Diceraikan

Diceraikan
SEASON 2 Usaha dan Terus Berdo'a


__ADS_3

"Maafkan aku Wen, aku tidak mencintai kamu. Aku hanya mencintai wanita yang kini sudah menjadi istriku," jujur Ali.


"Tapi kenapa Al? Kenapa kamu tidak bisa memberi aku waktu untuk masuk ke dalam hati kamu barang sekalipun? Apakah perjuangan aku selam ini sia-sia di mata kamu, Al? Aku cinta sama kamu Al, aku mencintai kamu makanya aku rela meninggalkan apapun yang menjadi kebiasaan aku,"


"Kamu tidak sia-sia berubah Wen, bahkan aku salut melihat kamu mau berubah. Tapi aku minta kamu jangan berubah karena aku tapi berubahlah karena Allah. Kamu berubah karena aku, bisa saja kamu akan kembali lagi seperti dulu lantaran apa yang kamu inginkan tidak tercapai. Tapi, jika kamu berubah karena Allah, in syaa Allah aku yakin kamu tidak akan lagi kembali pada dunia malam itu." ucap Aku menatap wanita yang berada di depannya. Wanita yang sudah berurai air mata melalui pipi mulusnya.


"Apa tidak ada kesempatan untuk aku, Al? Apa tidak bisa aku masuk ke hati kamu meski hanya sekali saja? Tak bisakah kamu membuka hati kamu untuk aku, Al? Aku sungguh mencintai kamu,"


Ali menggeleng. "Maaf Wen, aku tidak akan pernah menghianati pernikahan dan cinta istriku. Aku hanya akan mencintai dirinya hingga akhir hayat ku. Aku berusaha untuk tidak tergoda dengan rayuan-rayuan yang akan membuat pernikahan aku berantakan. Berusahalah untuk membuka hati kamu untuk laki-laki yang memang tulus mencintai kamu, aku hanya bisa berdoa yang terbaik untuk kamu Wen. Sekali lagi maafkan aku,"


Air mata weni semakin banjir membasahi pipinya. Sungguh inikah akhir dari perjuangannya selama ini? Inikah akhir dan awal dari kehidupan baru yang akan dia jalani? Kenapa saat dirinya sudah berusaha berubah dan meninggalkan kebisaan lamanya hatinya malah merasakan sakit yang teramat. Dadanya seakan di remas tangan tak kasat mata. Apa memang tidak ada seorang pun kaki-kaki yang akan menerima dirinya menjadi seorang istri dengan masa lalu kelam yang pernah dia geluti?


Weni menghapus air matanya dengan kasar. Menampilkan senyum manisnya kepada Ali yang kini tengah menatap dirinya prihatin. "Tidak apa Al, aku ngerti. Mungkin kita memang bukan di takdirkan untuk bersama. Aku hanya berdo'a semoga pernikahan kamu dan istri kamu bahagia sampai akhir hayat dan segera di kasih momongan." Do'a Weni sembari asik menghapus bulir bening di pipinya. "Terima kasih Al, terima kasih membuat aku sadar dari apa yang selama ini aku lakukan. Maaf karena aku lancang mencintai kamu. Aku permisi Al," Weni berdiri dan meninggalkan ruangan Ali setelah Ali menganggukkan kepalanya.


Ali hanya menatap pintu ruangannya yang sudah tertutup dengan rapat. Seulas senyum terbit di bibir Ali, dia bahagia akhirnya gadis itu mau berubah meski karena untuk mengambil hatinya. setidaknya wanita itu sudah mau untuk meninggalkan masa-masa kelam dalam hidupnya. Ali hanya berharap semoga wanita itu tidak akan pernah lagi kembali pada masa kelam yang bisa saja akan semakin parah dari sebelumnya.


****


Hari semakin berlalu bahkan kini bulan pun sudah berganti. Tak terasa Sudah satu tahun lamanya Ali membina rumah tangga dengan Mika. Meski rumah tangga mereka belum di karuniai seorang anak tak membuat rasa cinta Ali memudar untuk istrinya. Bahkan bisa di katakan rasa cinta yang tumbuh untuk Mika di hati Ali semakin besar. Rumah tangga mereka tampak semakin romantis. Yumna yang melihat putranya bahagia ikut merasakan kebahagiaan itu.


Hanya satu pesan Yumna untuk sang putra. Jangan pernah meninggalkan istrinya meski suatu saat tidak di beri rizki seorang anak. Karena kita tidak pernah tahu apakah di dalam takdir kita ada daftar karunia seorang bayi mungil atau tidak, hanya Allah yang tahu akan takdir seorang hamba-Nya. Jadikanlah contoh tentang Ayah kandungnya yang pernah meninggalkan mereka lantaran tak kunjung di karunia seorang anak. Karena tidak menutup kemungkinan Ali akan melakukan hal yang sama lantaran darah laki-laki itu melekat dengan kental pada tubuhnya. Hanya itu harapan Yumna kepada Ali. Jangan pernah menyakiti istrinya meski apapun yang terjadi suatu saat nanti.


"Dek, apa kamu sudah selesai tamu bulanan?" tanya Ali yang melihat Mkka dengan handuk mengulung di kepalanya.

__ADS_1


"Sudah Bang," jawab Mika dengan senyuman. Beberapa hari ini suaminya sangat tidak sabar akan habisnya tamu bulanan Mika. Bahkan tak berhenti dalam setiap harinya Ali menanyakan itu lantaran dirinya yang sudah tidak sabar.


"Berarti nanti malam sudah boleh 'kan Dek?" Ali berjalan menuju istrinya yang tengah memoles krim pada wajahnya. Memeluk tubuh kecil itu dari belakang dengan posesif.


Mika mengangguk dengan malu. "Iya Bang, sudah boleh," jawab Mika.


"Alhamdulillah Dek, Abang sudah tidak sabar. Semoga bulan depan disini sudah ada isinya ya Dek," Ali merusap lembut perut istrinya.


"Aamiin Bang, aku juga berharap begitu Bang. Aku sudah sangat ingin memilki seorang anak," jawab Mika dengan raut wajah sendu. Sudah satu tahun membina rumah tangga namun, takdir belum memberikan mereka seorang anak.


"Kita akan usaha dan berdo'a terus Dek, Abang yakin Allah punya rencana untuk kita suatu saat nanti. Mungkin saat ini Allah masih memberikan kita waktu untuk menghabiskan waktu untuk kita berdua. Menikmati keindahan pernikahan sebelum hadirnya sosok mungil di perut kamu, Dek," hibur Ali saat menangkap raut sendu sang istri di pantulan cermin.


"Iya Bang, aamiin,"





Ali mengusap lembut tangan istrinya yang berada di bawa meja. Memberikan kekuatan kepada sang istri saat melihat wajah istrinya itu kembali sendu. Ali tahu jika Mika sudah tidak sabar memiliki seorang anak namun, takdir mereka yang belum menyetujui keinginan indah itu.


__ADS_1


"Kakak Mimi, Ai mau di suapin sama Kakak Mimi," Aileen membawa orang nasinya menuju Mika yang kebetulan duduknya di bagian ujung.



"Benarkah Ai?" tanya Mika antusias.



Aileen mengangguk. "Iya Kakak Mimi, Ai ingin di suapin sama Kakak Mimi karena, sudah lama Ai tidak disuapi Kakak Mimi," ucapnya dengan mata penuh binar.



"Abang Al, Lan juga mau di cuapi cepelti Kakak Ai," Azkan juga tidak mau kalah dengan Aileen. Bocah cadel itu menghampiri Ali yang tengah menyuapkan nasi pada mulutnya.



"Baiklah Abang akan menyuapi Az seperti Kakak Ai di suapi Kakak Mimi," Ali mengambil piring yang dibawa Azalan. Menduduki adiknya itu di atas pahanya.



Andi dan Yumna menatap anak-anak mereka dengan mata berbinar. Tak menyangka jika kebahagiaan yang mereka dapatnya sebanyak ini. Sungguh takdir Allah itu sangat indah.


__ADS_1


TBC


__ADS_2