Diceraikan

Diceraikan
Kebahagiaan Yumna


__ADS_3

Sudah satu tahun lamanya Ali menuntut ilmu di negara orang. Banyak hal yang sudah terjadi pada dirinya. rasa rindu akan keluarga tercinta yang berada di tanah air. Sungguh tiada pernah hilang rasa rindu itu walau hanya sebentar. Ingin cepat pulang lantaran rindu yang sudah menggebu di dadanya.


Meskipun sudah melakukan vidio call, tidak membuat rasa rindu itu hilang. Rindu ingin untuk berjumpa dengan keluarga tercinta.


"Alhmadulillah, akhirnya sampai juga di Jakarta," Ali berbicara kepada dirinya saat pemuda itu sudah tidak ingin dari pesawat.


Menarik koper yang dia bawa menuju jalan raya. Menghentikan salah satu taksi yang lalu lalang di jalan raya.


Kepulangan Ali tidak di ketahui keluarganya. Dia pulang untuk memberi kejutan untuk sang bunda, Abi maupun adiknya, Aileen yang kini sudah berusia tiga tahunan. Mungkin saja gadis kecil itu sekarang sudah bisa berjalan dengan lancar, maupun berbicara. Membayangkan itu membuat Ali menampilkan senyum manisnya.


"Pak tolong antar ke alamat ini ya," pinta Ali mengatakan alamat rumahnya kepada supir taksi.


"Baik Nak," jawabnya.


Perjalanan menuju rumahnya terasa begitu cepat. Lengkungan senyum masih saja menghiasi bibir tampan pemuda itu. Jangan lupakan brewok tipis yang menghiasi sisi wajahnya, membuat laki-laki itu semakin tampan dari tahun kemaren.


"Terima kasih Pak," Ali memberikan uang pecahan seratus ribuan kepada supir taksi.


"Uangnya kelebihan, Nak," ujarnya saat Ali hendak melangkah.


"Ambil saja buat Bapak."


"Terima kasih Nak,"


Dengan langkah pasti, Ali menyeret kopernya menuju halaman luas kediaman orang-tuanya. Rasa tak sabar untuk bertemu dengan orang rumah membuat Ali melangkah dengan cepat.


Memencet Bell yang ada pada bagian samping pintu. "Assalam'alaikum,"


"Wa'alaikumsalam," Jelas terdengar dari pendengaran Ali suara seorang wanita yang sudah pasti itu sang bunda. "Maaf cari siapa ya?" Yumna tampak mengerutkan keningnya saat melihat seorang pemuda membelakangi dirinya dengan koper yang berada di samping pemuda itu.


"Bunda," Ali membalikkan tubuhnya. Menatap Bundanya yang terkejut melihat kehadiran dirinya.


"A-ali, kenapa tidak memberi tahu bunda jika kamu pulang, Nak?" Dengan erat Yumna membalas pelukan putranya.


"Kejutan Bun," jawab Ali mengurai pelukan sang bunda.


"Ya sudah ayo kita masuk. Kebetulan Abi ada di rumah,"


Ali mengangguk. "Iya Bunda,"

__ADS_1


Kedua anak dan ibu itu melangkah menuju rumah. Tampak seorang gadis kecil tengah duduk di samping seorang laki-laki dewasa sambil menatap layar televisi yang menyiarkan film kartun.


"Siapa yang datang Bun?" tanya Andi saat mendengar langkah kaki yang semakin mendekat.


"Abi," Bergegas Ali melangkahkan kakinya menuju Andi yang kini berdiri saat melihat kedatangan dirinya.


"Kenapa tidak memberitahu kami jika kamu pulang, Nak?" Andi memeluk putra sambungnya itu. Melepaskan rasa rindu yang satu tahun ini dia rasakan kepada putranya.


"Kejutan Bi," Ali menjawab dengan cengengesan setelah melepaskan pelukannya.


"Besok-besok jangan ulangi lagi Al, Abi tidak mau jika sewaktu-waktu hal buruk terjadi sama kamu dan kami tidak tahu. Ingat ya jangan ulangi lagi."


"Benar apa yang dikatakan Abi, Sayang. Kamu jangan ulangi lagi seperti ini." tambah Yumna.


"Heheh iya BI, Bun. Aku nggak akan ulangi lagi kok," balasnya dengan tak enak hati. Melihat wajah sang bunda maupun Abinya yang tampak cemas akan dirinya.


Sedangkan Aileen melihat Ali dengan mata bulat terang miliknya. Beberapa kali gadis kecil itu mengedipkan matanya. Menatap Abangnya yang hanya bisa dia lihat melalui benda pipih. Namun, kini dia dapat melihat laki-laki itu secara langsung.


"Ai sini dekat abang duduk," Ali menepuk tempat duduk di sampingnya.


Aileen menurut. Duduk di samping Ali dengan menyenderkan kepalanya kepada laki-laki itu. "Ai makin cantik saja," Mengecup pipi gembul adiknya yang tetap sama. Bahkan semakin gembul dari tahun kemaren.


"Abang punya hadiah buat Ai, nanti Abang kasih ya. Soalnya masih di dalam koper Abang,"


"Hadiah?" Aileen mengulang kata hadiah. Membuat Ali mengangguk.


"Iya, hadiah untuk Ai,"


Tanpa dapat dicegah, bibir tipis gadis itu mendarat di pipi Ali yang di tunbuhi brewok. "Makasih, Abang,"


"Sama-sama Dek,"


****


Malam ini seluruh keluarga Yumna tengah menyantap makan malam mereka dengan tenang. Tak lupa gadis kecil Yumna tengah duduk di samping Ali dengan senangnya.


Masakan yang dimasak Yumna sesuai dengan keinginan ketiga orang tercintanya. Ayam cabe merah serta ayam kecap kesukaan Ali maupun Aileen.


"Gimana kuliahnya Al?" tanya Andi setelah mereka makan malam. Kebetulan kini mereka sudah berada di ruang keluarga.

__ADS_1


"Alhmadulillah lancar Bi," jawabnya yang di balas anggukan Andi.


Selanjuntya mereka hanya mengobrol ringan, hingga waktu semakin larut. Sedangkan Aileen sudah dibawa Andi sekitar jam delapan-nan ke dalam kamar Ali karena, gadis kecil itu ingin tidur bersama Abangnya.


Ali meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya. Meninggalkan Andi seorang diri di ruang keluarga sambil menonton televisi. Karena, Yumna sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar lantaran wanita itu sudah sangat mengantuk.


Tepat jam dua belas malam, Ali mengambil kue yang dia pesan tadi sore tanpa sepengetahuan Yumna. Kebetulan hari ini merupakan hari ulang tahun sang bunda.


Membawa kue yang sudah di hiasi dengan lilin yang berjejer rapi diatas kue tersebut. Membawa ke dalam kamar sang bunda. Kebetulan saat ini Andi juga belum tidur, membuat kejutan yang diberikan Ali berjalan dengan lancar.


"Bunda," Andi mengusap lembut pipi istrinya yang tampak tembem.


"Hmmm," Hanya itu yang keluar dari mulut Yumna. Wanita itu kini masih sangat mengantuk. Membuatnya engan untuk membuka ke-dua mantanya.


"Bunda, bangun dulu yuk," Lagi Andi berusaha membangunkan istrinya.


"Ada apa Mas?" Yumna berusaha untuk duduk sambil mengucek ke-dua matanya. padahal dirinya masih sangat mengantuk.


"Selamat ulang tahun Bunda," ujar Andi dan Ali, membuat ke-dua netra Yumna terbuka lebar dalam seketika. Wanita itu mengira suaminya membangunkannya karena, ada sesuatu yang diinginkannya seperti malam sebelumnnya.


"Terima kasih Mas, Al," jawab Yumna menampilkan senyum bahagianya. Dia lupa jika tanggal ini merupakan tanggal lahirnya.


"Sama-sama Bun,"


"Semoga Bunda sehat terus tanpa ada sesuatu yang tak diinginkan terjadi pada Bunda. Dan juga semoga persalinan Bunda bulan depan juga dilancarkan sama Allah. Intinya do'a terbaik untuk Bunda dan keluarga kita," Andi mengusap perut buncit istrinya yang kini sudah berusia delapan bulan.


"Terima kasih Mas," Yumna tampak haru mendengar untaian kata yang keluar dari mulut suaminya. Sungguh dia tak menyangka akan di perlakukan seperti ini. Bak seorang ratu yang selalu dijaga dan disayangi dengan penuh cinta.


"Bunda, semoga sehat selalu. Di beri kemudahan dalam segala hal, baik itu rezki, kelancaran dalam melahirkan maupun yang lainnya. Do'a terbaik untuk Bunda," Ali berkata dengan tersenyum kepada Bundanya.


"Terima kasih Sayang,"


"Sama-sama Bunda,"


Awalnya Yumna tidak pernah menyangka jika dirinya akan kembali hamil di usia yang sudah lebih dari lima puluh tahun. Yumna mengira dengan tidak adanya tamu bulanannya pada dua bulan berturut-turut berarti dirinya sudah tak lagi bisa memiliki seorang anak atau yang sering di sebut monopause. Memang tidak ada tanda-tanda jika dirinya tengah hamil, tapi seiring itu ke'ingin'an suaminya yang terlihat sangat aneh membuat Yumna menemani suaminya untuk periksa ke dokter. Pada saat itulah Dokter melakukan pengecekan pada Yumna. Dan ternyata Yumna tengah hamil dua bulan. Senang? Tentu saja mereka senang dengan kabar yang bahkan tak pernah terbayangkan lagi. Mengingat umur Yumna tak lagi muda.


Allah itu maha baik. Tanpa pernah berencana namun, Allah memberi kabar yang tak pernah di bayangkan sebelumnya. Contohnya Yumna. Banyak di umur segitu seorang wanita tak lagi bisa memiliki keturunan, hanya sebagian kecil saja yang di beri kepercayaan sama Allah pada saat usia lima puluh tahun ke atas.


TBC

__ADS_1


__ADS_2