Diceraikan

Diceraikan
SEASON 2 Melahirkan


__ADS_3

Soto adalah pilihan mereka untuk mengisi perut siang ini. Semuanya sudah tersusun rapi diatas meja makan. Tak lupa kerupuk merah juga terdapat disana.


"Wahhhh, sepertinya ini sangat enak," ucap Yogi yang terlihat berbinar melihat kuah soto yang masih mengepulkan asapnya.


"Sudah pasti ini enak, jelas banget terlihat dari bentuk serta aromanya." Sombong Nina sambil menaikkan satu alisnya.


Mika hanya menggeleng melihat bosnya yang berbicara dengan Yogi. Menipiskan senyum manis yang tercipta di bibir Mika.


Mereka semua sudah duduk di kursi masing-masing. Menikmati soto siang hari panas-panas seperti ini. Meskipun panas nikmatnya soto menggugah selera makan. Apalagi Tiana dan Yogi yang sangat lahap memakan soto mereka. Apalagi di tambah dengan nasi putih serta daging sapi goreng di atasnya.


Cukup sampai jam 3 sore mereka berada di villa milik Nina. Akhirnya ketiga pasangan itu memilih untuk pulang. Awalnya Nina mau mengajak mereka untuk menginap semalam di villa itu tapi, Ali dan Mika menolak karena mereka mengingat Aileen dan Azlan pasti akan mencari mereka. Jadi pada akhirnya mereka pulang ke rumah masing-masing.


*****


Waktu semakin berlalu bahkan kini usia kandungan Mika sudah masuk 9 bulan dan hanya menghitung hari saja. Mereka tidak tahu apa jenis kelamin anak yang di kandung Mika. Bukan tidak mau USG hanya saja mereka memilih itu sebagai kejutan nanti untuk mereka dan keluarga yang lainnya.


"Abang kenapa nggak berangkat kerja?" Mika menghampiri suaminya dengan susah payah


Perutnya yang sudah sangat besar membuat Mika sulit untuk berjalan.


"Nggak Dek, kebetulan hari ini Abang libur." jawab Ali sambil mengusap dan memberikan ciuman pada perut buncit istrinya. Terasa anak di dalam kandungan istrinya bergerak-gerak dengan lincahnya. "Dia gerak Dek," ucap Ali mendongak menatap istrinya.


"Iya Bang, Dedek sudah tidak sabar bertemu sama Daddynya," jawab Mika sambil mengusap lembut rambut suaminya.


"Sabar ya Nak, tidak akan lama lagi pasti kamu akan bertemu sama Daddy. Daddy sudah sangat merindukan kehadiran kamu, Nak," Beberapa kali Ali mencium perut buncit istrinya yang tidak berhenti bergerak.


"Stttt!!!"


"Kamu kenapa Dek? Apa ada yang sakit? Bagian mana yang sakit Dek?" Ali tampak khawatir melihat istrinya yang mendesis kesakitan.


"Perut aku sakit banget Bang," jawab Mika dengan terus memegang perutnya yang semakin sakit.


"Ayo kita ke rumah sakit Dek, mungkin kamu sudah mau melahirkan," Ali langsung memapah istrinya. Karena istrinya itu masih kuat untuk berjalan. Saat ini Ali dan Mika sudah pindah ke kamar bawah sejak usia kandungan Mika 7 bulan. Ali takut jika terjadi sesuatu kepada istrinya maka dari itu Ali memilih untuk tidur di kamar tamu.

__ADS_1


"Mbok tolong bilang sama Abi, aku sama Mika duluan ke rumah sakit. Mungkin saja Mika sudah mau melahirkan Bi. Nanti tolong juga bawain perlengkapan istri saya yang berada di dalam lemari ya Mbok. Kebetulan juga sudah di masukin ke dalam tas," pinta Ali saat berpapasan dengan pembantu yang kebetulan berada di depan rumah.


"Baik Den," balas si Mbok yang langsung bergegas memasuki rumah.


Ali memacu kendaraan roda empat itu sedikit kecang lantaran sang istri yang sudah semakin merasakan sakit pada perutnya. Untung saja ketuban Mika belum pecah.


"Dokter, suster tolong istri saja mau melahirkan." teriak Ali saat memasuki pintu masuk rumah sakit.


Dua orang suster datang dengan membawa brankar menuju Ali. Dengan segera Ali meletakkan dengan hati-hati tubuh istrinya. Mengikuti kemana kedua suster itu membawa istrinya yang semakin kesakitan. Rasa iba serta kasihan terlihat jelas di wajah Ali. Bahkan rasa cemas juga takut sangat kentara di wajah laki-laki yang sebentar lagi akan menyandang status seroang ayah.


****


"Ak gimana keadaan Mika?" Andi lari dengan tergopoh-hopoh bersama pembantunya menuju putranya yang duduk di luar ruangan bersalin.


"Mika masih di dalam masih tangani sama dokter Abi. Abi aku takut, takut jika terjadi sesuatu sama istri dan anakku." Akinmenayai sendu wajah Andi.


"Jangan ngomong yang buruk-buruk Al. Berdo'alah untuk ke selatan anak dan istri kamu. In sya Allah semuanya pasti akan baik-baik saja." Andi menenangkan putranya sambil mengusap-ngusap bahu putranya dengan lembut.


"Aamiin," jawab Mbok dan juga Andi.


Tiga puluh menit mereka menunggu diluar ruangan akhirnya suara tangisan bayi terdengar dengan kerasnya. Beberapa kali mereka mengucap syukur atas kelahiran anak pertama Mika dan Ali. Tak terasa air mata bahagia meluncur mulus dari mata Ali. Tak menyangka jika kini dia sudah menjadi seorang ayah. Meskipun Ali belum tahu apa jenis kelamin anaknya.


"Selamat Al, akhirnya anak kamu lahir dan selamat sudah menjadi seorang Ayah." ucap Andi dengan tersenyum manis kepada putranya.


"Terima kasih Abi,"


Ceklek...!!


Ali, Andi dan Mbok kang yang bergegas menuju pintu bercat biru yang sudah terbuka. Menampilkan seroang b suster serta batu mungil yang berada di tangannya.


"Bapak suami Ibu, Mika?" tanya suster.


"Iya Sus,"

__ADS_1


"Silahkan di iqamahkan putri Bapak. Alhamdulillah putri Bapak sehat tanpa ada yang kurang begitupun dengan ibunya. Dan silahkan masuk ke dalam Pak,"


Ali ikut masuk ke dalam ruangan dimana istrinya masih ditangani dengan membawa putri kecilnya. Sampai disana langsung saja Ali mengiqamahkan putri kecilnya.


"Terima kasih Mommy, terima kasih sudah memberikan Daddy kebahagiaan yang tiada tara di kehidupan Daddy," Ali mencium lama pucuk kepala istrinya.


"Sama-sama Daddy, itu sudah menjadi kewajiban Mommy," Mika dan Ali memutuskan untuk menyebut diri mereka Mommy dan Daddy saat anak mereka sudah lahir.


Mika saat ini sudah berada di ruang rawat. Disana sudah ada Ali, Andi dan juga Si Mbok yang setia menatap putri kecil Ali maupun Mika.


"Selamat Mika, akhirnya kamu sudah menjadi seorang ibu dari cucu Abi yang sangat cantik ini." ucap Andi kepada menantunya.


"Terima kasih Abi," balas Mika dengan tersenyum manis.


Dua hari Mika berada di rumah sakit dan kini akhirnya mata Mika sudah melihat kembali kamar yang dia huni bersama suaminya. jika dulu hanya berdua namun kini sudah ada putri kecil mereka yang akan menemani mereka untuk seterusnya. Putri merah yang asik mengeluarkan lidahnya meski sudah selesai menyusu pada ibunya.


"Kakak Mimi apa sudah ada nama adik bayi?" tanya Azalan yang melihat wajah merah putrinya dengan binar bahagia.


"Iya Kakak Mimi, siapa nama adik bayi?" tambah Aileen yang juga melihat bayi merah itu dengan bahagia.


Mika menatap suaminya yang mendapat anggukan dari Ali. Tanda Ali mempersilahkan Mika untuk memberi nama untuk putri kecil mereka. "Alya Kinana Juwairiyah, yang memiliki arti perempuan yang baik, cantik dan baik hati. Semoga saja kelak Kina akan menjadi seperti arti namanya," Mika terenyum kala menyebutkan nama pilihan untuk putrinya.


"Wahhh namanya bagus Kakak Mimi jadi Ai manggilnya dengan Kina ya Kakak Mimi?" Aileen menatap Mika dengan binar bahagia.


"Iya Ai, panggilannya Kina," jawab Mika.


"Adek Kina kenalkan nama Uncle Azlan," Azlan memperkenalkan dirinya kepada Kina bayi merah itu.


"Nama Auntie Aileen, Dedek Kina. Nanti kalau Dedek Kina sudah besa kita main boneka-bonekaan ya," Aileen menatap Kina dengan bahagia. Tersenyum akhirnya dia akan memiliki teman perempuan.


Ali dan Mika menyaksikan itu dengan tersenyum lebar. Akhrinya ke-dua adiknya itu bahagia dengan kehadiran Kinana. Meskipun tak jarang Sebelumnya Mika memergoki mereka menangis sambil menatap bintang di malam hari. Namun kini Mika yakin dengan kehadiran putrinya pasti kedua adik iparnya itu akan bahagia. Melupakan kesedihan yang teramat yang mereka alami sebelumnya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2