Diceraikan

Diceraikan
SEASON 2 Villa


__ADS_3

Mika dan Ali sudah sampai di rumah dengan hati penuh gembira. Kebahagiaan yang tidak akan pernah bisa mereka rangkai dengan kata-kata.


"Kakak, tadi di sekolah aku dapat nilai bagus loh?" Aileen menghampiri Mika dan Ali yang baru saja tiba. Memperlihatkan nilai yang tertulis di buku putih yang sudah di coret tinta hitam.


Semenjak kepergian Yumna, Aileen lebih banyak dekat dengan Mika yang bisa jadi sosok Yumna dalam hidupnya. Mika yang memiliki sifat yang hampir sama dengan Yumna membuat Aileen begitu bahagia. Tak jarang juga dia akan bertengkar dengan Azlan yang juga ingin bersama dengan Mika.


"Wahhhh, Ai pinter banget. Kakak bangga sama Ai," Mika mengambil buku yang diperlihatkan Mika dengan binar bahagia.


"Terima kasih Kakak," Senyum manis gadis yang berumur kurang lebih 10 tahun itu mengembang dengan sempurna.


"Sama-sama, yuk masuk Ai. Kakak ada kabar bagus untuk kita semua," Aileen melepaskan tangan aku yang memegang tangan Mika. Gadis kecil itu memeluk tangan Mika masuk ke dalam rumah.


"Assalamu'alaikum," ucap Ali dan Mika bersamaan.


"Wa'alaikumsalam," jawab Andi dan Azlan yang berada di ruang tamu.


Ali duduk berdamping dengan Mika dan Aileen. Menatap Andi yang duduk di depan mereka dengan mengernyitkan keningnya melihat anak dan menantunya senyum-senyum tidak jelas.


"Abi, Ai, Az, aku punya kabar bagus untuk kita Semua. Alhmadulillah beberapa bulan lagi aku akan menjadi seorang ayah. Saat ini Mika tengah mengandung anakku, Abi," ucap Ali membuat Andi membuka mulutnya saking senangnya.


"Benarkah Al? Sebentar lagi Abi sudah akan menyandang status seorang kakek?" tanya Andi bahagia.


Ali maupun Mika mengangguk. "Benar Abi, beberapa bulan lagi anak kami akan lahir. Cucu Abi akan hadir di dunia ini," senyum manis tercetak jelas di wajah tua Andi. Kabar ini kabar bahagia yang dia miliki setelah beberapa lama terpuruk karena kehilangan istri tercintanya.


"Alhamdulillah Abi senang Al, berita ini membuat Abi sangat bahagia." ujar Andi dengan tersenyum manis.


"Apa di sini ada dedek bayi Kakak?" Tunjuk Aileen tepat pada perut Mika.


Mika menganggukkan kepalanya. "Iya Ai, beberapa bulan lagi Ai dan Azlan akan jadi Auntie dan Uncle."


"Wahhh benarkah Kakak Mimi?" Azlan beranjak dari duduknya menuju Mika yang tersenyum manis. Mengusir Ali yang berada di samping Mika.


Ali yang di usir adiknya langsung mendelik tidak suka. Begini lah jika mereka berkumpul Ali akan terpisah dari istrinya. Kedua adiknya mendominasi sang istri tanpa boleh dirinya merasakan duduk di samping istrinya. Ingin sekali rasanya Ali mengusir kedua adiknya yang posesif itu, namun dia takut adiknya akan merajuk dan tidak mau lagi berbicara kepadanya seperti satu minggu yang lalu. Sungguh Ali sangat jengkel dengan ke-dua adiknya.


"Iya Azlan, apa kalian senang?" tanya Mika menanyai bergantian kedua adik iparnya.


Keduanya mengangguk serentak. "Iya Kakak, kami bahagia." jawab keduanya sambil tersenyum.


*****


Hari-hari semakin berlalu tak terasa perut Mika kini sudah tampak membuncit. Sesuai dengan kesepakatan dirinya, Tiana dan Yanda mereka akan mengatakan pertemuan di Villa milik istri Yanda. Mereka tidak hanya bertiga namun juga dengan suami serta isteri mereka.


"Wahhhh Abang semakin hari semakin tampan saja." Jujur Mika kepada suaminya yang memakai pakaian santai. Kaos lengan pendek di padukan levis hitam panjang.


"Kamu juga semakin cantik Dek. Semakin Abang sayang sama kamu," ujar Ali mengusap perut buncit istrinya.


"Aku semakin lebar loh Bang, lihatlah beberapa bagian tubuhku sudah semakin membesar dan melebar ke samping. Aku bukan lagi langsing seperti waktu itu." ujarnya merajuk. Menatap kaca besar di depannya yang memperlihatkan tubuh mereka berdua.


"Bagi Abang, kamu tetap cantik kok Dek. Bahkan sekarang kamu tambah mengemaskan dengan perut buncit serta pipi chubby begini." ujar Ali menciumi pipi istrinya dengan gemas.


"Isss, Abang nggak usah bohongi aku untuk membuat aku senang."


"Abang tidak sedang berbohong Dek, tapi Abang bicara jujur." ungkap Ali yang memang jujur.


"Baiklah Bang. Yuk kita berangkat, nanti bisa telat kita sampai di villa."




Mobil yang di bawa Aki akhirnya sampai di depan Vila yang tampak sangat besar. Mereka berdua turun dari mobil menuju pintu masuk villa yang kebetulan sudah terbuka lebar.

__ADS_1



"Assalamu'alaikum," Ali dan Yumna masuk setelah mengucapkan salam


Melihat dua pasang manusia tayang tengah duduk di sofa ruang tamu.



"Wa'alaikumsalam," jawab mereka.



"Maaf kami telat, tadi ada macet di jakan." ucap Mika tak enak hati.



"Tidak apa-apa Mika, lagian kami juga baru sampai." Bukan Tiana yang menjawab melainkan bos di tempat dirinya bekerja.



"Emm, terima kasih Kak Nina," Mika dan Ali langsung duduk di bangku yang masih kosong.






"Sudah berapa bulan ini Mika?" Nina mengelus lembut perut buncit Mika.




"Belum Mika, Kakak belum isi do'ain saja semoga bulan depan kakak sudah isi ya," jawab Nina sendu.



"Aamiin Kak, terus berusaha dan berdo'a Kak. In syaa Allah pasti akan terwujud." Mika menggelus lengan Nina dengan lembut berusaha untuk menguatkan wanita itu.



"Terima kasih Mika,"



"Sama-sama Kak, kalau kamu gimana Tia?" Kini Mika beralih kepada sahabatnya.



"Alhamdulillah aku sudah isi mau makan 2 bulan Mika," Tiana mengusap perutnya yang masih rata dengan senyum mengembang.



"Alhamdulillah Tia, aku ikut senang mendengarnya." Mika mengulas senyum manis.



Mika, Tiana dan Nina kini berada di dapur. Mereka akan merasak makan siang bersama di bantu para suami yang setia mendampingi mereka.

__ADS_1



"Huek!!!! Huek!!!!" Tiana bergegas menuju kamar mandi yang berada di dapur. Karana bau bawang merah membuat Tiana merasa mual yang teramat sangat.



"Sayang apakah kamu tidak apa-apa?" Yogi suami Tiana mengurut tengkuk istrinya dengan lembut. Laki-laki itu sangat cemas dengan keadaan istrinya.



Memang satu bulan belakangan ini istrinya itu akan muntah-muntah jika mencium bau yang menyengat. Contohnya saja bawang merah bahkan parfum yang dia pakai Yogi, Tiana tidak suka dan menyuruh suaminya itu mengganti dengan wangi stroberi.



"Tidak apa-apa Mas, aku baik-baik saja. Kamu tidak usah khawatir." Tiana menenangkan suaminya yang tampak sedih melihat dirinya seperti ini terus.



"Maafkan aku," Yogi memeluk tubuh istrinya dari belakang.



"Tidak apa-apa Mas, ini sudah jadi kewajiban aku sebagai seorang istri yang memberikan keturunan untuk suaminya." Tiana mengulas senyum manis kepada suaminya. "Ya sudah yuk kita keluar Mas, tidak baik meninggalkan mereka lama-lama tanpa kita bantu." ajak Tiana yang diangguki Yogi.



"Kamu baik-baik saja Tiana?" Nina menghampiri Tiana yang baru saja keluar dari kamar mandi bersama suaminya



"Iya aku tidak apa-apa kok Kak,"



"Kamu duduk saja di ruang tamu Tia. Nanti kamu malah muntah lagi karena bau bumbu dapur." pinta Mika.



"Apa tidak apa-apa Mika, Kak? Soalnya aku malah tidak enak karena tidak bisa membantu," lirih Mika tidak enak hati.



"Tidak apa-apa Tiana, jangan dipaksakan jika kamu memang tidak kuat," Tambah Nina.



"Baiklah Kak, semuanya maaf aku nggak bisa bantu. Aku ke ruang tamu dulu," pamit Tiana yang di angguki mereka semua.



TBC



JIKA ADA YANG KELIRU PADA BAB INI TENTANG AILEEN DAN JUGA ADIKNYA YANG SUDAH MENDUDUKI BANGKU SD, KARENA PADA PART SEBELUMYA SAYA SALAH MENGETIK KARENA LUPA BERAPA USIA MEREKA. UNTUNG SAJA ADA DARI SALAH SATU DARI KALIAN YANG MENGINGATKAN SAYA JIKA UMURNYA AILEEN SUDAH MEMASUKINYA UNTUK SEKOLAH SD. DAN JIKA KALIAN SEMUA MASIH SAJA RAGU BISA BACA ULANG BAB SEBELUMNYA TAPI JIKA TIDAK, JUGA APA-APA JIKA TIDAK BACA ULANG KARENA HANYA SEDIKIT SAJA PERUBAHAN PADA BAB ITU.



YOGI? MASIH INGATKAN DENGAN NAMA ITU? NAMA TEMAN SATU KAMPUS DAN SATU JURUSAN DENGAN MIKA DAN TIANA. LAKI-LAKI YANG WAKTU ITU MEMINJAM CATATAN KULIAH KEPALADA MIKA DAN TIANA.


__ADS_1


KADANG JODOH ITU MEMANG SUDAH DI DEPAN MATA HANYA SAJA PERMAINKAN TAKDIR ITU MEMANG INDAH. MEREKA YANG DULU KITA ANGGAP BUKANLAH MENJADI BAGIAN HIDUP DI MASA DEPAN NYATANYA ALLAH JADIKAN PENDAMPING SEUMUR HIDUP.


__ADS_2