Diceraikan

Diceraikan
Kenyataan Pahit


__ADS_3

Diceraikan


58


"Sayang, apa kamu tidak mengatakan jika kamu tidak melakukan apa-apa pada Nenek kepada Ayah kamu, Nak?" Yumna menatap anak bujangnya dengan serius.


"Sudah Bun, tapi laki-laki itu tidak percaya. Dia hanya percaya dengan apa yang dia lihat. Dan lagian sekarang aku tidak ada lagi hubungan dengan kelurga itu Bun. Laki-laki sudah memutuskan hubungan dengan ku," jelas Ali.


Yumna terdiam mendengar ucapan putranya. Dulu saat tau dia memiliki putra, mereka yang membujuk putranya agar mau tinggal bersama mereka. Saat semuanya sudah terwujud, anaknya malah di fitnah oleh Ayah kandungnya sendiri. Terlalu kejam memang. Tidak ada salahnya Yumna menyematkan kata "kejam" Untuk keluarga Reyhan. Dulu dia yang di sakiti habis-habisan dan sekarang, malah anaknya yang disakiti dengan fitnah kejam. Ahhh, Yumna lupa jika dulu dia juga di fitnah keluarga itu tidak bisa memiliki seroang anak. Kalau di pikir mereka cukup adil dalam menyiksa batin anak dan ibu itu.


Boleh Yumna untuk kejam saat ini? Rasanya untuk selalu memaafkan terus-menerus tak akan adil. Selalu ditindas dengan apa yang tidak pernah dilakukan.


"Apa kamu sedih jika Ayah memutuskan hubungan dengan mu, Nak?" tanya Yumna dengan mengusap tangan sang putra dengan lembut.


Ali menggeleng. "Tidak Bun. Bahkan dari awal aku memang sudah tidak suka dengan keluarga itu. Aku mau tidur disana hanya untuk melihat apakah mereka benar-benar sayang sama aku atau akan ada hal lain yang terjadi dengan diriku. Nyatanya benar bukan, Bun? mereka malah menfitnah aku tanpa mencari apa sebab sebenarnya terlebih dahulu," Ali menjelaskan dengan tenang. Tidak ada raut sedih serta kecewa saat dia mengatakan yang sebenarnya kepada sang bunda. Nyatanya apa yang dia pikirkan selama ini memang terjadi.


Sekalinya jahat akan terus sajat. Sekalinya pecundang akan terus menjadi pecundang. Sekalinya memfitnah akan ada fitnah-fitnah yang lain akan muncul.


"Jika suatu saat keluarga itu minta maaf apa kamu akan tetap memaafkannya, Sayang?" Jujur jika anaknya mau memaafkan keluarga itu, Yumna tidak akan pernah setuju. Cukup sudah rasa sakit yang selama ini mereka rasakan. Cukup sudah semua luka yang sudah mereka torehkan kepada mereka.


Lagi-lagi ali menggelengkan kepalanya. "Tidak Bun. Sudah cukup selama ini kita bersabar dan memaafkan kesalahan mereka kepada kita. Sekarang yang terpenting kebahagiaan kita. Mau nanti mereka menyesal atau tidak bukan lagi urusan kita," ujar Aki membuat Yumna bernafas lega.


"Bunda setuju Sayang. Sudah cukup selama ini kita merasakan kesedihan. Sekarang kita akan mencari kebahagiaan untuk keluarga kita. Dan mereka, biarlah nanti waktu yang akan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Mau menyesal atau tidaknya itu sudah bukan lagi urusan kita. Cukup sekali kemaren kita memberi mereka kesempatan kedua. Tidak akan ada lagi kesempatan untuk selanjutnya." jelas Yumna yang diangguki sang putra.

__ADS_1


"Iya, Bunda benar. Bahkan jika nanti mereka meminta maaf dan jika saja mereka nanti akan bersujud di kaki aku, aku akan tetap pada pendirian ku. Cukup sudah segalanya." Ali sangat setuju dengan ucapan Bundanya. Lagian buat apa mereka memberi kesempatan selanjutnya, yang ada mereka pasti akan mendapatkan hal yang serupa pula.


****


Sedangkan di tempat lain, Reyhan tengah duduk dengan cemas di depan ruang UGD. Menanti dokter keluar dari ruangan yang mana Ibunya tengah di periksa. bahkan kepergian Ali baru saja tidak membuat Reyhan menatap pungumg anaknya yang sekarang tidak lagi memiliki hubungan diantara dirinya. Lantaran laki-laki itu yang memutuskan seorang diri.


Derap langkah kaki membuat Reyhan menegakkan kepalanya. Menatap langkah kaki yang kian mendekat ke arahnya. "Mas bagaiamana keadaan Ibu?" Wanita yang berstatus seorang istri untuk Reyhan bertanya dengan nada khawatir. Dia baru saja balik dari kampung halaman orang-tuanya, karena mendapat kabar dari sang putri jika ibu mertuanya jatuh dari tangga. Dengan segera wanita itu berkemas dan langsung pulang ke Jakarta tempat dimana suami serta anaknya tinggal.


Reyhan tampak menggeleng. "Dokter belum keluar, Sayang," Suara tegas itu berubah parau. Lagi-lagi air mata tumpah di depan istrinya. Dadanya sesak saat mengingat kembali bagaimana sang ibu berlumuran darah.


Lani mengambil duduk disebelah suaminya. Mengusap punggung besar itu dengan lembut. Terasa bergetar karena laki-laki itu masih saja menangis. Wanita kesayangannya hingga kini belum juga dia tau bagaimana keadaannya.


"Apa yang terjadi Mas? Kenapa Ibu bisa jatuh dari tangga?" tanya Lani yang tampak sangat penasaran. Saat anaknya memberi tahu, anaknya tidak menjelaskan kronologi jatuhnya sang Nenek. Ntah dia memang tidak tau, atau malas memberi tahu yang sejujurnya. Intinya anaknya tidak menjawab pertanyaannya, saat dirinya menanyakan hal itu tadi kepada sang putri.


Reyhan menghapus air matanya. Lalu, menatap ke arah istrinya yang juga tengah menatap dirinya. "Ibu jatuh dari tangga, dan saat itu ada pemuda itu di tangga bagian atas. Yang jelas semuanya itu salah anak itu. Ntah akan yang dia lakukan hingga Ibu jatuh dari tangga. Yang jelas sekarang Mas sangat membenci dia. Dulu ibunya dan sekarang anaknya. Lengkap sudah kebencian Mas kepada mereka," ujar Reyhan yang tampak menggebu-gebu. "jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Mas akan datang ke rumah mereka dan meminta pertanggung jawaban atas apa yang pemuda itu lakukan pada Ibu," lanjutnya dengan nada penuh kebencian. Bahkan bisa dilihat dengan jelas jika raut wajah Reyhan saat ini penuh dengan rasa dendam serta rasa marah yang mendalam.


Ceklek...


Ucapan Lani terpotong karena, pintu yang sedari tadi di tunggu Reyhan agar terbuka, akhirnya kini sudah menapakkan seorang dokter dengan jas putih kedokterannya. Reyhan lekas berdiri dan menghampiri dokter tersebut.


"Dokter bagaiamana keadaan Ibu saya? Apa dia baik-baik saja?" Reyhan dengan tak sabarnya memborong pertanyaan kepada sang dokter, yang tampak dengan wajah sedikit kacau. Jangan lupakan kaca mata bertengger indah dibatang hidung macungnya.


"Iya Dok, bagaimana keadaan Ibu mertua saya. Apa dia baik-baik saja?" Lani juga tampak khawatir jika saja terjadi sesuatu kepada sang mertua. Lagian hanya tingal satu itu mertuanya, karena ayah mertuanya sudah meninggal puluhan tahun lalu. Dan itu Lani taunya dari cerita Reyhan.

__ADS_1


Dokter itu menghela nafas panjang. "Maaf sebelumya Pak, Bu. Keadaan pasien saat ini tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Karena benturan yang cukup keras pada kepala dan juga mengeluarkan darah dari telinga membuat Ibu anda hingga sekarang belum sadarkah diri." jelas dokter tersebut.


"Aa--apa ada kemungkinan buruk yang akan dialami Ibu saya setelah ini Dok?" Sungguh Reyhan tidak mau mendengar kemungkinan yang baru saja dia tanyakan kepada dokter. Namun dia harus tau apa saja kemungkinan buruk tersebut. Siapa tau nantinya dia juga bisa lebih waspada atau bahkan hati-hati kepada ibunya. Jika dia menanyakan sesuatu yang membuat sang ibu sakit kepala atau bahkan lebih.


"Kemungkinan terburuknya Ibu, anda bisa mengalami geger otak. Tapi berdo'a saja yang terbaik untuk beliau. Semoga saja itu semua tidak terjadi. Dan nanti setelah sadar bisa dilihat jelas apakah beliau juga mengalami amnesia atau tidak," jelas dokter tersebut.


"Iya Dok, terimakasih," balas Reyhan dengan nada tak semangat. Bahkan semangatnya menurut saat mengetahui keadaan yang dialami sang ibu.


"Sama-sama Pak. Dan satu lagi kemungkinan terburuk yang dialami Ibu, anda Pak. Benturan tersebut juga terkena pada ekornya yang menyebabkan Ibu anda mengalami kelumpuhan." jelas dokter membuat wajah suami istri itu seketika memucat.


Apalagi ini, baru saja dia menerima kenyataan yang mungkin saja terjadi dan yang lebih parah lagi, sang ibu mengalami kelumpuhan. Tak habiskah hanya sekedar gegar otak atau amnesia saja?


Dunia Reyhan seakan hancur mengetahui kenyataan yang disampaikan dokter. Satu-satu Ibu yang dia miliki sekarang malah memiliki nasib tragis seperti ini. Kenapa semuanya terjadi semenjak pemuda itu menginjakkan kakinya di rumahnya.


Lagi-lagi otak Reyhan menyalahkan kehadiran Ali di rumahnya. Bukankah dia sendiri yang meminta pemuda itu datang ke rumahnya dan menyuruhnya untuk menginap disana. Tapi kenapa sekarang dia menyalahkan pemuda itu.


TBC



"Gegar otak" merupakan sebuah kondisi dimana otak mengalami cedera ringan yang dapat terjadi setelah adanya benturan di kepala atau cedera whiplash (kepala dan otak terguncang dengan cepat).


__ADS_1


“Amnesia adalah penyakit yang berkaitan dengan gangguan memori. Pengidap penyakit ini bisa mengalami hilang ingatan hingga mengalami gangguan dalam membuat memori baru. Ada banyak faktor yang bisa menjadi penyebab kondisi ini, termasuk cedera pada kepala dan mengalami stroke.



__ADS_2