
"Maafkan aku, Yah. Aku tidak bisa."
Semua yang berada di sana terkejut mendengar ucapan Mika. Terutama Ali yang sangat syok. Bahkan tubuh laki-laki itu terkulai lemas tak bertulang saat lamarannya di tolak oleh gadis yang di cintainya.
"Maksud kamu apa Mika? Apa kamu menolak lamaran Ali, putra Tante?" Yumma menatap ke arah Mika tak percaya. Bahkan putranya itu sudah menjelaskan jika Mika juga mencintainya, namun apa yang di dengar Yumna kini sungguh di luar perkiraannya.
Mika menggeleng. "Maafkan aku, Tante,"
"Dek apa maksud kamu dengan jawaban seperti itu? Bukankah kamu butuh bukti Dek? Ok jika waktu itu Abang ngajakin kamu pacaran adalah kesalahan besar, tapi ini tidak Dek, Abang ngajakin kamu buat jadi istri Abang, bukan kekasih. Abang mau seriusin kamu buat jadi ibu dari anak-anak Abang kelak, Dek. Makmum dalam sholat berjamaah di keluarga kecil kita nanti Dek, apa..., apa ---" Ali tak sanggup meneruskan ucapannya. Ali menatap Mika dengan sorot mata penuh kecewa. Tak menyangka jika gadis itu akan membuat dirinya sekecewa ini. Apakah hubungan yang ingin dia seriuskan akan berakhir sia-sia. Apakah memang belum datang jodoh terbaik kepada dirinya di umur yang sudah berkepala tiga. Ya Tuhan rasanay sangat sakit.
"Apa benar Abang sudah tidak ada lagi di hati kamu, Dek? Apakah semudah itu kamu melupakan cinta yang begitu besar kepada Abang? Apa sekarang cinta yang Abang rasakan tidak akan terbalaskan seperti cinta kamu yang waktu itu tidak terbalaskan Dek?" Mata Ali berubah berkaca-kaca. Sungguh hatinya teramat sakit, seperti ada tangan tak kasar mata yang meremas hati itu sekuat-kuatnya.
Mika menatap wajah laki-laki yang amat dicintainya itu. Memilih berdiri dan mendekat ke arah Ali yang tengah mengampus bulir bening yang dengan tidak tahu dirinya mengalir deras. Mika memegang lembut tangan Ali seakan memberi kekuatan untuk laki-laki yang amat di cintainya.
"Kenapa Dek? Kenapa kamu lakuin ini sama Abang? Kenapa kamu seakan memberi Abang harapan yang nyatanya kamu berikan luka yang terramat dalam seperti ini. Jika memang kamu tidak mau menikah dengan Abang, tidak usah kamu memberi Abang harapan waktu itu." Ali menghapus air mata yang keluar dari mata tegas itu. Bahkan keluarganya yang ada di sama tak di hiraukan Ali. Biarlah mereka menilai Ali sesuka hati. Jujur dia amat mencintai gadis yang kini tengah duduk di sampingnya.
Yumna dan yang lainnya hanya menatap drama pasangan yang berada di depan meraka dengan pandangan yang bermacam-macam. Seperti sebuah film yang ditayangkan secara live di depan mata. Gratis tanpa di pungut biaya.
"Sstttt," Mika meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Ali. Beberapa kali menggelengkan kepalanya. "Abang akan tetap menjadi tahta tertinggi didalam hati aku. Abang akan tetap menjadi raja di dalam rasa cinta yang tumbuh semakin besar setiap harinya hati aku. Abang akan tetap penghuni di dalam jiwa dan hati aku untuk selamanya. Maafkan aku jika membuat Abang kecewa, tapi aku hanya ingin pernikahan kita jangan di perlambat. Maka dari itu aku mengatakan tidak bisa menerima, maksud dari kata itu tidak bisa menerima jika pernikahan kita di undur sampai satu bulan atau bahkan lebih. Aku hanya ingin segera menjadi ratu di rumah tangga kita, Bang. Aku hanya ingin menjadi satu-satunya wanita yang Abang miliki," Mika menghapus air mata di wajah pujaan hatinya. Memberikan senyum terbaiknya kepada laki-laki yang merupakan cinta pertama dalam kehidupan yang dia jalani. Tak ada laki-laki lain yang bisa mengantikan Ali barang sedetikpun.
"Ka-kamu menerima Abang, Dek?" tanya Ali antusia kepada Mika atau dia hanya berhalusinasi saja.
"Iya Bang, aku menerima Abang. Aku ingin segera menjadi istri Abang," jawab Mika tersenyum manis.
"Bunda, Abi, aku di terima. Aku akan segera menikah Bunda, Abi," Ali menatap ke-dua orang-tuanya dengan senyuman lebar. Membiarkan sisa air mata yang masih berjalan di pipinya.
"Iya Nak, kamu akan menikah," jawab Yamna terharu dan juga merasa bahagia.
****
Mika memasuki kantor dengan menenteng tas yang biasa di pakai. Dengan langkah elegan Mika memasuki lift para karyawan untuk sampai di depan ruangan kerjanya. Saat sampai di sana mata Mika sudah melihat keberadaan ketiga sohibnya yang sudah duduk di meja masing-masing.
"Pagi semua," Mika menampilkan senyum cerahnya kepada ketika temannya itu.
__ADS_1
"Pagi Mika, ada gerangan apa nih wajah kamu secerah itu?" Tiana menatap Mika.
"Apa salah jika aku bahagia datang ke kantor, Tiana?" Mika memicingkan matanya menatap sahabatnya.
"Ya tidak slah sih, cuman aku heran saja dengan kamu, Mika. Tak biasanya kamu datang ke kantor seceria pagi ini. Wajar jika aku curiga dong Mika?"
"Tidak ada yang harus kamu curigai Tiana, aku masih Mika yang kamu kenal dengan segala keceriaan dan tingkah konyol ku," ujar Mika dengan pedenya.
"Keceriaan? Keceriaan apa yang kamu maksud Mika? Bahkan kamu sering menampilnya raut sedih kala mengingat kisah cinta kamu yang tak berujung." sendiri Tiana membuat Mika hanya diam saja.
"Ahhh, sudah lah Tiana. Mendingan kita langsung kerja dari pada berbicara yang larinya ntah kemana." Mika langsung menghidupkan komputer yang terdapat di mejanya. Memainkan tangan lentik itu pada keyboard komputer dengan lihainya.
Mika, Tiana, Yanda dan Yuda kini sudah duduk berkumpul di dalam ruangan mereka setelah tadi makan siang bersama di pantry kantor.
"Undangan Tiana,"
"Iya aku tahu jika ini undangan, tapi siapa yang akan menikah?" Tiana membuka plastik yang membungkus undangan bewarna biru muda itu dengan segera. "Mikaila Zerina Ranggata dan Maula Ali Ramiza," Tiana membekap mulutnya dengan spontan. "jangan bilang jika ini nama Mas Al, Mika?" Kini sorot mata Tiana menatap Mika penuh selidik.
Mika mengangguk. "Itu nama Abang, Tia. Aku akan menikah sama Abang minggu depan." jawab Mika dengan senyum manisnya.
__ADS_1
"Kamu seriusan Mika? Bukankah kata kamu Mas Al han--"
"Abang datang ke kampung aku, Tiana. Abang datang ke rumah orang tuaku untuk melamar aku menjadi istrinya,"
"Kamu seriusan Mas Al melakukan itu Mika? Seriusan aku nggak nyangka jika Mas Al melakukan itu hanya demi kamu. Patut di acungi jempol ini mah Mas Alnya," Tiana antusias mendengar cerita sahabatnnya.
Sedangkan Yanda menatap Mika dengan tersenyum pelik. Jujur saja hatinya masih menginginkan Mika, hanya saja cinta gadis itu yang tidak bisa di paksakan untuk dirinya. Mungkin saja Allah punya rencana lain untuk dirinya nanti. "Selamat Mika, Kakak senang jika kamu bahagia,"
"Terima kasih Kakak, semoga Kakak juga mendapat seorang perempuan yang jauh lebih baik dari aku, aamiin."
"Aamiin, terima kasih Mika," Yanda menampilkan senyum manisnya untuk menutupi rasa patah hati yang kini dia rasakan.
Mika mengangguk. "Jangan lupa datang kepernikahan aku ya Tia, Kak Yan dan Kak Yuda," Mika menatap bergantian kepada teman seprofesinya itu.
"Pasti kami akan datang kok, Mika. Tidak mungkin kami tidak datang di hari bahagia kamu. Iya kan Kak Yuda, Kak Yan?" Kedua laki-laki itu hanya menganggukkan kepalanya setuju.
TBC
__ADS_1