
Setelah dirasa puas memeluk wanita itu, Ali melepaskan dekapannya. Menatap Bundanya dengan tatapan penuh kasih sayang.
"Bunda boleh aku nanya sesuatu?" tanya Ali.
Yumna mengangguk. "Mau nanya apa Nak?" tanya Yumna kepada putranya.
"Jika suatu saat Ayah ngajakin aku buat nginap di rumahnya apa Bunda akan ngebolehin?" tanya Ali dengan hati-hati.
Yumna terdiam mendengar ucapan sang putra. Ada rasa tidak rela dalam dirinya jika hari itu terjadi. Tapi, tidak akan mungkin Yumna melarang sang putra untuk menginap di rumah ayahnya. Yumna tau pasti sang putra ingin ngerasain gimana rasanya dipeluk oleh seorang ayah. Selama hidupnya tak pernah sekalipun Ali ngerasain kasih saya seorang ayah, melainkan hanya kasih sayang seorang ibu yang merangkap sekaligus ayah.
"Iya boleh Sayang, jika kamu memang menginginkannya. Bunda tidak akan melarang kamu, Sayang." jawab Yumna kepada sang putra yang kini tengah menatap dirinya dengan pandangan lembut.
"Terimakasih Bunda," jawab Ali dengan senyum manisnya.
Meski masih ada rasa sakit yang ditorehkan dari keluarga sang ayah, bukan berarti dirinya akan membenci mereka. Karena bundanya dia bisa memaafkan mereka, karena bundanya yang mengajarkan tentang sebuah kesabaran. Percayalah dia bisa mengucapkan kata maaf, namun tidak akan pernah hilang dari ingatannya apa yang pernah ditorehkan dari mulut yang penuh bisa.
Jika bisa menuruti egonya, Ali bisa saja membenci mereka sangat dalam. Bahkan bisa saja dia tidak akan mau menampakkan dirinya lagi di kota ini. Dia pasti akan gampang mengajak sang bunda untuk kembali ke kampung halamannya dan akan kuliah di kampus yang tak kalah terkenal di kampung halaman sang bunda.
***
Reyhan tengah mengajar di kelasnya. Mengajari semua anak didiknya seperti biasa dia lakukan. Apapun masalah yang terjadi dirumah tak pernah sekalipun laki-laki itu membawanya ke sekolah. Reyhan bisa dikatakan guru yang profesional dalam mengajar.
"Sampai disini pelajaran kita hari ini, sampai jumpa di waktu berikutnya," Reyhan mengakhiri pembelajaran dikelas yang dia ajar. Bel pulang sudah terdengar di indra pendengarnya, bukan hanya dia tapi juga seluruh siswa.
Reyhan meninggalkan kelas setelah mengucapkan kata pamitannya barusan. Melangkah menuju ruang guru yang mana di sana terletak tas yang biasa dia bawa untuk mengajar. Jangan lupakan laptop yang berada di dalam tas kebanggaannya tersebut.
Sampai di kantor guru, Reyhan langsung menuju mejanya. Menyimpan buku yang dia bawa ke dalam lemari yang berada di meja tersebut. Selanjutnya merapikan mejanya hingga terlihat tapi tak ada yang berserakan. Merasa tidak akan ada pengumuman atau semacamnya Reyhan menyandang tas punggung itu ke punggungnya.
Melangkah meninggalkan kantor guru menuju motornya yang terparkir di tempat parkir guru. Menghidupkan mesin motornya untuk dia naiki dan melajukan menuju rumahnya.
"Mau kemana Bu?" tanya Reyhan ramah saat melihat seorang guru berada di tepi jalan raya yang berada di dekat sekolah tempat dia mengajar. Guru wanita yang mengajar di tempat yang sama dengan dirinya. Reyhan menghentikan motornya di samping wanita itu saat melihatnya celingukan melihat ojek atau mungkin angkot. Yang jelas Reyhan tidak tau akan hal itu.
"Ehhh Pak Rey, ini lagi nungguin ojek, tapi nggak juga terlihat," jawabnya dengan sopan.
"Mau kemana emang Bu?" tanya Reyhan dengan ramah.
__ADS_1
"Mau ke pasar depan Pak," balasnya.
"Yasudah sama saya saja, lagian saya juga lewat sana. Kalau nunggu disini bisa lama Bu," tawar Reyhan yang emang tak terlihat satupun ojek yang lewat disana.
"Apa tidak merepotkan Pak?" Guru wanita itu tampak engan serta segan kepada Reyhan.
"Ahhh tidak kok Bu, lagian juga saya lewat sana pulang ke rumah," balas Reyhan kepada Guru wanita tersebut.
"Yaudah Pak," balasnya. Wanita itu menaiki motor Reyhan.
Setalah dirasa Guru wanita itu duduk dengan benar, Reyhan langsung melajukan motornya. Tak lama akhirnya mereka sampai di pasar yang tak jauh dari sekolah tempatnya mengajar.
"Terimakasih Pak," balas guru wanita itu setelah turun dari motor Reyhan.
"Sama-sama Bu, mari," Jawa Reyhan.
Reyhan kembali melajukan motornya dengan santai. Hari ini Reyhan ingin lewat ke rumah Yumna sebelum pulang ke rumahnya. Dia ingin melihat anak laki-lakinya. Rasa rindu membuat laki-laki paruh baya itu menjalankan motornya ke tempat yang dia inginkan.
Mata tegas itu melihat seorang pemuda yang tengah duduk makan sate di pinggir jalan. Mata Reyhan menyipitkan melihat siapa gerangan pemuda itu. Saat dirasa jika itu anak laki-lakinya, Reyhan menghentikan motornya di dekat gerobak sate. Memarkirkan motornya tepat di samping motor pemuda itu.
Reyhan melangkah menuju anak lelakinya yang tengah menyantapnya sate. Sepertinya dia juga baru tiba di sini.
"Boleh Ayah duduk di sini Nak?" tanya Reyhan yang membuat pemuda itu menatap sumber suara.
Tanpa menjawab Ali mengeser tempat duduknya yang alias laki-laki yang ada di dekat boleh duduk disana.
Melihat apa yang dilakukan anaknya langsung saja Reyhan mendudukkan pantatnya tepat di samping Ali. Kebetulan di tempat sate ini bukan kursi plastik yang hanya muat satu orang. Melainkan kursi kayu panjang yang bisa memuat empat atau lima orang.
Tak lama menunggu akhirnya pesanan Reyhan datang juga. Sate setengah di tambah tiga tusuk daging yang sepertinya itu daging sapi.
"Terimakasih Mas," ujar Reyhan kepada sang pedangang. Lagi-lagi pedagang tersebut hanya mengangguk saja tanpa mengeluarkan kata-kata. Mungkin saja Mas penjualnya sedang sariawan, makanya susah untuk berbicara.
Reyhan mencoba sate yang baru saja sampai di depannya. Menyantap dengan nikmat sate yang sangat pas di lidahnya. Bahkan terasa sangat enak. Bumbu yang pas tanpa ada yang kurang satupun. Besok-besok mungkin dia akan membelikan untuk sang putri jika dia menginginkan sate.
"Nak boleh Ayah mengatakan sesuatu?" Reyhan menatap pemuda yang masih asik memakan sate di atas meja di depannya.
__ADS_1
Ali dengan segera mengunyah ketupat yang ada di dalam mulutnya, menelan dengan segera sebelum sesuatu ke luar dari mulutnya untuk menjawab ucapan laki-laki paruh baya di sampingnya.
"Habiskan dulu satenya Pak, setelah itu baru bicara," jawab Ali diangguki Reyhan.
Meminum dua gelas air putih untuk menghilangkan rasa pedas serta rasa haus yang menyerang Reyhan. Sedangkan pemuda yang di sampingnya sudah dari tadi menghabiskan satenya.
"Boleh Ayah ngomong sebentar dengan kamu, Nak?" tanya Reyhan hati-hati. Jauh di dalam hatinya dia takut kejadian waktu itu terjadi lagi. Penolakan itu masih saja menghantui Reyhan hingga kini. Tapi sebisa mungkin Reyhan menahan rasa takut itu. Membayangkan jika kali ini anaknya mau mendengar apa yang mau dia bicarakan. Itu harapan Reyhan untuk saat ini. Mau berbicara dengan dirinya saja Reyhan sudah merasa sangat senang.
"Boleh, mau ngomong apa?" tanya Ali dengan santai. Sebenarnya dia rindu dengan sosok di sampingnya ini. Rindu bagaimana rasanya dekapan laki-laki ini. Intinya sangat rindu semuanya akan sosok seorang ayah. Namun itu semua Ali tahan. Meyakinkan bahwa kasih sayang yang bundanya curahkan selamat ini sudah lebih dari cukup. Tapi, meski bagaimanapun nyatanya dia tetap saja merindukan kasih sayang serang ayah.
"Maaf jika selama ini Ayah tidak tau keberadaan kamu. Mungkin kesalahan Ayah emang sudah sangat fatal kepada bunda kamu, Nak. Ayah minta maaf jika menyakiti hati bunda kamu dan juga hati kamu, Nak." Reyhan menatap putranya dengan mata penuh dengan embun yang hampir saja jatuh. Dadanya kembali berdetak sangat kencang, mengingat kini anaknya sudah tumbuh besar yang baru dia ketahui dua tahun lalu.
Menyesal? iya Reyhan menyesal karena tidak mengetahui keberadaan putranya selama delapan belas tahun belakangan. Hanya dua tahun ini dia bisa melihat sang putra, itupun dengan cara jarak jauh.
"Bahkan ayah tidak tau nama kamu, Nak. Betapa bodohnya ayah selama ini. Nama darah daging ayah saja ayah tidak mengetahuinya," Air mata yang berusaha Reyhan tahan akhrinya jatuh juga membanjiri pipinya.
Reyhan tidak merasa malu jika menangis ditepi jalan seperti ini. Mereka tidak tau masalah yang dihadapi Reyhan. Terserah mereka mau berkata apa, yang jelas Reyhan mau anaknya memaafkan dirinya. Memaafkan kesalahan yang selama ini dia punya.
"Nama saya Ali, Pak," balas Ali menyebutkan namanya kepada laki-laki yang tengah menitikkan air matanya itu.
"Ali maafkan kesalahan ayah selama ini Nak. Maaf," Reyhan mengatupkan kedua tangannya di depan Ali. Berharap sang putra memberinya kata maaf meski itu sangat mustahil bagi Reyhan.
Ali menatap ayahnya dengan pandangan haru, sedih, marah intinya semuanya bercampur menjadi satu. Kembali lagi tergiang-ngiang dalam benaknya nasehat sang bunda. Menarik nafas dalam, Ali menetralkan detak jantungnya yang terpompa semakin cepat.
"Saya sudah memaafkan Bapak sebelum Bapak minta maaf sama saya?" jawab Ali. Berat rasanya, namun ingatkan lagi ucapan sang bunda yang membuat Ali dengan begitu mudah memaafkan laki-laki itu.
Reyhan menegakkan kepalanya yang semula menundukkan. Rasa haru semakin menyeruak dalam dada laki-laki paruh baya itu. Anaknya dengan mudah memaafkan dirinya. Benarkah, ini semua tidak mimpi. Reyhan mencubit lengannya sedikit keras yang membuat dia kesakitan, berarti ini nyata bukan mimpi. Dengan segera Reyhan mengusap air matanya dengan ke-dua tangannya.
"Benarkah kah, Nak? benarkah kamu sudah memaafkan Ayah?" tanah Ali antusias.
Aku mengangguk. "Iya, ini semua karena Bunda. Bunda yang sudah mengajarkan saya jangan sampai membenci siapapun meski mereka terus saja memberi ujian kepada kami," balas Ali.
Reyhan terharu mendengar ucapan putranya. Mantan istrinya memang wanita baik, wanita penuh kesabaran. Ya, Reyhan tak menampik itu semua. Memang itulah nyatanya mantan istrinya itu.
TBC
__ADS_1