ingin sekali Aku marah.


"Apa dia anak pembantu kita, Ai?"


"Tidak Bang,"


"Lalu?"


Aileen mengedikkan bahunya. "Ai tidak tahu Bang,"


Ali hanya mengangguk. Lagian jika adiknya sudah ngomong begitu sudah pasti adiknya berkata jujur. Lagian adiknya tak pernah berbohong, mengingat didikan sang bunda kepada anak-anaknya sangat baik.

__ADS_1


TBC


__ADS_2