Diceraikan

Diceraikan
Duka


__ADS_3

Tubuh Lani mematung dalam seketika. Laki-laki yang sangat dicintainya sudah lempar jauh karena tabrakan dengan mobil yang melaju dengan kencang.


"Mas!!!" Derai air mata Lani menemani dirinya berlari mendekati tubuh Reyhan yang sudah terlempar sangat jauh. Jangan lupakan kursi roda Reyhan yang sudah tak berbentuk lagi.


"Mas!!!!!!" Lani meraung dengan keras. Laki-laki tercintanya sudah bersimbah dengan daerah. Kepala yang mengeluarkan darah dan juga hidung serta bagian telinga Reyhan.


"Tolong!!!" Lani berteriak untuk meminta tolong kepada pengemudi maupun orang yang lalu lalang.


Banyak dari mereka yang mendekat untuk membantu Reyhan. Seseorang yang baik hati menawarkan untuk mengantar Lani serta suaminya menuju rumah sakit terdekat.


"Mas, kamu harus tetap sadar. Jangan tinggalin aku, Mas," Air mata terus saja meleleh melewati pipi wanita itu.


Beberapa kali Lani menggoyang tubuh suaminya yang tak sadarkan diri. Berharap laki-laki itu akan sadar dari pingsannya. Hatinya sangat sakit melihat keadaan suaminya.


Andai saja dia tak lupa meletakkan batu pada bagian depan kursi roda suaminya, maka semua ini tak akan terjadi. Lani lupa jika kursi roda suaminya tidak bisa jika tak ada batu penghalang untuk menahan kursi roda itu.


"Maafkan aku Mas, maafkan kecerobohanku. Aku mohon Mas, jangan tinggalin aku," Lani mengusap pipinya yang terus saja dibanjiri air mata. Bayangan buruk kini menghantui Lani. Bayangan jika suaminya akan meninggalkan dirinya bersama putri mereka. membayangkan itu semua membuat Lani mengelengkan kepalanya dengan kuat. Mengusir pikiran buruknya.


Akhirnya mobil yang membantu Lani serta suaminya sampai di rumah sakit. Lansung saja orang itu membantu memanggil suster maupun dokter untuk membantu Reyhan.


"Terima kasih Mas, sudah menantu saya dan suami," ujar Lani kepada orang itu.


"Iya Mbak, sama-sama,"


Lani mengikuti suster yang membawa suaminya sampai ke depan ruang UGD. Karena, dirinya tak di perbolehkan untuk masuk ke dalam ruangan itu.


"Ya Allah, selamatkanlah suami hamba. Hamba mohon ya Allah," Do'a Lani sambil merapalkan istighfar . Berharap suamainya baik-baik saja. Meski kemungkinan itu sangat kecil. Namun tak ada salahnya jika berharap Allah akan memberi Reyhan kesempatan untuk menjalani hidupnya kembali.


Setengah jam kemudian dokter keluar dari ruangan itu. Dengan segera Lani berdiri menghampiri dokter wanita itu.

__ADS_1


"Dok, bagaimana keadaan suaminya saya? Apa dia baik-baik saja?" Lani tampak sangat cemas.


Dokter itu menggeleng. "Maaf Buk, suami anda sudah berpulang sebelum sampai di rumah sakit." jujur dokter itu.


Saat Reyhan sampai di dalam ruang UGD, detak nadinya tak lagi berjalan. Bahkan Reyhan tak lagi bernafas. Mereka hanya membersihkan luka serta darah yang terdapat pada bagian tubuh Reyhan.


"Tidak mungkin Dok, suami saya pasti baik-baik saja. Dokter mungkin salah. Tolong periksa sekali lagi Dok. Saya mohon suami saya baik-baik saja. Dia tak akan mungkin meninggalkan saya dok," Lagi-lagi air mata Lani meluncur dengan derasnya.


Wanita itu tak mampu mempercayai ucapan dokter itu. Pasti dokter itu salah dalam memeriksa suaminya. Lani yakin jika suaminya masih hidup.


"Maaf Buk, kami sudah mengecek ulang suami, Ibu. Tapi memang pasien sudah berpulang," jawab dokter itu.


"Tidak mungkin Dok. Saya tidak percaya. Dokter pasti berbohong!!" sanggah Lani.


Lani langsung saja menerobos masuk ke dalam ruangan itu. Tampak laki-laki tercinyanya sudah terbujur kaku di atas brangkar. Air mata Lani semakin meleleh melihat wajah suaminya yang sudah sangat pucat. Bahkan tak ada terlihat darah yang menghiasi wajah suaminya.


"Mas jangan pergi! Aku mohon buka mata kamu, Mas, aku mohon. Tak ingatkah kamu dengan putri kita, Mas. Jangan tinggalin aku dan Reni, Mas," Lani memeluk erat tubuh suaminya. Tubuh dingin itu tak lagi bergerak seperti sebelumnya.


***


Ambulan yang membawa Reyhan akhirnya sampai dikediaman Lani. Satu-satu dari warga yang tinggal disana datang ke rumah Lani.


"Ibu, Ayah kenapa? Kenapa orang-orang itu membawa ayah dengan tempat tidur seperti itu?" Reni menghampiri Ibunya yang tampak menangis. Bahkan mata wanita itu sudah tampak membengkak lantaran terlalu lama menangis.


"A-ayah--"


"Ayah kenapa Bu? Kenapa juga banyak orang yang datang ke rumah kita. Ayah kenapa Bu? Jangan buat baku takut," Reni mendesak Lani untuk menjawab pertanyaanya. Perasaannya saat ini sudah tak karuan. Melihat Ayahnya tak lagi menaiki kurus roda. Bahkan tubuh Ayahnya ditutupi kain.


Reni bukan tak tau maksud dari semua itu. Hanya saja Reni berusaha menyanggah apa yang kini berada dipikirannya. Berharap apa yang akan didengar dari mulut Ibunya bukanlah hal yang buruk seperti yang dirinya lihat. Dia berharap ini hanya sebuah mimpi belaka yang tak akan terjadi.

__ADS_1


"A-ayah sudah pergi, Nak. Hiks... Hiks...," jawab dengan menangis.


Deg...


"I-ibu hanya bercanda bukan? Ayah tidak mungkin meninggalkan kita Bu. Ayah pasti sedang memberi kejutan untuk kita Bu, aku yakin itu," Reni menggelengkan kepalanya. Tak mau mengakui apa yang dikatakan Kami kepadanya. Reni tetap bersikukuh Ibunya hanya bercanda.


"Tidak Nak, Ayah sudah di panggil Allah." Lani memeluk putrinya yang tampak terpukul dengan kenyataan ini. Sama dengan dirinya yang juga tak dapat menerima ini semua.


"Tidak Bu, Ayah hanya bermain dengan kita. Ayah tidak akan pergi secepat ini,"


"Sayang ikhlasin Ayah, Nak. Mungkin saja ini jalan terbaik untuk Ayah dan juga kita," Sekuat tenaga Lani berusaha menenangkan putrinya. Padahal jika ditanya dirinya tak kalah sedihnya dari sang putri. Namun, apa yang bisa Lani buat untuk putrinya jika bukan menguatkan. Jika tak dirinya siapa lagi yang akan memberi kekuatan untuk buah cintanya bersama Reyhan.


"Ta-tapi kenapa Ayah cepat sekali meninggalkan kita Bu? Padahal baru saja aku bisa berjalan dengan normal, tapi kenyataan pahit membuat aku sangat sakit Bu. Jika boleh memilih, biarkan aku tetap berada di kursi roda Bu, dan Ayah tetap bersama kita. Aku, aku tid---"


"Sstttt, sudah Sayang. Allah lebih sayang Ayah makanya Allah ambil Ayah duluan. Kita harus ikhlas dan sabar, Nak." Lani memotong ucapan putrinya. Tak ingin mendengar ucapan ngelantur putrinya yang mungkin saja akan lebih parah dari itu.




Satu-persatu orang sudah mulai meninggal pusara yang masih basah itu. Kini hanya tertinggal Lani serta putrinya. Menatap pusara yang tampak taburan berbagai kelopak bunga yang masih sangat segar. Menatap nanar pusara laki-laki kesayangan mereka. Bahkan mata kedua anak dan ibu itu masih saja mengeluarkan airnya.



"Ayah... Kenapa Ayah cepat sekali meninggalkan aku dan Ibu. Ayah tahu, aku sangat bahagia disaat kaki ini sudah bisa berjalan dengan normal setelah sekian lama. Ayah, apa Ayah tahu jika aku ingin sekali pergi jalan-jalan sama Ayah, meski itu hanya sekali saja. Sudah sangat lama aku memimpikan hari itu. Tapi...," Reni mengusap air mata serta ingusnya yang sudah keluar. "tapi kenapa Ayah tega meninggalkan aku disaat satu-satunya impian yang selama ini aku inginkan sudah tercapai. Kenapa Ayah pergi disaat rasa bahagia yang baru saja aku alami malah menjadi rasa sedih yang teramat dalam. Kenapa Ayah? Ayah tahu di dalam dadaku ini sekarang sangat sakit Yah. Ingin rasanya aku tidak terima dengan kenyataan yang nyatanya tak dapat aku elakkan. Ayah, aku ingin sekali bercerita banyak bersama Ayah. Aku ingin sekali menghabiskan hari-hari kita bersama. Ayah aku sangat mencintaimu. Aku juga akan sangat merindukan dirimu, Yah," Reni menciumi batu nisan Ayahnya beberapa kali. Rasanya sangat sesak. Ingin rasanya Reni ikut bersama sang ayah.



"Mas, maafkan aku yang sudah membuat kamu seperti ini. Maafkan aku yang tak dapat menjaga kamu dengan benar. Mas, jika aku boleh jujur aku tak ingin kau pergi secepat ini. Ini terlalu cepat Mas. Bahkan kita belum melihat putri kita menikah. Belum melihat perjalanan panjang yang akan dijalani putri kita, Mas. Andai saja waktu itu aku tidak lalai, maka kamu tidak akan pernah meninggalkan kami, Mas. Aku janji Mas, aku akan membahagiakan putri kita, Mas. Aku janji Mas. I love you Mas Reyhan,"

__ADS_1



TBC


__ADS_2