
Setelah makan malam Ali langsung menuju kamarnya untuk melanjutkan tugas kuliahnya yang memang masih tinggal seperempat lagi. Malam kemaren sudah diselesaikan Ali sebagian. Karena tugas itu akan di kumpulkan satu hari lagi, maka dari itu Ali akan melanjutkan sekarang.
Untung saja tugas untuk besok tidak ada. Dari pada menyelesaikan tugas yang tertinggal besok malam, Ali lebih memilih untuk menyudahi malam ini. Jadi besok malam jika tidak ada tugas dari kampus, bisa untuk istirahat bagi Ali dari tugas kuliah.
Sekitar satu jam-an akhirnya tugas yang dikerjakan Ali selesai. Karena panggilan alam Ali melangkah dengan cepat menuju kamar mandi yang memang disediakan disetiap kamar rumah itu. Meninggalkan pekerjaan kuliahnya yang masih berserakan diatas meja belajar yang dibelikan Reyhan sejak awal dia tinggal di rumah itu.
Selesai dengan panggilan alamnya, Ali kembali ke meja dimana peralatan kuliahnya masih tampak berserakan. Merapikan satu-persatu ke dalam tas kuliahnya. Sebelum itu Ali mengeluarkan baju yang akan dia pakai besok untuk pergi ke kampus. Meletakkan baju tersebut diatas meja nakas. Tak mungkin Ali meletakkan di dalam lemari yang ada di kamar tersebut, lantaran lemari itu penuh dengan pakaian yang mungkin saja tak terpakai lagi. Maka dari itu Ali lebih memilih meletakkan bajunya di atas nakas. Jika di letakkan di dalam lemari, yang ada bau lemari itu akan hinggap pada bajunya.
***
Yumna kini tengah duduk di dalam kamarnya dengan gelisah. Perasaannya tiba-tiba saja tidak enak. Pikirannya terus saja kepada sang putra yang kini berada di rumah mantan suaminya. Yumna berdiri dari duduknya mengambil handphone yang tadi dia letakkan di atas meja rias. Mencari kontak anaknya lalu menekan ikon telepon tanda ingin menghubungi sang putra.
Lama menunggu akhirnya, panggilan di sebrang sana terjawab juga. ("Assalamu'alaikum Sayang,") Yumna langsung saja mengucapkan salam saat panggilannya sudah terhubung.
("Wa'alaikumsalam Bunda,") Terdengar dengan jelas di pendengaran Yumna jika anak laki-laki sudah menjawab salamnya.
("Kamu baik-baik saja bukan, Sayang?") tanya Yumna dengan nada khawatir.
("Iya Bunda, aku baik-baik saja. Emang ada apa Bunda?") tanya Ali di sebrang sana. Jelas terdengar jika suara Bundanya terdengar khawatir. Seakan-akan akan terjadi sesuatu kepada dirinya.
("Perasaan bunda tidak enak dari tadi Sayang. Rasanya sangat khawatir dengan kamu, Nak. Beneran kamu baik-baik saja Sayang?") tanya Yumna yang masih gelisah memikirkan anak semata wayangnya.
("Bunda, aku baik-baik saja kok. Bunda nggak usah khawatir. Do'ain saja aku disini baik-baik saja ya Bunda.") Ali meyakinkan kepada sang Bunda jika dirinya memang baik-baik saja.
("Bunda akan selalu mendo'akan tayang terbaik buat kamu, Sayang. Tapi sekarang perasaan Bunda sungguh tengah khawatir, takut akan terjadi sesuatu sama kamu, Sayang,") Yumna sungguh sangat khawatir dengan anaknya saat ini. Karena Yumna yakin firasat seorang ibu tidak akan pernah salah. Seperti akan terjadi sesuatu yang besar kepada anaknya.
("Bunda, aku baik-baik saja. Bunda nggak usah cemas. Bunda dengar kan jika saat ini kita tengah berbicara, berarti aku sungguh baik-baik saja Bun,") Ali terus menenangkan sang Bunda jika dirinya menang baik-baik saja. Tidak ada terjadi sesuatu kepada dirinya.
__ADS_1
("Iya Sayang, nanti jika terjadi sesuatu jangan lupa kabari Bunda ya. Kamu baik-baik di sana Sayang. Bunda tutup dulu ya, assalamualaikum Sayang,") Hati Yumna sungguh tidak tenang sedikitpun. Bahkan wanita itu tengah mondar-mandir di dalam kamarnya. Seperti cacing kepanasan. Kakinya tidak mau berhenti untuk berjalan kesana-kemari. Rasa cemas yang sangat menghantui dirinya.
("Iya Bunda. Wa'alaikumsalam,") balas Ali di sebrang sana.
Setelah mendengar jawaban salam dari sang putra. Yumna langsung saja mematikan teleponnya. Meletakkan kembali telepon tersebut di atas meja nakas samping tempat tidurnya. Jika saja nanti anaknya menelpon, jadi Yumna tidak perlu mengambil benda pipih itu ke meja rias. Karena ada di atas nakas yang mana di samping tempat tidurnya. Jadi memudahkan Yumna nantinya.
Yumna terus saja beristighfar di dalam hatinya. Meminta kepada sang Kuasa untuk kebaikan putranya. Berharap apa yang tengah dia cemaskan saat ini tidak akan terjadi. Cukup hanya rasa gelisah yang tak seharusnya dia pikirkan.
Sekian menit kemudian, akhirnya Yumna memilih menidurkan tubuhnya di atas ranjang. Memejamkan matanya agar segera masuk ke alam mimpi. Berusaha mengenyahkan sebuah rasa yang membuat Yumna terus saja kepikiran.
Rasa haus membaut Ali mengambil gelas yang biasa digunakan untuk mengambil air di dapur. Kebetulan Ali tidur di lantai dua. Yang artinya rumah Reyhan bertingkat. Dilantai dua terdapat tiga kamar, satu yang dihuni Ali, di samping kamarnya kamar Reyhan serta istrinya dan diujung sana kamar putri, Reyhan yang tak lain Reni. Meski gadis itu menggunakan kursi roda, namun ada semacam besi yang tempelkan di tangga yang akan membawa kursi roda tersebut sampai ke atas. Jadi ada tombol yang bisa di tekan untuk membawa kursi roda itu untuk sampai pada lantai atas.
Ali juga lupa untuk membawa air ke dalam kamarnya sehabis makan malam tadi. Maka dari itu sekarang pemuda itu akan pergi ke dapur untuk mengambil air. Ali memang suka minum pada malam hari, apalagi saat akan tidur. Seperti sebuah kebiasaan yang memang sudah tidak akan bisa lagi dihentikan.
Saat hampir sampai di ujung tangga gelas yang Ali pegang dengan otomatis terjatuh dari tangannya. Pecah berkeping-keping tanpa ada satu sisi pun yang utuh.
"ALI APA YANG KAMU LAKUKAN?!!" Reyhan tampak menatap Ali dengan mata memerah. Bahkan tatapannya tampak sangat tajam kepada pemuda itu. Marah, ya laki-laki itu marah kepada anaknya tanpa bukti yang jelas. Bahkan nampak dimata itu ujaran kebencian kepada sang anak.
__ADS_1
"Nenek," Kata-katanya seakan-akan tertelan dengan ucapan keras sang ayah di bawah sana. Reyhan sepertinya habis satu dapur.
Dengan segera Ali menuruni tangga mengejar sang nenek yang sudah berguling-guling dianak tangga. Jangan lupakan darah sudah merembes dari kepala wanita tua itu. Sampai akhirnya Rena berguling hingga pada lantai dasar dengan genangan darah di kepalanya.
"JANGAN SENTUH IBU SAYA!! " bentak Reyhan saat Ali yang akan memegang Rena hendak membatu wanita tua tersebut.
"Ta--tapi--"
"SAYA BILANG JANGAN SENTUH IBU SAYA!!! APA KAU TIDAK MENDENGAR APA YANG SAYA KATAKAN!!" Lagi-lagi bentakan itu keluar dengan mulus dari mulut Reyhan. Padahal laki-laki itu tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Yang jelas dia mengira jika sang ibu jatuh dari tangga karena anak laki-lakinya itu. Sangat jelas jika saat itu sang ibu berguling di tangga dan sang putra berdiri mematung di lantai atas. Bahkan gelas yang dia pegangnya sampai terjatuh karena kaget mendengar teriakan Reyhan. Maka dari itu Reyhan sangat yakin jika Ibunya di dorong Ali hingga jatuh. Intinya Ali yang mencelakai ibunya.
"Ke-kenapa aa-aku tidak boleh membantne--"
"KENAPA? KAU BILANG KENAPA!! TIDAK KAH KAU MELIHAT IBU SAYA TERJATUH ITU KARENA KAU. KAU, YANG MENCELAKAI IBU SAYA. DAN SEKARANG SEENAKNYA KAU BILANG KENAPA, HAAA?!!" Lagi-lagi perkataan Ali terpotong dengan ucapan sarkas sang ayah. "KAU TAU, DIA WANITA YANG SANGAT SAYA JAGA SELAMA INI, WANITA YANG SANGAT SAYA LINDUNGI SUPAYA TIDAK TERJADI SESUATU KEPADANYA. TAPI SEMENJAK KAU ADA DISINI, IBU SAYA CELAKA KARENA TANGAN KOTOR KAU ITU. BAHAN ANAK GADIS SAYA PUN MALAH MENJAUH JUGA LANTARAN ITU JUGA KARENA KAU. SEMUA KARENA ULAH KAU!!" Reyhan berteriak kepada Ali. Sorot mantanya pun tampak memerah bahkan sarat kebencian terlihat jelas disana.
__ADS_1
TBC