
Akhirnya masa tahanan Reyhan berakhir juga. Dua tahun delapan bulan bukanlah waktu yang sebentar. Laki-laki itu sudah bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Di jemput oleh istrinya yang selalu setia kepada dirinya.
"Sudah siap Mas?" Lani menatap wajah suaminya yang tampak tirus. Bukan hanya itu, tubuhnya pun tampak lebih kurus. Seakan hanya tulang saja yang tertinggal. Tubuh gagah dulu tak lagi tampak, yang ada hanya tulang keras di lapisi kulit. Sungguh sangat menyedihkan kehidupan yang dijalani Reyhan selama ini. Hidup dalam penyesalan hingga kini. Tak pernah sekalipun dia bahagia. Seakan hidupnya terbelenggu di dalam penyesalan yang mendalam.
"Sudah Sayang,"
Lani mendorong kursi roda milik suaminya yang dia bawa dari rumah. Tampak wajah wanita itu tak lagi seperti dulu. Tubuhnya juga tampak lebih kurus dari pada tahun sebelumnya. Bahkan wajahnya tak lagi sebersih dulu. Tampak bintik hitam yang menghiasi wajah wanita itu. Bahkan tak lupa ada kerutan di sisi matanya, meski tak banyak namun itu terlihat jelas.
"Apa Reni sehat, Sayang?" Reyhan mendongak menatap wajah istrinya yang tampak memprihatinkan, sama seperti dirinya.
"Iya Mas, alhamdulillah Reni sehat," Lani menampilkan senyum manisnya.
"Maafkan Mas ya, Sayang. Gara-gara Mas kamu harus menerima ini semua. Gara-gara Mas, kamu tidak mendapatkan nafkah dari Mas selama lebih kurang tiga tahun ini." Segera rasa penyesalan terhadap istrinya tampil di wajah laki-laki itu.
"Tidak apa Mas, lagian aku juga sudah buka warung kecil-kecilan semenjak kamu di penjara. Setidaknya itu cukup untuk kebutuhan sehari-hari aku sama Reni, dan untuk kebutuhan kita nantinya Mas,"
"Andai saja Mas tidak melakukan hal keji itu. Mungkin saja kehidupan kita tetap membaik seperti dulu Sayang. Karir Mas juga pasti tidak akan hancur seperti sekarang."
"Sudahlah Mas. Jadikan itu sebagai ujian untuk kita. Yang terpenting sekarang kamu sudah keluar dari penjara dan bisa berkumpul lagi bersama aku dan juga Reni, Mas.
"Terima kasih Sayang. Mas tidak tau lagi jika kamu tidak ada,"
"Mas tidak usah pikirkan hal yang sudah berlalu. Yang terpenting sekarang hanya masa yang akan datang. Yang kebelakang tingalkan saja Mas. Mas akan sakit jika terus mengingat itu semua,"
"Iya kamu bener, Sayang. Mas akan melakukan hal baik untuk yang akan datang. Yang terpenting sekarang Mas harus meminta maaf sama putra, Mas dulu. Mas tidak tenang jika kata maaf belum terucap dari anak Mas, Sayang dan juga mantan suami Mas yang pernah Mas sakiti hatinya dulu," Reyhan menatap wajah istrinya yang setia mendorong kursi rodanya.
__ADS_1
"Iya Mas tidak apa. Biar Mas tidak dibayang-bayangi kesalahan yang pernah Mas perbuat," Lani menampilkan senyumnya kepada suaminya.
Taksi yang di pesan lani kini sudah stay menunggu mereka di halaman kantor polisi. Lani membantu suaminya untuk masuk ke dalam taksi. Perjalan yang tak memakan waktu akhirnya, mereka sampai di halaman rumah yang sudah ditinggali Reyhan selama lebih kurang tiga tahunan.
Laki-laki itu menitikkan air matanya. Dia sangat rindu dengan suasana rumah ini. Semuanya dia sangat merindukannya. Namun, satu yang tak akan bisa di dapat, kehadiran Ibunya. Kehadiran yang tak akan pernah lagi dia dapat hingga hayatnya. Yang bisa dilihatnya hanya foto sang Ibu untuk memenuhi rasa rindu yang menggebu dalam dirinya.
"Ayah," Reni bergegas melangkah menuju sang ayah. Gadis itu sudah bisa berjalan meski masih pakai bantuan tongkat. Setidaknya ada banyak kemungkinan untuk dia bisa berjalan normal seperti temennya yang lain.
"Nak," Reyhan tampak bahagia melihat perubahan putrinya. Sungguh dia sangat bahagia, akhirnya putrinya bisa berjalan meski menggunakan alat bantu. Setidaknya ini kabar gembira untuk dirinya.
Tanpa dapat di cegah, air mata Reyhan mengalir dari matanya. Tak bertemu selama tiga tahun kurang ini, putrinya sudah tampak banyak berubah. Selama berada di dalam jeruji besi putrinya tak pernah datang. Bukan tak mau hanya saja tak memungkinkan gadis itu untuk datang, lantaran dia mengikuti terapi untuk kakinya. Bahkan anak gadisnya itu tampak lebih cantik. Perpaduan antara dirinya dan juga istrinya.
"Ayah aku rindu?" Reni langsung memeluk tubuh ringkih Ayahnya. Sungguh dia sangat merindukan laki-laki yang sudah lama tak berjumpa dengan dirinya.
Menumpahkan segala rasa yang selama ini bersarang dalam dadanya. Menangis bahagia kala Ayahnya sudah kembali lagi ke rumah. Laki-laki tangguh miliknya dan juga sang ibu.
"Seperti yang Ayah lihat. Aku baik-baik saja." Reni melepaskan pelukannya dari tubuh ringkih Reyhan.
"Alhamdulillah Nak, Ayah bahagia akhirnya kamu akan bisa berjalan Sayang,"
"Iya Yah, alhmadulillah. Do'ain aku agar lekas lepas tongkat ini ya, Yah?"
"Pasti Sayang. Ayah pasti akan mendo'akan yang terbaik buat putri, ayah,"
"Terima kasih, Ayah," Lagi Reni memeluk tubuh Ayahnya.
__ADS_1
Lani yang melihat itu menangis haru. Dia sangat tahu jika putrinya selama ini sangatlah merindukan sosok yang kini berada di depannya. Bahkan sering dia ingin mengunjungi Ayahnya, namun Lani melarang lantaran itu demi kesembuhan putrinya yang tengah menjalani terapi.
"Sama-sama, Nak,"
Akhirnya ketiga orang itu masuk ke dalam rumah. Tak banyak berubah yang dilihat Reyhan. Hanya saja cat pada tembok bagian luar yang sudah mulai memudar. Bahkan susunan foto yang biasanya terletak di ruang tamu masih tertata rapi seperti beberapa tahun lalu.
Satu foto besar milik Ibunya terpampang rapi di dinding ruang tamu. Juga foto mereka bersama saat liburan ke Bali waktu itu. Senyum cerah wanita yang melahirkan dirinya, membuat Reyhan menangis. Sungguh dia sangat rindu dengan Ibunya yang tidak pernah dia lihat dari beberapa tahun lalu, Bahkan untuk kedepannya lagi.
"Sayang besok antarkan Mas berkunjung ke pusara Ibu ya?" pintanya pada Lani yang kini duduk di depannya.
Kami mengangguk. "Iya Mas,"
***
Pagi ini Reyhan sudah rapi dengan pakaiannya. Sesuai ucapannya kemaren jika hari ini dia akan berkunjung ke makam sang Ibu. Tempat peristirahatan terakhir wanita yang telah banyak berjasa dalam hidupnya. Wanita yang rela bertaruh nyawa untuk melahirkannya ke dunia, serta membesarkannya dengan penuh kasih dan cinta.
"Assalamu'alaikum Ibu, Ibu apa kabar? Maaf aku baru berkunjung ke makan Ibu," Reyhan mengusap air mata yang tiba-tiba saja mengaliri wajahnya.
"Maafkan aku, Ibu. Bahkan untuk mengantarkan Ibu pada tempat ini saja aku tidak hadir. Sungguh aku sangat merindukanmu, Bu. Ingin memelukmu seperti waktu itu." Tangis Reyhan semakin pecah di samping makam sang Ibu.
Lani mengusap bahu suaminya. Memberikan kekuatan untuk suaminya itu. Dia Bahkan ikut menangis mendengar ucapan pilu suaminya. Sangat menyayat hati bagi yang mendengarnya.
"Aku pulang dulu Bu, Ibu yang tenang ya di dalam sana. Aku akan selalu mendo'akan Ibu dalam setiap sholat ku. Aku sangat menyayangimu, Ibu. Sungguh sangat," Reyhan menghapus air mata yang mengaliri pipinya. Bahkan mengelap ingusnya yang juga ikut keluar.
Reyhan maupun Lani akhirnya, meninggalkan makam Rena. Dengan hati sedikit lebih tenang yang dirasakan Reyhan. Sebelumnya sungguh hatinya tak baik-baik saja. Ada rasa bersalam kepada sang Ibu dan juga rasa rindu yang sangat membuncah. Namun semua itu akhirnya sudah terobati.
__ADS_1
TBC