Diceraikan

Diceraikan
kepingan ingatan


__ADS_3

Sudah satu tahun lamanya Reyhan berada di jeruji besi nan dingin itu. Tubuhnya tampak semakin kurus. Apalagi Ibunya sudah meninggal satu bulan yang lalu, membuat Reyhan semakin terpuruk. Wanita yang sangat dicintainya sudah pergi ke tempat yang seharusnya. Bahkan melihat peristirahatan terakhir Ibunya saja Reyhan tidak dapat.


Air mata laki-laki itu keluar dengan sendirinya. Mengingat apa yang dikatakan istrinya hari dimana Ibunya meninggalkan dirinya untuk selamanya. Dadanya sesak mengingat dirinya tak dapat melihat sang ibu untuk terakhir kalinya. Andai saja dia tak berada di sini, sudah pasti dia akan melihat wajah sang ibu. Namun apa yang bisa Reyhan perbuat. Jika sang ibu sudah tak dapat lagi dia gapai dengan tangannya. Rasa sedih yang teramat sangat dirasakan Reyhan saat ini. Ditambah lagi dengan rasa penyesalan yang tak kunjung sirna.


Pikiran Reyhan mengingat dimana saat dirinya masih menjadi seorang suami dari seorang Yumna Humaira. Istri yang sangat mencintainya tanpa syarat. Mau menerima keadaannya apa pun itu. Tak pernah memandang dirinya, baik itu dari segi rupa ataupun dengan harta. Wanita yang tulus menerima dirinya tanpa menuntut banyak.


Flashback on


"Abang, aku sangat bahagia bisa menjadi istri Abang," ucap Yumna menyenderkan kepalanya pada bahu Reyhan. Laki-laki itu mengusap rambut panjang istrinya dengan lembut.


"Abang juga sangat bahagia menjadi suami kamu, Sayang," jawab Reyhan mendaratkan beberapa kecupan pada dahi sang istri.


"Nanti jika kita punya anak, Abang mau yang pertama perempuan atau laki-laki?" Yumna menatap wajah tampan suaminya.


Reyhan tampak berfikir sejenak. "Emmm, kalau mau abang perempuan, Sayang. Lucu juga kalau kita punya bayi perempuan untuk anak pertama kita. pasti sangat mengemaskan. Cantik seperti kamu, Sayang," Reyhan mencolek pipi wanita yang sangat dicintainya itu. Bahkan Reyhan kembali mendaratkan beberapa kecupan pada pipi istrinya.


"Aku maunya laki-laki Bang, biar nanti saat dia punya adik perempuan ada Abangnya yang akan jagain. Meskipun nanti juga perempuan yang lahir duluan juga tidak mengapa. Yang terpenting dia sehat ya, Bang," Yumna mendongak menatap wajah tampan suaminya. Pahatan wajah yang sangat sempurna.


Reyhan mengangguk. "Iya Sayang. Apa pun nanti jenis kelaminnya yang terpenting sehat tanpa kekurangan apapun,"


****


"Sayang kamu bikin apa?" Reyhan memeluk tubuh istrinya dari belakang. Beberapa kali menciumi wajah istrinya dari samping.


"Iss Abang jangan ganggu ihh, geli tau." Yumna tak nyaman dengan perlakuan suaminya. Jika jujur dia menikmatinya. "Ini aku bikin ayam kecap kesukaan kamu, Bang," lanjutnya.


"Wahhh, istri Abang emang mengertian deh. Tau saja jika abang lagi pengen makan ayam kecap," Reyhan mencicip rasa masakan yang di buat istrinya. "Enak banget Sayang. Abang jadi pengen makan nih." Reyhan mengusap perutnya.


"Ya sudah Abang duduk dulu sana gih, biar aku ambilkan nasi buat Abang," Yumna menyuruh suaminya menunggu di meja makan.


"Dengan senang hati, Sayang,"


"Nih Bang," Yumna meletakkan nasi serta ayam kecap di depan suaminya. Tak lupa segelas air putih.

__ADS_1


"Terima kasih Sayang. Kamu nggak makan Sayang?" Reyhan menatap istrinya yang hanya duduk di sampingnya.


Yumna menggeleng. "Nggak Bang, nanti saja setelah Abang selesai makan,"


"Tidak usah, kita makan bareng saja Sayang.


Biar abang yang nyuapin kamu,"


"Tidak usah Bang," tolak Yumna halus.


Reyhan menggeleng. "Dosa loh Sayang nolak suami. Emang mau dosa?"


"Nggak Bang,"


Akhirnya Reyhan makan berdua dengan istrinya. Bergantian menyuap untuk dirinya serta untuk istrinya. Terasa sangat nikmat. Apalagi masakan istrinya sangat enak, pas di lidah Reyhan. Bahkan laki-laki itu juga nambah saking enaknya masakan yang dibuat tangan istrinya itu. Wanita yang sangat dicintainya. Wanita pilihan hatinya.


"Terima kasih Sayang, sudah masakin abang dengan masakan seenak ini,"


"Sama-sama Bang, lagian itu juga sudah tugas ku." balas Yumna debgan menampilkan senyum khas dirinya.


"Abang besok sudah masuk kerja?" Yumna menatap suaminya. Saat ini mereka tengah duduk di ruang TV sambil melihat siaran yang tak ada satupun yang mereka suka.


"Iya Sayang, kenapa?" Reyhan menaikan alisnya.


"Tidak apa kok Bang, aku kira abang masih cuti,"


"Nggak Sayang, hari ini hari terakhir abang cuti. Emang Sayang mau apa, hmm?" Reyhan menciumi pipi istrinya dengan gemas. Rasanya ingin sekali Reyhan mengigit pipi kenyal milik istrinya itu. Namun tak mungkin dia melakukan itu, karena pasti rasanya akan sakit.


"Emmm, nggak ada mau apa-apa kok Bang. Hanya ingin seperti ini saja," Yumna semakin menyenderkan kepalanya pada bahu suaminya.


"Setiap hari juga gini kamu, Sayang. Nggak pernah absen tuh,"


"Ihhh, itu kan saat malam saja Bang. Kalau siang kek gini mana ada jika Abang tidak cuti seperti sekarang atau saat Abang libur saja."

__ADS_1


"Kalau Abang cuti terus yang ada kita nggak bisa jajan, Sayang. Emang kamu mau Abang kasih makan pasir?" Reyhan tampak gemas dengan istrinya yang suka mengerucutkan bibirnya.


"Nggak lah Bang, yang ada kita mati jika makan sama pasir,"


"Nah itu tau,"


****


Hari-hari sudah berlalu, namun pada tahun ke delapan belum juga rumah tangga Reyhan di karunia seorang bayi. Di sanalah pertama kalinya kemunculan konflik. Apalagi teman sesama gurunya sudah menanyakan kenapa belum juga dirinya memiliki seorang anak padahal sudah lama menikah. Pikiran Reyhan kacau lantara pertanyaan itu selalu saja muncul.


Pergi ke rumah sang ibu pun, laki-laki itu selalu ditanyakan perihal anak. Cucu yang sangat diinginkan ibunya.


"Rey, kapan sih kamu ngasih ibu cucu. Ibu sudah sangat menginginkan seorang cucu. Ibu tak lagi muda Nak. Sampai kapan Ibu akan menanti kamu memberikan Ibu cucu?"


"Sabar dulu Bu, aku juga lagi usaha. Do'ain aku ya Bu,"


"Sampai kapan Rey? Ini sudah sangat lama sekali,"


Reyhan memijit kepalanya yang terasa sakit. Pertanyaan itu selalu menghampiri Reyhan. "Aku pulang dulu Bu, nanti kalau ada kabar baik aku akan kabari Ibu lagi," Reyhan meninggalkan kediaman Ibunya.


Sepanjang jalan pikiran Reyhan semakin kacau. Terbesit rasa menyalahkan istrinya di rumah. Semua ini gara-gara istrinya yang tak juga hamil hingga kini. Rasa itu semakin hari semakin besar. Hingga dia mulai berkata kasar kepada istrinya, dan nasnya lagi memberikan surat cerai kepada sang istri tanpa berkata dulu kepada sang istri. Memutuskan hak besar itu seorang diri.


Flashback off


Air mata Reyhan jatuh saat mengingat kepingan ingatan masa lalunya. Mungkin memang inilah balas untuk dirinya, karena sudah memperlakukan mantan istrinya dengan tak baik.


Reyhan sangat merasa bersalah kepala wanita yang pernah menjadi bagian dari hidupnya itu. Wanita yang sana gt tulus dengan dirinya. Wanita yang tak pernah meminta pakain kepada dirinya. Wanita yang amat sangat susah di dapatkan. Namun, dia malah melemparkan wanita itu bagai seonggok sampah yang tak ada artinnya.


Penyesalan yang tiada akhirnya. Menangis tergugu di balik jeruji besi. Menangisi kelakuan dirinya dulu. Menangisi perbuatan yang membuatnya kini teramat menyesal. Nyatanya dia tak menyakiti putranya, namun juga menyakiti mantan istrinya dengan sangat kejam.


"Ya Allah, betapa besarnya kesalahan hamba pada masa lalu. Bisakah dia memberiku maaf untuk kali ini lagi ya Allah. Sungguh rasanya hamba tidak sanggup hidup dalam penyesalan yang teramat sangat ini." Reyhan meremas dadanya yang terasa sakit. Detakan jantungnya juga sangat cepat dari bisanya. Terasa sangat sakit, bahkan mungkin saja tidak ada bandingnya dengan apa yang dilakukannya kepada anak dan mantan istrinya.


"Ya Allah, sakit sekali. Maafkan hambamu yang penuh dosa ini. Maafkan ya Allah." Reyhan merebahkan tubuhnya dilantai dingin itu dengan derai air mata yang tiada hentinya. "Ya Allah bisakah rasa sakit ini berkurang hanya sedikit saja? Ini sangat menyakitkan," lanjutnya yang semakin meremas dadanya yang terasa sakit. Mengingat kepingan masa lalu serta kepingan kejahatan dirinya kepada darah dagingnya sendiri.

__ADS_1


TBC


__ADS_2