Diceraikan

Diceraikan
SEASON 2 Es Krim


__ADS_3

Mika tengah berkutat dengan laptop di depannya. Akhir-akhir ini banyak tugas yang dibuat gadis itu. Tak ada waktu untuk bermain-main selain dengan jari-jari lentiknya yang bermain dengan keyboard laptop. Sesekali Mika meregangkan tangannya guna melepas rasa lelah yang mendera.


Di samping itu ada segelas es teh serta satu toples keripik pisang. Keripik yang disediakan Yumna untuk dirinya karena, wanita tahu jika Mika tengan mengerjakan tugas kuliahnya.


"Ahhh, lelahnya." Mika meregangkan tangannya ke atas. Melangkah menuju kamar mandi karena panggilan alam.


"Kakak Mimi lagi apa?" Saat keluar dari kamar mandi Aileen, gadis kecil itu masuk ke dalam kamar Mika.


"Kakak habis pipis Ai, ada apa hmm?" Mika menghampiri Aileen yang duduk di atas ranjangnya.


"Ai pengen main sama Kakak Mimi. Sudah lama kita tidak main. Ai bosan main sama Azlan atau Abang Al," Rajuknya sambil melipat kedua tangannya didada. Belagak seperti orang dewasa.


"Emang Ai mau main kemana? Tugas kuliah Kakak masih banyak Ai,"


"Main di halaman belakang juga nggak apa-apa Kakak Mimi sambil mam es krim." Aileen berujar dengan mata berbinar saat mengatakan es krim. Es kesukaan gadis itu.


"Hmm, baiklah Ai. Azlan mana?" Mika menyetujui ajakan Aileen. Lagian sudah lama rasanya gadis itu tak mengajak Aileen main. Kira-kira setelah mengatakan cintanya pada Ali 2 bulan yang lalu. Semenjak itu Mika jarang tidur di rumah Yumna Mika lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah Tiana. Bukan mau menghindar terus, hanya saja tugas kuliah yang dikerjakan berkelompok membuat Mika memutuskan di rumah Tiana, sahabat baiknya.


"Kakak Mimi serius?" Gadis itu tampak berbinar mendengar ucapan Mika.


Mika mengangguk. "Iya, ayo kita main sebentar. Nanti kakak masih mau nyambung buat tugas. Soalnya tugas kakak banyak Ai," Mika menarik lembut tangan gadis kecil itu. Mengajaknya menuruni tangga dengan berpegangan.


Mika mengambil tiga kotak es krim di dalam kulkas. Membawanya ke halaman belakang dengan hati gembira. Tak lupa mereka juga mengajak Azlan yang tadi tengah di pangku Yumna di ruang tamu.


"Ai mau rasa apa? Stroberi, coklat atau vanila?" Mika menyusun ketiga kotak es krim itu di atas bangku yang akan mereka duduki.


"Ai mau stroberi Kakak Mimi," Aileen antusias saat menerima es krim yang diberikan Mika.


Mika memberikan rasa vanila untuk Azlan dan untuk dirinya rasa coklat. Ke-tiga anak manusia itu menikmati sensasi dingin yang di ciptakan dari es krim itu. Sangat manis dan nikmat. Apalagi cuaca hari ini sangat panas, menambah kesan sejuk bagi mereka. Angin sepoi-sepoi yang menerjang rambut Aileen yang panjangnya hingga tulang rusuk. Sedangkan rambut Mika hanya sebatas bahu karena beberapa hari lalu di potongnya.


"Kakak Mimi, enak!" Aileen menyodorkan es krim yang dimakannya kepada Mika.


"Iya Ai, punya kakak juga enak. Gih lanjut makannya nanti kalau sudah cair nggak enak."


"Baik Kakak Mimi,"


"Enak Az?" Mika beralih menatap bocah laki-laki yang duduk di sisi kirinya.


"Nak Tatak Mi," jawabnya dengan mulut yang berlepotan. Azlan memang belum bisa berbicara lancar. Karena bocah itu dulu cepat bisa duduk dan berjalan. Sedangkan berbicara agak lambat dari Aileen atau Ali. Itupun Mika tahu dari Yumna saat mereka tengah duduk santai di teras rumah waktu itu.


"Kakak punya Ai sudah habis. Ai mau main dulu sama Azlan ya Kakak Mimi. Kakak jangan pergi tunggu kami disini sampai selesai main ya?" pinta Aileen yang diangguki Mimi.


Gadis itu melanjutkan makan es krimnya yang masih tinggal seperempat. Melihat aktivasi ke-dua bocah kecil itu dari jarak yang tak terlalu jauh.




"Boleh Abang duduk Dek?" Mika tersentak karena kehadiran Ali yang tiba-tiba.



"Boleh, duduklah Bang. Lagian kursinya juga masih kosong." balas Mika. "Abang mau?" Mika menyodorkan es krim yang dimakannya kepada Ali.



"Nggak Dek, makanlah." jawab Ali yang sedang memperhatikan ke-dua adiknya. "Kapan kamu pulang Dek?" tanya Ali. Beberapa hari ini Ali tak melihat keberadaan Mika, lantaran gadis itu menginap di rumah sahabatnya.

__ADS_1



"Tadi jam 10an Bang, kenapa?" Mika melirik sekilas laki-laki yang masih dicintainya itu. Namun, dia tak lagi memperlihatkan raut sedihnya karena, berusaha tetap kuat meski dalam kesendiriannya tetaplah rapuh. Benar-benar move on itu tidaklah gampang tapi, memperlihatkan jika diri kita itu kuat dan tak rapuh adalah suatu nilai pluss.



"Ya beberapa hari ini Abang nggak lihat kamu, Dek. Biasanya pasti selalu sarapan pagi."



"Oh gitu ya Bang, soalnya sekarang aku banyak tugas kuliah Bang. Apalagi banyak juga tugas kelompok yang otomatis akan di kerjakan di rumah Tiana," ujar Mika menatap lurus ke arah Aileen dan Azlan yang tengah bermain.



Ali hanya mengangguk mendengar ucapan Mika. Beginilah hubungan mereka semenjak Mika menyatakan perasaannya. Terkadang terasa hangat dan juga dingin. Jujur saja Ali maupun Mika rindu suasana waktu itu namun, kini itu semua sudah berubah. Tak ada lagi keakraban yang terjalin erat seperti beberapa bulan lalu. Banyak canggung yang dialami sepasang manusia itu. Apalagi semenjak Ali membawa kekasihnya ke rumah untuk dikenalkan kepada Andi dan Yumna.



Flashback on



"Assalamu'alaikum Bunda, Abi," Ali memasuki rumah dengan membawa seorang gadis yang mungkin saja jaraknya tak jauh dari Ali. Kira-kira 2 tahun di bawah Ali.



"Wa'alaikumsalam," jawab mereka yang berada di ruang tamu itu menoleh kepada Ali dan melihat kepada ga dia yang di bawa Ali dengan bingung.




Beberapa kali pikiran Mika mengatakan jika itulah gadis yang di sukai Ali. Gadis yang bisa membuat laki-laki itu jatuh cinta.



"Ini Yola, kekasih aku, Bun, Bi," Ali memperkenalkan Yola kepada ke-dua orang-tuanya.



Deg...


Benar saja apa yang dipikirkan Mika, jika gadis cantik itu kekasih Ali. Kekasih yang bisa menarik hati Ali. Sedih, kecewa dan marah itulah yang dirasakan Mika saat ini. Sekuat tenaga Mika menahan tangisnya, tak mungkin dia akan pergi dari sana. Jelas saja Ali akan berfikir dia gadis lemah yang tak kuat melihat dia membawa gadis pujaan hatinya. Demi egonya yang harus di junjung tinggi, Mika menahan dirinya duduk di samping Aileen.



"Oh gitu Al. Tumben bawa anak gadis orang ke rumah? Biasanya juga nggak pernah tuh? Bunda paksa pun kamu nggak mau bawa malah." Ledek Yumna tersenyum kepada putranya.



"Heheh nggak apa-apa Bun, lagian sekarang Yola nggak sibuk jadi, bisa aku bawa kesini. Lagian biasanya aku juga sibuk di rumah sakit Bun gimana cara bawa Yola kesini,"



Yumna hanya menganggukkan kepalanya. "Sudah kerja apa masih kuliah, Nak?" Yumna beralih ke arah Yola.


__ADS_1


"Silahkan Non," Mbok datang dengan membawa jus untuk Yola.



"Iya Bi," Yola tersenyum lembut kepada wanita tua itu. "Sudah kerja Tan," jawab Yola.



"Kerja apa?" Kini bukan lagi Yumna yang menanya melainkan Andi.



"Guru SLB, Om," Yola tersenyum manis kepada Andi. Agak canggung di rasakan Yola karena, baru kali ini menginjakkan kakinya di rumah orang-tua Ali.



Andi mengangguk. "Sudah berapa lama Al?"



"Satu tahun Bi," jawab Ali yang mengerti kemana arah ucapan Andi.



Lagi Andi mengangguk. "Kapan akan di resmikan?"



Remuk sudah hati Mika saat mendengar Andi mengatakan kapan hubungan Ali dan Yola akan di resmikan yang otomatis itu adalah hubungan pernikahan.



"In sya Allah secepatnya Bi, do'akan ya," pinta Ali menampilkan senyumnya.



"Iya Nak, Abi pasti akan selalu mendo'akan yang terbaik buat kamu. Jangan terlalu lama karena, itu tidak baik."



"Baik Bi,"



"Tante, Om, aku ke kamar dulu ya. Soalnya masih ada tugas yang mau aku kerjakan," pamit Mika yang sudah tak tahan.



"Iya Sayang," jawab Yumna dengan tersenyum.



Mika meninggalkan ruang tamu. Tak ingin lagi mendengar apapun yang akan mereka bicarakan. Dadanya terasa sakit, telinganya terasa panas mendengar lontaran kata-kata yang di keluarkan Ali. Pergi, salah satu cara terbaik untuk menjaga hatinya yang masih rapuh dan patah.



TBC

__ADS_1


__ADS_2