Diceraikan

Diceraikan
Kembali


__ADS_3

Ali pergi meninggalkan rumah sakit menuju rumah Reyhan. Dia akan mengambil semua peralatannya yang masih berada di rumah laki-laki yang statusnya sudah diputus oleh laki-laki itu sendiri. Nyatanya memang benar, jika sekali melakukan kesalahan, maka untuk kesekian kalinya pasti akan melakukan hal yang sama. Contohnya menceraikan Yumna dengan rasa tak hormat dan sekarang mengusir dirinya juga degan rasa tak hormat. Sangat miris. Tapi itulah garis takdir yang harus dijalani Ali. Mau membenci takdir, buat apa? toh itu ujian dalam kehidupan Ali yang harus laki-laki itu terima. Baik buruknya sudah di gariskan untuk dijalaninya.


Ali memacu motornya agar lekas sampai di kediaman Reyhan. Tak memakan waktu lama, akhirnya Ali sampai di kediaman bertingkat itu. Langsung saja Ali masuk setelah memarkirkan motornya di sembarang tempat. Lagian setelah ini dia juga akan pulang ke rumah sang bunda.


Memasukkan baju yang tadi dia letakkan di atas nakas ke dalam tas dukungnya. Mendukung tas itu, lalu berjalan dengan dekat keluar dari kamar yang sudah beberapa bulan ini dia tinggali. Ya meski satu kali dalam seminggu. Namun, jika sudah beranjak bulan sudah termasu bulan, yang artinya sudah delapan kali Ali tidur disana sama halnya dengan dua bulan.


"Mau kemana malam-malam gini, Kak?" Saat Ali mau memijakkan kakinya pada anak tangga pertama, suara seorang gadis yang merupakan anak Reyhan menghentikan langkah kaki Ali.


Menatap gadis cantik yang tengah duduk di atas kursi rodanya. "Pulang." Satu kata itu keluar dari mulut Ali. Rasanya malas untuk berbicara panjang lebar. Lagian mereka juga tidak sedekat itu. Bahkan bisa dikatakan tidak dekat sama sekali.


"Pulang ke mana?" tanya gadis itu lagi.


"Ke rumah," jawab Ali yang melangkah menuruni anak tangga. Meski sedang melangkah Ali tetap menjawab pertanyaan gadis itu.


"Bukannya ini rumah Kak, lalu Kakak mau pulang ke mana?. Apalagi sekarang sudah sangat malam Kak?" Gadis itu terus saja menanyakan sesuatu yang membuat Ali muak. Rasanya setiap orang di ruang ini sangat pintar bersandiwara. Tak terkecuali gadis yang kini tengah menatap dirinya yang menuruni anak tangga dengan bingung.


"Rumah Bunda," jawab Ali tanpa mau menoleh pada gadis itu. Gadis yang masih saja berada pada lantai dua. Mungkin saja dia hendak turun ke pantai dasar.


Ali langsung saja keluar dari rumah bertingkat itu. Tak menjawab lagi pertanyaan yang keluar dari mulut gadis itu. Membiarkan gadis itu berbicara seorang diri. Bahkan sempat Ali mendengar jika gadis itu mengumpat dirinya, lantaran tak menjawab pertanyaannya. Mungkin saja dia kesal, karena tidak di hargai.


Ali langsung saja mengendarai motornya menuju rumah sang bunda. Yakinlah perasaanya saat ini teramat sakit. Kata-kata laki-laki itu masih saja terngiang-ngiang di kepalanya. Dengan segera Ali mengenyahkan ucapan laki-laki itu. Takut akan terjadi sesuatu kepada dirinya. Apalagi saat ini didirinya tengah membawa sepeda motor. Tak akan menampik kemungkinan dia akan kecelakaan, karena terus saja memikirkan kata-kata laki-laki, yang bahkan tak bisa lagi Ali sebut seorang ayah.

__ADS_1


Seorang Ayah tidak akan melakukan hal demikian kepada darah dagingnya. Sejahat-jahatnnya seorang anak, tak akan ada satupun Ayah yang rela memutuskan hubungan dengan anaknya. Setidaknya dia masih berfikir jernih, jika anaknya itulah yang akan merawatnya di hari tua kelak. Adapun seorang istri, bisa saja sang istri mengalami hal yang sama dengan dirinya. Maka dari itu, harusnya Reyhan berfikir sampai kesana. Karena bisa jadi istrinya lebih dulu meninggal ketimbang dirinya. Ajal tidak ada yang tau.


****


Yumna terbangun dari tidurnya dengan nafas yang ngos-ngosan seperti ada orang yang mengejar dirinya. Wanita itu langsung saja duduk di atas tempat tidur. Hatinya tengah resah memikirkan sang putra. Seperti terjadi sesuatu kepada anaknya itu.


Langsung saja wanita itu mengambil benda pipih yang tadi dia letakkan di atas nakas. Menekan tombol telpon saat nama anaknya sudah ketemu. Berdering, tapi tidak dijawab sama sekali. Berulang kali Yumna menelpon anaknya. Hasilnya tetap sama, tidak di jawab.


Yumna sangat khawatir. Bahkan kini wanita itu tengah mondar-mandir di dalam kamarnya. Seperti cacing kepanasan yang tidak mau berhenti. Sering kali Yumna membuka benda pipih yang dia pegang dengan erat. Berharap balasan pesan yang dia kirim kepada anaknya di balas. Namun, sekian menit sudah berlalu. Centang dua abu-abu itu belum juga berubah menjadi biru.


Dengan harap-harap cemas. Dengan perasaan yang tak menentu, wanita itu keluar dari kamarnya. Menuju dapur untuk mengambil air putih. Mulutnya terasa sangat kering. Mungkin saja dengan meminum air, maka mulutnya yang dirasa kering itu akan hilang. Tapi, tidak sama sekali, rasa kering itu tetap saja ada.


Bunyi suara motor yang terdengar berhenti di depan rumahnya, membuat Yumna yang sudah mulai tertidur di atas sofa, langsung saja berdiri. Melangkah cepat menuju pintu. Suara motor yang sangat dia kenali. Suara motor putranya.


Membuka pintu dan melihat sang putra yang kini mencabut kunci motor. Setelahnya pemuda itu melangkah mendekati sang bunda. Tanpa aba-aba, pemuda itu langsung saja memeluk sang bunda. Pelukan yang sangat menenangkan. Tidak akan pernah ada pelukan seperti ini di wanita manapun. Bahkan jika nanti dia memiliki seorang istri, maka pelukan itu juga tidak akan dapat dia rasakan. Rasanya akan berbeda.


Yumna membawa sang putra masuk kedalam rumah, setelah anaknya itu melepaskan pelukannya. Mengambilkan air putih ke dapur setelah melihat anaknya duduk dengan tenang di atas sofa.


"Ada apa, hmm? Kenapa kamu pulang malam-malam begini? Apa ada masalah Sayang?" Yumna sangat cemas melihat anaknya yang pulang malam-malam seperti ini. Ini bahkan kali pertama sang putra pulang dari rumah mantan suaminya pada malam hari.


Ali menguk habis air putih yang diberikan sang bunda tanpa sisa. Bahkan setetes saja tidak Ali tinggalkan. Sangking hausnya. Menatap sang bunda yang kini tengah menunggu jawaban darinya, atas pertanyaan yang baru saja di lontarkan sang bunda.

__ADS_1


"Aku di usir dari sana sama laki-laki itu, Bun" jawab Ali membuat Yumna terkejut.


Wanita itu menerka-nerka apa sebab Reyhan mengusir anaknya seperti ini. Apalagi ini malam hari. Tak taukah mantan suaminya itu, jika saja Ali kecelakaan siapa yang akan menolong anaknya. Masih adakab di dunia ini orang yang baik. Orang yang masih merasakan yang namanya simpati. Bahkan rasanya sangat sulit untuk dicari. Apalagi pada malam hari. Jika ada begal bagaiamana? Bagaimana nasib anaknya. Sungguh jahat. Itu pikir Yumna.


"Kenapa kamu diusir Sayang? apa kamu melakukan kesalahan?" Yumna menatap dengan intens anaknya itu.


Ali menggelengkan kepalanya. "Tidak Bunda. Bahkan aku tidak melakukan apa-apa," jawab Ali yang juga menatap sang bunda.


"Kalau tidak melakukan apa-apa, kenapa kamu diusir dari sana, Sayang?"


"A-aku dituduh mencelakai Ibunya, Bun. Padahal aku tidak tau kenapa Nenek bisa jatuh di tangga rumah itu. Saat itu aku mau mengambil air ke dapur dengan membawa gelas di tangan. Saat mau menginjak tangga pertama, gelas yang aku pegang terjatuh karena melihat Nenek yang sudah berguling-guling dia anak tangga ketujuh. Padahal aku tidak melakukan apa pun saat itu Bun. Laki-laki itu langsung saja berteriak sangat keras." jawab Ali dengan menatap sang bunda. sungguh hatinya sangat sakit. Sakit difitnah dengan apa yang tidak dia lakukan.


Yumna sangat terkejut dengan apa yang dikatakan putranya. Dituduh mencelakai ibunya. Bahkan Yumna sama sekali tidak percaya akan itu. Yumna yakin anaknya pasti jujur dengan apa yang dia katakan. Tak mungkin anaknya akan mencelakai wanita tua itu, jika saja benar sudah dari awal sang putra melakukan itu kepada neneknya. Bukan malah sekarang.


Yumna menarik nafas panjang. Tak menyangka anaknya mendapat fitnah keji dari ayah kandungnya sendiri. Laki-laki macam apa Reyhan yang dengan gampang menuduh darah dagingnya sendiri. Apakah laki-laki itu ada bukti sehingga menuduh anaknya melakukan sesuatu yang jelas suatu dosa besar. Bahkan Yumna mengajarkan putranya ilmu agama dari hal yang paling kecil.


Jika saja Yumna jahat, tak akan mungkin Yumna memperbolehkan anaknya untuk menginap di rumah laki-laki itu. Bahakn Yumna akan mencuci otak anaknya agar membenci keluarga mantan suaminya. Tapi Yumna tidak melakukan itu, karena dia tahu akan agama. maka dari itu Yumna menanamkan rasa ikhlas dalam diri anaknya. Menjelaskan bahwa memaafkan suatu kesalahn baik itu besar maupun kecil akan membuat hati akan tenang. Meski tak selamanya, namun tetap harus berusaha. Tapi apa yang didapatkan anaknya dari sana. Hanya sebuah fitnah keji, yang tanpa dasar yang jelas.


Ibu mana yang rela anaknya di fitnah. Tidak ada seorang ibu yang rela anaknya difitnah seperti itu. Apalagi itu menyangkut nyawa seseorang. Jika luka bisa diobati. Tapi jika itu sebuah nyawa, sampai ke ujung dunia pun, tidak akan ada orang yang bisa menjual sebuah nyawa. Jika saja ada, mungkin orang yang sudah meninggal akan dibelikan nyawa penganti oleh anaknya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2