Diceraikan

Diceraikan
SEASON 2 Ali Kebakaran Jenggot


__ADS_3

Sekitar setengah jam Mika bertemu dengan Yanda, akhirnya mereka memilih untuk pulang kerumah masing-masing. Yanda masih ingin berlama-lama dengan Mika, hanya saja gadis itu ada pekerjaan di rumah yang harus dia selesaikan hari ini juga. Belum lagi cuciannya yang sudah 3 hari tak di cuci.


"Alhmadulillah akhirnya selesai," Mika mengusap peluh yang ada di dahinya. Mengangkat satu ember kain yang sudah selesai di cucu dan hanya tinggal di jemur gadis itu.


Satu-persatu pakaian itu sudah di jemur Mika dengan rapi. Tak lupa menjepit pada bagian atasnya agar tak terbang di bawa angin. Apalagi saat ini angin lumayan kencang.


Selanjutnya Mika membersihkan rumah yang lumayan kotor. Dua hari tak di bersihkan membuat debu lumayan banyak. Bukan Mika pemalas, hanya saja gadis itu terlalu lelah untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Belum lagi dengan pekerjaannya di kantor membuat gadis itu cukup lelah.


Rumah yang semula tak tapi kini sudah tampak bersih dan harum. Gadis itu meletakkan stella pada pintu masuk agar angin yang masuk membawa harumnya stella tersebut.


Sedangkan di rumah sakit Ali tengah meletakkan kepalanya di atas meja. Laki-laki itu tampak tak semangat bahkan wajahnya cendrung muram. Pikirannya kembali lagi pada Mika yang dengan bahagianya bercerita dengan laki-laki itu. Ali mengepalkan tangannya dengan kuat. Bayangan senyum manis gadis itu membuat fokus Ali hilang. Kertas-kertas yang seharusnya dia kerjakan nyatanya dia biarkan. Malas untuk mengerjakan pekerjaannya.


"Permisi Dokter Ali, boleh saya masuk?" Wanita yang sudah berulang kalian di tegur agar tak masuk keruangan, tapi tetap saja kekeh. Meski tak lagi seperti dulu namun, Ali tetap muak dengan gadis itu.


"Ada apa?" Ali menatap malas Wina yang menyebarkan senyum manis kepada Ali. Senyum yang menurut Ali senyum terjelek yang pernah dia lihat.


"Kamu sakit Al? Kenapa wajahnya tidak semangat gitu? Apa kamu sanggup untuk bekerja hari ini Al? Atau kamu pulang saja dan minta surat izin?" Wina menyerocos Ali dengan berbagai pertanyaan yang membuat Ali sakit kepala.


"Tidak!! Saya sehat!" lantangnya.


"Terus kenapa kepala kamu di letakkan di atas meja kalau kamu tidak sakit Al? Mending kamu pulang saja dari pada kek gini. Apalagi semangat kamu bekerja hari ini tidak terlihat." bujuk Wina yang kini sudah berada tepat di depan Ali.


"Keluar!! Kamu terlalu berisik!!" usir Ali dengan keras. Sungguh dia sangat muak dengan gadis di depannya ini.


"Kamu kenapa nggak pernah baik-baik ngomong sama aku sih Al? Padahal aku ngomong baik-baik loh," Dengan raut wajah memelas gadis itu menatap Ali.


"Saya bilang keluar!!! Apa anda tidak mendengar ucapan saya Dokter Wina!!" Ali menatap sengit wanita di depannya. Bahkan mata Ali tampak memancarkan kemarahan kepada Wina.


Hati laki-laki itu sungguh dalam keadaan tidak baik-baik saja. namun seseorang datang membuat moodnya semakin hancur.


"Apa kau tidak dengar apa yang saya katakan!!" bentak Ali membuat Wina terperanjat dari keterkejutannya.


"Ah y-ya ya aku akan keluar Al. Maaf aku menganggu waktu kamu," Bergegas Wina meninggalkan ruangan Ali dengan keterkejutan yang tak pernah dia bayangkan, laki-laki itu bahkan sudah berkata begitu keras kepadanya.


Ali kembali menekuk wajahnya pada meja, menetralkan detak jantungnya yang berpacu lantaran emosi yang menggebu-gebu. Beberapa kali Ali mengeluarkan nafasnya dengan kasar. Berusaha menghilangkan rasa yang membuat dirinya tak fokus.


Ali berusaha memeriksa berkas-berkas yang ada di mejanya satu-persatu. Memang tak terlalu bersemangat, namun akhirnya kertas itu selesai di periksa Ali.


****


Kini Mika sudah kembali pada aktifitas seperti biasanya. Pergi ke kantor untuk mencari pundi-pundi rupiah. Dengan semangat gadis itu menjalankan motornya menuju kantor. Jalanan pagi ini lumayan macet lantaran banyak pengendara. Memang tak terlalu panjang tapi membuat Mika sudah ketar-ketir. Takut dirinya akan terlambat untuk sampai di kantor.


"Kenapa wajah kamu berkeringat Mika?" Tiana menatap bingung sahabatnya itu. Bahkan nafas gadis itu sedikit ngos-ngosan.

__ADS_1


"Aku takut telat Tia, makanya aku langsung lari kesini," jawab Mika menetralkan nafasnya agar kembali seperti semula.


"Masih lama kok Mika, sepuluh menit lagi," ujar Tiana membuat Mika menghela nafas panjang. Bersyukur dia tidak telat, jika saja itu terjadi dia pasti akan di tegur oleh kepala devisi yang sangat cerewet.




"Mika makan di cafe bawah yuk? Sudah lama kita nggak ke sana," ajak Tiana.



"Iya Mika, sudah lama rasanya kita tidak makan di sana. Kalau tidak salah kakak 3 minggu yang lalu," tambah Yuda.



"Emmm, baiklah. Aku juga sudah rindu nasi goreng disana," jawab Mika menyetujui ucapan Tiana dan Yuda.



Sambil menunggu makanan mereka, dua pasang orang itu tampak bercengkerama dengan santainya. Bahkan Mika yang berbicara dengan Yanda sesekali tertawa Bahkan tersenyum manis.



"Kemaren kamu kemana Tia?" Mika menatap Mika di sebrangnnya.




"Wahhh, kok nggak ngajak-ngajak aku sih Tia? Kan aku juga pengen ikut kalian. Oh ya kalian pergi kemana saja kemaren?"



"Puncak Mika. Besok-besok kita kesana ya Mika soalnya di sana bagus banget pemandangan. Tunggu, aku lihat kan sama kamu Mika, kebetulan kemaren aku mengambil fotonya," Tiana meronggoh saku roknya untuk mengambil gawainya. Memperlihatkan kepada Mika betapa indahnya pemandangan dari puncak tersebut.



"Kamu bener banget Tia, aku juga mau kesana besok-besok deh. Seperti sangat seru." ujar Mika bersemangat.



"Bukan seru lagi Mika, tapi menang sangat bagus pemandangan di sana. Bahkan rasanya aku tidak mau pulang kemaren, ya kak Kak?" Tiana menatap Yuda, kekasihnya.

__ADS_1



"Iya bener banget Mika, kemaren saja Kakak harus bujuk-bujuk Tia seperti anak kecil dulu agar Tiana mau pulang. Bahkan dia bersikeras tidak mau pulang kemaren," ungkap Yuda.



"Isss Kakak kok buka aib aku sih," rajuknya dengan memanyunkan bibirnya.



"Ya kan kamu tadi nanya Tia, lagian apa salahnya kakak jawab jujur?" Yuda menaik-turunkan alisnya.



"Ya harusnya Kakak tidak usah ngomong semuanya juga kali."



"Kalian kenapa jadi bertengkar gini sih, lihat orang-orang pada ngelihat ke arah kita loh," Mika mengingatkan sepasang kekasih yang sepertinya di mabuk asmara.



Saat Tiana ingin membalas, seorang waiters datang dengan membawa pesanan mereka. Tak ada lagi yang berbicara saat mereka menyantap nasi goreng. Hingga mereka selesai dengan makanan mereka. Bahkan segelas teh es pun sudah mereka habiskan.



Sedangkan di sudut ruangan sana, Ali tengah menatap Mika yang kini tampak bercengkrama dengan Yanda. Sedangkan Tiana dengan Yuda. Tangan laki-laki itu terkepal dengan kuat menyaksikan gadis yang sudah masuk ke dalam hatinya ntah sejak kapan itu tersenyum dengan bahagianya. Ali semakin kebakaran jenggot melihat itu. Laki-laki itu memilih untuk berdiri melangkah dengan tergesa-gesa menuju Mika.



"Abang kenapa sih?" Ali mencekal tangan Mika degan sekitar kuat. Menarik gadis itu agar berdiri dari duduknya.



"Lepasin Bang," Ali tak mengindahkan ucapan Mika. bahkan Ali tak menghiraukan beberapa pengunjung yang menatap mereka dengan penuh tanya.



"Tia pinjam uang kamu buat bayar makanan aku ya, nanti di kantor aku bayar," ucap Mika saat sudah berada beberapa langkah dari Tiana. Tiana hanya mengangguk mendengar ucapan Mika.



Yanda yang hendak mengikutinya Mika ditahan Tiana. Gadis itu menggeleng agar Yanda tak ikut campur urusan mereka.

__ADS_1



TBC


__ADS_2