
Mika sudah rapi dengan pakaian formalnya. Jangan lupakan kepala gadis itu kini sudah dihias dengan kain segitiga yang bisa di sebut kerudung. Mika memutuskan untuk memakai kerudung mulai hari ini dan untuk seterusnya. Mika menyetop taksi yang akan mengantar dirinya ke kantor tempat dimana dirinya bekerja.
"Kamu sudah lama tiba Tia?" Mika melihat sahabatnya yang tengah berdiri di depan mobilnya dengan melipat kedua tangannya di dada.
"Sekitar 5 menit yang lalu, Mika. Yuk masuk,"
Kedua gadis itu memasuki kantor yang sangat luas dengan memiliki 10 tingkat. Kedua gadis itu menuju ruang HRD untuk menemui Ibu Ratna kepada HRD di kantor itu.
"Sekamat pagi Bu Ratna," Mika dan Tiana memasuki ruangan wanita yang mungkin saja umurnya sudah 40 tahunan.
"Pagi, maaf dengan siapa?"
"Saya Mika dan Tiana, Bu yang minggu lalu diterima kerja di sini," jelas Mika mengingatkan Bu Ratna.
"Ahh iya saya sudah ingat. Mari saya antar keruangan kalian," Ratna berjalan keluar dari ruangannya diikuti Mika dan Tiana.
Mereka bertiga memasuki lift yang menuju pada lantai 6 perushaan itu. Selepas keluar dari lift kembali lagi mereka mengikuti Ratna hingga sampai pada ruangan yang merupakan tempat mereka bekerja. Disana sudah terdapat beberapa karyawan wanita dan juga laki-laki.
"Baiklah Mika, Tiana sekarang kalian berdua akan bekerja di ruangan ini. Tolong untuk kalian semua membimbing anggota baru kalian." pinta Ratna kepada karyawan yang lain.
"Baik Bu,"
"Silahkan kalian berdua masuk,"
"Iya Bu, terima kasih sudah mengantar kami," Ratna mengangguk lalu meninggalkan ruangan itu.
"Hallo, perkenalkan nama saya Mika," ujar Mika dengan sopan.
"Nama saya Tiana," lanjut Tiana.
"Salam kenal nama gue Putri," Seorang wanita berambut pendek menghampiri Tiana dan Mika dengan wajah sinis. Seakan-akan dirinyalah yang memiliki kekuasaan tertinggi di kantor ini.
"Hallo, nama saya Yanda," Laki-laki yang tampak tampan juga menghampiri Tiana dan Mika dengan senyum mengembang di bibirnya. Laki-laki yang tampak ramah dan murah tersenyum.
Setelah memperkenalkan diri, akhirnya Mika dan Tiana menduduki tempat mereka masing-masing. Sibuk dengan komputer yang berada di depan mereka. Jika tidak mengerti maka mereka akan menanyakan kepada senior yang ada di sana.
Singkat waktu, akhirnya jam makan siang sudah datang. Mika membereskan mejanya sebelum meninggalkan ruangan itu.
"Kalian mau makan siang di mana?" Yanda menghampiri Mika dan Tiana yang diikuti Yuda sahabatnya.
"Di cafe bawah, Kakak mau ikut?" Bukan Mika yang menjawab melainkan Tiana.
"Emang boleh?" Yanda tampak antusias mendengar ucapan Tiana.
__ADS_1
"Boleh kok Kak, mari,"
Akhirnya kedua pasangan itu menuruni lift untuk sampai pada lantai dasar.
"Mika kamu mau pesan apa?" tanya Tiana.
"Aku nasi goreng seperti kemaren saja Tia, rasanya sangat enak. Bikin nagih, heheh,"
"Baiklah, kalau Kak Yanda sama Kak Yuda mau pesan apa?"
"Samain saja Tiana, lagian kita nggak pernah makan disini. Kami sering makan di pantri dan paling mentok pada restoran depan," jawab Yanda sambil menampilkan senyum manisnya.
"Yasudah, saya pesan nasi goreng sama es teh empat ya Mbak,"
"Baik Kak,"
Tak lama menunggu akhirnya pesanan mereka sampai. Tidak ada yang membuka pembicaraan saat makan. Mereka lebih memilih untuk menikmati makan siang dengan tenang.
"Kalian dulu satu kampus apa gimana?" Yuda menatap kedua gadis itu secara bergantian.
"Iya Kak, kita satu kampus," balas Mika.
"Hmm, pantasan kalian sangat dekat. Kakak kira kalian memang kenal sejak di kantor tadi," ucap Yuda yang memang tak melihat kedatangan Mika dan Tiana pagi tadi. Pasalnya dia datang saat hampir masuk jam kerja.
"Lumayan lah, 3 tahun lebih," jawab Yanda.
"Itu bukan lumayan lagi Kak, sudah lama namanya," Mika menggeleng mendengar ucapan Yanda yang kelewat merendah.
"Hahahah, ya kan lumayan. Kecuali sudah 10 tahun baru lama namanya," ujar Yanda sambil tersenyum manis.
"Umur Kak Yuda sama Kak Yanda berapa sih? Kok aku jadi kepo, heheh," Tiana sangat penasaran dengan umur kedua laki-laki itu. Keduanya tampak tampak seperti masih setara anak SMA lantaran wajah mereka yang masih imut-imut.
"Umur Kakak 26 sama dengan Yanda," jawab Yuda.
"Wahhhh, berati beda 4 tahun kita Kak, aku sama Mika 22 tahun," Tiana tampak sangat antusias mendengar umur ke-dua laki-laki itu yang masih muda. "Ehhh, tapi Kakak sudah punya keluarga?" lanjut Tiana.
Kedua laki-laki itu menggelengkan kepalanya. "Belum Tiana,"
"Mau daftar dong Kak, Yanda. Heheh," Tiana mengerlingkan matanya ke arah Yanda yang tersentak mendengar ucapan Tiana.
"Boleh-boleh Tiana," Belum sempat Yanda menjawab, Yuda lebih dulu mengatakan pendapaynya.
"Ihhh, aku nggak ngomong Kak Yuda ya, tapi sama Kak Yanda. Gimana Kak, boleh aku daftar jadi candidate seorang istri," Tiana menaik-turunkan alisnya, menggoda Yanda yang tampak terperangah mendengar ucapan Tiana.
__ADS_1
Bukannya apa, mereka baru saja kenal gadis ini namun, gadis itu seakan sudah berteman dengan dirinya sejak lama. Tak ada rasa canggung yang dirasakan gadis itu.
"Dia sudah punya tunangan." Yuda menatap Tiana yang tampak kecewa dengan ucapnya.
"Yahhh, kalau gitu hancur deh harapan aku. Tapi tidak apa, sama Kak Yuda juga boleh keknya. Apalagi Kak Yuda sama Kak Yanda sama-sama tampan,"
"Isss kamu serakah Tia," Mika tak habis pikir dengan sahabatnya itu. Tidak dapat yang satu yang lain di embat juga.
"Biarin, dari pada kamu mengharapkan sesuatu yang nggak pasti," sindir Tiana.
"Iya deh iya, tapi aku yakin kok jodoh mah nggak akan kemana," Jujur saja Mika tersinggung dengan ucapan Tiana. Memang apa yang dikatakan Tiana benar, Tapin kalau cinta itu masih saja berada di hatinya dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan melihat kedua laki-laki tampan di depannya saja Mika tidak merasakan apa-apa. Bisa dikatakan Mika merasa biasa saja dengan mereka.
"Emang kamu mengharapkan siapa Mika?" Yanda menatap gadis itu intens.
"Dia ngarepin cinta Ab---"
"Isss kamu apa-apaan sih Tia," Mika membekap mulut Tiana dengan tangannya. Memberikan tatapan marah kepada sahabatnya itu. Mika tidak mau jika orang luar tahu tentang hatinya. Cukup Tiana dan Ali yang tahu akan hal itu.
"Heheh nggak ada kok, Kak," Mika menatap Yanda dengan canggung.
Yanda hanya menganggukkan kepalanya. "Mau nggak jadi pacar Kakak?" Yanda menatap gadis yang baru hari dia kenal itu.
"Ha? Kakak ngomong apa sih. Jangan ngada-ngada deh Kak. Lagian kita baru kanal hari ini,"
"Terima saja Mika, buat status kamu nggak jomblo akut lagi, hahahha," Tiana tertawa saat mengatakan jomlo akut kepada sahabatnya itu. Selama hidup tak pernah merasakan yang namanya pacaran dan Tiana pantas menyebut Mika jomblo akut. "tapi kok Kakak malah ngajakin Mika pacaran? Padahal tadi aku mau daftar loh?" Tiana menatap Yuda dengan sinis. Mungkin saja laki-laki itu tengah membohongi dirinya.
"Lah, kan bukak Kakak yang jawab Tia tapi Yuda,"
"Heheh iya juga sih Kak, aku nggak jadi daftar sama Kak Yuda. Awalnya saja sudah bohong apa lagi nanti." Tiana menatap sinis laki-laki yang kini tengah mengaruk kepalanya yang tak gatal.
"Jam istirahat sudah habis, yuk kembali ke kantor," ajak Mika saat melihat jam di pergelangan tangannya.
"Jawab dulu pertanyaan Kakak, Mika. Kamu mau 'kan jadi pacar Kakak?"
"Kakak bercandanya jangan kelewatan deh,"
"Kakak nggak bercanda Mika, kalau kamu mau kita bisa langsung nikah. Kakak serius,"
Mika menghentikan tangannya yang hendak mengambil sesuatu di dalam saku roknya. "Maaf Kak, aku nggak bisa. Lagian kita baru kenal tidak mungkin rasa itu akan langsung tumbuh. Aku juga nggak mau nikah sama seseorang yang tidak aku cintai. Karena bisa saja rumah tangga itu terasa hambar. Ahh ya, hati aku sudah milik orang lain Kak, jadi aku minta maaf,"
"Ya sudah tidak apa-apa Mika. Mungkin saja karena kita baru kenal makanya kamu nolak Kakak, semoga suatu saat kamu buka hati kamu untuk Kakak," Ntah kenapa Yanda mengatakan hal seperti itu kepada gadis yang baru di kenalnya. Intinya saat melihat Mika tadi hatinya langusng bergetar. Rasa ingin memiliki gadis itu ada pada dirinya.
TBC
__ADS_1