Diceraikan

Diceraikan
SEASON 2 Memenuhi Undangan


__ADS_3

Mika dan Ali sudah bersiap-siap untuk hadir di acara pernikahan Yanda dan bos Mika di perusahaan. Gamis maron serta hijab pasmina sudah bertengger dengan rapinya di kepala Mika. Sedikit polesan make-up menambah kecantikan Mika berkali-kali lipat.


"Ma syaa Allah cantik sekali istri abang," Ali berdecak kagum melihat kecantikan istrinya. Tidak memakai polesan make-up saja istrinya sudah cantik apalagi dengan polesan make-up tipis seperti saat ini.


"Hmm, terima kasih Abang," jawab Mika tersipu malu. Pipinya sudah bersemu karena pujian suaminya. Meski sederhana namun membuat hati Mika berbunga-bunga.


"Sama-sama Dek. Bisa tidak jika kita tidak perlu hadir di pernikahan itu?" Ali memeluk erat tubuh kecil istrinya. Membenamkan wajahnya di ceruk leher sang istri yang tertutup hijab.


"Loh, kenapa gitu Bang? Ini hari bahagianya teman aku sama bos di perusahaan aku, Bang. Nggak enak jika aku nggak hadir di acara mereka."


"Habisnya kamu terlalu cantik untuk dibawa keluar Dek. Abang hanya ingin kamu di rumah nemenin Abang. Kita pelukan di atas sana. Menghabiskan waktu kita berdua seharian ini," Tunjuk Ali pada ranjang tempat dimana mereka menghabiskan waktu istirahat.


"Issss, Abang sekarang sudah pinter banget ya gombalin aku? Kamu tahu Bang jika di dalam sini tengah bertebaran kupu-kupu yang ingin menampakkan dirinya kehadapan kamu, Bang," Mika menunjuk dadanya dengan wajah bersemu. Sungguh gombalan yang di berikan Ali membuat Mika baper.


"Abang serius loh Dek, Abang bukan gombalin kamu. Kamu itu memang cantik banget Dek. Pengen Abang kurung di kamar setiap hari tanpa boleh keluar. Abang nggak rela wajah istri Abang di lihatin laki-laki lain. Kamu milik Abang, Dek," Ali semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh sang istri. Beberapa kali mendaratkan ciuman pada wajah itu.


"Isss, ngomong aja kalau Abang itu malu di bilangin gombalin aku jadi, Abang nggak usah ngelak segala," Kekeuh Mika.


"Isss kamu dibilangin malah nggak percaya Dek. Padahal Abang jujur loh ngomong sama kamu,"


"Iya deh iya. Yuk berangkat Bang, nanti kita bisa telat loh," Mika melepaskan pelukan suaminya.


"Acaranya pasti sampai malam Dek, mana bisa kita dikatakan telat jika ini saja masih jam 2an," jawab Ali setelah melihat pada jam yang tergantung pada tembok kamarnya.


"Kalau Abang mau ngulur waktu ya sudah aku berangkat sendiri saja," Mika meninggalkan suaminya.

__ADS_1


"Tungguin Abang, Dek." Ali mengejar sang istri yang telah dulu keluar dari kamar.


*****


Ali dan Mika akhirnya sampai di tempat acara pernikahan Yanda dan Nina diadakan. Gedung yang tampak sangat besar degan hiasan bunga yang memukau. Pernikahan yang bertemakan seroang putri kerajaan. Terlihat kelas dari dekorasi gedung tersebut. Serba bewarna biru di campur dengan pink.


"Wahhh, megah bangetnya Bang pernikahannya?" Mika melihat ke arah suaminya yang sudah melepaskan sabuk pengamannya.


"Iya Dek. Maafin Abang ya yang tidak bisa mewujudkan pernikahan impian kamu," Ali menatap sendu wajah istrinya. Dulu saat mereka kecil Mika sangat suka dengan tema seorang ratu. Bahkan pernah waktu itu terlontar dari mulut kecil Mika jika dia ingin suatu saat memakai baju seroang ratu di hari bahagianya.


"Wajak Abang jelek tau kalau kek gini," Mika mengelus lembut wajah tampan suaminya. "Abang tidak usah merasa bersalah gitu. Lagian aku bersyukur banget karena nikah sama Abang. Meskipun aku pengen banget kalau nikah itu temanya seorang ratu dan raja. Tapi aku juga nggak bisa maksain kehendak itu Bang, kita harus melakukan sesuatunya itu sesuai dengan isi saku. Percuma jika menikah besar-besaran tapi malah hasil ngutang. Kan nggak lucu Bang," Mika mendaratkan ciuman pada pipi suaminya sekilas.


"Makasi ya Dek sudah ngertiin Abang,"


"Iya Bang. Abang nggak usah mikirin itu lagi. Lagian kita sudah nikah lama loh Bang. Yuk turun Bang nanti tamunya malah semakin ramai dan kita lama juga ngantri ngucapin selamat pada kedua mempelai."


Mata Ali menyorot tajam pada laki-laki yang menatap istrinya dengan penuh minat. Dengan segera tangan kekar itu meraih pinggang sang istri untuk dirapatkan pada tubuhnya. Ali tidak suka istrinya ditatap sama pria hidung beoang seperti mereka. Sedangkan Mika membiarkan saja alam yang mau dilakukam suaminya. Mika juga melihat pada laki-laki yang terus saja menatap dirinya dengan penuh minat. Mika paham apa yang kini tengah dirasakan suaminya. Suaminya tengah cemburu karena pandangan mereka yang menghunus kepada dirinya.


Mika meletakkan kado pada jejeran tumpukan kado yang terlihat rapi pada meja khusus kado. Mika dan Ali berjalan menuju pelaminan dimana antrian yang tidak terlalu panjang.


"Selamat Kak Yan atas pernikahannya. Semoga jadi keluarga sakinah mawaddah warahmah. Semoga juga cepat di berikan momongan." Mika menyalami tangan Yanda dan istrinya.


"Terima kasih Mika atas do'anya," jawab Yanda di angguki Mika.


Setelahnya Mika dan Ali memilih turun dari pelaminan karena antrian yang sudah sangat panjang. Tidak enak rasanya jika terlalu lama berbicara dengan kedua mempelai.

__ADS_1


"Aku boleh ikut gabung di sini Mika, Mas Al?" Tiana menghampiri meja Mika saat dirinya telah selesai memberi selamat untuk Yanda dan juga istrinya.


"Boleh kok Tia, duduklah," jawab Mika mempersilahkan. Lagian meja-meja yang ada di sana juga sudah hampir penuh. Tak mungkin juga rasanya Mika bergabung di meja mereka yang tidak di kenal Tiana.


"Terima kasih Mika," Mika hanya membalas dengan menganggukkan kepalanya.


****


"Abang kenapa cemberut gitu?" tanya Mika saat mereka sudah di dalam perjalanan pulang.


"Besok-besok kita nggak susah pergi ke acara seperti itu lagi Dek. Abang nggak suka lihat tatapan laki-laki hidung belang seperti tadi. Mereka menatap kamu dengan penuh minat," jawab Ali dengan bersungut-sunggut marah.


"Aku hanya milik Abang, ngapain juga Abang seperti ini. Yang jelas aku ini istri Abang hanya milik Abang bukan milik mereka," Mika mengusap lembut tangan suaminya. Menenangkan suaminya itu agar tak lagi marah.


"Pokoknya Abang nggak suka dengan tatapan mereka yang menjijikkan itu Dek. Besok-besok Abang nggak bakal ngijinin kamu lagi buat keacara seperti tadi. Mendingan kita di rumah saja. Jika masalah kado yang kamu pikirkan kita bisa minta tolong orang untuk mengantarkannya." putus Ali.


"Ya nggak bisa gitu lah Bang. Lagian kita itu hanya memenuhi undangan dari mereka. Aku juga kesana bukan untuk menggoda mereka bukan? Jadi apa yang harus Abang takutkan? Pergi ke sana juga aku sama Abang bukan sendiri,"


"Pokoknya Abang nggak suka Dek. Abang nggak suka melihat mereka seperti itu natap Adek." balasnga tak terima.


Mika menarik nafasnya dalam. "Ya sudah kalau itu mau Abang. Besok-besok aku akan nurutin apa yang Abang katakan," balas Mika memilih pasrah. Ntah kenapa suaminya itu sekarang semakin posesif kepada dirinya. Tidak seperti sebelumnya.


"Abang sayang dan cinta sama kamu, Dek. Makanya Abang ngelakuin ini sama kamu. Abang takut jika kamu di ambil mereka. Abang nggak bisa jika milik Abang juga di embat sama yang lain. Abang takut kehilangan kamu, Dek," Ali melirik sekilas istrinya lalu kembali lagi pada jalan raya.


"Aku juga cinta sama Abang bahkan cinta banget malah. Aku juga tidak akan tertarik pada laki-laki lain kok Bang. Hanya Abang yang bisa ngisi hati aku hingga kini dan untuk kedepannya, in syaa Allah," Mika tersenyum ke arah suaminya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2