Diceraikan

Diceraikan
SEASON 2 Terima Kasih Malaikat Tanpa Sayap


__ADS_3

Mika dan Ali berjalan menuju pintu rumah dengan perasaan campur aduk. Rasa takut, cemas bercampur menjadi satu. Pasang mata yang berada di luar rumah menatap mereka dengan raut sedih serta prihatin.


Pintu rumah yang memang terbuka membuat Ali dan Mika langsung saja memasuki kediaman mereka dengan seluruh tubuh bergetar serta keringat yang sudah keluar sebesar biji jagung.


"Bunda...," Mata Ali memanas melihat seorang wanita terbujur kaku di tengah-tengah rumah. Seluruh tubuh yang di tutupi dengan kain panjang batik bewarna coklat.


Kaki Ali seakan lengket pada pijakannya. Air mata luruh dengan lancarnya. Menatap wanita yang sudah melahirkannya dengan mata mengabur karena air mata yang sudah menganak sungai. Lidah terasa sangat kelu untuk sekedar mengatakan satu kata.


"A-abang, Bu-bunda," Pecah air mata Mika melihat keadaan Ibu mertuanya yang sudah tak lagi bernyawa. Terbujur kaku di tengah-tengah rumah.


Mika menarik tangan suaminya menuju Yumna karena, suaminya tak juga berjalan menuju jasad itu yang sudah dingin itu.

__ADS_1


"A-abi ini bukan Bunda, 'kan?" Ali sulit mempercayai jika yang terbujur itu adalah Yumna, sang bunda. Padahal tadi pagi sebelum berangkat kerja mereka masih saling bicara. Bundanya tampak sehat tak ada tanda-tanda akan terjadi sesuatu kepada sang bunda.


"Abi katakan jika ini tidak benar. Katakan jika Bunda hanya ngeprank kita semua . Jangan bilang jika Bunda pergi ninggalin kita semua Abi. Katakan jika ini bukan Bunda Abi, katakan!!!" Ali menatap Andi dengan wajah basah penuh air mata. Menyangkal jika yang terbaring itu bukanlah Yumna sang bunda.


"Abi katakan jika Bunda hanya bermain petak umpat sama kita. Abi Bunda tidak akan ninggalin kita bukan? Abi, Bunda wanita kuat yang tidak akan ninggalin anak-anaknya saat masih membutuhkan dirinya? Abi katakan sekali saja ini bukan Bunda, katakan ini bohong Abi," Air mata Ali semakin membanjiri wajah tegas itu.


"Sabar Al, kita harus ikhlaskan Bunda biar Bunda tenang ninggalin kita semua. Jangan seperti ini Nak, Bunda pasti akan sedih melihat pangerannya rapuh seperti ini. Bunda tidak akan tenang ninggalin kita jika pangerannya tidak kuat menerima takdirnya. Abi minta ikhlaskan Bunda, Al. Biarkan Bunda tenang berada di alamnya. Biarkan Bunda tersenyum melihat anak-anaknya bahagia meski tanpa dirinya. Ikhlaskan Bunda agar dirinya tak merasakan kesakitan di sana Al. Al hanya kamu satu-satunya kekuatan untuk Abi dan juga adik-adik kamu. Kamu harus kuat terutama demi Bunda, lalu Abi dan adik-adik kamu, Al. Jangan lupakan juga ada istri kamu, Al" Andi memeluk erat tubuh putranya yang rapuh.


"Abi kenapa Bunda ninggalin Al? Kenapa Bunda begitu cekat pergi disaat Bunda belum merasakan menggendong cucunya? Abi kenapa Bunda tega ninggalin Al sendirian? Abi kenapa Bunda tega jadiin Al yatim piatu? Abi, Al rapuh? Dada ini terasa sesak Abi," Ali memeluh tubuh Andi dengan erat. Mencari kekuatan dari ayah tirinya.


Cintanya sudah pergi terlebih dahulu. Meninggalkan dirinya tanpa menawarkan untuk ikut bersama dirinya. Pujaan hati yang selalu memberi warna di setiap waktunya sudah tidak akan ada lagi. Wanitanya sudah pergi untuk selamanya kepangkuan Allah. Allah lebih sayang kepada cintanya sehingga lebih dulu di ambil. Sesak dirasakan Andi pada dadanya, seakan ada ribuan belati yang menusuk dadanya tanpa henti. Meremas dengan kuat sehingga menyisakan rasa sakit dan sesak yang teramat sangat. Ikhlas? Bisakah Andi ikhlas melepaskan cintanya untuk selamanya?

__ADS_1


Kenapa? Kenapa cintanya tidak sekalian membawa dirinya agar mereka bersatu di sana? Kenapa dirinya harus ditinggalkan seorang diri?


******


Acara menyolatkan jenazah Yumna bahkan mengguburkan Yumna juga sudah usai. Satu persatu orang yang ikut ke makan Yumna sudah mulai pulang satu persatu. Kini hanya tinggal keluarga inti. Andi, Ali dan Mika karena, orang tua Mika belum sampai di di Jakarta.


Ali mengusap lembut tanah basah yang sudah ditaburi berbagai kelopak bunga. Menunduk dengan tetesan bulir bening yang belum juga mengering. Dadanya terasa di himpit batu besar. Tak menyangka jika dirinya mulai hari ini sudah berstatus seorang yatim-piatu.


"Bunda..., apa Bunda sudah bahagia di dalam sana? Bunda..., kenapa begitu cepat meninggalkan Al? Kenapa Bunda tidak memberi kesempatan untuk Al memberikan Bunda seorang cucu? Bunda..., Al tidak menyangka jika pagi tadi adalah terakhir kalinya kita berbicara. Jika saja Al tahu, Al rela tidak masuk kerja hanya untuk Bunda. Bahkan untuk menyaksikan Bunda menutup mata untuk terakhir kalinya Al tidak menyaksikan, untuk membantu Bunda melafazkan syahadat untuk terakhir kalinya Al juga tidak ada. Bunda..., bisakah Bunda memaafkan Al yang tidak ada di saat-saat terakhir Bunda? Bisakah Bunda memaafkan segala kesalahan yang Al lakukan semasa Bunda hidup? Bunda..., rasanya begitu sakit di dalam sini Bunda. Rasanya Al tidak sanggup di tinggalkan Bunda, tapi apa yang bisa Al buat Bunda? Bisakah Al kuat demi Abi, adik-adik serta istri, Al? Bisakah itu Al lakukan Bunda?" Ali mengusap makan Yumna dengan telapak tangannya. Bahkan Ali memeluk erat makam basah itu. Membiarkan bajunya kotor karena tanah basah makan sang bunda.


"Bunda..., terima kasih sudah menjadi malaikat di dalam hidup Al, terima kasih sudah menjadikan Al seorang raja dalam kehidupan Bunda. Terima kasih sudah mendidik Al menjadi seroang laki-laki serta suami yang kuat. Terima kasih atas semua limpahan kasih sayang yang sampai kapanpun tidak akan bisa tergantikan. Bunda..., Al sangat mencintai Bunda lebih dari apapun. Bunda malaikat tanpa sayap yang Al punya. Bunda wanita terkuat yang Al miliki, dari Bunda Al banyak belajar apa yang namanya sabar dan ikhlas. Dari Bunda Al belajar untuk menerima setiap takdir Allah. Sekarang, sekarang Al akan berusaha mengikhlaskan Bunda, semoga Bunda tenang disana," Ali mengusap matanya yang terus mengaliri bulir bening. Bahkan mata itu sudah tampak sembab dengan hidung yang merah.

__ADS_1


"Bunda..., terima kasih sudah hadir di dalam kehidupan Mas yang awalnya gelap. Terima kasih sudah memberikan banyak warna dalam kehidupan Mas, terima kasih sudah menjadi bintang untuk menyinari setiap malam yang Mas lalui. Terima kasih sudah menjadi sosok istri sholehah untuk Mas, terima kasih sudah memberikan Mas putra dan putri yang begitu cantik dan tampan . Bunda, jika saja Mas bisa memilih Mas juga ingin ikut dengan Bunda. Namun, Allah lebih sayang sama Bunda sehingga Bunda di ambil duluan. Bunda, Mas sangat mencintai Bunda lahir dan batin. Bunda istri terkuat yang Mas miliki, istri penyabar yang Mas punya. Mas besyukur pernah menjadi bagian dari hidup Bunda, Mas bahagia Bunda membawa cinta Mas sampai akhir hayat. Mas akan lakukan hal yang sama seperti yang Bunda lakukan. Hanya Bunda wanita tercinta yang Mas punya selain Mama, hanya Bunda wanita penawar di setiap lelah yang Mas rasakan. I love you, Bunda," Andi mencium batu nisan istrinya lama. Meresapi jika itu adalah wajah sang istri yang semalam dia ciumi tiada henti.


TBC


__ADS_2