
Ali mengusap batu nisan bertulisan nama Reyhan. Jujur saja dia merindukan laki-laki itu, meskipun dulu pernah berbuat salah kepada dirinya. Merindukan kebersamaan mereka saat Ali masih menginap di rumah Reyhan. Saling bercerita meski tidak terlalu dekat.
Ali meletakkan bunga mawar yang dia bawa di dekan batu nisan Reyhan. Mengusap sekali lagi batu putih itu. "Assalamu'alaikum Ayah. Ayah apa kabar di sana? Semoga Ayah baik-baik saja. Maaf aku baru datang ke sini. Maaf jika aku juga telat tahu tentang kabar Ayah yang sudah tak lagi ada di dunia. Maaf Ayah, jika aku pernah menaruh rasa benci yang begitu dalam saat aku tahu jika Ayah dalang dari kecelakaan aku waktu itu. Tapi, apapun kesalahan Ayah dulu kepadaku, sudah aku maafkan." Ali menatap pusara Ayahnya.
"Ayah, Ayah jangan sedih lagi ya disana. Ayah jangan memikirkan kesalahan Ayah dulu lagi. Karena, aku sudah memaafkan kesalahan yang pernah Ayah lakukan. Baik aku maupun Bunda sudah memaafkan Ayah. Maaf Ayah jika Bunda tidak bisa berkunjung ke makan Ayah. Bunda ada kesibukan lain yang harus dilakukannya. Suatu hari nanti Bunda pasti akan datang ke sini Ayah." Ali mengusap air mata yang mengalir dari pipinya.
Sejahat apapun Reyhan, Ali tidak akan pernah lupa bagaimana kebersamaan mereka waktu itu. Ali tidak akan pernah lupa bagaimana tawa Reyhan serta senyum manis Ayahnya. Apalagi wajah Ayahnya itu sangat mirip dirinya. Bak pinang di belah dua, itulah kata orang.
"Ayah, sekarang Kakak sudah datang ke rumah Ayah. Ayah sudah mendaptkan Maaf dari putra Ayah. Apa Ayah bahagia, hmm? Ayah jangan sedih lagi ya, Ayah jangan lagi menyesal disana. Kata maaf sudah terucap dari mulut putra Ayah. Aku rindu Ayah, sangat!" Reni mengusap tanah pusara Ayahnya dengan lembut. Seakan-akan tanah itu adalah tubuh Ayahnya. Rindu yang tak akan dapat di rasakan meski hanya sebentar. Tak lagi ada yang bisa di peluknya jika bukan foto milik Reyhan.
"Mas, kamu bahagia bukan? Sekarang putra kamu sudah disini Mas. Aku berharap kamu tak lagi merasa tertekan disana. Aku berharap kamu tidak lagi merasakan penyesalan Mas. Aku berharap untuk selanjutnya kamu akan bahagia disana Mas. Aku rindu Mas, aku sangat mencintai kamu, Mas," Lani mengusap air matanya. sungguh wanita itu sangat merindukan mendiang suaminya. Jika saja Allah berkenan, ingin sekali dia mendampingi suaminya disana. Jika saja Allah mau menjemputnya saat ini juga wanita itu akan sangat bahagia. Dia sungguh rindu akan dekapan hangat suaminya.
"Ayah, aku pulang dulu sama Ibu dan Reni. Ayah yang tenang disana ya. Assalamu'alaikum Ayah," Ali mencium batu nisan Ayahnya dengan lembut.
Ketiga orang itu beranjak meninggalkan pusara Reyhan dengan langkah berat.
~~
Kamu mah minum apa Kak?" Saat ini Reni, Lani dan Ali sudah berada di kediaman Lani.
"Air putih saja Ren," jawab Ali.
"Baik Kak, aku ambikkan dulu," Reni beranjak meninggalkan ruang tamu.
__ADS_1
"Assalaamu'alaikum," Ali mendongakkan kepalanya kala mendengar seseorang mengucapkan salam. Tampak seorang laki-laki dengan membawa tas serta seorang anak yang tertidur di pundaknya.
"Wa'alaikumsalam," Lani dan Ali menjawab salam laki-laki itu.
"Mas kamu sudah pulang?" Reni segera menghidangkan minuman untuk Ali maupun Lani.
"Sudah Sayang," balas laki-laki itu yang bernama Bima.
"Kenapa cepat sekali Mas?" Reni mengambil tas yang di bawa suaminya.
"Kebetulan rapat di sekolah sudah selesai Sayang. Dari pada Mas di sekolah mendingan Mas bukan, bukan?" Bima menaik turunkan alisnya menatap istrinya itu.
Reni tersipu malu mendengar ucapan suaminya. Suami yang berada tiga tahun diatasnya. "Sana Mas bawa Nina ke kamar, terus balik lagi kesini ya. Kebetulan Kak Ali ada disini," Reni menunjuk Ali yang menganggukkan kepalanya kepada suami Reni.
"Silahkan di minum Kak," ujar Reni.
"Iya Ren,"
Tak lama kemudian Bima sudah kembali ke ruang tamu. Bergabung dengan Ali, Reni maupun Lani. Ali dan Bima bercerita layaknya seseorang yang sudah sering ketemu. Tak ada rasa canggung diantara kedua orang itu.
*
*
__ADS_1
Enam bulan setelah perginya Reyhan menghadap yang Kuasa. Reni mulai berkenalan dengan Bima melalui aplikasi putih biru yang sering di sebut orang dengan Facebook. Awalnya Reni hanya iseng saja membalas pesan dari Bima. Sekitar dua minggu bekenalan melalui aplikasi itu, Bima mengajak Reni bertemu ditaman kota. Laki-laki itu ingin mengenal Reni lebih dekat lagi sebelum dia mengajak Reni menuju jenjang pernikahan.
Pertemuan itu diadakan pada hari minggu. Awalny Reni bingung kenapa pada hari minggu, padahal hari lainnya juga bisa. Bimo tak memberikan alasannya kenapa tak bisa di hari lain. Saat pertemuan pertama itu mereka bercerita tentang kehidupan mereka. Bimo yang tak mau lagi bermain-main langung mengatakan kepada Reni untuk melamar gadis itu untuk menjadi istrinya.
Terkejut? Sudah pasti Reni terkejut dengan apa yang dikatakan Bima. Namun Bima berusaha membujuk dan membuktikan kepada Reni jika dirinya memang serius. Satu minggu setelah pertemuan itu Bima datang bersama keluarganya ke rumah Reni untuk meminang gadis itu. Pinangan yang tak pernah Reni bayangkan itu nyatanya menjadi sebuah pernikahan selang satu bulan kemudian.
Dari awal pertemuan Reni tidak menanyakan apa pekerjaan Bima. Dia akan menerima laki-laki itu apa adanya. Hingga di suatu pagi Reni sangat terkejut melihat suaminya memakai baju dinas seorang guru. Dari sanalah Bima menjelaskan jika dirinya bekerja menjadi seriang guru dan menjelaskan alasan kenapa dirinya tak memperkenalkan dirinya guru. Bima ingin melihat apakah wanita yang akan menjadi istrinya itu akan menerima dirinya dengan ikhlas atau malah memandang dirinya dengan harga. Karena kebayakan wanita yang di kenal Bima hanya memandang materinya saja.
*
*
"Bu, Mas, Ren aku pulang dulu ya, lagian ini sudah mau masuk waktu zuhur," pamit Ali.
"Kenapa cepat sekali Nak? Apa tidak makan siang dulu disini?" Lani sedikit kecewa anak tirinya itu akan pulang.
"Tidak usah Bu, setelah ini aku juga mau menjemput Bunda sama Abu dan adik-adikku ke toko," ujar Ali.
"Ahh ya sudah, lain kali makan dulu di sini ya Nak. Ibu rindu makan bersama seperti dulu lagi," ungkap Wanita itu jujur.
"Baiklah Bu, kapan-kapan aku akan makan di sini," jawab Ali tak enak hati. Apalagi melihat wajah kecewa Lani.
Ali menyalami tangan Lani, Reni dan yang terakhir Bima suami Reni.
__ADS_1
TBC