
Ali menatap sang Bunda yang hanya terdiam mendengar penjelasannya. "Andaikan ucapan aku benar, dan suatu hari Om itu akan ngelamar Bunda aku tidak masalah. Kebahagiaan Bunda yang pertamanya bagi aku. Lagian cukup selama ini Bunda sendirian, dan aku cukup tau pasti Bunda menginginkan seorang pendamping yang akan menemani hari tua Bunda nantinya."
Yumna terdiam mendengar penjelasan anaknya. Yumna sadar apa yang dikatakan anaknya memang suatu kebenaran. Selama ini dia menahan keinginan untuk tidak lagi menikah. Ali, Ali alasan utama Yumna tidak menikah hingga kini. Namun nyatanya anak itu sudah beranjak dewasa, yang akan tau apa yang dia rasakan selama ini.
Lebih kurang dua puluh satu tahun, itu bukan waktu yang sebentar untuk dirinya menjadi seorang janda. Berat, bahkan sangat berat rasanya. Tapi demi Ali, Yumna sanggup menahan keinginan itu. Seringkali Yumna menepis keinginan untuk menikah dan membuka hati untuk laki-laki lain. Bahkan sering sekali laki-laki ingin meminang Yumna saat dia masih berada di kampung halamannya dulu. Tetap saja pendirian Yumna pada anaknya.
Dengan menatap netra terang anaknya dengan pandangan sendu. "Tapi Bunda takut, takut jika suatu hari kasih sayang Bunda akan terbagi, Nak," dalih Yumna kepada putranya.
Ali menatap mata Bundanya dengan intens. Mencari apakah itu hanya sebuah alasan agar dirinya tak menikah lagi. Namun yang Ali lihat, netra itu berbohong. Bahkan sang Bunda menatap dirinya dengan pandangan sendu.
"Takut? buat apa Bunda takut. Lagian sekarang aku sudah besar Bun, sudah tau mana yang baik dan mana yang tidak. Aku hanya menginginkan Bunda bahagia. Masalah kasih sayang terbagi, itu sudah pasti Bunda. Tidak akan pernah dalam suatu rumah tangga itu kasih sayangnya akan sama. Untuk suami dan anak itu memiliki kasih sayang yang berbeda. Ali tau itu Bun, meskipun aku belum menikah, tapi sedikit banyaknya aku tau masalah yang berhubungan dengan rumah tangga. Apalagi cinta dan kasih sayang. Bahkan dari anak satu dan anak yang lainnya kadang kala rasa sayang itu juga berbeda Bun. Dilihat dari cara perlakuannya. Meskipun bilangnya kasih saya itu sama nggak ada yang berbeda, namun setiap anak itu pasti berfikir demikian," jelas ali panjang lebar. Berharap Bundanya mau membuka hati serta menerima seseorang yang mau meminang dirinya suatu hari.
__ADS_1
"Tapi bun-"
"Stop!! Bunda nggak usah mikir yang aneh-aneh. Coba Bunda bayangin jika suatu saat aku menikah, aku tidak akan pernah tetap di rumah saja Bun. Bahkan jika aku di beri rezki sama Allah dengan pekerjaan yang berpindah-pindah, tidak mungkin rasanya membawa Bunda kesana-kemari. Meskipun mungkin tidakkah Bunda merasa lelah? itu sudah pasti Bun. Tidak akan mungkin tidak." Ali memotong ucapan Bundanya. Ali tau jika sang bunda pasti akan menolak dengan berbagai cara.
Ali menarik nafas dalam. "dan ya, aku sampai lupa ngomong sama Bunda. Jika suatu saat aku punya uang, pasti aku akan membeli rumah untuk istri dan anak aku. Jika aku bekerja di luar kota. Tapi jika rezkinya aku kerja disini masih bisa aku dan istri serta anak aku tinggal di rumah ini. Meskipun Bunda, ikut aku, apa Bunda tidak akan rindu dengan rumah ini?. Bukannya aku ingin Bunda menyendiri di sini kala aku sudah berumah tangga tidak! tapi aku ingin kebahagiaan bagi Bunda. Jika Bunda sudah tua nanti, masih ada seorang pendamping untuk Bunda bercerita banyak hal. Sedangkan dengan aku, aku sibuk kerja dan mungkin saja kebersamaan kita akan jarang sekali Bun. Coba Bunda fikirkan ucapan aku," Ali menatap dalam sang Bunda. Rasanya dia tak tega melihat Bundanya seorang diri.
Bertahun-tahun menjadi janda bukanlah hal yang mudah. Bahkan tak mungkin Yumna tidak ingin merasakan kehangatan dari seorang suami. Tak mungkin rasanya Yumna tidak rindu bagaimana bercerita dengan suaminya. Bahkan menceritakan segala keluh kesah yang dia rasakan sepanjang hari. Meski ada anak pun, tak mungkin dia akan menceritakan semuanya kepada sang anak. Namanya seorang ibu pasti tak ingin anaknya tau dengan apa yang dia rasakan. Berbeda dengan suami, dia pasti akan senang hati mendengarkan apapun curhatan istrinya.
"Bunda masih trauma dengan kejadian puluhan tahun lalu, Sayang. Bunda takut akan diceritakan seperti dulu. Bunda takut akan--"
Ali meletakkan jari telunjuknya di bibir Yumna. Seketika bibir itu berhenti berucap. Mengatup dan Yumna menatap wajah pemuda tampan yang kini menatap dirinya dengan raut wajah tidak suka.
__ADS_1
"Bunda, nggak semua laki-laki akan melakukan hal yang sama, sama seperti Bunda berumah tangga puluhan tahun lalu. Setiap laki-laki itu memiliki sifat yang berbeda. Bunda nggak usah takut, jika dia memang mencintai Bunda, takut kehilangan Bunda, maka dia akan bertahan apapun yang terjadi. Meski sekalipun Bunda tidak memberinya keturunan, pasti dia akan menerima Bunda dengan ikhlas dan tentunya bersyukur memiliki Bunda. Dia tau jika hanya bersama Bunda bahagia itu ada, dan dia juga pasti akan berfikir dua kali untuk berpisah dari Bunda. Berfikir apakah dia akan menyesal suatu saat atau tidak. Jika dia merasa seorang laki-laki yang bertanggung jawab. Dan jangan lupakan jika dia tau jika Allah sangat membenci dengan yang namanya perceraian. Maka dia tidak akan melakukan itu semua Bun. Percaya sama aku. Hilangkan fikiran yang seharusnya sudah Bunda buang jauh-jauh hari." Ali menatap sang Bunda. Menatap Bundanya dengan lembut, penuh kasih sayang dan cinta.
Yumna kembali terdiam mendengar ucapan putranya. Apa yang dikatakan anaknya memanglah suatu kebenaran. Tak seharusnya dia berfikir jika apa yang pernah dia alami akan terulang untuk kedua kalinya. Harusnya dia percaya dengan takdir Allah, bahkan dalam setiap tangisan kesakitan akan ada tangisan kebahagiaan. Harusnya, ya harusnya Yumna berfikir sampai ke sana.
"Baiklah Sayang, Bunda akan berusaha untuk membuka hati dan menerima jika ada seorang laki-laki yang memang tulus sama Bunda. Laki-laki yang memang menginginkan berumah tangga bareng Bunda, laki-laki yang memang tujuannya untuk sehidup semati bersama bunda," Putus Yumna akhirnya. Melemparkan senyum tulus untuk sang putra. Putranya yang emang peka terhadap dirinya.
Ali tersenyum mendengar jawaban Bundanya. Ya memang inilah yang Ali harapkan dari sang Bunda. Dia ingin Bundanya bahagia. Ali ingin Bundanya ada yang menemani di hari tuanya nanti. Meski kita tidak tau kapan ajal menjemput, namun harapan untuk panjang umur itu pasti akan ada. Bahkan sering kali menginginkan meninggal bareng dengan pasangan masing-masing, agar suatu hari jika salah satu dari kita yang meninggal duluan, maka pasti akan mencari pasangan penganti. Tapi jika meninggal barengan pasti akan bersama diakhirat nanti.
"Iya Bunda, aku berharap Allah cepat memberikan Bunda seorang suami yang tulus sama Bunda, intinya kebahagiaan bagi Bunda," ujar Ali dengan senyum mengembang di bibirnya.
Yumna hanya tersenyum menanggapi ucapan putranya. Putra yang paling dia sayangi, pokoknya putra yang ter-ter.
__ADS_1
TBC