
Ali menatap sang bunda yang tengah membuat bunga dari kresek yang terbilang agak tebal. Di atas meja di depan televisi tersebut, sudah siap sebanyak enam tangkai bunga. Bunga yang bisa di letakkan sebagai hiasan pada meja. Baik itu meja ruang tamu, meja guru untuk mengajar di sekolah ataupun meja hias.
Ali tidak membantu sang bunda untuk membuat bunga tersebut. Karena dia juga kurang mengerti untuk membuatnya. Meskipun dia mau, Bundanya melarang untuk membantu, karena sang bunda sangat suka membuat bunga tersebut hasil dari tangannya sendiri. Teras sangat luas, bahkan menjadi suatu kebangsaan untuk dirinya jika itu hasil kerja keras dirinya.
Awalnya Yumna membuat bunga itu karena ada tutorialnya di youtube. Bahkan di Facebook pun bisa dicari. Yumna mempelajari bagaimana cara-cara membuat bunga yang tampak cantik itu dengan tenang, kala dia menonton video itu di youtobe. Maka dari itu Yumna ingin membuatnya waktu itu. Namun belum kesampaian dan alhasil baru sekarang wanita itu buat.
Tampak cantik dengan setiap tangkai bunga tampan bervariasi dengan warna hijau untuk kelopaknya, sedangkan warna ungu putih untuk kelopak bunganya. Persis seperti bunga mawar, namun bagian ujung kelopaknya dikerutkan dengan tusuk sate. Tampak cantik dan sangat manis.
"Mau berusaha tangkai Bunda buat? ini saja sudah siapa enam tangkai," ujar Ali memegang salah satu bunga yang telah dirakit Yumna dengan besi kecil yang dilapisi dengan kain berbulu bewarna hijau.
"Semuanya mau bunda buat, Sayang," jawab Yumna yang masih sibuk dengan lem batang yang dia bakar diatas lilin yang tampak hidup diatas piring kecil. Lilin yang di gunakan untuk membakar bibir bunga, agar bunga yang dibuat Yumna tampak bagus. Sedangkan lem batang itu digunakan untuk merekatkan lapisan bunga.
"Kalau semuanya banyak banget Bun. Lagian meja kita cuman satu ini saja," ujar Ali kepada sang bunda. Memang benar, meja di rumah mereka hanya ada satu ini. Jikapun diletakkan di meja rias sang bunda, rasanya sudah tidak cukup, lantaran meja rias itu sudah penuh dengan peralatan Yumna.
"Nggak semuanya untuk meja rias. Rencana bunda mau ambil pohon jambu biji di belakang rumah kita. Nanti bunda buka kulitnya dan bunda keringkan batangnya. Nah jika kering nanti akan bunda cat batangnya dan bunda masukkan kedalam pot yang sudah dikasih semen dan dikeringkan. Setelahnya baru bunda gantungin bunganya disana. Selesai semuanya akan bunda letakkan di pojok sana," Yumna menunjuk pojok rumahnya yang tampak kosong. Bisa diletakkan satu pot bunga hias di sana. Lagian juga menambah kesan manis jika bunga itu diletakkan dipojok sana.
Ali langsung saja mengalihkan penglihatannya pada ojok rumah yang ditujukan sang bunda. Membayangkan jika bunga itu sudah jadi, memang sangat indah bahkan tampak kesan elegan nantinya. Itulah yang terbayang dari pikiran Ali.
"Iya Bun, kayaknya bagus. Lagian rumah kita masih banyak yang kurang. Ntar kalau kita punya rezki, kita beli lemari hias satu Bun," ujar Ali menatap sang bunda.
__ADS_1
Yumna mengangguk mendengar ucapan Ali. Lagian memang benar rumah mereka luas, namun isinya lumayan banyak yang kurang. Karena awal mereka sampai di rumah ini, lemari yang Yumna tinggalkan belasan tahun lalu sudah tampak sangat buruk. Jikapun ada yang menyewa rumah Yumna dan membersihkan rumah tersebut, namun lemari itu sudah tampak sangat tua. dan satu bulan yang lalu lemari itu sudah di keluarkan Yumna dari dalam rumah. Karena dirasa sudah tak layak lagi untuk dipakai.
"Iya aamiin, semoga suatu saat ada rezki kita buat beli lemari hias," balas Yumna menatap anak bujangnya dengan senyum manis.
***
Sing ini Ali menyandang tas di punggungnya. Berisi satu pasang pakaian yang akan digunakan untuk kuliah bensok hari, serta perlengkapan untuk belajarnya di kampus besok. Malam ini sudah tiba lagi giliran Ali untuk menginap di rumah Reyhan. Satu kali seminggu rasanya sudah cukup bagi Ali. Namun tidak bagi Reyhan yang menginginkan anaknya itu menginap di rumahnya setidaknya tiga kali seminggu. Namun Ali dengan tegas menolak, lantaran dari awal sudah kesepakatan jika dia akan menginap disana hanya satu kali dalam satu minggu. Keputusan yang bulat, yang tidak akan ada bisa di ganggu gugat lagi.
"Bunda, aku pergi dulu ya," pamit Ali kepada Yumna yang kini tengah mencuci piring bekas makan mereka.
Yumna yang tengah membelakangi pintu masuk dapur, langsung saja menghadap ke arah sumber suara. "Iya hati-hati Sayang. Ingat jangan bawa motonya kencang-kencang," nasehat Yumna setelah menyodorkan tangannya pada sang putra. Sebelum itu Yumna sudah melap tangannya dengan kain bersih yang ada di atas rak piring.
Ali mengendarai motonya dengan santai menuju rumah Ayahnya. Lagian dia juga tidak mau terlalu cepat-cepat sampai di kediaman Ayahnya itu. Bukan tak suka kesana, hanya saja Ali malas jika terlalu cepat sampai. Menikmati hembusan angin yang tanpa lebih sejuk rasanya sia-sia jika melewati hal ini terlalu cepat.
Kira-kira pukul setengah dua, akhirnya Ali sampai di kediaman ayahnya. Pemuda itu meletakkan motornya di tempat biasa dia memarkirkan motornya. Melangkah masuk ke dalam rumah tersebut dengan santai.
"Assalamu'alaikum," Saat kaki panjang itu berpijak satu langkah setelah membuka pintu Ali mengucapkan salam.
"Wa'alaikumsalam," Suara yang Ali kenal. Suara wanita tua dirumah itu, siapa lagi kalau bukan neneknya. Nenek yang masih saja mengores rasa sakit di hati sang bunda bahkan dirinya. Namun sebisa mungkin Ali menutup rasa itu, dan memperlihatkan senyum manis di depannya. Yakinlah, bahwa ada waktunya Ali mengingat rasa sakit itu kembali. Meski sekuat apapun menghilangkannya, tapi tetap akan muncul pada waktu yang tidak akan di duga.
__ADS_1
"Mana Ayah, Nek?" Saat sampai di depan sang nenek, langsung saja Ali menanyakan ayahnya. Karena pemuda itu tidak melihat dimana ayahnya berada. Biasanya pada jam segini pasti dia sudah melihat Ayahnya tengah duduk di dekat sang nenek.
"Belum pulang. Palingan beberapa menit lagi juga sampai. Duduk di sini dulu sama Nenek," ajaknya sambil menepuk-nepuk tempat duduk di sampingnya.
Ali ingin menolak, tapi rasanya juga tidak enak karena ajakan Rena. Akhirnya Ali memilih untuk duduk di samping wanita itu. Meletakkan tas yang dia dukung di samping sofa.
"Tadi kuliah Li?" Rena membuka suaranya lantaran sang cucu hanya diam saja. Bahkan terkesan cuek.
Ali tampak mengangguk. "Iya Nek," balasnya singkat.
Rena hanya mengangguk mendengar jawaban sang cucu. Ya beginilah Ali jika berada di dekat Rena, dia hanya akan menjawab pertanyaan Rena tanpa mau kembali bertanya kepada Rena. Namun bagi Rena tidak apa, yang penting cucunya mau tidur di rumahnya saja sudah membuat wanita tua sangat itu bahagia.
Jika saja dia boleh jujur, Rena ingin sekali egois tentang cucunya itu. Ingin Ali menginap seterusnya di rumahnya ini. Bahkan Rena ingin rasanya melarang jika sang cucu untuk kembali ke rumah Yumna. Wanita itu sepertinya masih saja menaruh dendam yang tak masuk akal kepada Yumna. Ntahlah rasanya wanita tua itu tak mau melihat dengan matanya jika Yumna adalah wanita sempurna yang rasanya tak memiliki cacat untuk ukuran seorang menantu serta seorang ibu. Penuh dengan kesabaran dan hati yang lemah lembut.
Setelah pertanyaan yang satu itu, tak ada lagi yang terdengar kata-kata yang keluar dari mulut nenek dan cucu itu. Mereka memilih diam dengan pandangan menghadap ke layar televisi yang tengah menyala.
****
"ALI APA YANG KAMU LAKUKAN?!!" Reyhan tampak menatap Ali dengan mata memerah. Bahkan tatapannya tampak sangat tajam kepada pemuda itu. Marah, ya laki-laki itu marah kepada anaknya tanpa bukti yang jelas. Bahkan nampak dimana itu ujaran kebencian kepada sang anak.
__ADS_1
TBC