Diceraikan

Diceraikan
SEASON 2 Hari Bahagia Mika


__ADS_3

Akhirnya waktu yang yang ditunggu-tunggu Mika tiba. Hari ini adalah hari bersejarah dalam kehidupannya. Hari dimana dirinya akan bergelar seorang sarjana. Apa yang selama ini dia impikan akhirnya tercapai. Senyum manis melengkung di wajah cantik gadis yang masih berusia 22 tahun itu. Tak menyangka jika hasil kerja kerasnya sudah pada titik akhir.


Kemaren ke-dua orang-tua Mika, Caca dan Rangga sudah datang dari kampung untuk menghadiri acara penting putri satu-satunya. Tak mingkin mereka akan melewati hari bahagia dalam kehidupan anak mereka. Apalagi ini tidak akan terulang lagi untuk yang ke-dua kalinya.


"Kamu sayang cantik, Nak," Caca menghampiri putrinya yang tampak sangat cantik dengan balutan kebaya biru yang di campur putih.


"Ibu juga sangat cantik," ujar Mika kepada wanita yang telah melahirkannya.


"Heheh, lebih cantik kamu, Nak," ucap Caca merendah.


"Bukan Bu kita sama-sama cantik. Oh iya Ayah mana Bu?" Mika tak melihat Rangga, sang ayah.


"Lagi duduk di bawah dengan keluarga Tante Yumna, Mika. Ya sudah yuk kita ke bawah, mereka juga sudah selesai siap-siap," ajak Caca kepada putrinya.


"Iya Bu,"


Anak dan ibu itu menuruni anak tangga pada rumah Yumna. Melangkah beriringan menuju lantai bawah. Senyum manis tercetak di bibir Mika yang di poles dengan lipstik pink muda.


Semua mata yang ada di sana tertuju pada Mika. Tak terkecuali Ali yang menatap takjub Mika yang dia anggap sebagai adiknya itu. Sungguh Mika tampak lebih dewasa jika seperti ini. Apalagi senyum yang terbit di bibir itu membuat dirinya tak bisa berpaling. Sungguh sangat sayang jika tak di lihat.


"Kakak Mimi sangat cantik," celetuk Aileen menghampiri Mika yang kini sudah sampai di dekat mereka semua.


"Kamu juga sangat cantik, Ai," Mika membelai lembut pipi chubby Aileen.


"Tante tidak menyangka jika kamu akhirnya sudah tamat kuliah Mika. Padahal baru kemaren rasanya kamu kesini, dan sekarang kamu sudah wisuda saja," Mata Yumna berkaca-kaca menatap Mika. Dia menyayangi gadis itu layaknya anaknya sendiri. Mika gadis yang baik, ceria dan juga sangat santun.

__ADS_1


"Hehe iya Tan, waktu begitu cepat berlalu. Aku bahkan tak menyangka juga jika sekarang sudah jadi seorang sarjana," Mika tersenyum menatap Yumna yang sudah seperti ibunya. Wanita yang telah merawatnya selama empat tahun ini. Wanita yang begitu tulus menyayangi dirinya. Mungkin jika Mika cari wanita seperti Yumna, pasti sangat susah. Bahkan bisa dibilang dari 100 orang palingan hanya ada 2 orang saja bahkan saja nyaris tidak ada.


Betapa bersyukurnya Mika bertemu dengan wanita sebaik Yumna. Wanita yang penuh kasih


sayang seperti wanita itu. Mika ingin menangis, namun dia teringat dengan riasan di wajahnya yang bisa saja akan luntur karena ari mata.


"Yuk kita berangkat. Nanti acaranya keburu di mulai," ujar Andi saat melihat jam pada pergelangan tangannya.


Mereka akan pergi dengan dua mobil. Satu di kendarai Andi dan satu lagi akan di kendari Ali. Di dalam mobil Andi terdapat keluarga kecilnya sedangkan di dalam mibil Ali keluarga Mika. Jika mereka hanya membawa satu mobil maka, tidak akan muat. Untung saja mobil milik kedua orang-tua Andi dibawanya ke rumah. Jadi bisa di pakai dirinya maupun Ali jika bepergian.


Sampai di kampus Mika, sudah banyak orang yang datang. Bahkan di aula luas itu sudah banyak yang terisi. Keluarga itu duduk pada kursi yang sudah di sediakan pihak kampus. Tempat duduk keluarga dan para mahasiswa yang wisuda di pisahkan.


"Sumpah kamu cantik banget Mika," Tiana tampak antusias saat melihat wajah sahabatnya itu memang sangat cantik.


"Kamu juga sangat cantik, Tia," balas Mika dengan tersenyum.


"Mujinya jangan gitu amat kali Tia. Lagian kamu juga sama cantik banget kok."


"Ehhh, gimana respon Mas Al saat lihat kamu cantik gini? Nggak mungin kan dia hanya cuek saat lihat kamu berubah total gini. Aku saja bisa pangling apalagi Mas Al," Kepo Tiana.


Mika mengedikkan bahunya. "Nggak tahu Tia. Lagian aku tadi juga nggak lihat expresi Abang," jawab Mika jujur.


Mika memang tidah melihat bagaimana reaksi Ali tadi. Lagian buat apa dia lihat reaksi laki-laki itu jika hatinya saja tidak ada untuk dirinya. Palingan Ali hanya menatap biasa saja kepada dirinya. Sama dengan hari-hari sebelumnya.


"Isss, kamu gimana sih Mika. Apa salahnya kamu lihat jati reaksi Mas Ak, aku yakin dia kagum melihat kamu cantik gini," Tiana tampak antusias dengan ucapannya.

__ADS_1


"Malas ah Tia, lagian buat apa? Abang kan sudah memiliki kekasih? Nggak mungkin juga aku tebar kecantikan di depannya bukan? Sia-sia dong kalau dia menatap aku biasa saja. Malah aku yang kecewa dan sakit hati. Mendingan nggak kan?" Mika menatao wajah sahabatnya itu.


"Hmm, kamu bener juga Mika. Tapi aku beneran penasaran deh gimana reaksi Mas ak saayeljhat kamu cantik begini," Tiana membayangkan wajah laki-laki itu yang kagum melihat Mika. "Pasti sangat mengemaskan Mika,"


"Ntah lah Tia, aku nggak tahu dan nggak mau tahu," jawab Mika yakin. Lagian dia tak mau berharap terlalu lebih lagi. Takut jika sakit seperti dulu lagi.


Biarlah cintanya dulu di tolak. Tak mengapa menyimpan perasaan ini dulu, mana tahu suatu saat ada yang bisa membuka kuncinya. Atau bahkan tetap milik orang yang sama. Mika tak akan memikirkan itu untuk saat ini. Fokusnya setelah ini melamar pekerjaan ke beberapa perusahaan.


Berbagai rangkaian acara akhirnya sudah selesai. Kini keluarga Yumna maupun Caca tengah berada di lapangan kampus. Mereka akan mengambil beberapa foto sebagai kenang-kenangan.


"Mika coba kamu berdiri di samping Abang," pinta Yumna kepada Mika.


"Buat apa Tante?" Mika bingung dengan ucapan Yumna.


"Ikuti saja Mika, Tante mau memfoto kamu dengan putra Tante. Kalian tampak serasi kalau gini." pintanya lagi.


Deg...


Benarkah apa yang di katakan Yumna? Benarkan mereka tampak serasi? Aaaa, senangnya hati Mika saat ini. Seakan ada ribuan kupu-kupu yang tengah keluar dari di dalam dadanya. apakah Yumna akan merestui jika mereka menikah? Apakah Yumna akan bahagia jika dia menjadi menantunya, jika itu terkabul? Seperti ada lampu hijau dari Yumna untuk dirinya. Senang, sungguh senang yang dirasakan Mika saat Yumna berkata seperti tadi. Tapi, bisakah Ali membuka hatinya untuk dirinya? Bisakah Ali mencintainya suatu saat? Bisakah Ali wujudkan mimpi itu untuk dirinya?


"Baik Tante," jawab Mika dengan senyum mengembang di wajahnya. Sungguh hatinya saat ini tengah berbunga-bunga.


Mika menggandeng tangan Ali dengan erat. Tersenyum menghadap ke kamera. Sedangkan Ali juga ikut tersenyum manis ke kamera. Mengikuti apa yang dilakukan gadis yang kini tengah memegang erat lengannya.


Ntah kenapa rasanya begitu aneh di rasakan saat Mika memegang erat lengannya. Ada sesuatu yang menggelitik hatinya saat ini. Tapi, Ali tidak tahu apa yang kini tengah dirasakannya. Intinya dia juga itu senang dengan apa yang dilakukan Mika kepadanya. Tersenyum cerah, bahkan teramat cerah, ke kamera yang membidik dirinya dan juga Mika.

__ADS_1


Beberapa foto sudah di dapatkan Yumna. Berbagai macam gaya di lakukan Ali maupun Mika. Tampak ke-dua orang itu sangat bahagia. Seakan-akan mereka memang sepasang kekasih yang sangat bahagia dihari bahagia pasangannya. sejenak Mika melupakan hubungan mereka yang berjalan tak sebaik dulu. Bahkan kepala gadis itu kini tengah dikuasi dengan kata-kata Yumna. Dirinya tampak serasi degan Ali. Ahhh, bahagia sekali Mika saat ini.


TBC


__ADS_2